Senin, 14 Desember 2020

7 Gejala Jangka Panjang yang Banyak Dialami Penyitas COVID-19

 Gejala COVID-19 biasanya dialami para pasien setelah baru terinfeksi virus Corona. Tetapi, pasien yang telah sembuh dari infeksi tersebut juga bisa mengalami gejala COVID-19 jangka panjang.

Kondisi gejala jangka panjang ini bisa berlangsung lama setelah pasien COVID-19 pulih dari infeksi. Biasanya dapat berlangsung beberapa minggu atau lebih dari itu.


Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gejala jangka panjang ini bisa ditentukan dari gejala yang berkembang di minggu pertama infeksi. Dikutip dari Times of India, berikut ini sederet gejala jangka panjang yang paling umum dikeluhkan para pasien COVID-19.


1. Kelelahan

Orang-orang yang terinfeksi COVID-19 mengeluh mengalami kelelahan yang parah atau kronis. Kelelahan kronis ini bisa menyerang pasien yang mengalami gejala ringan atau sedang dan bisa terjadi dalam jangka panjang.


Gejala jangka panjang ini bisa terjadi setelah tubuh melawan infeksi virus. Beberapa bahkan mengatakan bahwa kelelahan ini menjadi gejala yang membutuhkan waktu paling lama untuk pulih pasca infeksi.


2. Nyeri otot

Kelelahan pasca infeksi COVID-19 juga ditandai dengan kelesuan dan nyeri otot. Rasa nyeri ini mungkin disebabkan karena peradangan yang terjadi di dalam tubuh akibat virus Corona.


Selain itu, para pasien COVID-19 yang sudah sembuh juga bisa mengalami nyeri otot. Nyeri otot ini disebabkan oleh kerusakan pada serat otot akibat virus dan kerusakan jaringan abnormal di tubuh.


3. Batuk berkepanjangan

Viral load virus yang tertinggal pada saluran pernapasan bagian atas bisa menyebabkan gejala batuk yang berkepanjangan. Gejala COVID-19 jangka panjang ini bisa berlangsung selama 5-6 minggu atau lebih.


Batuk yang dialami bisa bersifat kering atau produktif (basah), yang membuat saluran pernapasan dan tenggorokan lebih stres.

https://trimay98.com/movies/the-spell/


4. Sesak napas

Sesak napas juga bisa menjadi tanda gejala COVID-19 semakin parah. Bahkan kondisi ini bisa menjadi masalah yang berlangsung lebih lama dan mempengaruhi kualitas hidup.

Virus Corona COVID-19 ini bisa mempengaruhi fungsi paru-paru, dan memberikan tekanan ekstra pada saluran dada serta paru-paru. Tubuh yang sakit akibat virus bisa membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pulih, dan rentan terhadap indeksi paru-paru kronis dan masalah pernapasan.


Untuk memantau kondisi gejala jangka panjang ini, beberapa pasien diminta untuk terus memantau kadar oksigen mereka dan mencari tanda-tanda adanya masalah pernapasan.


5. Kabut otak

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kabut otak, kebingungan, dan delirium adalah beberapa gejala COVID-19 yang bisa mempengaruhi otak. Gejala ini juga menjadi gejala pasca COVID-19 yang paling umum dikenali.


Sampai saat ini, COVID-19 yang bisa menyebabkan penurunan fungsi otak masih terus diteliti. Tetapi, dampaknya bisa sangat mendalam dan bisa menurunkan kualitas hidup beberapa pasien yang mengalami gejala berat.


Kabut otak dan gejala kerusakan otak lainnya ini juga bisa menjadi gejala jangka panjang pasca seseorang terinfeksi COVID-19. Hal ini membuat para dokter menyarankan untuk pasien yang telah pulih dari COVID-19 untuk melakukan pemeriksaan dan latihan pasca-COVID untuk merangsang fungsi otak.


6. Insomnia

Gejala lain yang cenderung mengganggu pasien COVID-19 adalah masalah tidur kronis atau insomnia. Hampir setengah pasien yang telah sembuh dari virus Corona juga mengeluhkan hal ini.


Psikiater melihat banyaknya pasien yang pulih dari COVID-19 mengalami masalah tidur ini. Mereka mengeluh ketakutan dan panik, yang menyebabkan mereka susah untuk tidur.


7. Berkurang hingga hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa

Kehilangan kemampuan indra penciuman dan perasa atau anosmia ini adalah salah satu gejala COVID-19 yang paling banyak dialami. Butuh waktu hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan agar fungsi indra tersebut pulih kembali.


Beberapa pasien yang menderita kehilangan penciuman yang berkurang ini seringkali membutuhkan perawatan dan terapi seperti pelatihan penciuman. Hal ini dilakukan untuk 'memperbaiki' otak agar secara akurat bisa mengenali rasa, bau, dan aroma yang tepat seperti sebelumnya.

https://trimay98.com/movies/dreadout/

4 Relawan Vaksin COVID-19 Pfizer Alami Bell's Palsy, Kondisi Apa Itu?

 Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) akan memantau kejadian Bell's Palsy yang terjadi di antara penerima vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNTech.

Temuan FDA mendapati dari 22 ribu partisipan penerima vaksin, empat diantaranya mengalami Bell's Palsy. Salah satu peserta mengalami kelumpuhan otot-otot wajah sekitar tiga hari setelah penyuntikan.


Keadaan kembali normal setelah tiga hari. Tiga orang lain mengalami kelumpuhan otot wajah setelah 9-48 hari pasca penyuntikan. Keluhan berangsur membaik setelah hari ke-10.


Sampai saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana vaksin COVID-19 dapat menyebabkan Bell's Palsy.


"Meskipun database keamanan terungkap adanya ketidakseimbangan kasus Bell's palsy [4 dalam kelompok vaksin dan tidak ada dalam kelompok plasebo], hubungan sebab akibat kurang pasti karena jumlah kasusnya sedikit," keterangan dalam FDA Briefing Document.


Dikutip dari Mayo Clinic, Bell's palsy, juga dikenal sebagai kelumpuhan wajah perifer akut yang dapat terjadi pada semua usia.


Kondisi ini menyebabkan satu sisi wajah menjadi kaku. Pengidap Bell's Palsy umumnya mengalami kesulitan tersenyum atau menutup mata pada sisi yang terkena.


Bagi kebanyakan orang, Bell's palsy bersifat sementara. Gejala biasanya mulai membaik dalam beberapa minggu, dengan pemulihan total dalam waktu sekitar enam bulan.


Meskipun penyebab pasti Bell's palsy tidak jelas, sering kali hal ini terkait dengan infeksi virus. Virus yang telah dikaitkan dengan Bell's palsy termasuk virus yang menyebabkan cacar air, herpes genital, campak, gondongan, hingga flu.

https://trimay98.com/movies/blusukan-jakarta/


7 Gejala Jangka Panjang yang Banyak Dialami Penyitas COVID-19


Gejala COVID-19 biasanya dialami para pasien setelah baru terinfeksi virus Corona. Tetapi, pasien yang telah sembuh dari infeksi tersebut juga bisa mengalami gejala COVID-19 jangka panjang.

Kondisi gejala jangka panjang ini bisa berlangsung lama setelah pasien COVID-19 pulih dari infeksi. Biasanya dapat berlangsung beberapa minggu atau lebih dari itu.


Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gejala jangka panjang ini bisa ditentukan dari gejala yang berkembang di minggu pertama infeksi. Dikutip dari Times of India, berikut ini sederet gejala jangka panjang yang paling umum dikeluhkan para pasien COVID-19.


1. Kelelahan

Orang-orang yang terinfeksi COVID-19 mengeluh mengalami kelelahan yang parah atau kronis. Kelelahan kronis ini bisa menyerang pasien yang mengalami gejala ringan atau sedang dan bisa terjadi dalam jangka panjang.


Gejala jangka panjang ini bisa terjadi setelah tubuh melawan infeksi virus. Beberapa bahkan mengatakan bahwa kelelahan ini menjadi gejala yang membutuhkan waktu paling lama untuk pulih pasca infeksi.


2. Nyeri otot

Kelelahan pasca infeksi COVID-19 juga ditandai dengan kelesuan dan nyeri otot. Rasa nyeri ini mungkin disebabkan karena peradangan yang terjadi di dalam tubuh akibat virus Corona.


Selain itu, para pasien COVID-19 yang sudah sembuh juga bisa mengalami nyeri otot. Nyeri otot ini disebabkan oleh kerusakan pada serat otot akibat virus dan kerusakan jaringan abnormal di tubuh.


3. Batuk berkepanjangan

Viral load virus yang tertinggal pada saluran pernapasan bagian atas bisa menyebabkan gejala batuk yang berkepanjangan. Gejala COVID-19 jangka panjang ini bisa berlangsung selama 5-6 minggu atau lebih.


Batuk yang dialami bisa bersifat kering atau produktif (basah), yang membuat saluran pernapasan dan tenggorokan lebih stres.

https://trimay98.com/movies/the-city-of-your-final-destination/