Selasa, 12 Januari 2021

EUA Terbit, Ini Jadwal dan Penerima Vaksin COVID-19 di Indonesia

 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi mengeluarkan izin penggunaan darurat atau EUA bagi vaksin COVID-19 Sinovac. Dalam uji klinis, vaksin COVID-19 Sinovac memiliki efikasi 65,3 persen.

"Pada Senin 11 Januari, Badan POM memberikan emergency use authorization pada kondisi emergency untuk vaksin CoronaVac produksi Sinovac yg bekerjasama dengan Bio Farma," kata Kepala BPOM Penny K Lukito, dalam konferensi pers daring, Senin (11/1/2021).


Setelah izin penggunaan darurat terbit, Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan menerima dosis pertama vaksin COVID-19 Sinovac pada 13 Januari. Setelah itu dilanjutkan dengan kelompok penerima lainnya.


Pemerintah merencanakan ada sekitar empat kelompok daftar prioritas penerima vaksin yang alur waktunya selama 15 bulan ke depan, dari Januari 2021 hingga Maret 2022.


Berikut tahapan penerima vaksinasi COVID-19 di Indonesia.


- Tahap 1 (Januari-April 2021)

Tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang serta mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan profesi kedokteran yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes).


- Tahap 2 (Januari-April 2021)

Sasaran vaksinasi COVID-19 tahap 2 adalah:


1. Petugas pelayanan publik, yaitu TNI/Polri, aparat hukum, dan petugas pelayanan publik lainnya yang meliputi petugas di bandara/pelabuhan/stasiun/terminal, perbankan, perusahaan listrik negara, dan perusahaan daerah air minum, serta petugas lain yang terlibat secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat.


2. Kelompok usia lanjut (di atas 60 tahun).


- Tahap 3 (April 2021-Maret 2022)

Sasaran vaksinasi COVID-19 tahap 3 adalah masyarakat rentan dari aspek geospasial, sosial, dan ekonomi.


- Tahap 4 (April 2021-Maret 2022)

Sasaran vaksinasi tahap 4 adalah masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan klaster sesuai dengan ketersediaan vaksin.

https://kamumovie28.com/movies/the-guys-2/


Catat, Daftar Vitamin yang Disarankan Dokter untuk Pasien COVID-19


Selama masa penyembuhan, pasien COVID-19 tetap harus menjaga kesehatannya dengan mengonsumsi makanan yang kaya akan asupan gizi. Selain menjaga asupan makanan, pasien COVID-19 juga diberi vitamin untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya.

Untuk mempercepat proses penyembuhan pasien COVID-19 juga disarankan untuk mengonsumsi banyak vitamin.


Dalam Pedoman Tata Laksana COVID-19 Edisi 3 yang disusun gabungan perhimpunan dokter Indonesia, ada sejumlah vitamin yang diresepkan untuk pasien COVID-19. Berbeda dengan obat-obatan, vitamin ini boleh dibeli secara bebas oleh masyarakat.


Berikut daftar vitamin yang direkomendasikan untuk pasien COVID-19.


1. Pasien COVID-19 Tanpa Gejala

Vitamin C, dengan pilihan:


- Tablet vitamin C non acidic 500mg/6-8 jam oral (untuk 14 hari)

- Tablet isap vitamin C 500 mg/12 jam oral (selama 30 hari)

- Multivitamin yang mengandung Vitamin C 1-2 tablet/24 jam (selama 30 hari)

- Dianjurkan multivitamin yang mengandung vitamin C, B, E, Zink


Vitamin D


- Suplemen: 400 IU-1000 IU/hari (tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet hisap, kapsul lunak, serbuk, sirup)

- Obat 1000-5000 IU/hari (tersedia dalam bentuk tablet 1000 IU dan tablet kunya 5000 IU.


2. Pasien COVID-19 Gejala Ringan

Vitamin C, dengan pilihan:


- Tablet vitamin C non acidic 500mg/6-8 jam oral (untuk 14 hari)

- Tablet isap vitamin C 500 mg/12 jam oral (selama 30 hari)

- Multivitamin yang mengandung Vitamin C 1-2 tablet/24 jam (selama 30 hari)

- Dianjurkan multivitamin yang mengandung vitamin C, B, E, Zink


Vitamin D

- Suplemen: 400 IU-1000 IU/hari (tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet hisap, kapsul lunak, serbuk, sirup)

- Obat 1000-5000 IU/hari (tersedia dalam bentuk tablet 1000 IU dan tablet kunya 5000 IU.

https://kamumovie28.com/movies/the-guys/

Tim Ahli Luruskan Klaim Efektivitas Rapid Test Antigen CePAD Besutan Unpad

 Sempat tersiar kabar bahwa alat Rapid Test Antigen CePAD besutan Universitas Padjadjaran (Unpad) sudah melebihi standar World Health Organization (WHO) terkait sensitivitasnya. Tim ahli meluruskan klaim tersebut.

Awalnya, klaim soal efektivitas yang melebihi standar WHO tersebut disampaikan oleh Direktur Inovasi dan Korporasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Diana Sari dalam sebuah acara yang digelar secara daring.


"Kalau kita melihat di sini tingkat akurasinya 91,5 persen dengan sensitivitas 85 persen. Yang direkomendasikan WHO 80 persen, artinya kita sudah melebihi itu," kata Diana.


Koordinator Riset CePAD Muhammad Yusuf mengatakan saat ini CePAD memang telah memenuhi persyaratan sensitivitas dari WHO. Namun ditegaskan, standar dari segi spesifikasi masih belum tercapai. Adapun, informasi yang beredar soal melebihi standar WHO merupakan bentuk miskomunikasi dan disinformasi.

https://kamumovie28.com/movies/satans-slave/


"Kemarin kami tidak hadir di acara sehingga terjadi disinformasi dan miskomunikasi dari data yang kami berikan. Kami dari inventor mengetahui lebih jelas latar belakangnya, jadi data terbarunya itu sensitivitasnya 80 sudah memenuhi persyaratan sensitivitas WHO, sudah sesuai. Tapi spesifikitasnya sedang kami upayakan dan masih ditingkatkan," ujar Yusuf saat dihubungi detikcom, Senin (11/1/2021).


Dia mengatakan, CePAD mulai diteliti sejak April-Mei 2020 sebelum WHO merekomendasikan Rapid Test Antigen pada September 2020. Saat itu, kata dia, antigen detection belum direkomendasikan WHO, karena sensitifitasnya rendah jika dibandingkan dengan PCR.


"Seiring waktu, karena kenyatannya, implementasi PCR sulit diterapkan diseluruh negara karena semakin sulit didapat akhirnya WHO me review ulang dan merekomendasikan antigen ketika di daerah tersebut tidak ada PCR atau kesulitan PCR," ujar Yusuf.


Kembali ke CePAD, alat Rapid Test Antigen pertama buatan anak bangsa ini, terbaru memiliki sensitivitas 80 persen dengan spesifikitas 94,3 persen. Standar WHO menyebut, alat antigen minimal memiliki standar sensitivitas 80 persen dan spesifikitas 97 persen.


Yusuf mengakui, dari segi standar CePAD memang pernah menyentuh angka 85 persen melebihi standar WHO, hanya saja itu data dua pekan yang lalu. "Sebelumnya memang lebih tapi setelah divalidasi dan dikembangkan lagi (dengan) diperbanyak sampelnya, sensitivas menurun tapi spesifikasinya naik dari asal 80 sudah naik menjadi 94,3 persen," jelasnya.

"Ini kan antigen dalam negeri, sedangkan yang direkomendasikan WHO itu ada empat. Kalau kami prinsipnya sudah bisa bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu mendeteksi antigen," sambung Yusuf.


Dia menjelaskan, perbedaan dua standar yang disyaratkan WHO tersebut. Pertama, sensitivitas artinya seberapa baik kemampuan alat untuk mendeteksi virus. Sementara spesifik seberapa baik membedakan orang yang sakit COVID-19 atau tidak. "Jadi kalau hasil yang keluar positif, ini meyakinkan kalau dia benar karena covid bukan karena penyakit yang lain," jelasnya.


"CePAD yang dikembangkan oleh kami itu betul-betul dari awal, sensitivitas itu bahkan dari nol persen kemudian naik lagi, sampai akhirnya kita di 80 persen. Dari sisi sensitivitas kita sudah mengantongi izin untuk menjadi antigen. Sementara dari spesifikitas juga sama sampai kemarin itu mencapai 93 persen. Jadi, sebenarnya ada bahasa memenuhi standar WHO itu adalah ketika bercerita perjalanannya dari nol sampai 80 persen. Ini challenge berikutnya, kami inginnya dalam waktu dekat bisa memenuhi kedua syarat WHO sehingga bisa direkomendasikan juga oleh WHO," pungkasnya.

https://kamumovie28.com/movies/satans-slaves/