Kamis, 17 Desember 2020

Twitter Didenda Rp 7,7 Miliar karena Telat Ungkap Kebocoran Data

 Twitter dijatuhi dengan sebesar 450.000 Euro (Rp 7,7 miliar) oleh Komisi Perlindungan Data (DPC) Irlandia. Denda ini diberikan karena Twitter terlambat melaporkan kebocoran data pengguna yang terjadi dua tahun yang lalu.

Twitter terbukti melanggar Regulasi Perlindungan Data Umum (GDPR) Uni Eropa karena gagal melaporkan kebocoran data pengguna kepada regulator dalam waktu 72 hari.


Kebocoran data tersebut mengekspos beberapa cuitan private yang diunggah pengguna aplikasi Twitter di Android selama empat tahun, dan pertama kali dilaporkan perusahaan berlogo burung itu pada Januari 2019. Dalam keterangan yang diberikan kepada TechCrunch, Twitter mengatakan mereka menghormati keputusan regulator.


"Konsekuensi tak terduga dari kepegawaian antara Hari Natal 2018 dan Tahun Baru mengakibatkan Twitter memberi tahu IDPC di luar periode pemberitahuan 72 jam," kata Twitter, seperti dikutip dari TechCrunch, Rabu (16/12/2020).


"Kami telah membuat perubahan sehingga semua insiden setelah ini telah dilaporkan kepada DPC tepat pada waktunya. Kami bertanggung jawab atas kesalahan ini dan tetap berkomitmen penuh untuk melindungi privasi dan data konsumen kami," sambungnya.


Denda ini cukup penting karena ini pertama kalinya perusahaan Amerika Serikat dijatuhi denda GDPR dalam kasus lintas batas. Artinya regulator Irlandia berkonsultasi dengan regulator di Uni Eropa untuk mengambil keputusan ini.


Investigasi ini dipimpin oleh regulator Irlandia karena markas internasional Twitter berada di negara tersebut.


Karena proses lintas batas ini proses pengambilan keputusan dan penjatuhan denda memakan waktu yang cukup lama. DPC menerbitkan rancangan keputusannnya pada bulan Mei, tapi regulator lain mengajukan keberatan pada beberapa poin, yang akhirnya berujung pada proses resolusi.


Salah satu keberatan yang diajukan adalah jumlah denda yang ditetapkan. DPC awalnya ingin menjatuhkan denda dengan nominal lebih rendah dari 450.000 Euro, tapi lewat proses resolusi diminta untuk menaikkan jumlah dendanya.


DPC percaya bahwa kesalahan Twitter disebabkan oleh kelalaian, bukan disengaja atau sistematis, sehingga berhak mendapat denda dengan jumlah yang lebih kecil. Denda maksimal kebocoran data di bawah GDPR adalah 2% dari total pendapatan global perusahaan, dan dalam kasus Twitter 450.000 Euro hanya secuil dari jumlah itu.


Twitter merupakan kasus pertama yang melibatkan negara Uni Eropa dengan perusahaan teknologi AS yang telah diselesaikan. Sudah ada belasan kasus terbuka lainnya, termasuk kasus terhadap Facebook dan anak perusahaannya.

https://nonton08.com/movies/doa-cari-jodoh/


Surprise! Among Us Bisa Dimainkan di Nintendo Switch


Kejutan datang dari Nintendo. Perusahaan game asal Jepang ini baru saja mengumumkan game fenomenal Among Us hadir di Nintendo Switch.

Selama ini, Among Us eksklusif hanya bisa dimainkan di smartphone atau PC. Jadi, ini adalah pertama kalinya Among Us tersedia di konsol. Lagipula wajar jika Nintendo berminat memboyongnya, karena Among Us memang cocok masuk di deretan game Nintendo.


Karena Among Us sudah bisa dimainkan di Switch, maka para gamer Switch pun bisa mengakses Airship, map terbaru pertama yang diumumkan InnerSloth saat perhelatan Game Awards pekan lalu.


Dikutip dari The Next Web, Rabu (16/12/2020) game yang diluncurkan pada 2018 ini mendadak populer di tahun ini para streamer Twitch. Popularitasnya kian meledak di tengah pandemi karena orang-orang yang berdiam di rumah mencari hiburan. Dari orang biasa sampai selebritis dan orang-orang terkenal keranjingan memainkannya.


Salah satu aspek penting dari game ini dan menambah daya tariknya adalah komunikasi yang bisa berlangsung sangat seru. Belum jelas bagaimana aspek komunikasi Among Us di Switch akan berfungsi.


Untuk diketahui, Switch tidak punya fungsi built-in voice chat. Orang akan berasumsi bahwa voice chat apa pun akan ditangani melalui aplikasi Switch Online, tetapi itu pun dengan asumsi semua orang yang memainkan game menggunakan Switch Online. Selain itu, pilihan komunikasi lainnya mungkin chat berbasis teks juga bisa menjadi pilihan.

https://nonton08.com/movies/d-o-a-4/

Pilih Jadi Pro Player Esports atau YouTuber?

 Gemar main game, ada banyak profesi yang bisa kalian tekuni. Beberapa di antaranya yang menjadi profesi impian adalah menjadi pro player atau content creator alias YouTuber. Profesi pro player menjadi populer beberapa tahun belakangan ini seiring dengan semakin maraknya turnamen esports di Indonesia.

Nah, kalau harus memilih, kira-kira kalian lebih ingin jadi pro player atau content creator (YouTuber)? Apa pun pilihan kalian, simak di sini kelebihan dan kekurangannya, ya.

https://nonton08.com/movies/doa-dead-or-alive/


Menjadi professional player atau pro player berarti harus siap bersakit-sakit dahulu, baru bersenang-senang kemudian. Bersakit-sakitnya, ya, karena jadwal latihan kalian akan padat dan kalian tak lagi bisa bermain untuk main-main saja. Khususnya ketika sedang musim turnamen, kalian harus benar-benar fokus mencoba puluhan hingga ratusan strategi dan melatihnya berkali-kali agar bisa digunakan dengan lancar saat pertandingan. Ditambah lagi, ada keharusan untuk menang karena karier kalian dipertaruhkan di sini.


Kedengarannya sulit, ya. Namun, ketika hasil latihan kalian mulai terlihat dengan memenangkan pertandingan, ada kepuasan dan kebanggaan yang akan kalian dapatkan. Ditambah lagi, ketika kalian memenangkan turnamen besar, nama kalian akan dikenang dan jadi perbincangan pencinta esports dalam waktu yang lama. Bangga karena berprestasi, ditambah bonus nilai hadiah yang fantastis menjadikan pro player sebagai profesi yang banyak diincar gamers.


Selain itu, saat ini gaji pro players juga sudah lebih manusiawi. Beberapa tim esports sudah memberikan gaji bulanan di atas UMR hingga puluhan juta per bulan, tergantung kemampuan dan prestasi yang disumbangkan pro player tersebut. Bahkan, Andrian Pauline, CEO Team RRQ, pernah membocorkan gaji pro player Team RRQ yang bisa sampai ratusan juta. Jumlah ini belum ditambah bonus harian ketika mengikuti turnamen. Bagaimana, cukup menggiurkan?


Selain menjadi pro player, banyak juga gamers yang lebih suka menjadi content creator (YouTuber). Menjadi pro player memang tekanannya luar biasa. Karena itu, kalau tidak kuat bertahan di bawah tekanan, menjadi content creator (YouTuber) mungkin lebih cocok untuk kalian. Tekanannya tidak sebanyak menjadi pro player. Tidak ada keharusan untuk menang dan tidak ada kewajiban untuk berlatih sampai 12 jam sehari. Kalian bisa santai-santai sambil membuat konten atau bisa juga sibuk karena membuat konten.


Pilihannya tergantung kalian. Kalau kalian mau mendulang banyak pengikut dalam waktu singkat, tentu kalian juga harus menyediakan konten yang banyak dan tentunya mengikuti tren agar bisa bersaing dengan konten serupa lainnya. Meski begitu, kalian juga bisa bersantai-santai dengan hanya meng-upload 1 video konten per minggu. Ini bisa dilakukan kalau kalian sudah mendapatkan basis subscribers yang setia.


Yang sulit dari menjadi content creator adalah membangun akun kalian. Kalau kalian tidak punya keunikan, entah dari segi gaya penceritaan kalian atau memang kalian sangat jago main game, kalian mungkin akan butuh bertahun-tahun untuk bisa jadi content creator yang sukses. Kalau subscribers dan viewers kalian masih berkisar di ribuan, penghasilan yang kalian dapatkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan menjadi pro player esports.


*Artikel ini merupakan kerja sama antara detikINET dengan Team RRQ.

https://nonton08.com/movies/d-o-a-3/