Sabtu, 27 Februari 2021

Dua Kemungkinan Penyebab Mutasi 'Hybrid' Virus Corona

 Menurut temuan terbaru di California, dua jenis varian COVID-19 telah bergabung menjadi jenis virus Corona yang bermutasi, yakni varian B1117 dari California dan B1429 dari Inggris. Salah satu penyebab munculnya mutasi baru ini adalah penularan dalam komunitas.

Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo menjelaskan, ada dua kemungkinan terjadinya rekombinasi virus Corona. Pertama, melalui interaksi tatap muka. Kedua, melalui infeksi virus pada orang dengan imunitas lemah.


"Pertama, penularan yang cepat di komunitas memberikan peluang munculnya varian karena setiap perbanyakan virus ada kemungkinan munculnya mutasi. Maka kalau tidak mau ada mutasi, ya jaga protokol kesehatan," terangnya saat dihubungi detikcom, Kamis (25/2/2021).


Kemungkinan kedua, mutasi virus Corona ini pada awalnya 'menempel' pada orang dengan sistem imun yang lemah. Akibatnya, virus leluasa bereplikasi cepat karena tidak ada perlawanan. Kondisi inilah yang berpotensi memunculkan varian virus Corona baru.


"Virus menemukan inang yang immunocompromised seperti pasien AIDS misalnya, atau pasien kanker yang sedang menjalani terapi," imbuhnya.


Ahmad turut menyebutkan, virus Corona memang diketahui bisa berekombinasi. Namun sampai kini di Indonesia belum ada laporan terkait ditemukannya mutasi virus gabungan B117 dan B1492 ini.

https://cinemamovie28.com/movies/the-devil-the-angel/


Terpopuler Sepekan: Bahaya Aksesoris Tali Masker Menurut Satgas COVID-19


 Penggunaan tali pengait masker atau mask strap semakin menjadi tren di kalangan muda di masa pandemi COVID-19 ini. Mask strap ini berfungsi untuk menyimpan masker dengan cara digantung di leher agar lebih praktis.

Namun, Satgas Penanganan COVID-19 tidak menganjurkan penggunaan tali pengait masker ini. Hal ini karena menyimpan masker dengan cara digantung justru berpotensi menyebarkan virus.


"Kalau kita turunkan pakai pengait itu sampai ke bawah, itu akan kena ke hijab, ke baju. Jadi sebenarnya bagian dalam masker itu tidak boleh kontak dengan lain-lain kecuali dengan bagian tubuh," kata Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Brigjen TNI (Purn) dr Alexander K Ginting, SpP (K) dalam konferensi pers BNPB yang disiarkan beberapa waktu lalu.


dr Alex menjelaskan, masker terdiri dari dua bagian yaitu luar dan dalam. Bagian luar berfungsi untuk menyaring virus, bakteri, dan juga kuman agar tidak masuk ke bersama udara ke saluran napas.


Sementara bagian dalam masker berfungsi untuk menghambat droplet yang keluar dari mulut, yang bisa keluar saat berbicara. Lalu, apa yang terjadi saat menggantung masker dengan tali pengait ini?


Menurut dr Alex, dengan menggantung masker itu bisa berpotensi menyebabkan bagian dalam masker terpapar area luar seperti leher, yang mungkin jadi tempat menempelnya virus. Secara tidak sadar, ini akan memperbesar potensi penularan virus Corona.


"Apalagi jika tangan kita menyentuh bagian luar kemudian menyentuh lagi bagian dalam. Naik turunnya masker itu yang kita khawatirkan terlebih jika jari-jari kita menyentuh bagian luar masker," jelasnya.

https://cinemamovie28.com/movies/devil-and-angel-2/

Merasa Tak Nyaman Usai Divaksinasi COVID-19? Begini Cara Menanganinya

 Banyak orang akan mengalami efek samping ringan setelah vaksin COVID-19. Untungnya, efek sampung ini mudah dirawat dan tidak bertahan lebih dari satu atau dua hari.

Beberapa efek samping umum termasuk rasa sakit dan bengkak di tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, menggigil, sampai demam. Perlu dicatat bahwa efek samping merupakan tanda normal bahwa tubuh Anda sedang membangun perlindungan


Untuk mengatasinya, para ahli menyarankan beberapa tips yang dicoba. Berikut penjelasannya dikutip dari berbagai sumber.


1. Nyeri di tempat suntikan

Nyeri di tempat suntikan banyak dirasakan usai divaksinasi. Kabar baiknya rasa sakit ini adalah tanda bahwa tubuh mengembangkan respons kekebalan terhadap vaksin.


Untuk mengobati rasa sakit, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyarankan untuk kompres dingin pada area penyuntikan yang mungkin terasa sakit. Tujuannya untuk mengurangi efek peradangan pada area tersebut.


Jika masih terasa sakit, coba gerakkan lengan. Tetap diam hanya akan meningkatkan rasa nyeri.


2. Nyeri otot dan pegal

Beberapa orang juga merasakan pegal di sekujur tubuh setelah mendapatkan vaksin COVID-19.


"Beberapa orang mengatakan bahwa mereka merasa seperti baru saja melakukan olahraga intensitas tinggi. Otot mereka terasa pegal. Dan tidak hanya di tempat suntikan," kata D. Bonnie Maldonado, M.D, pakar penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford. "


Untuk mengatasinya, minum banyak air dan istirahat. Mandi air hangat juga bisa membantu.


3. Kelelahan, demam dan sakit kepala

Untuk demam, CDC merekomendasikan orang untuk minum banyak cairan dan berpakaian longgar. Istirahat dan relaksasi adalah cara untuk mengatasi kelelahan.


Banyak dokter menyarankan agar orang tidak membuat janji setelah vaksinasi agar bisa beristirahat. Gejala sering kali muncul di keesokan hari usai vaksinasi.


Selain itu eberapa obat yang dijual seperti ibuprofen dan lainnya dapat digunakan untuk meredakan demam dan sakit kepala. Hanya saja CDC menyarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu bila ingin mengonsumsi obat-obat tersebut.


Kapan harus ke dokter?

Efek samping biasanya tidak bertahan lebih dari 48 jam setelah mendapatkan suntikan, dan seringkali memudar lebih cepat dari itu. Tetapi jika Anda mengalami efek samping hingga berhari-hari setelah mendapatkan vaksin COVID-19, hubungi dokter.

https://cinemamovie28.com/movies/devil-and-angel/


Dua Kemungkinan Penyebab Mutasi 'Hybrid' Virus Corona


Menurut temuan terbaru di California, dua jenis varian COVID-19 telah bergabung menjadi jenis virus Corona yang bermutasi, yakni varian B1117 dari California dan B1429 dari Inggris. Salah satu penyebab munculnya mutasi baru ini adalah penularan dalam komunitas.

Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo menjelaskan, ada dua kemungkinan terjadinya rekombinasi virus Corona. Pertama, melalui interaksi tatap muka. Kedua, melalui infeksi virus pada orang dengan imunitas lemah.


"Pertama, penularan yang cepat di komunitas memberikan peluang munculnya varian karena setiap perbanyakan virus ada kemungkinan munculnya mutasi. Maka kalau tidak mau ada mutasi, ya jaga protokol kesehatan," terangnya saat dihubungi detikcom, Kamis (25/2/2021).


Kemungkinan kedua, mutasi virus Corona ini pada awalnya 'menempel' pada orang dengan sistem imun yang lemah. Akibatnya, virus leluasa bereplikasi cepat karena tidak ada perlawanan. Kondisi inilah yang berpotensi memunculkan varian virus Corona baru.


"Virus menemukan inang yang immunocompromised seperti pasien AIDS misalnya, atau pasien kanker yang sedang menjalani terapi," imbuhnya.


Ahmad turut menyebutkan, virus Corona memang diketahui bisa berekombinasi. Namun sampai kini di Indonesia belum ada laporan terkait ditemukannya mutasi virus gabungan B117 dan B1492 ini.

https://cinemamovie28.com/movies/the-nurse-girls-stunning-touch/