Sabtu, 16 Januari 2021

Kebijakan Baru WhatsApp, Kaspersky: Dasarnya Tidak Ada yang Gratis

 Perusahaan keamanan internet Kaspersky turut mengomentari kebijakan baru WhatsApp. Menurut Kaspersky, pada dasarnya tidak ada layanan yang gratis.

Seperti diketahui, WhatsApp sebagai layanan pesan instan dapat diinstal dan diakses pengguna secara cuma-cuma. Bahkan sampai sekarang, WhatsApp mampu bertahan dengan tidak menghadirkan iklan di dalam layanan miliknya.


"Nyatanya memang tidak ada yang sepenuhnya "tidak berbayar" dan sayangnya model bisnis ini untuk layanan gratis berarti kita membayar dengan data kita. Jejaring sosial, beberapa messenger dan mesin pencari menghasilkan uang dari iklan dan apabila semakin dipersonalisasi semakin baik," ujar Peneliti Senior di Kaspersky Anna Larkina dalam keterangan tertulisnya.

"Faktanya, Facebook dan perusahaan lain telah melakukan ini melalui layanannya selama beberapa tahun terakhir," ungkapnya melanjutkan.


Kendati begitu, kabar baiknya, Larkina mengatakan ada dua hal yang menjadi catatan. Pertama, sebagian besar perusahaan, termasuk Facebook, bersikap transparan tentang kebijakannya. Kedua, WhatsApp tidak membaca percakapan Anda karena menyertakan enkripsi end-toend.


"Yang mereka telusuri hanyalah informasi teknis dan akun," imbuh Larkina.


Kebijakan baru WhatsApp yang berbagi data pengguna dengan Facebook akan diterapkan 8 Februari mendatang. Pengguna WhatsApp pun ditawarkan untuk mengikuti aturan privasi terbaru itu atau menghapus akun WhatsApp.


"Untungnya ada berbagai platform perpesanan alternatif dan saat ini pengguna dapat memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk mereka," kata Larkina.


Menyusul kebijakan baru WhatsApp tersebut, layanan pesan instan di bawah naungan Facebook itu mulai ditinggalkan ke layanan pesaing yang dinilai lebih aman dan menjamin privasi pengguna, misalnya Telegram maupun Signal.


WhatsApp memang sepertinya mulai patut waspada terhadap kebangkitan layanan messaging rival, Signal dan Telegram. Sebabnya kenaikan download yang dialami oleh kedua aplikasi tersebut tidak main-main jika melihat data terkini.


Analisa dari Sensor Tower menunjukkan Signal didownload sebanyak 17,8 juta kali di Play Store dan App Store pada 5 sampai 12 Januari. Itu merupakan peningkatan 61 kali lipat dari minggu sebelumnya yang sebesar 285 ribu kali.


Kemudian Telegram tembus 15,7 juta kali download di kurun waktu yang sama, 5 sampai 12 Januari, peningkatan dari jumlah 7,6 juta kali pada minggu sebelumnya. Bahkan Telegram telah mengumumkan jumlah pengguna aktif telah mencapai 500 juta user. WhatsApp pun bertindak.

https://maymovie98.com/movies/the-guys-from-paradise/


Ini Cara Huawei Percepat Pemulihan Ekonomi dengan Digitalisasi


Di tengah pandemi COVID-19 yang masih berlangsung hingga kini, Huawei meyakini optimalisasi daya guna teknologi digital dapat menjadi mesin penggerak untuk bantu percepatan pemulihan ekonomi global, termasuk Indonesia.

Vice President Public Affairs and Communications Huawei Indonesia, Ken Qi menyampaikan pihaknya semakin serius memperkuat upaya pengembangan teknologi mutakhir sebagai langkah melewati krisis global. Tak hanya itu, ia mengungkap Huawei turut berkontribusi memberi solusi untuk mempercepat pemulihan kondisi berbagai sektor di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, yang terdampak pandemi.


Menurut dia, sebagai penyedia solusi teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) terdepan di dunia, Huawei menyambut dengan penuh semangat terbangunnya sinergi multiple-helix dengan pemerintah, dunia akademik, pelaku industri dan komunitas untuk bersama-sama meningkatkan inklusi teknologi digital terdepan seperti Kecerdasan Artifisial (AI), Machine Learning, Big Data Analytics, dan Cloud melalui alih pengetahuan dan teknologi melalui program-program kolaboratif mereka.


"Pandemi telah menunjukkan kepada kita akan efektivitas teknologi digital sebagai solusi, namun sinergi dan gotong-royong digital tetap diperlukan untuk meningkatkan adopsinya," ujar Ken dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/1/2021).

https://maymovie98.com/movies/just-one-of-the-guys/

Jumat, 15 Januari 2021

Fakta-fakta Donor Plasma Darah COVID-19 Seperti yang Dilakukan Anies Baswedan

 Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan donor plasma darah COVID-19. Sebagai penyintas COVID-19, Anies menganggap donor plasma darah COVID-19 yang dilakukannya sebagai bentuk rasa syukur bisa bebas dari Corona.


"Saya (hari ini) baru saja selesai donor plasma konvalesen," kata Anies Baswedan melalui keterangan tertulis, usai melakukan donor plasma darah COVID-19 di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta Kamis (14/1/2021).

Anies Baswedan berharap bisa membantu lebih banyak warga setelah mengajukan diri sebagai pendonor. Ia juga mendorong lebih banyak pasien sembuh Corona yang melakukan donor plasma darah COVID-19.


Seperti diketahui, terapi plasma darah COVID-19 menjadi salah satu perawatan yang dilakukan pada pasien Corona. Metode penyembuhan ini memanfaatkan antibodi di dalam darah pasien sembuh Corona dan diberikan pada pasien COVID-19 yang masih terinfeksi.


Namun, tak semua pasien sembuh Corona bisa melakukan donor plasma darah COVID-19, berikut fakta-faktanya.


1. Kriteria donor penyintas COVID-19

Menurut pendiri Komunitas Pendonor Plasma Konvalesen, dr Ariani MKes SpA (K), kriteria donor plasma konvalesen selain pernah terkonfirmasi positif, ia harus bebas dari gejala COVID-19.


"Yang bisa gabung adalah survivor COVID yang bersedia mendonorkan plasma darahnya," kata dr Ariani beberapa waktu lalu.


Berikut beberapa kriterianya


Pernah terdiagnosis konfirmasi COVID-19 (hasil swab PCR dan/atau swab antigen positif)


Bebas dari gejala COVID-19 (demam/batuk/sesak/diare) sekurang-kurangnya 14 hari.

Usia 18-60 tahun

Laki-laki, wanita yang belum pernah hamil

Berat badan minimal 55 kg

Tidak memiliki penyakit yang berat (gagal ginjal, jantung, kanker, kencing manis, darah tinggi tidak terkontrol).

2. Terapi plasma sudah sejak lama digunakan

Terapi plasma darah selama ini dinilai cukup aman digunakan untuk pasien COVID-19. Pasalnya, terapi ini juga sudah berjalan cukup lama dan digunakan untuk menangani SARS, MERS, Ebola dan Influenza H5N1.


3. Efek terapi plasma darah COVID-19

Dikutip dari CNN, peneliti dari Eijkman Institute Profesor David H Muljono menyebut terapi donor plasma darah COVID-19 memiliki efek yang sangat baik pada pasien Corona bergejala sedang hingga berat.


"Pemberian plasmakonvalesen lebih bermanfaat bagi pasien dengan derajat sedang sampai berat, dibanding pasien dengan keadaan kritis," jelas David.

https://kamumovie28.com/movies/i-am-a-hero/


2 Ilmuwan WHO yang Teliti Asal Usul Corona Batal Masuk China, Ada Apa?


Dua anggota tim peneliti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sedang dalam perjalanan untuk menyelidiki asal-usul COVID-19 dilaporkan tak bisa melanjutkan ke China.

Sebanyak lima belas anggota tim WHO dijadwalkan mendarat di Wuhan pada Kamis (14/1/2021), tetapi dua dari mereka ditahan di Singapura ketika mereka dinyatakan positif antibodi virus corona, kata WHO.


Dalam pernyataan WHO, seluruh anggota tim memiliki hasil negatif untuk tes PCR dan tes antibodi untuk COVID-19 di negara asal mereka sebelum melakukan perjalanan. Namun kedua orang anggota dinyatakan positif antibodi IgM saat melakukan tes di Singapura.


"Mereka sedang dites ulang untuk antibodi IgM dan IgG," tulis WHO, dikutip dari New York Times.


Ketiga belas peneliti lainnya telah tiba di Wuhan dan akan melakukan penyelidikan selama dua minggu ke depan. Tim peneliti ini terdiri dari ilmuwan dari Amerika Serikat, Australia, Jerman, Jepang, Inggris, Rusia, Belanda, Qatar dan Vietnam.


Saat ditanyai perihal dua ilmuwan WHO yang tertahan di Singapura, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, tidak memberikan komentar langsung.


"Kami secara ketat mengikuti peraturan dan persyaratan pencegahan epidemi yang relevan, dan memberikan dukungan dan fasilitas yang sesuai bagi para ahli WHO yang datang ke China untuk melakukan kerja sama internasional dalam melacak asal usulnya," kata Zhao.

https://kamumovie28.com/movies/hatchet-iii/