Kamis, 24 September 2020

Angkat Potensi Fesyen Muslim Lokal, Kemenperin Gelar MOFP 2020

  Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kembali menyelenggarakan kompetisi Modest Fashion Project (MOFP) di tahun 2020. Ajang ini menjadi ajang pertunjukan kreasi fesyen muslim dari para desainer muda Tanah Air.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati WIbawaningsih mengungkapkan MOFP merupakan salah satu upaya Kemenperin untuk menggali potensi dan meningkatkan daya saing industri fesyen di Indonesia.


"Tahun ini, MOFP 2020 akan diselenggarakan untuk yang ketiga kalinya sejak tahun 2018. Kompetisi ini bertujuan untuk menjaring para wirausaha muda di bidang fesyen muslim yang memiliki basis sebagai desainer untuk kemudian dibina selama dua tahun," ujar Gati dalam keterangan tertulis, Selasa (23/9/2020).


Tahun ini, MOFP mengangkat tema 'Warna Wastra', sebagai lambang keanekaragaman budaya Nusantara warna-warni keindahan Indonesia, adat, suku bangsanya yang tertuang dalam sebuah kain yang beragam dari Sabang sampai Merauke dengan keindahannya.


"Wastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti selembar kain (sandangan). Saat ini penggunaan istilah Wastra mulai diperkenalkan kembali kepada masyarakat Indonesia dan dunia untuk mewakili nama kain tradisional Indonesia," jelas Gati.


Gati menerangkan, para peserta MOFP akan mendapat program pembinaan seperti pelatihan, pembangunan kapasitas, dan fasilitasi kegiatan pendukung lainnya selama dua tahun. Mereka dibentuk menjadi pelaku usaha di bidang fesyen muslim yang produktif, kreatif, inovatif dan kompetitif.


"MOFP ini juga diharapkan dapat dijadikan batu loncatan bagi para desainer fesyen untuk menjadi seorang wirausaha baru di bidang fesyen muslim yang berkualitas dan berdaya saing," imbuh Gati.


Perkembangan jumlah umat muslim dunia, ulas Gati, menjadi salah satu pemicu utama yang mendorong pertumbuhan industri fesyen muslim. Berdasarkan data The State Global Islamic Economy Report 2019/2020, nilai konsumsi fesyen muslim dunia mencapai US$ 283 M. Angka tersebut diperkirakan terus meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 6%.


"Sehingga, diproyeksi nilai konsumsi fesyen muslim dunia bisa menembus US$ 402 miliar. Sementara itu, konsumsi fesyen muslim Indonesia sendiri sebesar US$ 21 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa peluang pasar fesyen muslim global maupun domestik sangat besar dan harus diisi oleh industri fesyen muslim Indonesia," rinci Gati.

https://indomovie28.net/dragon-eyes-2/


Gati menyebut Fesyen muslim di Indonesia sudah mematri standar yang baik di kancah internasional. Merujuk laporan The State of Global Islamic Economy Report 2019/2020, Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara yang mengembangkan fesyen muslim terbaik di dunia, setelah Uni Emirat Arab dan Turki.


"Artinya, ada peluang Indonesia untuk dapat berada pada urutan pertama dan menjadi salah satu pusat fesyen muslim dunia," ujar Gati.


Industri fesyen muslim merupakan bagian dari industri pakaian jadi yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan catatan Kemenperin, kinerja ekspor industri pakaian jadi sepanjang tahun 2019 mencapai US$ 8,3 M.


Selama periode Januari hingga Juli tahun 2020, nilai ekspor dari industri pakaian jadi telah mencapai US$ 4,07 M. Industri pakaian jadi juga memiliki peran besar pada kontribusinya terhadap PDB nasional di tahun 2019, yaitu sebesar 5,4 persen.


"Melihat segala potensi dan keunggulan sektor industri fesyen muslim di Indonesia, maka kami mengajak para desainer, pemerintah, pelaku industri, marketplace, akademisi serta seluruh stakeholder terkait lainnya untuk dapat bersama-sama memaksimalkan potensi dan terus mempromosikan dan memperkenalkan industri fesyen muslim Indonesia," sambung Gati.


Sebagai informasi, peserta MOFP 2020 dapat mendaftar melalui bit.ly/pendaftaranmofp2020. Pendaftaran ditutup pada 30 September 2020. Seluruh tahapan penjurian dan inagurasi bakal dilaksanakan secara daring (online) dengan total hadiah sebesar Rp 75 juta.

https://indomovie28.net/365-days/

Sneakers Eceng Gondok Pekalongan Mendunia, Diekspor ke Swiss

  Sneakers berbahan kulit atau kanvas mungkin sudah terlalu mainstream. Bagaimana dengan sneakers yang terbuat dari eceng gondok?

Terlepas dari citra buruknya sebagai gulma, eceng gondok atau Eichhornia crassipes juga memiliki nilai ekonomis tersendiri karena bisa diolah menjadi serat untuk tenun.


Banyak desainer fashion yang sudah melirik tenun eceng gondok. Priyo Oktaviano pernah merilis koleksi pakaian kekinian yang terbuat dari tenun tersebut lima tahun silam di IPMI Trend Show 2014.


Setelah pakaian, kini muncul sneakers berbahan tenun eceng gondok keluaran jenama lokal bernama Pijakbumi.


"Ini mungkin pertama di dunia, karena bahan ini lebih lumrah untuk kain pakaian. Entah itu baju atau outerwear, sudah cukup banyak. Namun di sepatu, sejauh ini kami belum pernah melihat. Correct me if I'm wrong," ungkap Rowland Asfales, pendiri dan desainer Pijakbumi kepada Wolipop detikcom, Rabu (23/9/2020).


Berdiri sejak 2016, Pijakbumi mengusung konsep produk sepatu yang sustainable atau ramah lingkungan dalam garis desain yang kekinian.


DNA merek tersebut rupanya mendapat perhatian dari penyelenggara MICAM, sebuah pameran sepatu terbesar berskala internasional yang rutin digelar dua kali setahun di Milan, Italia.


Pijakbumi lantas mendapat kesempatan untuk memamerkan produk mereka di MICAM 2020 awal tahun ini. Pameran perdana mereka di MICAM mendapat sambutan positif dari pengunjung dan buyers.

https://indomovie28.net/nasty-2/


Menyusul kesuksesan tersebut, Pijakbumi diundang kembali untuk ambil bagian di MICAM 2020 periode 20-23 September.


Dalam kesempatan tersebut, Pijakbumi meluncurkan dan menampilkan desain sepatu terbaru dari koleksi Atlas Sneakers. Koleksi ini terbuat dari 90 persen tumbuhan (plant-based), seperti serat-serat natural, dengan aksen yang terbuat dari tenun eceng gondok. Alasnya sendiri terbuat dari bahan karet alami.


"Sebenarnya, ini adalah penyempurnaan dari koleksi Atlas Sneakers sebelumnya di MICAM pertama kami. Kali ini, dibuat lebih ramah lingkungan. Bagian yang tadinya terbuat dari polyester, kami ganti dengan material serat tanaman," ungkap alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB tersebut.


Lebih lanjut Rowland mengatakan, material tenun eceng gondok yang digunakan merupakan karya para perajin di Pekalongan, Jawa Tengah. Tenun tersebut kemudian melalui tahap assembling di workshop Pijakbumi di Bandung. "Ibu-ibu perajin sangat antusias, apalagi setelah melihat hasil akhir dari pembuatan sepatu ini," tambahnya.


Bermula dari tangan perajin di Pekalongan, sneakers Pijakbumi kini mulai mendunia. Tak cuma eksis di ajang pameran internasional, tapi juga ikut bersaing di pasar global dengan merek-merek dunia yang lebih dulu mapan.


Baru-baru ini, Pijakbumi untuk pertama kalinya mengekspor produk sneakers mereka ke Swiss. Rowland menuturkan, pesanan datang saat Pijakbumi mengikuti MICAM 2020 Februari lalu.


"Kami bertemu banyak potential buyers dari berbagai negara, salah satunya Swiss. Menurut mereka, produk kami sangat salable di Swiss karena mungkin masyarakat di sana sudah sangat sadar akan sustainability dan suka memakai produk yang ramah lingkungan," katanya.


Persiapan untuk ekspor tersebut memakan waktu hingga dua bulan. Situasi yang kurang kondusif karena pandemi COVID-19 juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, semuanya rampung sesuai rencana.


Produk sneakers yang harganya berkisar antara Rp 799 ribu dan Rp 849 ribu itu sudah dikirim ke Swiss. Rowland berharap, sneakers Pijakbumi dapat sekaligus memperkenalkan Indonesia kepada komunitas internasional.


"Mungkin ini produk sneakers Indonesia yang pertama dijual di Swiss. Semoga orang-orang di sana juga bisa mengenal keunikan budaya Indonesia lewat karya kami," katanya.

https://indomovie28.net/my-womens-men-2/