Sabtu, 27 Februari 2021

Pengalaman Kena Efek Samping 'KIPI' Vaksin COVID-19, Begini Rasanya

  Vaksinasi COVID-19 merupakan salah satu solusi untuk mengakhiri pandemi. Berbeda dengan vaksin lain, vaksin COVID-19 tergolong baru sehingga banyak yang merasa takut sebelum disuntik.

Termasuk bagi saya, yang merasa cukup khawatir sebelum disuntik vaksin COVID-19. Saya termasuk salah satu dari sekitar 5.500 awak media yang mendapat prioritas vaksinasi COVID-19 tahap kedua.


Sebelum datang ke tempat vaksinasi, saya sudah melakukan beberapa hal yang disarankan seperti tidur yang cukup dan sarapan. Namun entah kenapa, bayang-bayang rasa cemas begitu menghantui.


Rasa gugup sebelum divaksin sebenarnya wajar, terlepas dari data uji klinis yang sudah memastikan vaksin ini aman. Salah seorang petugas di area vaksinasi Basket Hall Gelora Bung Karno (GBK), tempat saya disuntik, sempat mengingatkan untuk rileks agar tidak mempengaruhi hasil screening.


"Santai aja, positif thinking. Nggak usah mikir macem-macem. Sebelum suntik, tarik napas dulu biar rileks. Kalau nervous nanti tensinya tinggi lho," katanya, Sabtu (26/2/2021).


Menurutnya memang banyak penerima vaksin COVID-19 yang khawatir karena mendapat informasi yang keliru soal vaksinasi. Terlebih terkait efek samping dan kejadian ikutan pasca vaksinasi (KIPI) yang beredar membuat masyarakat lebih takut.


"Efek samping itu wajar, karena respons tubuh kita. Tapi sejauh ini kebanyakan sih tidak serius ya," lanjutnya.

https://cinemamovie28.com/movies/beauty-salon-special-service/


Rasanya kena KIPI

Akhirnya giliran saya untuk disuntik, tiba juga. Proses penyuntikan sebenarnya tak butuh waktu lama. Setelah disuntik, saya diarahkan untuk ke tempat observasi dan menunggu selama 30 menit untuk melihat apa ada keluhan yang timbul atau tidak.


Tak lama usai vaksinasi, saya merasa ada sedikit nyeri di lengan tempat suntikan dan kepala terasa sangat berat disertai mual. Pikir saya, hal itu tak akan berlangsung lama dan akan hilang dalam beberapa menit ke depan.


Sayangnya efek yang saya rasakan tidak kunjung reda sampai akhirnya saya putuskan untuk melapor ke petugas. Saya pun dibawa ke ruangan lain untuk observasi lebih lanjut. Tim medis mengatakan saya kemungkinan mengalami efek samping usai vaksinasi.


Sementara itu di luar sana, beredar broadcast viral yang menyebut puluhan wartawan 'terkapar' setelah vaksinasi COVID-19. Selengkapnya ada di halaman berikut.


Sementara itu di luar sana, beredar broadcast viral yang menyebut puluhan wartawan 'terkapar' setelah vaksinasi COVID-19. Disebutkan, ada yang mengeluh pusing-kliyengan hingga mual, bahkan pingsan.


Saya tidak tahu persis bagaimana kondisi penerima vaksin yang lain, namun juru bicara Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar. Faktanya, menurut dr Nadia, bukan puluhan melainkan ada 5 awak media yang harus menjalani observasi karena mengalami keluhan. Saya, salah satunya.


Beruntung, saya tidak harus berlama-lama menjalani perawatan. Setelah dinyatakan cukup sehat, saya diperbolehkan pulang. Tinggal tersisa keluhan pusing di kepala, mudah-mudahan cepat reda.


Ketua Komnas KIPI, Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, SpA(K), melaporkan sejauh ini belum ditemukan efek samping serius terkait vaksinasi COVID-19. Beberapa keluhan yang dilaporkan masuk kategori ringan, seperti mual, susah bernapas, hingga nyeri di titik penyuntikan.


Mengalami efek samping usai menerima vaksin adalah hal yang normal. Tandanya, tubuh bekerja untuk membentuk kekebalan. Efek samping ini mungkin akan mengganggu aktivitas, tapi tak perlu khawatir karena biasanya akan hilang dalam beberapa jam, paling lama 1-2 hari.

https://cinemamovie28.com/movies/the-invited-man/

Tips Cegah Hipertensi, Penyakit yang Bikin Banyak Orang Batal Vaksin COVID-19

 Salah satu komorbid atau penyakit penyerta tertinggi pada pasien terinfeksi COVID-19 di dunia, termasuk Indonesia, adalah hipertensi. Di Indonesia, hipertensi merupakan penyebab kematian ke-3 setelah stroke dan TBC, serta penyebab utama penyakit gagal ginjal di Indonesia.

Selain itu, hipertensi merupakan penyebab kematian terbesar di dunia dan dapat menyebabkan terjadinya stroke, kebutaan, penyakit jantung, gagal ginjal, serta penyakit pembuluh darah lainnya. Setiap tahun, setidaknya terdapat 9.4 juta kematian yang disebabkan oleh hipertensi. Oleh sebab itu, hipertensi merupakan salah satu penyakit yang harus diwaspadai oleh seluruh masyarakat.


Umumnya, hipertensi terjadi pada orang-orang berusia lanjut. Namun, ternyata hipertensi masih bisa dialami oleh orang-orang berusia muda. Pasalnya, terdapat dua jenis hipertensi, yakni hipertensi primer dan hipertensi sekunder.


"Hipertensi primer itu umumnya penyebab langsungnya tidak diketahui. Salah satunya adalah sebenarnya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi atau faktor-faktor risiko lain, termasuk obesitas dan lain sebagainya," ujar dr Tunggul Diapari Situmorang, Sp PD-KGH, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, dalam acara Virtual Press Conference yang diadakan pada Jumat (26/2/2021).


Dokter Tunggul mengatakan bahwa jika hipertensi terjadi pada orang-orang usia muda, umumnya disebabkan oleh hipertensi sekunder, yakni hipertensi yang disebabkan oleh penyakit tertentu.


"Pada orang muda, kalau terjadi hipertensi, maka umumnya dicari hal-hal yang sekunder. Hal-hal yang sekunder yaitu diketahui penyebabnya. Katakanlah ada penyempitan pembuluh darah ginjal, ya, pada usia-usia muda. Maka itu akan membuat hipertensi pada usia muda," ungkapnya.

https://cinemamovie28.com/movies/convergence-3/


Menurutnya, orang-orang usia muda yang mengidap hipertensi bisa mengatasi hal tersebut dengan cara memperbaiki pola hidupnya. Namun, dokter Tunggul juga mengatakan bahwa perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menemukan penyebab terjadinya hipertensi di usia muda.


"Dengan memperbaiki itu (pola hidup), maka tekanan darahnya akan terkontrol tanpa obat-obatan. Atau katakanlah ada pembesaran kelenjar di atas ginjal, itu dengan membuang itu kelenjar, maka tekanan darahnya akan terkendali. Jadi, pada usia muda, sering harus dicari dulu penyebab sekundernya," pungkas dokter Tunggul.


Di sisi lain, dr Eka Harmeiwaty, Sp S, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, mengatakan bahwa pemeriksaan tekanan darah sudah harus dilakukan pada orang dewasa usia 18 tahun ke atas. Hal ini dilakukan agar dapat mendeteksi dini jika terjadi hipertensi.

"Deteksi dini itu sudah dilakukan pada orang dewasa (berusia) 18 tahun ke atas, itu salah satu upayanya. Karena memang (hipertensi) banyak tidak ada gejala, tiba-tiba nanti sudah stroke, itu kan banyak kita temukan, serangan jantung, atau gagal ginjal," kata dokter Eka.


Sementara itu, terkait makanan yang bisa menyebabkan terjadinya hipertensi, dokter Eka mengatakan bahwa makanan dengan kandungan garam yang tinggi dapat menginduksi terjadinya hipertensi.


"Orang Asia, termasuk Indonesia, itu sangat sensitif terhadap garam, sehingga dengan demikian tentunya makanan dengan kandungan garam yang tinggi itu dapat menginduksi pendekatan tekanan darah. Oleh karena itu, untuk kita tentunya menghindari ataupun mencegah kenaikan hipertensi bagi pasien hipertensi lebih lanjut itu kan memerhatikan penggunaan garam dalam makanan," jelasnya.


Menurutnya, kadar garam yang direkomendasikan setiap harinya hanya diperbolehkan sebanyak satu sendok teh atau sekitar tiga gram natrium setiap harinya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa hipertensi dapat dicegah sejak dini dengan memerhatikan makanan yang dikonsumsi setiap harinya.

https://cinemamovie28.com/movies/convergence-2/