Jumat, 19 Februari 2021

158 Ribu Calon Jemaah Haji Diusulkan Jadi Penerima Vaksin Corona Tahap 2

 Kementerian Agama tengah mendata calon jemaah haji untuk mendapat prioritas vaksinasi Corona tahap kedua. Saat ini tercatat 158 ribu calon jemaah haji yang datanya diusulkan untuk masuk ke dalam kelompok prioritas penerima vaksin.

"Hari ini tercatat sudah ada 158 ribu update data jemaah yang sudah bisa diakses Kementerian Kesehatan untuk didaftarkan dalam usulan prioritas vaksinasi tahap kedua," kata Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Oman Fathurahman, dalam keterangan resmi di laman Kemenag, Kamis (18/2/2021).


Oman mengatakan langkah ini sebagai antisipasi jika Pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk memberikan kuota jemaah haji 1442H kepada Indonesia.


Lebih lanjut, ia menyebut validasi data ini sekaligus sebagai tindak lanjut surat Menag Yaqut Cholil Qoumas ke Menteri Kesehatan terkait permohonan dukungan perlindungan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia.


Data yang divalidasi berbasis pada jemaah yang telah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) 1440H/2020M. Akses data diberikan secara bertahap karena tim Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah lebih dulu melakukan proses validasi.


"Data yang diberikan antara lain mencakup Nomor Induk Kependudukan atau NIK, Nama, Nomor Porsi, dan alamat lengkap jemaah," jelas Oman.

https://cinemamovie28.com/movies/there-is-love-in-high-school/


Adaptasi Kebiasaan Baru Masa Pandemi: Serba Sehat, Dinamis & Praktis!


 Sudah hampir setahun sejak kasus COVID-19 di Indonesia ditemukan pertama kali di Depok, Jawa Barat. Tak hanya Indonesia, seluruh dunia pun dituntut agar dapat beradaptasi demi menyesuaikan diri dengan realita kehidupan yang dihadapi sehari-hari.

Pemerintah Indonesia pun turut mengeluarkan maklumat untuk menjaga kondisi bangsa melalui protokol kesehatan 3M yaitu Memakai Masker, Mencuci Tangan, dan Menjaga Jarak. Juga pemberlakuan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di berbagai daerah di Indonesia sebagai upaya untuk terus menekan penyebaran COVID-19. Dibutuhkan yang serba praktis dalam kehidupan yang dinamis seperti saat ini, termasuk dalam bidang kesehatan masyarakat.


Peduli Keluarga Indonesia, Laserin Terus Berinovasi di Masa Pandemi


PT Mecosin Indonesia sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan dan memproduksi obat herbal untuk batuk asli Indonesia, mengambil langkah besar dan strategis dalam upaya turut memenuhi kebutuhan kesehatan keluarga-keluarga Indonesia. Kini telah tersedia di pasaran Indonesia Laserin obat batuk dalam kemasan baru yaitu kemasan sachet.


"Laserin obat batuk sachet diproduksi untuk menjawab permintaan pasar yang membutuhkan Laserin obat batuk dalam kemasan yang lebih praktis, mudah dibawa saat berpergian dengan harga yang terjangkau masyarakat luas," demikian pembukaan Ibu Mariza Andika Ambarsari selaku Product Manager PT. Mecosin Indonesia dalam momen launching Laserin obat batuk sachet beberapa waktu lalu.


Ibu Mariza mengingatkan agar pada masa pandemi ini, cari obat batuk herbal yang sehat, dinamis, dan praktis seperti Laserin obat batuk dalam kemasan sachet. Komponen utama yang terdapat dalam Laserin obat batuk sachet yang diambil dari jahe merah pilihan, bermanfaat meredakan batuk dan melegakan tenggorokan.


Hadirnya Laserin obat batuk herbal dalam kemasan sachet merupakan jawaban kebutuhan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat Indonesia. Laserin obat batuk aman dikonsumsi karena terbuat dari bahan baku herbal dan tidak menyebabkan aktivitas terganggu, serta harganya pun yang terjangkau.

https://cinemamovie28.com/movies/catatan-si-boy-2/

Pakar IDI Ragukan Klaim Vaksin Nusantara Membentuk Antibodi Seumur Hidup

 Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban menanggapi klaim vaksin Nusantara, vaksin dendritik yang diprakarsai dr Terawan Agus Putranto, yang disebut-sebut bisa membentuk antibodi seumur hidup. Menurutnya, hingga saat ini belum ada vaksin COVID-19 yang bisa membuktikan hal tersebut.

"Vaksin Nusantara diklaim menciptakan antibodi seumur hidup. Mana buktinya?" cuitnya dalam akun Twitter pribadi @ProfesorZubairi, dikutip atas izin yang bersangkutan, Jumat (19/2/2021).


"Data uji klinis fase duanya saja belum ada apalagi fase tiga. Jadi, jika mau bicara klaim, tentu harus dengan data. Harus dengan evidence based medicine," lanjutnya.


Sejauh ini, menurutnya, vaksin Corona seperti Moderna, Sinovac, hingga Pfizer saja belum ada yang bisa membuktikan berapa lama antibodi bisa bertahan. Menurutnya, vaksin Influenza pun bertahan kurang dari setahun akibat mutasi virus.


"Tidak ada itu klaim yang mereka sampaikan bahwa antibodi dari vaksin-vaksin tersebut bisa bertahan enam bulan, satu tahun, apalagi seumur hidup," tegasnya.

https://cinemamovie28.com/movies/catatan-si-boy-4/


Tanggapan para pakar

Komentar yang sama sempat disampaikan pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo. Ia juga ikut mempertanyakan transparansi data uji klinis Fase I vaksin Nusantara yang menurutnya tiba-tiba sudah rampung.


Lebih lanjut, Ahmad menilai dari segi kerumitan teknologi sel dendritik, ia menyebut teknologi ini tak cocok untuk digunakan di kondisi pandemi COVID-19 Indonesia.


"Dari segi kemanfaatannya dan kerumitannya itu nggak cocok untuk kondisi jangankan Indonesia ya, untuk negara maju saja kaya Amerika itu kan nggak melakukan itu," sebut Ahmad saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.


"Kalau memang ini bagus banget, harusnya mereka duluan, mereka yang melibatkan itu, tapi kan mereka nggak melibatkan itu karena gimana ya rumit sekali lah, lebih mudah menginjeksikan tinggal suntik gitu kan selesai," lanjutnya.


Dalam kesempatan berbeda, ahli penyakit tropik dan infeksi dr Erni Juwita Nelwan SpPD juga meyakini teknologi sel dendritik secara keilmuwan sangat rumit dan memakan biaya besar.


"Bahwa dendritik sel itu memang akan teraktivasi pada sebagian besar infeksi virus," kata dr Erny.


"Tetapi kalau kita membuat dendritik sel ini sebagai basic untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai vaksin saya rasa secara keilmuwan ini akan sangat luar biasa sulit dan mungkin bisa jadi mahal, itu dari sisi manufacturingnya, pembuatannya," lanjutnya.


Seperti apa klaim vaksin Nusantara yang bisa memicu antibodi seumur hidup?


Sebelumnya diberitakan, anggota Tim Uji Klinis Vaksin Nusantara Jajang Edi Prayitno mengklaim vaksin Nusantara mempunyai antibodi hingga daya kekebalan tubuh yang bisa bertahan bahkan hingga seumur hidup. Disebutkan, vaksin akan bekerja dalam membentuk kekebalan seluler pada sel limfosit T.


"Vaksin punya dokter Terawan ini dendritik bersifat T-cells, berarti sekali suntik berlaku seumur hidup. Sehingga secara pembiayaan pun lebih menguntungkan dan tidak menguras devisa negara, karena ini diproduksi dalam negeri," kata Jajang Edi Prayitno, dikutip dari CNNIndonesia.


Adapun uji vaksin Nusantara disebut akan berlanjut ke Fase II jika sudah mengantongi izin BPOM. Sementara Ketua BPOM Penny K Lukito mengaku belum bisa memberikan izin kelanjutan vaksin Nusantara lantaran data fase I vaksin Nusantara baru diterima.

https://cinemamovie28.com/movies/catatan-si-boy-3/