Selasa, 12 Januari 2021

Tim Ahli Luruskan Klaim Efektivitas Rapid Test Antigen CePAD Besutan Unpad

 Sempat tersiar kabar bahwa alat Rapid Test Antigen CePAD besutan Universitas Padjadjaran (Unpad) sudah melebihi standar World Health Organization (WHO) terkait sensitivitasnya. Tim ahli meluruskan klaim tersebut.

Awalnya, klaim soal efektivitas yang melebihi standar WHO tersebut disampaikan oleh Direktur Inovasi dan Korporasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Diana Sari dalam sebuah acara yang digelar secara daring.


"Kalau kita melihat di sini tingkat akurasinya 91,5 persen dengan sensitivitas 85 persen. Yang direkomendasikan WHO 80 persen, artinya kita sudah melebihi itu," kata Diana.


Koordinator Riset CePAD Muhammad Yusuf mengatakan saat ini CePAD memang telah memenuhi persyaratan sensitivitas dari WHO. Namun ditegaskan, standar dari segi spesifikasi masih belum tercapai. Adapun, informasi yang beredar soal melebihi standar WHO merupakan bentuk miskomunikasi dan disinformasi.

https://kamumovie28.com/movies/satans-slave/


"Kemarin kami tidak hadir di acara sehingga terjadi disinformasi dan miskomunikasi dari data yang kami berikan. Kami dari inventor mengetahui lebih jelas latar belakangnya, jadi data terbarunya itu sensitivitasnya 80 sudah memenuhi persyaratan sensitivitas WHO, sudah sesuai. Tapi spesifikitasnya sedang kami upayakan dan masih ditingkatkan," ujar Yusuf saat dihubungi detikcom, Senin (11/1/2021).


Dia mengatakan, CePAD mulai diteliti sejak April-Mei 2020 sebelum WHO merekomendasikan Rapid Test Antigen pada September 2020. Saat itu, kata dia, antigen detection belum direkomendasikan WHO, karena sensitifitasnya rendah jika dibandingkan dengan PCR.


"Seiring waktu, karena kenyatannya, implementasi PCR sulit diterapkan diseluruh negara karena semakin sulit didapat akhirnya WHO me review ulang dan merekomendasikan antigen ketika di daerah tersebut tidak ada PCR atau kesulitan PCR," ujar Yusuf.


Kembali ke CePAD, alat Rapid Test Antigen pertama buatan anak bangsa ini, terbaru memiliki sensitivitas 80 persen dengan spesifikitas 94,3 persen. Standar WHO menyebut, alat antigen minimal memiliki standar sensitivitas 80 persen dan spesifikitas 97 persen.


Yusuf mengakui, dari segi standar CePAD memang pernah menyentuh angka 85 persen melebihi standar WHO, hanya saja itu data dua pekan yang lalu. "Sebelumnya memang lebih tapi setelah divalidasi dan dikembangkan lagi (dengan) diperbanyak sampelnya, sensitivas menurun tapi spesifikasinya naik dari asal 80 sudah naik menjadi 94,3 persen," jelasnya.

"Ini kan antigen dalam negeri, sedangkan yang direkomendasikan WHO itu ada empat. Kalau kami prinsipnya sudah bisa bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu mendeteksi antigen," sambung Yusuf.


Dia menjelaskan, perbedaan dua standar yang disyaratkan WHO tersebut. Pertama, sensitivitas artinya seberapa baik kemampuan alat untuk mendeteksi virus. Sementara spesifik seberapa baik membedakan orang yang sakit COVID-19 atau tidak. "Jadi kalau hasil yang keluar positif, ini meyakinkan kalau dia benar karena covid bukan karena penyakit yang lain," jelasnya.


"CePAD yang dikembangkan oleh kami itu betul-betul dari awal, sensitivitas itu bahkan dari nol persen kemudian naik lagi, sampai akhirnya kita di 80 persen. Dari sisi sensitivitas kita sudah mengantongi izin untuk menjadi antigen. Sementara dari spesifikitas juga sama sampai kemarin itu mencapai 93 persen. Jadi, sebenarnya ada bahasa memenuhi standar WHO itu adalah ketika bercerita perjalanannya dari nol sampai 80 persen. Ini challenge berikutnya, kami inginnya dalam waktu dekat bisa memenuhi kedua syarat WHO sehingga bisa direkomendasikan juga oleh WHO," pungkasnya.

https://kamumovie28.com/movies/satans-slaves/

Perlu Tahu, Ini 4 Tahap Penyuntikan Vaksin COVID-19

 Puskesmas Tanjung Brebes, Jawa Tengah, Senin (11/1/2021) melaksanakan simulasi pemberian vaksin kepada para tenaga medis. Simulasi ini bertujuan agar vaksinasi corona ini berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Simulasi ini bertujuan memberikan pembekalan teknis kepada tenaga kesehatan menjelang pelaksanaan vaksinasi corona dalam waktu dekat ini. Mengingat ada berbagai tahapan dan syarat sebelum orang diberikan suntikan vaksin.


"Karena ini sesuatu yang baru saya berharap semua tenaga kesehatan tahu dan paham (mekanisme vaksin corona) sehingga bisa terlaksana dengan baik. Tadi sudah disimulasikan dari awal sampai akhir," kata Kepala Puskesmas Tanjung, drg Adhi Supriadi kepada wartawan usai menggelar simulasi di kantornya.


Dengan pengetahuan yang dimiliki, petugas kesehatan nantinya bisa memberikan sosialisasi kepada masryarakat, terutama mereka yang masih ragu. Mereka harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa vaksin ini akan melindungi diri dan orang lain dari penularan virus COVID-19.


"Mereka (nakes) harus bisa memberikan pemahaman soal vaksin ini. Bahwa vaksin corona akan melindungi diri dan orang lain. Ini terutama bagi yang masih ragu. Harapan kami tidak ada lagi yang takut maupun ragu,"ujar Adhi berharap.


Diteruskan Adhi, vaksinasi dilakukan sebanyak dua kali secara bertahap dalam waktu 14 hari. Proses pemberian vaksin pun tidak sama dengan vaksin lain, karena harus melalui empat tahapan.

https://kamumovie28.com/movies/london-love-story-3/


"Setiap orang yang akan divaksin istilahnya harus melalui empat pos. Mereka akan diperiksa dan skrining sebelum disuntik," terangnya.


Tahapan pertama, orang yang akan disuntik vaksin harus lolos verifikasi pendaftaran melalui aplikasi 'Peduli Lindungi'. Kemudian ke pos dua untuk skrining dan anamnase. Di pos ini calon penerima vaksin akan diperiksa secara detail termasuk ada tidaknya penyakit penyerta (comorbid).


"Pos dua ini akan diberikan pertanyaan sebanyak 16 item termasuk ada tidaknya penyakit bawaan. Jika ada satu saja item yang tidak sesuai syarat, maka dia tidak boleh menerima vaksin," ungkap Adhi.


Jika lolos di pos dua, maka tahapan berikutnya adalah pemberian vaksin corona yang berada di pos tiga. Usai disuntik, penerima vaksin akan menjalani masa observasi selama 30 menit di pos empat. Observasi ini untuk melihat gejala klinis yang muncul setelah pemberian vaksin atau KIPI (Kejadin Ikutan Pasca Imunisasi).


"Selama masa observasi ini, akan dipantau gejala klinis yang muncul pasca pemberian vaksin. Jika timbul efek samping dari vaksin berupa gejala klinis akan dimasukkan ke kamar KIPI," sambungnya.


Kepala Puskesmas Tanjung ini menegaskan, efek samping yang muncul atau KIPI tidak membahayakan. Biasanya gejala yang muncul adalah faktor alergi seperti vaksin vaksin lain.


"Kita juga sudah praktikkan dalam simulasi bila muncul KIPI setelah disuntik. Biasanya karena alergi seperti vaksin lain. Ini bisa ditangani oleh petugas," imbuhnya menandaskan.


Karena harus melalui empat prosedur, pelaksanaan vaksin ini akan memakan waktu 45 sampai 50 menit tiap orang. Sehingga nanti diperkirkan dalam sehari tiap puskesmas hanya bisa menyuntik 10 sampai 15 orang.

https://kamumovie28.com/movies/london-love-story-2/