Minggu, 27 Desember 2020

7 Kebiasaan Sehat Ini Bantu Mengurangi Risiko Tertular COVID-19

 Penularan COVID-19 dinilai masih tinggi. Beberapa daerah juga mewajibkan rapid test antigen sebagai salah satu syarat untuk memasuki wilayah tersebut.

Imunitas tubuh yang kuat dibutuhkan agar terhindar dari virus Corona. Ada beberapa hal yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari selama masa pandemi.


Dikutip dari Honorhealth, berikut 7 langkah yang bisa dilakukan agar mengurangi penyebaran COVID-19:


1. Selalu cuci tangan hingga bersih

Kebersihan tangan menjadi hal utama yang perlu diperhatikan karena sebagai salah satu sumber aktifitas. Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik.


2. Pakailah masker

Masker penutup muka menjadi salah satu alat yang harus selalu dibawa saat beraktifitas di luar rumah. Pakailah masker untuk menghindari penyebaran COVID-19 ketika pergi ke luar rumah sambil tetap jaga jarak.


3. Utamakan selalu jaga jarak

Jika harus ke luar rumah untuk kepentingan mendesak, usahakan selalu jaga jarak meski berada dalam kerumunan seperti saat naik kendaraan umum. Jaga jarak tiga hingga enam kaki dan hindari sentuhan sosial, termasuk berjabat tangan, mencium atau berpelukan.


4. Hindari menyentuh mata, mulut, dan hidung

Saat berada di luar rumah, kebersihan tangan kurang terjaga. Usahakan tidak menyentuh area mata, mulut, dan hidung karena bisa saja virus masuk melewati ketiga area tersebut.


5. Bersihkan permukaan benda sebelum dipegang

COVID-19 dapat menyebar dari permukaan barang yang kita pegang. Bersihkan permukaan benda sebelum kita menyentuhnya, seperti meja, kenop pintu, pegangan di kendaraan umum, toilet, dan wastafel dengan cairan disinfektan atau hand sanitizer.


6. Stop berbagi barang pribadi

Jangan berbagi peralatan makan seperti piring, botol minum, cangkir, sendok, dan garpu. Pastikan juga untuk mencuci semua peralatan makan secara menyeluruh setelah digunakan dengan air hangat dan sabun.


7. Hindari ke luar rumah jika tidak perlu

Pastikan memiliki cukup bahan makanan, keperluan rumah tangga, dan obat-obatan di rumah. Belanja seperlunya saja dan manfaatkan jasa pesan antar untuk menghindari kerumunan.

https://cinemamovie28.com/movies/lust-caution/


Lansia 101 Tahun Jadi Warga Jerman Pertama yang Terima Vaksin Corona


Jerman memulai vaksinasi COVID-19 usai memberikan izin penggunaan darurat (EUA) vaksin Corona Pfizer. Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn sebelumnya menyebut truk pembawa vaksin Corona sedang dalam perjalanan ke panti jompo.

Dikutip dari Reuters, wanita berusia 101 tahun menjadi orang Jerman yang pertama menerima vaksin Corona pada Sabtu, sehari sebelum dimulainya secara resmi kampanye vaksinasi negara tersebut.


"Wanita ini berasal dari Halberstadt di pegunungan Harz, tinggal di panti jompo, di mana 40 warga serta 11 staf divaksinasi," MDR melaporkan.


Panti jompo berada di antrean pertama untuk menerima vaksin Corona. Pemerintah federal berencana untuk mendistribusikan lebih dari 1,3 juta dosis vaksin Corona pada otoritas kesehatan.


Disebutkan, rencananya sekitar 700 ribu per minggu mulai Januari.


"Mungkin ada beberapa kendala pada satu titik atau lainnya pada awalnya, tetapi itu cukup normal ketika proses yang rumit secara logistik dimulai," kata Spahn.


Jerman, dengan populasi 83 juta, telah membangun lebih dari 400 pusat vaksinasi, termasuk di tempat-tempat seperti bekas bandara Tegel dan Tempelhof di Berlin dan aula pameran perdagangan Hamburg.


Vaksinasi gratis dan tersedia untuk semua orang mulai pertengahan 2021, tepatnya usai kelompok prioritas diharapkan telah menyelesaikan program vaksinasi. Tidak ada kewajiban untuk diinokulasi.


Jumlah kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di Jerman naik 14.455 menjadi 1.627.103, demikian data dari Institut Robert Koch untuk penyakit menular, pada Sabtu. Lebih dari 29.000 orang tewas.

https://cinemamovie28.com/movies/chloe/

Tes PCR Vs Rapid Test Antigen, Mana yang Lebih Akurat Mendeteksi COVID-19?

 Pemerintah mewajibkan masyarakat untuk melakukan rapid test antigen apabila akan bepergian ke sejumlah daerah ataupun tempat wisata di Indonesia. Kewajiban ini diharapkan dapat menekan transmisi COVID-19 menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2021.

Soal sensitivitas dan akurasi, bagaimana perbedaan antara Rapid Test Antigen dengan PCR (Polyester Chain Reaction)?


Dosen Departemen Patologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Basti Andriyoko mengatakan, tes antigen bertujuan untuk mendiagnosis keberadaan virus pada tubuh sampel. Meski sama-sama mendeteksi adanya virus, tes antigen memiliki perbedaan dengan tes Polymerase Chain Reaction atau PCR.


"Kondisi saat ini, untuk mendiagnosis apakah dia terinfeksi atau tidak, mau tidak mau sekarang harus dicari virusnya," kata Basti ketika dihubungi beberapa saat lalu.


Baik tes PCR maupun rapid test antigen sama-sama mendeteksi virusnya secara langsung. Ini yang membedakan keduanya dari rapid test antibodi yang mendeteksi respons imun dalam bentuk antibodi, bukan mendeteksi virusnya.


Meski begitu, antara tes antigen dan PCR ada perbedaan karakteristik tersendiri. Basti menjelaskan, dalam tes PCR yang dicari merupakan materi genetik dari virus, yaitu RNA-nya. "Karakteristik ini menjadikan sensitivitas atau akurasi dari tes PCR lebih tinggi ketimbang tes antigen," ujarnya.


Namun, tes PCR tidak bisa membedakan apakah virus tersebut masih hidup atau sudah mati. Karena itu, tes PCR bisa mendeteksi keberadaan virus pada awal target terkonfirmasi positif ataupun ketika sudah dinyatakan sembuh.


Dia mengatakan, banyak orang yang sudah dikarantina lebih dari 2 minggu, tetapi ketika dilakukan swab hasilnya masih positif. Menurutnya, pada kasus tersebut bisa saja PCR mendeteksi RNA virus yang sudah mati.


Sementara itu, tes antigen hanya mendeteksi keberadaan virus utuh. Tes ini, kata dia, mencari bagian terluar dari virus.


"Karena mendeteksi virus utuh, maka antigen akan efektif dilakukan di fase awal atau minggu pertama seseorang terkena COVID-19. Jika diperiksa, kemungkinan hasil positifnya tinggi," imbuhnya.


Jadi mana yang lebih akurat, tes PCR atau rapid test antigen? Simak di halaman berikut.

https://cinemamovie28.com/movies/the-last-seduction/


Jika dibandingkan, akurasi tes PCR tetap lebih baik daripada tes antigen. Hal ini yang menjadikan tes PCR menjadi gold standar dalam menentukan apakah seseorang tersebut positif COVID-19 maupun negatif.

"Akurasi PCR bisa sampai 95 persen, sedangkan antigen ini akan ada miss 10-15 persen," tambah Basti.


Lantas, mengapa pemerintah mewajibkan tes antigen untuk masyarakat yang akan bepergian? Basti mengatakan, ada beberapa pertimbangan jika dilihat dari sisi keterjangkauan dan efisiensi pengujian.


Dia menuturkan, belum semua daerah ataupun masyarakat bisa mendapatkan akses tes PCR. Pengujian sampel PCR juga belum merata bisa dilakukan di semua laboratorium. Pengujian sampel memerlukan laboratorium khusus dan fasilitas yang lengkap serta tenaga ahli.


"Lab sendiri punya kapasitas maksimal pemeriksaan. Jika banyak, hasilnya bisa keluar 2-3 hari," kata Basti.


Selain itu, antigen relatif lebih mudah pemeriksaannya. Pengujian relatif tidak membutuhkan sarana prasarana yang lengkap walau tetap memerlukan persyaratan yang wajib dipenuhi. Sampel bisa diuji di tempat terbuka tanpa harus dikerjakan di dalam laboratorium.


"Hasil dari tes antigen juga terbilang cepat, bergantung pada reagennya. Hal ini yang menjadikan tes ini relatif lebih mudah diakses banyak orang," ujarnya.


Walau terbilang lebih mudah, pihaknya tetap menyarankan bahwa tes PCR merupakan upaya terbaik jika dilihat dari tingkat akurasinya. Walaupun begitu, Basti merasa lebih baik ada pengetesan daripada tidak sama sekali.


"Tes antigen masih lebih baik daripada orang tidak periksa sama sekali terus melakukan perjalanan. Itu yang lebih bahaya," pungkasnya.

https://cinemamovie28.com/movies/the-story-of-o/