Jumat, 10 Juli 2020

Soal Penularan Corona Lewat Udara, Pemerintah Kontak WHO dan Ini Hasilnya

Saat ini sedang ramai diperbincangkan mengenai penularan virus Corona melalui airborne atau udara khususnya di ruangan tertutup. Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, dr Achmad Yurianto, mengatakan sebaran Corona melalui udara lebih disebabkan oleh mikrodroplet.
"Dari beberapa kali kami mencoba berkomunikasi dengan WHO, sebenarnya kasus ini lebih cenderung disebarkan oleh mikrodroplet," tutur dr Yuri dalam siaran konferensi pers BNPB, Jumat (10/7/2020).

Disebutkan oleh dr Yuri, mikrodroplet adalah droplet yang sangat kecil dan bisa bertahan lama di suatu ruangan apabila tempat tersebut sirkulasi udaranya tidak berjalan dengan baik. Ukuran mikrodroplet yang sangat kecil memungkinkan virus itu beterbangan dan melayang.

"Partikel droplet bisa melayang cukup lama di udara sehingga memungkinkan siapapun yang nantinya berada di ruangan dan tidak menggunakan masker atau mengenakan masker tapi tidak tepat, akan sangat mudah tertular," jelasnya.

Untuk mencegah penularan Corona melalui mikrodroplet di tempat tertutup, selain memakai masker, usahakan area tersebut memiliki sirkulasi udara yang baik. Jika memungkinkan, gunakan kipas angin atau exhaust fan agar udara yang ada di dalam ruangan secara berkala diganti oleh angin segar dari luar.

"Sekali lagi kami ingatkan pertama upayakan di semua ruang kerja dijamin sirkulasi udaranya baik. Kalau memungkinkan jendela di buka di pagi hari agar udara bisa masuk," pungkasnya.

Teknologi VAR di Premier League, Canggih Tapi Bisa Salah

Premier League akui ada kekeliruan dari keputusan VAR untuk penalti Manchester United ke gawang Aston. Premier League bahkan mengakui kekeliruan terjadi di seluruh tiga laga Liga Inggris, Jumat (10/7) dini hari WIB.
Sebenarnya apa itu VAR dan mengapa bisa terjadi kekeliruan? VAR atau Video Assistant Referee sejak awal munculnya sudah membawa kontroversi. Teknologi hasil dari inovasi yang dilakukan oleh International Football Association Board (IFAB) yang sudah melakukan uji coba selama 7 tahun lamanya ini dirasa mengurangi drama dari sepak bola.

VAR adalah alat pembantu kinerja wasit, VAR digunakan untuk memutuskan beberapa peristiwa di sebuah laga sepak bola. Dikutip dari CNN, teknologi ini menentukan dalam terjadi gol, keputusan penalti, pemberian kartu kepada pemain, dan hingga menjatuhkan sanksi ke pemain.

Teknologi VAR dipasangkan di beberapa area lapangan. Namun tetap dibutuhkan wasit-wasit yang ahli di bidang VAR ini. Tanggung jawab tersebut terbagi atas tim yang ada di lapangan dan tim yang ada di ruangan. Tim VAR akan berkomunikasi dengan wasit untuk memutuskan suatu keputusan yang paling akurat. Ada juga ruangan khusus untuk mengamati hasil VAR yakni VOR atau Video Operation Room.

Hmm, harusnya tidak ada kesalahan dong kalau sudah pakai teknologi tinggi? VAR pada dasarnya adalah rekaman ulang video. Cuma, karena sistem VAR ini terlalu fokus dalam banyak hal sehingga tidak bisa fokus pada satu insiden saja.

Wasit juga masih bisa memberikan keputusan yang kurang tepat. Namanya manusia, selalu ada khilaf yang terjadi. Pun dengan teknologi, tetap ada persentase error meski sedikit -- tetapi bisa mempengaruhi tim di lapangan.

Seperti kekeliruan pada keputusan menghadiahi Manchester United penalti setelah Bruno Fernandes jatuh di kotak terlarang. Penalti itu berujung pada gol pertama di laga Aston Villa vs MU.
https://cinemamovie28.com/nande-koko-ni-sensei-ga-episode-6/

Peneliti Klaim Ciptakan Filter yang Bisa Bunuh Virus Corona di Udara

Baru-baru ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperbarui pedoman terkait rute penularan virus Corona COVID-19. Disebutkan bahwa rute penularan Corona lewat udara bisa terjadi di ruangan tertutup.
Dikutip dari Science Daily, para peneliti dari University of Houston bekerja sama dengan yang lain merancang filter udara yang diklaim bisa bunuh virus Corona secara instan. Zhifeng Ren, direktur Texas Center for Superconductivity di UH, berkolaborasi dengan Monzer Hourani, CEO Medistar, sebuah perusahaan yang berbasis di Houston, dan peneliti lain untuk merancang filter tersebut dan dijelaskan dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam Material Today Fisika.

Para peneliti melaporkan bahwa tes yang dilakukan di Galveston National Laboratory menemukan 99,8 persen SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, diklaim terbunuh melalui filter dibuat dari busa nikel yang dipanaskan hingga 200 derajat Celcius. Filter ini juga disebut-sebut membunuh 99,9 persen spora antraks dalam pengujian di lab nasional, yang dijalankan oleh University of Texas Medical Branch.

"Filter ini dapat berguna di bandara dan di pesawat terbang, di gedung-gedung perkantoran, sekolah dan kapal pesiar untuk menghentikan penyebaran COVID-19," kata Ren, Ketua MD Anderson Physics di UH dan penulis yang juga menjadi penulis makalah.

"Kemampuannya untuk membantu mengendalikan penyebaran virus bisa sangat berguna bagi masyarakat," jelas eksekutif Medistar.

Para peneliti meyakini virus Corona dapat tetap bertahan di udara selama tiga jam. Dengan pembukaan kembali bisnis, para peneliti menyebut sulit mengendalikan penyebaran di ruangan ber-AC terutama penuh dengan banyak orang.

Peneliti juga menyebut virus Corona tidak dapat bertahan pada suhu di atas 70 derajat Celcius, sehingga para peneliti memutuskan untuk menggunakan filter yang dipanaskan. Dengan membuat suhu filter lebih panas sekitar 200 derajat Celcius, filter ini diklaim dapat membunuh virus Corona hampir secara instan.

"Teknologi perlindungan udara dalam ruangan biodefense novel ini menawarkan pencegahan garis-pertama terhadap transmisi yang dimediasi lingkungan dari SARS-CoV-2 melalui udara dan akan berada di garis depan teknologi yang tersedia untuk memerangi pandemi Corona saat ini, " jelas para peneliti.

Soal Penularan Corona Lewat Udara, Pemerintah Kontak WHO dan Ini Hasilnya

Saat ini sedang ramai diperbincangkan mengenai penularan virus Corona melalui airborne atau udara khususnya di ruangan tertutup. Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, dr Achmad Yurianto, mengatakan sebaran Corona melalui udara lebih disebabkan oleh mikrodroplet.
"Dari beberapa kali kami mencoba berkomunikasi dengan WHO, sebenarnya kasus ini lebih cenderung disebarkan oleh mikrodroplet," tutur dr Yuri dalam siaran konferensi pers BNPB, Jumat (10/7/2020).

Disebutkan oleh dr Yuri, mikrodroplet adalah droplet yang sangat kecil dan bisa bertahan lama di suatu ruangan apabila tempat tersebut sirkulasi udaranya tidak berjalan dengan baik. Ukuran mikrodroplet yang sangat kecil memungkinkan virus itu beterbangan dan melayang.

"Partikel droplet bisa melayang cukup lama di udara sehingga memungkinkan siapapun yang nantinya berada di ruangan dan tidak menggunakan masker atau mengenakan masker tapi tidak tepat, akan sangat mudah tertular," jelasnya.

Untuk mencegah penularan Corona melalui mikrodroplet di tempat tertutup, selain memakai masker, usahakan area tersebut memiliki sirkulasi udara yang baik. Jika memungkinkan, gunakan kipas angin atau exhaust fan agar udara yang ada di dalam ruangan secara berkala diganti oleh angin segar dari luar.

"Sekali lagi kami ingatkan pertama upayakan di semua ruang kerja dijamin sirkulasi udaranya baik. Kalau memungkinkan jendela di buka di pagi hari agar udara bisa masuk," pungkasnya.