Kamis, 17 September 2020

Kasus COVID-19 RI Terus Meningkat, Tenaga Kesehatan Masih Cukup?

  Jumlah kasus infeksi virus Corona COVID-19 di Indonesia kian meningkat setiap harinya. Para tenaga kesehatan pun harus pontang-panting merawat pasien, karena jumlahnya yang tidak sebanding.

Lantas bagaimana dengan kondisi tenaga kesehatan di Indonesia saat ini? Apakah sudah cukup jumlahnya untuk menangani pasien COVID-19?


Menurut Koordinator Tim Relawan Satgas Penanganan COVID-19, Andre Rahardian, SH, LLM, MSc, sejak virus Corona mewabah di Indonesia, ia dan timnya selalu melakukan perekrutan tenaga kesehatan, baik dari dokter maupun perawat. Terlebih dalam beberapa minggu terakhir, permintaan tenaga kesehatan terus berdatangan dari berbagai rumah sakit.


"Saat ini kita memang selalu melakukan perekrutan di 3-4 minggu terakhir ada permintaan rumah sakit, karena beberapa rumah sakit memperbesar kapasitas baik ICU maupun isolasi, begitu juga pada saat Wisma Atlet ini membuka tower-tower baru ada kebutuhan dari perawat maupun dokter," kata Andre dalam siaran Youtube BNPB, Kamis (17/9/2020).


Andre juga menjelaskan, pihaknya akan mengikuti saran dari Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto untuk merekrut para dokter yang sudah selesai melakukan internship.


"Jadi mungkin kita tinggal medical check up lalu tanya kesediaan mereka, karena belum tentu bersedia juga, karena jangka waktu tugas yang 30 hari plus 7 hari ini dan mereka tidak bisa bertemu keluarga, mereka harus ada di fasilitas rumah sakit tersebut selama periode ini," tuturnya.

https://cinemamovie28.com/rumah-gurita/


Kemenkes Klaim Kapasitas RS di DKI Masih Cukup, Ini Detailnya


Kapasitas rumah sakit bagi pasien Corona di DKI tengah jadi sorotan. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir, laju infeksi COVID-19 di DKI Jakarta terus meningkat signifikan setiap harinya sehingga dikhawatirkan akan membuat rumah sakit rujukan COVID-19 penuh dan kolaps.

Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Kesehatan membentuk tim Taskforce untuk memastikan kapasitas ruang isolasi dan ICU untuk pasien COVID-19 di sejumlah rumah sakit di DKI Jakarta masih mencukupi.


"Kemenkes memastikan tersedianya ruang isolasi dan ICU yang dapat digunakan untuk pasien COVID-19 ke RS yg ada di Jakarta, baik milik Kemenkes, milik Pemda, milik TNI/Polri, milik swasta dan wisma atlet. Dari pantauan kami di hari pertama (16/9) RS masih tersedia terus mengembangkannya volumenya," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan dr. Rita Rogayah SpP (K) MARS, dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (17/9/2020).


Dari hasil pemantauan, diperoleh data kapasitas jumlah tempat tidur yang dimiliki beberapa rumah sakit di DKI Jakarta. Di antaranya:


1. RS RSPI Sulianti Saroso

34 tempat tidur di ruang isolasi dan 10 tempat tidur di ruang ICU. Dalam waktu dekat, RSPI Sulianti Saroso akan menambah jumlah kapasitas tempat tidur baik di ruang isolasi maupun ICU menjadi 48 tempat tidur di ruang isolasi dan 14 tempat tidur di ruang ICU.


2. RS Hermina Kemayoran

48 tempat tidur di ruang isolasi dan 6 tempat tidur di ruang ICU.


3. RSUD Pasar Rebo

50 tempat tidur yang terbagi rata di ruang isolasi Anggrek dan ruang isolasi Cempaka, serta 9 tempat tidur di ruang ICU. RSUD Pasar Rebo akan melakukan pengembangan sebanyak 25 tempat tidur di ruang isolasi dan 6 tempat tidur di ruang ICU.


4. RSDK Duren Sawit

202 tempat tidur di ruang isolasi dan 13 tempat tidur di ruang ICU. Dan dalam waktu dekat RSDK Duren Sawit akan menambah 200 tempat tidur isolasi dan 8 tempat tidur di ruang ICU.


5. RSU Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto

169 tempat tidur ruang isolasi dan 15 tempat tidur ruang ICU dengan rencana penambahan dalam waktu dekat sejumlah 31 tempat tidur di ruang isolasi, dan 15 tempat tidur di ruang ICU.


6. RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

178 tempat tidur di ruang isolasi dan 31 tempat tidur di ruang ICU. Untuk rencana pengembangan RSUPN Dr. Cipto sudah menyiakan tambahan tempat tidur sebanyak 50 di ruang isolasi dan 10 tempat tidur di ruang ICU


7. RSUD Tarakan

114 dan 38 tempat tidur di ruang ICU, dengan rencana penambahan 4 tempat tidur pada ruang ICU.


8. RSU Pertamina Jaya

75 tempat tidur di ruang isolasi dan 65 tempat tidur di ruang ICU dengan rencana penambahan tempat tidur pada ruang isolasi sebanyak 15 buah.


9. RSPAD Gatot Soebroto

253 tempat tidur di ruang isolasi dan 27 di ruang ICU. Saat ini RSPAD Gatot Soebroto sudah melakukan pengembangan sebanyak 30 tempat tidur di ruang isolasi.


10. RS Mitra Kemayoran

35 tempat tidur di ruang isolasi dan 5 tempat tidur di ruang ICU dengan rencana penambahan dalam waktu dekat sejumlah 22 tempat tidur di ruang isolasi.


Saat ini DKI Jakarta memiliki fasilitas kesehatan sebanyak 190 rumah sakit. Dari jumlah tersebut, 67 merupakan rumah sakit rujukan COVID-19.

https://cinemamovie28.com/conditions-of-secretary-2/

'Pakai Masker Saat Naik Mobil Pribadi Ibarat Tidur Sendirian Pakai Kondom'

 Aturan harus mengenakan masker saat mengendarai mobil pribadi seorang diri belakangan banyak dikeluhkan. Beberapa kisah viral soal hukuman denda yang menyertainya, viral di media sosial.

Aturan tersebut memicu pro dan kontra di kalangan warga. Ada yang menentang karena dinilai berlebihan, ada juga yang mendukung karena faktanya memang masih menyepelekan perlunya pakai masker.


Seorang warga, Arnett (21), menilai aturan tersebut tidak tegas, bahkan terlihat seperti lelucon belaka. Menghukum seseorang yang tidak pakai masker saat berkendara sendirian dengan mobilk pribadi menurutnya tidak tepat sasaran.


"Kocak aja sih, aku juga sempet baca, ada dokter yang disuruh nyapu katanya gara-gara nggak pakai masker pas lagi nyetir sendirian," ujar Arnett, merujuk sebuah foto viral di media sosial. Belum ada konfirmasi soal keterangan yang menyertai foto tersebut.


Sementara itu, Ghalda (21), warga DKI yang sehari-hari mengendarai mobil, menilai pemberian denda seharusnya diberikan jika pengendara mobil membuka jendela mobil untuk berinteraksi dengan orang lain tanpa menggunakan masker bukan saat berkendara sendirian.


"Kalau dia (pengendara mobil) sendiri doang dan nggak buka kaca mah, ya nggak apa-apa nggak pakai masker. Kalau sampai didenda, ya keliatan banget mau nyari duit," ujar Ghalda.


Sementara itu, Siska (21), yang juga pengendara mobil menyebut aturan itu sangat aneh. Terlebih mereka yang 'terjaring' dikumpulkan dalam satu waktu dan menyebabkan antrean yang panjang.


"Nggak sekalian aja bikin aturan mandi sama tidur juga pakai masker?" sentil Siska.


Warga DKI lainnya, Jocelyn, beranggapan bahwa sebenarnya tak ada salahnya dengan aturan tersebut. Menurutnya, seseorang tak pernah tahu kapan ia harus membuka kaca atau pintu mobil yang memungkinkan udara dari luar akan masuk ke dalam mobil.


"Dan virus akan terperangkap ke dalam mobil kalau sudah masuk," katanya.


Keharusan pakai masker saat mengemudi kendaraan pribadi seorang sendiri juga menggelitik seorang pembaca detikcom, Djoko Prasetyo. Di kolom komentar, ia membuat analogi yang menarik.


"Orang yang sendirian dalam mobil pakai masker, itu sama dengan orang tidur sendirian tapi pakai kondom," tulisnya.


Ahli paru dari RS Persahabatan, dr Erlang Samoedro, SpP, mengatakan risiko penularan saat sendirian di dalam mobil pribadi terbilang kecil. Yang perlu dihindari adalah paparan dari orang lain.


"Paparan virus dari orang jadi bila tidak ada orang lain berarti tidak ada paparan. Jadi aman kalau nggak ada orang lain," jelasnya.


Setujukah jika harus pakai masker dengan sempurna saat mengemudi pribadi seorang diri? Tuliskan pendapat di kolom komentar.

https://cinemamovie28.com/bang-bang/


Kasus COVID-19 RI Terus Meningkat, Tenaga Kesehatan Masih Cukup?


 Jumlah kasus infeksi virus Corona COVID-19 di Indonesia kian meningkat setiap harinya. Para tenaga kesehatan pun harus pontang-panting merawat pasien, karena jumlahnya yang tidak sebanding.

Lantas bagaimana dengan kondisi tenaga kesehatan di Indonesia saat ini? Apakah sudah cukup jumlahnya untuk menangani pasien COVID-19?


Menurut Koordinator Tim Relawan Satgas Penanganan COVID-19, Andre Rahardian, SH, LLM, MSc, sejak virus Corona mewabah di Indonesia, ia dan timnya selalu melakukan perekrutan tenaga kesehatan, baik dari dokter maupun perawat. Terlebih dalam beberapa minggu terakhir, permintaan tenaga kesehatan terus berdatangan dari berbagai rumah sakit.


"Saat ini kita memang selalu melakukan perekrutan di 3-4 minggu terakhir ada permintaan rumah sakit, karena beberapa rumah sakit memperbesar kapasitas baik ICU maupun isolasi, begitu juga pada saat Wisma Atlet ini membuka tower-tower baru ada kebutuhan dari perawat maupun dokter," kata Andre dalam siaran Youtube BNPB, Kamis (17/9/2020).


Andre juga menjelaskan, pihaknya akan mengikuti saran dari Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto untuk merekrut para dokter yang sudah selesai melakukan internship.


"Jadi mungkin kita tinggal medical check up lalu tanya kesediaan mereka, karena belum tentu bersedia juga, karena jangka waktu tugas yang 30 hari plus 7 hari ini dan mereka tidak bisa bertemu keluarga, mereka harus ada di fasilitas rumah sakit tersebut selama periode ini," tuturnya.

https://cinemamovie28.com/laskar-pelangi-2-edensor/