Selasa, 09 Maret 2021

Jubir Vaksin IDI Jelaskan Kapan Vaksin Harus Ganti saat Corona Terus Bermutasi

  Saat ini, varian baru virus Corona mulai masuk ke Indonesia, yaitu Corona B117. Varian yang pertama kali teridentifikasi di Inggris ini diketahui lebih menular dari varian virus Corona sebelumnya.

Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan, apakah vaksin COVID-19 yang ada masih efektif?


Menanggapi hal ini, juru bicara Vaksin Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus ahli alergi dan imunologi Prof Dr dr Iris Rengganis, SpPD-KAI, mengatakan sampai saat ini varian B117 belum terbukti bisa mempengaruhi efektivitas vaksin. Artinya, vaksin COVID-19 masih bisa bekerja dengan baik.


"Varian B117 dari Inggris ini awalnya masuk Singapura, lalu ke Indonesia dan dikenal cepat penularannya. Kalau menular jadi lebih cepat. Nah, vaksin COVID-19 sekarang masih bisa efektif," jelas Prof Iris dalam diskusi Kupas Tuntas Nutrisi dan Vaksin COVID-19 untuk Lansia, beberapa waktu lalu.


"Artinya, bisa memakai vaksin COVID-19 sekarang. Yang namanya mutasi virus SARS-CoV RNA itu demi mempertahankan hidup si virus," lanjutnya.


Namun, jika mutasi virus Corona sudah terjadi secara besar-besaran, efektivitas vaksin mungkin akan berkurang.


"Apabila mutasi virus Corona sudah besar-besaran, tentu efektivitas vaksin COVID-19 tidak berguna lagi," ujarnya.


Meski begitu, Prof Iris menekankan ini perlu terus diteliti jika memang vaksin yang ada saat ini harus diganti, seperti vaksin influenza. Vaksin tersebut nantinya akan disesuaikan dengan strain virus Corona yang beredar.


"Vaksin influenza setiap tahun ganti, karena virusnya sebagian besar terus bermutasi. Jadi, vaksinnya nanti disesuaikan dengan strain virus SARS-CoV-2 yang beredar," pungkasnya.

https://movieon28.com/movies/romeorinjani/


BPOM Sudah Setujui Vaksin Corona AstraZeneca, Ini Efek Sampingnya


Ada 1,1 juta dosis vaksin Corona AstraZeneca yang sudah tiba di Indonesia. Jenis vaksin yang didapatkan dari skema COVAX ini sudah masuk dalam daftar persetujuan darurat (EUL) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito juga akhirnya memberikan persetujuan penggunaan vaksin Corona AstraZeneca berdasarkan beberapa hal. Termasuk soal khasiat, mutu, keamanan dan efikasi vaksin.


"Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat EUA pada tanggal 22 Februari 2021 yang lalu dengan nomor EUA2158100143A1, vaksin ini dikemas dalam dus berisi 10 vial masing-masing 5 ml," jelas Penny dalam konferensi pers BPOM Selasa (9/3/2021).


Adapun efek samping vaksin Corona AstraZeneca yang ditemukan adalah efek samping lokal ringan seperti bengkak di lengan hingga kemerahan.


"Kejadian efek samping yang dilaporkan dalam studi-studi klinik umumnya ringan-sedang," kata Penny.


BPOM menegaskan efikasi vaksin Corona AstraZeneca sebesar 62,1 persen setelah penerimaan dosis kedua vaksin Corona.


"Efikasi vaksin dengan dua dosis standar yang dihitung sejak 15 hari pemberian dosis kedua hingga pemantauan sekitar dua bulan menunjukkan efikasi sebesar 62,1 persen," lanjut Penny.

https://movieon28.com/movies/next-gen/

Sabtu, 06 Maret 2021

DKI 1.616 Kasus, Ini Sebaran 5.767 Kasus Baru COVID-19 RI 6 Maret

  Pemerintah melaporkan penambahan 5.767 kasus baru COVID-19 yang terkonfirmasi pada hari Sabtu (5/3/2021). Total pasien terkonfirmasi saat ini 1.373.836 kasus COVID-19.

DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penambahan kasus COVID-19 tertinggi yakni 1.616, disusul Jawa Barat dengan 1.094 kasus, dan Jawa Tengah sebanyak 586 kasus.


Detail perkembangan virus Corona Jumat (5/3/2021), adalah sebagai berikut:


Kasus positif bertambah 5.767 menjadi 1.373.836


Pasien sembuh bertambah 6.823 menjadi 1.189.510


Pasien meninggal bertambah 128 menjadi 37.154


Tercatat sebanyak 36.107 spesimen diperiksa hari ini di seluruh Indonesia, sedangkan jumlah suspek sebanyak 66.546.


Sebaran 5.767 kasus baru Corona di Indonesia pada Sabtu (6/3/2021).


Aceh: 16 kasus

Sumatera Utara: 87 kasus

Sumatera Barat: 92 kasus

Riau: 68 kasus

Jambi: 17 kasus

Sumatera Selatan: 58 kasus

Bengkulu: 8 kasus

Lampung: 41 kasus

Bangka Belitung: 75 kasus

Kepulauan Riau: 13 kasus

DKI Jakarta: 1.616 kasus

Jawa Barat: 1.094 kasus

Jawa Tengah: 586 kasus

DI Yogyakarta: 89 kasus

Jawa Timur: 393 kasus

Banten: 13 kasus

Bali: 153 kasus

Nusa Tenggara Barat: 3 kasus

Nusa Tenggara Timur: 130 kasus

Kalimantan Barat: 73 kasus

Kalimantan Tengah: 122 kasus

Kalimantan Selatan: 171 kasus

Kalimantan Timur: 396 kasus

Kalimantan Utara: 61 kasus

Sulawesi Utara: 27 kasus

Sulawesi Selatan: 165 kasus

Sulawesi Tengah: 34 kasus

Sulawesi Tenggara: 2 kasus

Gorontalo: 13 kasus

Sulawesi Barat: 4 kasus

Maluku: 38 kasus

Maluku Utara: 12 kasus

Papua: 53 kasus

Papua Barat: 44 kasus

https://maymovie98.com/movies/22-minutes/


Netizen Indonesia Tidak Sopan, Padahal Survei Sebut Paling Baik Hati Sedunia


Sebagian netizen marah menanggapi hasil studi Microsoft tentang Digital Civility Index (DCI) menyebut netizen Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara.

Penilaian itu nyatanya sangat berbeda dengan keyakinan sebagian netizen di Indonesia. Dan memang, keyakinan sulit dikoreksi oleh penelitian apa pun, utamanya sejak marak pencitraan dan penggunaan internet dalam kampanye pada pemilihan langsung.


Jika kakek nenek kita dulu fans kemerdekaan yang tergambar dalam tekad "merdeka atau mati", maka sebagian dari generasi kita telah berubah menjadi fans-fans tokoh, bukan fans kepentingan nasional.


Kembali ke kata "sopan" yang dibahas survei DCI, umumnya netizen meyakini orang Indonesia itu sopan. Sering kita mendengar bahwa sebagai orang timur, kita menjunjung adat istiadat, tata krama, dan sopan santun.


Hal ini dicontohkan misalnya dengan mencium tangan orang yang lebih tua, tidak berpelukan apalagi berciuman di depan umum, berpakaian tertutup, menggunakan sebutan yang terhormat, pak, ibu, mas, mbak dan lain-lain saat menulis, berbicara, berpidato, dan lain-lain.


Kita juga mengenal kebiasaan saling menyapa, menunduk kepala tanda hormat, saling mengirim makanan antar tetangga, suka menolong dan karakter positif lainnya.


Keyakinan itu tidak salah. Nyatanya, memang ada survei yang menyebut orang Indonesia paling murah senyum (The Smiling Report), orang Indonesia paling religius (Survei Gallup dan Abt Associate 2019, yang dirilis Pew Research Center.

https://maymovie98.com/movies/poetry/