Rabu, 13 Januari 2021

Ke Mana Saja Kamu Pergi di 2020, Google Punya Catatannya

 Selama tahun 2020 mungkin tak banyak tempat yang bisa kamu kunjungi, gara-gara pandemi COVID-19. Tapi rupanya Google membuat catatan perjalanan kita.

Jika kamu ingin mengingat lagi tempat-tempat yang telah disambangi selama tahun 2020, Google dapat membantu. Seperti diwartakan 9to5Google dilansir dari Gizmodo, Selasa (12/1/2021), Google Maps sudah mulai menyebar laporan '2020 Timeline Update' kepada para pengguna.


Laporan tersebut dikirimkan Google ke akun Gmail pengguna. Di dalam email itu Google Maps memuat semacam kaleidoskop catatan perjalanan yang dilakukan setiap pengguna selama 2020. Pengguna dapat mengingat kembali, daerah hingga tempat apa saja yang telah dikunjungi.


Terdapat kolom trends pada laporan yang diberikan Google Maps. Kolom tersebut berisi analisa Google mengenai jenis tempat yang paling sering dikunjungi pengguna, seperti tempat perbelanjaan atau rumah makan. Google juga memasukkan total jarak yang telah ditempuh pengguna dengan berjalan kaki dan berkendara.


Google memastikan timeline update itu bersifat personal bagi masing-masing pengguna. Laporan hanya diberikan melalui email pribadi sehingga tidak dapat diakses orang lain.


Sebagai catatan, laporan '2020 Timeline Update' hanya diberikan kepada pengguna yang mengaktifkan fitur 'Location History' pada akun Google-nya. Pengguna yang mematikan riwayat lokasi tetap bisa mendapatkan timeline update, asalkan mengaktifkan pengaturan 'Web & App Activity'. Jika keduanya dinonaktifkan, maka Google Maps tidak akan memberikan laporan perjalanan itu.


Di satu sisi, laporan perjalanan dalam timeline update dari Google mungkin terlihat keren dan menyenangkan. Namun, di sisi lain pengguna harus menyadari perjalanannya sepanjang tahun telah 'diintai' oleh Google. Tinggal kamu yang menentukan, apakah ingin mengizinkan Google mengikuti segala aktivitas atau menutup rapat privasi.

https://nonton08.com/movies/love-and-faith/


Kenapa Black Box Harus Direndam, Ini Jawabannya


Black box atau kotak hitam Sriwijaya Air SJ182 sudah ditemukan, berupa flight data recorder (FDR). Black box ternyata harus selalu direndam air.

Seperti dilansir CNN Indonesia dari Aerotime, Selasa (12/1/2021) black box mesti terendam di air untuk mengaktifkan sensor underwater locator beacon (ULB). Dengan begitu, benda ini bisa ditemukan saat tenggelam di air.


ULB adalah teknologi di dalam kotak hitam yang digunakan untuk mengirimkan sinyal atau ping ketika sensornya menyentuh air. Fungsinya untuk memudahkan black box ini ditemukan setelah kecelakaan pesawat yang terjadi di laut, seperti kejadian yang menimpa Sriwijaya Air.


Teknologi ULB bisa mengirimkan sinyal dari kedalaman laut hingga 4.200 meter. Semua kotak hitam memiliki suar pencari lokasi bawah air yang dapat mengirimkan sinyal saat kontak dengan air.


Seperti diketahui, black box hanyalah istilah saja. Benda ini berwarna oranye terang dan berbentuk silinder bukan kotak. Warna oranye untuk memudahkan penemuan di dalam air karena oranye adalah warna yang paling kontras di dalam laut.


Black box merekam data waktu, ketinggian, kecepatan angin, arah pesawat hingga setiap keputusan pilot. Black box pun memiliki rekam suara di kokpit yang memuat suara informasi seperti mesin hingga bunyi sinyal darurat atau peralatan yang macet.


Mengutip dari Flight Radar 24, black box terdiri dari dua kombinasi perangkat yaitu CVR (Cockpit Voice Recorder) dan FDR (Flight Data Recorder). FDR merekam beragam data tentang semua aspek pesawat saat terbang dari satu tempat ke tempat lain. Sementara CVR merekam percakapan di kokpit dan suara-suara seperti transmisi radio dan alarm otomatis.


Kedua informasi penting ini akan membantu tim KNKT mengidentifikasi penyebab kecelakaan. FDR Sriwijaya Air SJ182 sudah ditemukan, kini tim gabungan akan mencari CVR.

https://nonton08.com/movies/lily-kat/

Data Black Box Pesawat Sudah Bisa Disimpan di Cloud

 Kenapa data black box tidak disimpan di cloud? Pertanyaan ini kerap muncul setiap kali ramai pemberitaan evakuasi kecelakaan pesawat seperti kejadian Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di Kepulauan Seribu. Perusahaan ini coba mewujudkannya.

Ada banyak tantangan yang menyebabkan sistem streaming data black box secara real time tak diterapkan di semua pesawat. Sementara itu, sejumlah perusahaan saat ini berupaya menawarkan teknologi tersebut.


FLYHT Aerospace Solutions

FLYHT Aerospace Solutions di Kanada menyediakan layanan streaming data black box sesuai permintaan. Disebutkan FLYHT, perusahaannya sudah punya lebih dari 50 pelanggan, dan sistemnya terpasang di sekitar 400 pesawat. Dikutip dari Cbc.ca, Selasa (12/1/2021) First Air Canada adalah satu-satunya maskapai penerbangan yang secara terbuka mengumumkan bahwa mereka menggunakan sistem milik FLYHT.


Sistem ini tidak secara terus menerus mengirim data, namun akan aktif jika terjadi kejadian abnormal. Saat terjadi insiden, sistem akan dengan cepat mengirimkan data ke server maskapai untuk analisis dan menerapkan tindakan korektif.


"Jika ada yang salah, kami dapat memberikan informasi lebih cepat tentang apa yang terjadi. Kami bisa mulai mengumpulkan informasi dan bersama-sama menguak teka-teki (penyebab kecelakaan) lebih cepat, jadi pihak penerbangan bisa mengabaikan berbagai konspirasi tentang insiden yang bertebaran di luar sana," kata Graham Ingham yang bekerja di FLYHT.


Adapun perangkat tersebut mirip dengan perangkat black box yang sudah umum digunakan di pesawat selama puluhan tahun, yakni terdiri dari Flight Data Recorders (FDR) dan Cockpit Voice Recorders (CVR).


Kendala di balik kecanggihan ini adalah biaya. FLYHT menawarkan layanan dengan biaya sekitar USD 100 ribu per pesawat, termasuk perangkat keras dan instalasi. Jika ingin menerapkan konsep ini tentu biaya yang akan dikeluarkan oleh sebuah perusahaan penerbangan tidaklah kecil. Apalagi bandwidth satelit juga tidak murah.

https://nonton08.com/movies/night-market-ghost-house/


Ke Mana Saja Kamu Pergi di 2020, Google Punya Catatannya


 Selama tahun 2020 mungkin tak banyak tempat yang bisa kamu kunjungi, gara-gara pandemi COVID-19. Tapi rupanya Google membuat catatan perjalanan kita.

Jika kamu ingin mengingat lagi tempat-tempat yang telah disambangi selama tahun 2020, Google dapat membantu. Seperti diwartakan 9to5Google dilansir dari Gizmodo, Selasa (12/1/2021), Google Maps sudah mulai menyebar laporan '2020 Timeline Update' kepada para pengguna.


Laporan tersebut dikirimkan Google ke akun Gmail pengguna. Di dalam email itu Google Maps memuat semacam kaleidoskop catatan perjalanan yang dilakukan setiap pengguna selama 2020. Pengguna dapat mengingat kembali, daerah hingga tempat apa saja yang telah dikunjungi.


Terdapat kolom trends pada laporan yang diberikan Google Maps. Kolom tersebut berisi analisa Google mengenai jenis tempat yang paling sering dikunjungi pengguna, seperti tempat perbelanjaan atau rumah makan. Google juga memasukkan total jarak yang telah ditempuh pengguna dengan berjalan kaki dan berkendara.

https://nonton08.com/movies/ldr/