Perusahaan fesyen mewah asal Perancis, Louis Vuitton (LVMH) telah menyelesaikan kesepakatan akuisisi dengan perusahaan perhiasan AS, Tiffany & Co. Harga yang disepakati sejumlah US$ 15,8 miliar setara Rp 221 triliun (kurs Rp 14.000/US$).
Dikutip dari BBC, Jumat (8/1/2021) Harga pembelian itu diskon dari US$ 16,2 miliar yang sebelumnya ditawarkan. Kesepakatan ini dilakukan untuk mengembangkan bisnis LVMH yang ingin memperluas bisnisnya ke dunia perhiasan.
Menurut laporan LVMH, perusahaan telah merencana akuisisi sejak setahun yang lalu. Namun perundingan terhenti akibat pandemi COVID-19 dan Pada September 2020 keduanya sempat konflik
Buntut masalahnya, sejak LVMH mengatakan tidak dapat lagi menyelesaikan transaksi pada batas waktu 24 November 2020 dan tidak akan membeli Tiffany. Tiffany pun menuntut LVMH dengan mengatakan perusahaan mewah itu bukan perusahaan yang bersih.
Sebagai balasannya, Louis Vuitton menggugat balik, dengan mengatakan Tiffany memiliki kinerja suram selama pandemi COVID-19 dan beralasan bahwa pemerintah Perancis meminta kesepakatan itu ditunda karena ancaman tarif baru AS pada produk Prancis.
Hingga akhirnya pada akhir Oktober 2020 kedua sepakat akan melanjutkan kesepakatan ini. Saat itu harga yang disepakati senilai US$ 425 juta.
Analis berharap LVMH, rumah bagi merek mewah seperti Fendi, Louis Vuitton, dan Veuve Clicquot, akan membantu bagaimana bisnis Tiffany bisa berkembang. Terutama meningkatkan strategi di berbagai bidang seperti penjualan online untuk menghidupkan kembali merek tersebut.
Chairman dan CEO Louis Vuitton Bernard Arnault mengaku optimis dengan kemampuan Tiffany untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan dan dia berkomitmen untuk terus mendukung perusahaan tersebut. "Tiffany adalah merek ikonik dan lambang klasik dari sektor perhiasan global," katanya.
https://trimay98.com/movies/moms-friends/
Jokowi: Alhamdulillah Kita Tidak Sampai Lockdown
Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersyukur lantaran Indonesia tak sampai lockdown untuk menekan penyebaran virus Corona (COVID-19), di saat banyak negara yang terpaksa lockdown.
"Kita ini kalau saya lihat masih, Alhamdulillah masih beruntung tidak sampai lockdown," kata Jokowi dikutip dari saluran YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (8/1/2021).
Lalu mantan Walikota Solo itu menyebutkan negara-negara yang harus lockdown imbas pandemi COVID-19 tak terkendali.
"Kalau negara lain kayak di Eropa lockdown, nggak sebulan-dua bulan, sampai 3 bulan. Bahkan tiga hari yang lalu di London Inggris lockdown lagi. Tiga hari yang lalu di Bangkok lockdown. Di Tokyo juga statusnya darurat," ungkapnya.
Tentu saja karena Indonesia tak sampai melakukan lockdown maka aktivitas masih bisa dijalankan walaupun terbatas. Itu dia sampaikan dihadapan para pedagang di Istana Kepresidenan Bogor.
"Kita di sini aktivitas masih meskipun terbatas masih bisa beraktivitas berusaha, meskipun dibatasi dengan protokol kesehatan yang ketat, bapak ibu juga masih bisa berusaha tetapi memang ini bukan kondisi normal," jelasnya.
Selain dengan vaksinasi, Jokowi berpesan agar seluruh pihak bisa menekan penyebaran virus Corona dengan menerapkan protokol kesehatan secara baik.
"Disiplin pakai masker, cuci tangan habis kegiatan, jaga jarak seperti ini, harus disiplin. Kalau memang itu bisa kita lakukan, itu akan sangat mengurangi (penularan). Jangan ke tempat-tempat yang kerumunan banyak, itu akan sangat mengurangi (penularan)," tambahnya.