Sabtu, 17 Oktober 2020

2 Studi Temukan Golongan Darah O Lebih Kebal COVID-19

  Dua penelitian medis menunjukkan bahwa orang dengan golongan darah O mungkin berisiko lebih rendah tertular virus Corona COVID-19.

Sebuah penelitian di Denmark, yang dilakukan oleh 11 peneliti berdasarkan informasi dari 473.654 orang yang dites COVID-19, menemukan bahwa golongan darah O dikaitkan dengan penurunan risiko infeksi virus corona.


"Kami menunjukkan bahwa golongan darah O secara signifikan terkait dengan penurunan kerentanan terhadap infeksi SARS-CoV-2," kata penelitian yang diterbitkan Rabu di Blood Advances, jurnal medis peer-review American Society of Hematology.


Hasil serupa ditemukan oleh studi medis Kanada yang dilakukan oleh 14 peneliti berdasarkan data yang dikumpulkan dari pasien unit perawatan intensif di enam rumah sakit metropolitan Vancouver.


"Pasien COVID-19 dengan golongan darah A atau AB tampaknya menunjukkan tingkat keparahan penyakit yang lebih besar daripada pasien dengan golongan darah O atau B," kata penelitian tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal yang sama, menambahkan bahwa individu dengan golongan darah O dilaporkan menjadi "kurang rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2."


Studi tersebut juga mencatat bahwa pasien COVID-19 bergolongan darah A atau AB memiliki risiko lebih tinggi untuk memerlukan ventilasi dan durasi yang lebih lama dalam perawatan intensif, dibandingkan dengan mereka yang bergolongan darah O atau B.


Hanya saja, peneliti tidak dapat mengatakan apakah golongan darah merupakan penyebab langsung dari perbedaan kerentanan. Disebutkan, mungkin saja bahwa perubahan genetik yang mempengaruhi risiko seseorang juga hanya dikaitkan dengan golongan darah.

https://nonton08.com/private/


Uji Klinis Vaksin Ini Lebih Menantang, Relawan Disuntik Virus COVID-19


 Uji coba vaksin COVID-19 dengan menyuntikkan virus ke tubuh relawan akan segera jadi kenyataan. Perusahaan bioteknologi di Inggris tengah membicarakannya dengan pemerintah.

Rencana uji yang terbilang 'menantang' ini dikerjakan oleh hVIVO, unit farmasetika dari grup Open Orphan.


"Kami tengah berdiskusi dengan sejumlah pihak termasuk pemerintah Inggris terkait penelitian COVID-19 dan ketika salah satu kontrak ditanda tangani kami akan mengumumkannya," kata Cathal Frel, excutive chairman Open Orphan, dikutip dari Reuters, Sabtu (17/10/2020).


Tentu saja, rencana ini menghadapi tantangan etis. Kritik mengatakan dengan sengaja menyuntik relawan dengan penyakit yang potensial mematikan dan belum ada obatnya, adalah tidak etis.


Namun di sisi lain, pendukungnya menilai cara ini adalah jalan pintas untuk mengatasi pandemi COVID-19.


4 Makanan Enak yang Bikin Perut Cepat Buncit


 Konsumsi makanan olahan dan siap saji, tentu sangat menggiurkan. Bagaimana tidak? Cita rasa yang kuat pada makanan tersebut, tentu membuat lidah merasa ketagihan, sehingga ingin terus-terusan merasakan kenikmatannya.

Akan tetapi, makanan yang nikmat belum tentu aman di perut. Sebab, kandungan lemak jenuh dan garam pada makanan bisa menimbulkan perut buncit.


Menurut laman Eat This, berikut makanan enak yang bikin perut cepat buncit:


1. Kentang goreng

Kentang goreng memiliki karbohidrat dan lemak yang tinggi. Karena itu, makanan ini akan membuat perutmu jadi buncit. Satu studi longitudinal Harvard menemukan bahwa orang yang makan kentang goreng secara teratur dapat menambah berat badan lebih dari tiga pon setiap empat tahun.


2. Pizza

Pizza merupakan makanan penyumbang lemak jenuh terbesar. Para peneliti menemukan bahwa tidak seperti lemak lainnya, jenis lemak jenuh sangat sulit untuk larut, sehingga lemak ini akan tersimpan di dalam perut. Hal inilah yang bisa membuat perutmu jadi buncit.


3. Keripik kentang

Selain memiliki lemak jenuh yang tinggi, keripik kentang juga mengandung banyak garam. Kandungan garam inilah yang bisa menyebabkan perut menjadi kembung. Bila kamu menjadikan keripik kentang sebagai cemilan andalan, maka siap-siaplah menerima risiko perut buncit.


4. Sup kaleng

Sup kaleng memiliki banyak natrium yang bisa menyebabkan perut menjadi buncit. Sup kaleng juga bisa menambah nafsu makan seseorang, sehingga mereka tidak tahu kapan perut sudah merasa kenyang.

https://nonton08.com/my-neighbors-wife/

Serba-serbi Distosia, Penyebab Persalinan Tidak Lancar

 Menjelang waktu persalinan, para ibu hamil mempersiapkan segala sesuatu agar prosesnya bisa berjalan lancar. Namun, ada beberapa kondisi medis yang membuat persalinan terhambat sehingga sulit melahirkan.

Hal ini bahkan bisa dialami berbagai usia, termasuk mereka yang sudah pernah menjalani persalinan sebelumnya. Menurut Dr dr Suskhan Djusad, SpOG (K), Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, kondisi sulitnya persalinan atau melahirkan adalah distosia.


"Jika seorang ibu mengalami distosia, waktu persalinannya akan panjang dan bahkan, ada yang tidak mengalami kemajuan sama sekali," jelas dr Suskhan, dikutip dari HaiBunda.


Ada tiga penyebab ibu hamil mengalami distosia dan penanganannya.


1. Power (tenaga)

Power adalah tenaga ibu mendorong bayi keluar. Tenaga ibu yang lemah dapat menyebabkan proses persalinan menjadi tidak lancar.


"Jika tenaga ibu kuat, maka persalinan lancar. Sebaliknya, jika tenaga ibu tidak ada, maka akan sulit melahirkan," kata dr Suskhan.


2. Passage (jalan lahir)

Passage adalah kondisi jalan lahir yang terdiri dari mulut rahim dan juga ukuran panggul ibu. Apabila kondisi panggul ibu tidak baik, dan pembukaan tidak lengkap dan ibu hamil bisa mengalami distosia.


3. Passenger (bayi)

Passenger adalah bayi. Dalam persalinan, ukuran bayi sangat penting untuk diperhatikan. Ukuran bayi yang besar (di atas 4 kg) bisa menyebabkan ibu mengalami distosia. Batas atas berat bayi saat dilahirkan adalah 3,5 kg atau 3.500 gram.


Selain 3P, terdapat kondisi lain yang bisa menyebabkan seseorang mengalami distorsia:


1. Mal posisi

Persalinan normal terjadi ketika bagian kepala janin terletak di bagian bawah panggul. Kelainan posisi atau malposisi dapat menyebabkan distosia. Hal ini bisa dikarenakan janin letak lintang yang dapat terjadi pada bayi besar, terlilit tali pusat, dan kelainan panggul.


Kelainan bagian terbawah janin atau malpresentasi terjadi pada bayi sungsang. Bayi sungsang atau bagian terbawah janin adalah bokong dapat menyebabkan persalinan tiga kali lebih sulit dari persalinan dengan posisi bayi normal.


"Bayi sungsang dapat terjadi pada keadaan posisi plasenta berada di bawah (dekat jalan lahir), bayi berukuran besar, dan adanya tumor atau kista," jelas dr Suskhan.

https://nonton08.com/karma/


2. Diabetes gestasional

Ibu yang mengalami diabetes gestasional bisa memiliki bayi yang berukuran besar atau makrosomi. Bayi biasanya memiliki bobot di atas 4 kg. Kalau makrosomi maka dianjurkan operasi karena bisa mengalami distosia bahu.


3. Usia terlalu muda dan tua

Usia terlalu muda bisa menjadi penyebab persalinan menjadi sulit. Apabila usia ibu belum terlalu matang, bisa menyebabkan distosia.


Begitu juga saat usia ibu semakin tua, maka kemungkinan semakin lemas tenaganya, dan otot dasar panggulnya kendur, dibandingkan ibu yang melahirkan di usia muda (matang).


Berikut dampak-dampak distorsia:


1. Bahu bayi patah

Ukuran bayi yang terlalu besar bisa menyebabkan distosia bahu. Kondisi ini biasanya kepala bayi lahir tapi bahu tidak lahir. Untuk bisa mengeluarkan bayi, maka bahu bayi akan dipatahkan. Untuk itu, sebisa mungkin hal ini dicegah.


2. Kematian bayi

Distosia juga bisa menyebabkan bayi mati dalam kandungan. Apabila kondisi bayi, terutama bagian kepala sudah keluar, dalam durasi 5-10 menit tidak segera dikeluarkan maka bayi bisa mati.


3. Dinding rahim robek

Dinding rahim robek atau ruptur uteri, bisa menjadi salah satu komplikasi dari distosia. Dinding rahim yang robek terjadi karena adanya tindakan dalam usaha pervaginal untuk melahirkan janin pada uterus yang segmen bawahnya telah teregang karena adanya distosia. Namun, kemajuan dalam bidang kebidanan, dinding rahim robek bisa dicegah.


"Jika dibiarkan, maka ibu akan mengalami perdarahan hebat. Darah akan masuk ke dalam perut, ini bisa menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan, dan bisa menyebabkan kematian pada ibu," ujar Dr Suskhan.


4. Fistula

Distosia bisa sebabkan ibu mengalami fistula. Kondisi ketika kencing keluar terus karena kandung kemihnya bolong. Ini diakibatkan tekanan akibat bayi besar, ibu yang terlalu banyak mengejan selama persalinan.


Solusi untuk ibu yang mengalami distosia:


1. Caesar

Apabila ukuran bayi besar dan adanya kelainan di punggung, maka tindakan yang akan dilakukan adalah caesar. Operasi caesar adalah jalan satu-satunya agar bayi dan ibu selamat apabila mengalami distosia.


2. Vakum

Apabila ibu mengalami Cephalopelvic disproportion (CPD) atau komplikasi kehamilan yang terdapat ketidaksesuaian ukuran antara panggul ibu dengan kepala janin. Tindakan yang bisa dilakukan menggunakan vakum.


3. Lakukan oksitosin

Jika tenaga ibu kurang, maka diberikan obat penambah kontraksi yakni oksitosin. Dengan begitu akan ada rangsangan tenaga untuk mendorong bayi bisa keluar dari jalan lahir.

https://nonton08.com/kitaro/