Sabtu, 17 Oktober 2020

COVID-19 RI Tembus 350 Ribu, Ini 10 Provinsi dengan Akumulasi Kasus Terbanyak

  Corona di Indonesia menyentuh angka 350 ribu kasus. Ada penambahan 4.301 kasus sehingga totalnya menyentuh 353.461 per Jumat (16/10/2020).

Dari 350 ribu kasus COVID-19 yang tercatat, DKI Jakarta melaporkan 92.382 kasus COVID-19 akumulatif. Sementara penyumbang kasus COVID-19 kedua terbanyak berada di Jawa Timur, lebih dari 40 ribu kasus.


Ada beberapa provinsi lain yang juga mencatat kasus akumulatif COVID-19 lebih dari 10 ribu kasus. Mana saja? Berikut 10 provinsi dengan kasus akumulatif COVID-19 tertinggi di Indonesia.


DKI Jakarta: 92.382

Jawa Timur: 49.452

Jawa Barat: 29.543

Jawa Tengah: 28.307

Sulawesi Selatan: 17.286

Sumatera Utara: 11.775

Kalimantan Selatan: 11.329

Kalimantan Timur: 11.306

Riau: 11.102

Bali: 10.605

https://nonton08.com/special-private-secretary/


Diet Gagal Melulu? Mungkin Ini Penyebabnya


Salah satu upaya untuk menurunkan berat badan adalah diet. Namun, tak sedikit orang yang justru gagal dalam menjalankan program diet.

Rupanya, bukan hanya apa makanan yang dikonsumsi saja, melainkan ada banyak faktor yang memengaruhi kegagalan diet seseorang.


Dikutip dari laman Lifehack, berikut faktor-faktor yang memengaruhi kegagalan diet seseorang:


1. Tidak cukup tidur

Tidur memainkan peran penting dalam kesehatan fisik dan mental. Tidur juga membantu menjaga keseimbangan yang sehat dari hormon yang membuat kamu merasa lapar (ghrelin) atau kenyang (leptin). Ketika tidak cukup tidur, tingkat ghrelin kamu akan naik dan tingkat leptin akan turun. Hal ini membuat kamu merasa lebih lapar daripada saat kamu cukup istirahat.


2. Jadwal makan yang buruk

Jadwal makan yang tidak teratur memiliki efek negatif bagi kesehatan. Misalnya, meningkatkan risiko obesitas, diabetes, hipertensi, dan peradangan. Selain itu, jadwal makan yang berantakan bisa menyebabkan kamu terus-terusan makan karena kamu tidak mencatat waktu dan makanan apa saja yang sudah kamu makan sebelumnya.


3. Meremehkan kalori yang dikonsumsi

Menghitung kalori secara akurat memanglah sulit karena hanya bisa dilakukan oleh para ahli gizi. Namun, bukan berarti kamu makan tanpa memikirkan kalori yang ada. Kamu bisa memperkirakan kalori apa saja yang kamu makan, Misalnya, ketika kamu makan dengan porsi besar, perhatikanlah jenis makanan yang ada di piringmu. Asupan gizi seimbang harus disertai dengan protein, karbohidrat, dan serat.


4. Masalah komitmen

Banyak orang yang berekspektasi ingin cepat-cepat menurunkan berat badan dengan bobot yang besar dalam waktu singkat. Namun, dalam menjalankannya, banyak dari mereka yang justru gagal karena tidak memiliki komitmen yang kuat. Dalam menjalankan diet harus dibutuhkan komitmen yang kuat.


Kemungkinan Kaitan Golongan Darah dan Risiko Infeksi COVID-19


Individu dengan golongan darah O mungkin memiliki risiko infeksi terendah dan mereka dengan A dan AB mungkin mengalami peningkatan risiko hasil klinis yang parah akibat COVID-19. Apa kemungkinan penyebabnya?

Seiring pandemi berlanjut, komunitas penelitian biomedis global bekerja segera untuk mengidentifikasi faktor risiko COVID-19 dan target terapi potensial. Peran potensial golongan darah dalam memprediksi risiko dan komplikasi infeksi COVID-19 telah muncul sebagai pertanyaan ilmiah yang penting.


Studi baru ini menambah bukti bahwa mungkin ada hubungan antara golongan darah dan kerentanan terhadap COVID-19; namun, penelitian tambahan diperlukan untuk lebih memahami mengapa dan apa artinya bagi pasien.


Dua penelitian yang diterbitkan di Blood Advances menunjukkan orang dengan golongan darah O mungkin memiliki risiko infeksi COVID-19 yang lebih rendah dan mengurangi kemungkinan hasil yang parah, termasuk komplikasi organ, jika mereka sakit.


Golongan darah O mungkin menawarkan perlindungan terhadap infeksi COVID-19. Hasil studi menunjukkan bahwa orang dengan golongan darah A, B, atau AB mungkin lebih mungkin terinfeksi COVID-19 daripada orang dengan tipe O.


Para peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam tingkat infeksi antara A, B, dan Tipe AB. Karena distribusi golongan darah bervariasi di antara subkelompok etnis, para peneliti juga mengontrol kelompok etnis dan menyatakan bahwa lebih sedikit orang dengan golongan darah O yang positif COVID-19.


"Sangat penting untuk mempertimbangkan kelompok kontrol yang tepat karena prevalensi golongan darah dapat sangat bervariasi di berbagai kelompok etnis dan negara yang berbeda," kata penulis studi Torben Barington, MD, dari Rumah Sakit Universitas Odense dan Universitas Denmark Selatan.

https://nonton08.com/raging-phoenix/

7 Penyebab Anak Mogok Makan dan Cara Mengatasinya

 Para orang tua sering merasa kesulitan saat anak mogok makan. Sebenarnya anak yang mogok makan bisa disebabkan karena beberapa hal termasuk rasa bosan.

Dr dr Aryono Hendarto SpA (K) MPH Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM menjelaskan mogok makan sangat umum dialami anak-anak. Namun, jika anak-anak hanya mengalami mogok makan dalam beberapa hari, masih bisa disebut wajar.


"Anak-anak yang mogok makan dalam jangka lama pasti berpengaruh pada nutrisinya. Pengaruh mogok makan atau gerakan tutup mulut (GTM) yang berkepanjangan, baru akan terlihat efek sampingnya setelah 6 bulan kemudian," jelas Dr Aryono, dikutip dari HaiBunda.


"GTM tidak selalu menyebabkan anak terlihat kurus. Sebagian anak-anak tetap terlihat berisi meskipun mogok makan dalam waktu lama. Tapi anak yang terlihat gemuk belum tentu gizi mikronya tercukupi. Ditemui dalam beberapa kasus, anak gemuk malah kadar sel darah merahnya (hemoglobin) dalam darah rendah. Ini mengindikasikan anak kekurangan zat gizi mikro yaitu zat besi," lanjutnya.


Berikut beberapa penyebab anak mogok makan.


1. Anak bosan

Semenjak era pandemi COVID-19 ini, Dr Aryono menyebut anak lebih banyak melakukan aktivitas di rumah. Hal ini membuat kesempatan anak bermain di luar rumah menjadi terbatas, sehingga membuat anak bosan tidak nafsu makan.


"Anak perlu keluar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sayangnya saat pandemi ini, interaksi di luar justru dilarang. Itulah penyebabnya, anak-anak tidak tertarik untuk makan," jelas Dr Aryono.

https://nonton08.com/one-percent-more-humid/


2. Orang tua merusak aturan pemberian makan

"Ketika anak masih aktif menyusu dan mengalami mogok makan, orang tua bisa saja tanpa menyadarinya, merusak aturan pemberian makan," katanya.


Hal ini membuat para orang tua terkadang berpikir lebih baik memberikannya susu daripada anak akhirnya kelaparan. Padahal cara makan seperti ini dinilai Dr Aryono bisa merusak aturan makan (feeding rules).


3. Picky eater

Anak usia 1-3 tahun menjadi picky eater masih bisa disebut normal. Sebab, anak yang masuk ke golongan picky eater, tidak mau makanan satu kelompok saja. Artinya, masih ada jenis makanan lain yang dimakan oleh anak.


4. Selective eater

Berbeda dengan picky eater, adapula anak yang masuk ke golongan selective eater. Sebagai orang tua, kamu perlu mewaspadainya karena hal itu sudah tidak normal.


"Selective eater adalah kondisi ketika anak hanya mau makan satu kelompok saja. Misalnya, mau makan protein saja atau karbohidrat saja," sebut Dr Aryono.


5. Kebiasaan orang tua

Penelitian menunjukkan bahwa selera makan orang tua sangat mempengaruhi menu yang disajikan ke anak. Seharusnya, orang tua bisa memahami selera makan anak, bisa jadi selera makan anak sangat berbeda dengan kedua orang tuanya.


6. Orang tua tidak paham fungsi peran dalam pemberian makan anak

"Proses makan melibatkan interaksi antara si pemberi dan penerima makan. Anak sendirilah yang sebenarnya menentukan seberapa banyak porsinya dan kapan dia mau makan," jelas Dr Aryono.


Sementara itu, menurutnya orang tua hanya bertugas memberi makan yang menyesuaikan kebutuhan anak. Oleh sebab itu, sebaiknya orang tua tidak menyamakan diri dengan anak.


7. Neophobia

Neophobia adalah keadaan ketika anak takut menelan baru karena belum pernah mencobanya. Contohnya, saat melihat makanan berwarna merah, bisa saja anak menilai makanan itu adalah cabai. Anak yang tidak suka pedas, tentu menolak makanan itu, sehingga memicu anak melakukan GTM atau mogok makan.


Lantas bagaimana mengatasinya?


- Buat jadwal makan yang teratur

- Ciptakan lingkungan yang menyenangkan saat makan

- Usahakan tidak memaksa anak

- Amati tanda-tanda bahaya pada tubuh anak seperti gangguan pencernaan, pernapasan atau penyakit bawaan

- Perhatikan kuantitas dan kualtas makanan

- Membatasi waktu makan anak selama 30 menit

- Jangan menyerah mengenalkan makanan pada anak

- Pemberian makanan instan tak masalah

- Memberikan suplemen pada anak

https://nonton08.com/dredd/