Selasa, 12 Januari 2021

Makin Banyak yang Tak Patuhi Prokes, Tanda-tanda Pandemic Fatigue?

  Sudah 10 bulan lebih pandemi COVID-19 melanda Indonesia, dan jumlah kasus positifnya akhir-akhir ini terus melonjak. Di sisi lain, protokol kesehatan makin banyak dilanggar dan diabaikan.

Kerumunan 'horor' di Waterboom Lippo Cikarang misalnya, banyak disorot karena terjadi sehari sebelum Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Di tempat lain, rasanya tidak sulit menemukan kondisi serupa belakangan ini, pertanya makin banyak yang abai.


Data menunjukkan bahwa antara September hingga Desember 2020, persentase kepatuhan masyarakat menggunakan masker pun menurun hingga 28 persen. Tak hanya itu, kepatuhan menjaga jarak juga ikut turun sampai 20,6 persen.


Menurut perwakilan Perhimpunan Dokter Okupasi Indonesia (PERDOKI) Dr dr Dewi Soemarko, MKK, SpOk, hal ini bisa dipicu karena kondisi yang disebut dengan pandemic fatigue. Kondisi ini muncul saat orang-orang sudah mulai lelah dengan pandemi COVID-19 hingga hari ini.


"Sepertinya iya. Jadi pandemic fatigue itu apa sih? Orang menjadi demotivasi itu artinya capek. Kita melakukan hal itu-itu lagi dalam hal disini protokol kesehatan," ujarnya dalam diskusi daring melalui kanal BNPB, Senin (11/1/2021).


Apa itu pandemic fatigue dan siapa saja yang bisa mengalaminya?

Menurut Kepala Divisi Psikiatri Forensik/Ketua Prodi Spesialis Kedokteran Jiwa, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), dr Natalia Widiasih Raharjanti, SpKJ(K), MPdKed, pandemic fatigue merupakan respons normal yang dialami seseorang dalam menghadapi situasi pandemi.


"Itu adalah suatu respons yg sangat normal dan natural, dan bisa terjadi pada siapapun. Apalagi pandeminya sudah terjadi 10 bulan. Pandemic fatigue juga dipengaruhi bagaimana seseorang itu mempersepsikan situasi bencana," jelasnya.


Dalam penjelasannya, dr Natalia juga menyebutkan beberapa hal yang bisa menjadi penyebab munculnya pandemic fatigue ini, yaitu:


Kehilangan pekerjaan dan kesempatan

Isolasi sosial

Kehilangan orang terdekat

Kehilangan kebebasan

Kehilangan hiburan

Persepsi bahaya dari pademi berkurang karena adanya interpretasi data yang salah.

https://kamumovie28.com/movies/london-love-story/


Perlu Tahu, Ini 4 Tahap Penyuntikan Vaksin COVID-19


 Puskesmas Tanjung Brebes, Jawa Tengah, Senin (11/1/2021) melaksanakan simulasi pemberian vaksin kepada para tenaga medis. Simulasi ini bertujuan agar vaksinasi corona ini berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Simulasi ini bertujuan memberikan pembekalan teknis kepada tenaga kesehatan menjelang pelaksanaan vaksinasi corona dalam waktu dekat ini. Mengingat ada berbagai tahapan dan syarat sebelum orang diberikan suntikan vaksin.


"Karena ini sesuatu yang baru saya berharap semua tenaga kesehatan tahu dan paham (mekanisme vaksin corona) sehingga bisa terlaksana dengan baik. Tadi sudah disimulasikan dari awal sampai akhir," kata Kepala Puskesmas Tanjung, drg Adhi Supriadi kepada wartawan usai menggelar simulasi di kantornya.


Dengan pengetahuan yang dimiliki, petugas kesehatan nantinya bisa memberikan sosialisasi kepada masryarakat, terutama mereka yang masih ragu. Mereka harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa vaksin ini akan melindungi diri dan orang lain dari penularan virus COVID-19.


"Mereka (nakes) harus bisa memberikan pemahaman soal vaksin ini. Bahwa vaksin corona akan melindungi diri dan orang lain. Ini terutama bagi yang masih ragu. Harapan kami tidak ada lagi yang takut maupun ragu,"ujar Adhi berharap.


Diteruskan Adhi, vaksinasi dilakukan sebanyak dua kali secara bertahap dalam waktu 14 hari. Proses pemberian vaksin pun tidak sama dengan vaksin lain, karena harus melalui empat tahapan.


"Setiap orang yang akan divaksin istilahnya harus melalui empat pos. Mereka akan diperiksa dan skrining sebelum disuntik," terangnya.

https://kamumovie28.com/movies/kartini-princess-of-java/

5 Fakta 'Restu' BPOM untuk Vaksin Sinovac, Efikasi hingga Efek Samping

 Vaksin COVID-19 CoronaVac buatan Sinovac resmi mendapat restu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam bentuk emergency use authorization (EUA), Senin (11/1/2021). Dalam uji klinis, vaksin ini menunjukkan efikasi 65,3 persen.

Izin penggunaan darurat untuk masa pandemi ini keluar hanya berselang 2 hari dengan rencana penyuntikan pertama, yakni Rabu (13/1/2021). Direncanakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menjadi orang pertama yang mendapat suntikan vaksinasi.


Sesuai urutan prioritas, para tenaga kesehatan akan menjadi salah satu kelompok yang akan mendapat suntikan vaksin pada tahap pertama. Ditargetkan, program vaksinasi akan selesai dalam 15 bulan dengan menjangkau 181,5 juta warga.


Beberapa fakta pemberian izin BPOM untuk vaksin Sinovac terangkum sebagai berikut.


1. Efikasi 65,3 persen

Analisis interim hasil uji klinis di Bandung menunjukkan efikasi vaksin Sinovac sebesar 65,3 persen. Kepala BPOM Penny K Lukito menjelaskan, angka ini berarti vaksin Sinovac menunjukkan harapan untuk bisa menurunkan kejadian penyakit COVID-19 hingga 65,3 persen.


Efikasi yang didapat lebih kecil dibanding hasil uji klinis di Turki yakni sebesar 91,25 persen dan di Brasil yakni 78 persen. Menurut epidemiolog dr Jarir At Thobari, perbedaan ini dipengaruhi banyak faktor, terutama perbedaan kondisi epidemiologi di tiap negara.


Namun yang terpenting, nilai efikasi yang didapat sudah lebih tinggi dari persyaratan yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia WHO yakni 50 persen.

https://kamumovie28.com/movies/susah-sinyal/


2. Imunogenesitas 99,23 persen

Selain efikasi, imunigenesitas atau kemampuan membentuk antobodi untuk membunuh dan menetralkan virus juga dinilai dalam uji klinis fase 3. Dari uji yang dilakukan di Bandung, didapatkan data antibodi sampai 3 bulan setelah penyuntikan sebesar 99,23 persen.


3. Efek samping ringan-sedang

Hasil pemantauan selama 3 bulan setelah penyuntikan dosis kedua juga menunjukkan vaksin Sinovac aman. Penny menyebut beberapa temuan efek samping ringan hingga sedang. Di antaranya:


Efek samping lokal:

nyeri

indurasi atau iritasi

kemerahan

pembengkakan

Efek samping sistemik

myalgia atau nyeri otot

fatigue atau kelelahan

demam.

"Efek samping tersebut bukan merupakan efek samping yang berbahaya dan dapat pulih kembali," tegas Penny.


Vaksinasi tidak menjamin seseorang akan 100 persen kebal COVID-19. Simak selengkapnya di halaman berikut.


4. Tidak menjamin 100 persen kebal

Menurut Ketua ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization) Prof Dr Sri Rezeki S Hadinegoro, pemberian vaksin COVID-19 tidak serta-merta membuat seseorang jadi kebal. Risiko terinfeksi tetap akan ada, namun dampaknya akan lebih ringan dibanding yang tidak divaksin.


"Jadi kalaupun ia sudah diimunisasi kena COVID-19 InsyaAllah tidak berat kalau dia memang imun, karena kita tidak bisa tahu apakah virus yang kena itu ganas," jelas Prof Sri.


"Lalu, setelah disuntik dua kali, itu kita nggak langsung tinggi antibodinya, kita perlu waktu untuk meningkatkan antibodi, paling tidak setelah dua kali suntik itu 14 hari sampai 1 bulan baru dia maksimal antibodi," lanjutnya.


Itu artinya, protokol kesehatan seperti pakai masker, cuci tangan, dan menjaga jarak, tetap harus dijalankan hingga terbentuk herd immunity.


5. Suci dan halal menurut MUI

Sebelumnya, pada Jumat (8/1/2021), Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa halal untuk vaksin Sinovac. Hasil rapat komisi fatwa menyepakati vaksin tersebut suci dan halal.

https://kamumovie28.com/movies/posesif/