Selasa, 14 Juli 2020

4 Fakta Rambut Kemaluan, Bisa Bikin Bisulan Jika Kurang Perawatan

Masa pubertas pada pria maupun wanita ditandai dengan perubahan fisik seperti pertumbuan rambut halus di sekitar kemaluan. Sifat dan ketebalannya bervariasi pada setiap orang sehingga tidak ada ukuran yang baku untuk saling dibandingkan.
Yang pasti, rambut pubis, demikian istilah resminya, punya beberapa fungsi secara anatomis. Selain menjaga area kemaluan tetap hangat, juga mencegah terjadinya infeksi.

Sering bikin penasaran, ini fakta tentang rambut kemaluan.

1. Fungsi rambut kemaluan
Tumbuhnya rambut kemaluan bukan berarti tidak memiliki tujuannya, beberapa penelitian mengatakan rambut kemaluan bisa membuat alat kelamin tetap hangat dan merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan gairah seksual. Selain itu, dapat mencegah infeksi kemaluan.

"Ini (rambut kemaluan) sebagai penjaga untuk mencegah masuknya kotoran ke dalam vagina atau penis." ucap Sherry Ross, M.D., ob-gyn Pusat Kesehatan Providence Saint John di Santa Monica, California, dikutip dari Self.com.

2. Risiko mencukur
Mencukur atau memotong rambut kemaluan adalah pilihan setiap orang. Pada umumnya, menghilangkan rambut kemaluan boleh saja, tetapi ada beberapa efek samping yang akan terjadi. Luka saat mencukur pada rambut kemaluan sangat umum terjadi. Sebuah studi tahun 2017 mengatakan bahwa 25,6 persen pria mengalami luka saat mencukur rambut kemaluan.

3. Waspadai infeksi
Rambut kemaluan berfungsi sebagai pelindung untuk mencegah kotoran masuk ke dalam alat kelamin. Mencukur habis rambut kemaluan akan membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi, seperti Infeksi Saluran Kemih (ISK) dan jamur.

4. Bisa memicu bisul
Bisul biasanya muncul di area kemaluan akibat seseorang mencukur dengan kasar. Awalnya bisul berbentuk seperti benjolan merah dan kemudian disertai nanah.

Mecukur rambut kemaluan umumnya aman, tetapi dapat memberikan efek samping. Anda harus berhati-hati jika ingin mencukur rambut kemaluan. Namun, tidak ada salahnya tetap membiarkannya tumbuh, tetapi disarankan untuk menjaga kebersihan seperti mencuci menggunakan air bersih atau sabun khusus untuk kemaluan.

Berada di Lift 60 Detik, Wanita Ini Tularkan Corona ke 71 Orang

Seorang wanita positif virus Corona tanpa gejala menularkan virus ke 71 orang usai 60 detik berada di lift. Rincian kasus ini muncul dalam sebuah studi baru yang dirilis Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC).
Asal-usul kasus ini mulai ditelusuri pada 2 April saat seorang pria di Provinsi Heilonjiang mengidap kondisi stroke yang parah namun belum terdiagnosis Corona, demikian tulis news.com.au. Pria tersebut diketahui dilarikan ke rumah sakit dan ditemani tiga anaknya.

Dikutip dari Daily Star, di antara mereka tanpa sadar menularkan Corona ke 28 orang di rumah sakit temasuk lima perawat dan seorang dokter. Sebelum didiagnosis Corona, pria itu dibawa ke rumah sakit lain untuk melakukan perawatan stroke, di rumah sakit lainnya pun ia menularkan Corona ke 20 orang.

Sementara pria lain yang dikenal sebagai pasien B menunjukkan gejala virus Corona COVID-19 dan para ilmuwan menemukan bahwa jenis Corona tersebut berasal dari luar negeri. Semua yang kontak dekat dengan pasien B dites Corona dan mereka dinyatakan positif Corona, salah satunya adalah korban stroke tadi.

Semua orang yang pernah dihubungi pasien B atau bahkan berada di rumah sakit yang sama lantas dites Corona dan dikarantina, tetapi hampir 50 dari mereka sudah tertular virus Corona, beberapa dari mereka telah menularkan virus Corona lebih jauh.

Pasien B telah bertemu dengan korban stroke dan putranya di sebuah pesta pada tanggal 29 Maret, tetapi tidak ada yang dinyatakan positif Corona pada pesta itu. Karena penularannya biasanya melalui kontak dekat, mereka melakukan tes Corona pada pasangan pria yang dinyatakan stroke dan ternyata dia pun positif Corona, bersama dengan putri mereka.

Pria itu memang bertemu keluarganya pada 26 Maret tetapi baik ibu maupun anak perempuannya tidak melakukan perjalanan bersama sebelumnya. Mereka juga tidak memiliki kontak dekat dengan kasus virus Corona COVID-19.

Pada 9 April, tim yang melakukan pelacakan kontak memanggil seluruh penghuni apartemen yang sama dengan wanita dan anak perempuan dari pria tersebut. Hal ini untuk mengetahui siapa yang pertama kali menjadi sumber penularan virus Corona.
https://cinemamovie28.com/kenapa-harus-bule/feed/

Protokol Kesehatan di Sekolah saat New Normal yang Harus Dipatuhi

 Protokol kesehatan di sekolah saat new normal telah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Namun proses belajar mengajar tatap muka di sekolah baru diizinkan bagi lembaga pendidikan yang berada dalam zona hijau saja dan hanya untuk jenjang menengah atas (SMA/SMK) dan menengah pertama (SMP).
Protokol kesehatan di sekolah merupakan aturan untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit COVID-19 yang diakibatkan virus Corona di institusi pendidikan. Dalam buku saku Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19 yang disusun Kemendikbud, Kemenkes, Kementerian Agama, dan Kementerian Dalam Negeri pembelajaran tatap muka dilaksanakan melalui dua fase yakni masa transisi dan masa kebiasaan baru atau new normal.

Masa transisi berlangsung selama dua bulan sejak dimulainya pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Jadwal pembelajaran mengenai jumlah hari dalam seminggu dan jumlah jam belajar setiap hari dilakukan dengan pembagian rombongan belajar (shift) yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan.

"Setelah masa transisi selesai, apabila daerahnya tetap dikategorikan sebagai daerah Zona Hijau maka satuan pendidikan masuk dalam masa kebiasan baru," seperti yang dikutip dari buku tersebut.

Dikutip dari laman Kemdikbud, berikut protokol kesehatan di sekolah untuk panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran dan tahun akademik baru di masa Covid-19:
1. Wajib Menggunakan Masker

Setiap sekolah yang sudah membuka proses pembelajaran di sekolah wajib mempersiapkan sarana cuci tangan dengan air mengalir atau cairan pembersih tangan serta desinfektan.

Selain itu, untuk peserta didik disabilitas rungu harus disediakan masker tembus pandang.

2. Cek Suhu

Protokol kesehatan di sekolah yang kedua adalah cek suhu. Saat berada di sekolah, peserta didik dan tenaga pengajar diwajibkan menggunakan masker. Setiap orang yang memasuki sekolah juga akan dicek suhunya dengan menggunakan thermogun.

Sesuai aturan protokol kesehatan, peserta didik dan tenaga pengajar wajib berada dalam kondisi sehat. Orang dengan penyakit komorbid tidak diperkenankan masuk sekolah. Dan tidak memiliki gejala Covid-19 termasuk pada orang yang serumah dengan warga satuan pendidikan.

3. Waktu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Masa transisi:

- SMA, SMK, MA, MAK, SMP, MTs, paling cepat Juli 2020.
- SD, MI, dan SLB, paling cepat September 2020.
- PAUD, paling cepat November 2020.

New normal:

- SMA, SMK, MA, MAK, SMP, MTs, paling cepat September 2020.
- SD, MI, dan SLB, paling cepat November 2020.
- PAUD, paling cepat Januari 2021.

4. Jarak di Kelas

Masa transisi:

- Pendidikan dasar dan menengah haruslah jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 18 peserta didik per kelas (standar 28-36 peserta didik per kelas).
- SLB, jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 5 peserta didik per kelas (standar 5-8 peserta didik per kelas).
- PAUD, jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 5 peserta didik per kelas (standar 15 peserta didik per kelas).

New normal:

- Pendidikan dasar dan menengah haruslah jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 18 peserta didik per kelas.
- SLB, jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 5 peserta didik per kelas.
- PAUD, jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 5 peserta didik per kelas.

5. Kantin
Masa transisi:

- Tidak diperbolehkan.

New normal:

- Boleh beroperasi dengan tetap menjaga protokol kesehatan di sekolah.

6. Kegiatan Ekstrakurikuler dan Olahraga
Masa transisi:

- Tidak diperbolehkan.

New normal:

- Diperbolehkan, kecuali kegiatan dengan adanya penggunaan alat/fasilitas yang harus dipegang oleh banyak orang secara bergantian dalam waktu yang singkat dan/atau tidak memungkinkan penerapan jaga jarak minimal 1,5 meter, misalnya: basket dan voli.

7. Kegiatan Diluar KBM

Masa transisi:

- Tidak diperbolehkan ada kegiatan selain KBM. Contoh, orang tua menunggu siswa di sekolah, istirahat di luar kelas, pertemuan orangtua-murid, pengenalan lingkungan sekolah, dan sebagainya.

New normal:

- Diperbolehkan dengan tetap menjaga protokol kesehatan di sekolah.

Itulah beberapa poin mengenai protokol kesehatan di sekolah yang perlu dilakukan para siswa, guru maupun semua warga yang berada di lingkungan dalam sekolah.
https://cinemamovie28.com/page/10/?p=147