Kamis, 09 Juli 2020

WHO Soroti Klaim Corona Menular lewat Udara, Pakar Sebut Tak Perlu Panik

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal pekan ini telah didesak oleh ratusan ilmuwan soal kemungkinan virus Corona COVID-19 bisa menyebar lewat udara atau airborne. Kemunculan bukti-bukti yang memperkuat klaim tersebut mulai diakui.
Namun, para ahli dari CSIR-Centre for Cellular and Molecular Biology (CCMB) India mengatakan tidak perlu panik. Para pakar tersebut mengatakan bahwa patogen setidaknya berada di udara, tapi bukan berarti virusnya dapat terbang dan bisa menginfeksi semua orang.

"Itu studi yang bagus. Berdasarkan hal itu, apa yang sedang dikomunikasikan kepada WHO adalah, bahwa virus tersebut setidaknya mengudara sementara, yang berarti dapat bergerak dalam droplet berukuran lebih kecil dari lima mikron yang berarti akan berada di udara lebih lama dari yang lebih besar. tetesan yang mereda dalam beberapa menit," kata direktur CSIR-CCMB, Rakesh Mishra, dikutip dari laman Hindustan Times.

Misha memperingatkan untuk terus mengambil langkah pencegahan dan menghindari kontak dekat dan pertemuan yang besar. Selain itu, menjaga jarak sosial juga harus diperhatikan dan menghindari kerumunan di suatu ruangan.

Dia menambahkan bahwa saat ini masih sedikit sekali yang diketahui tentang virus Corona COVID-19 sehingga masih terlalu dini jika mengatakan telah mendapat informasi lebih banyak soal penyakit tersebut.

Sebelumnya, lebih dari 239 ilmuwan di 32 negara, telah menguraikan bukti yang menunjukkan bahwa virus Corona memiliki partikel yang lebih kecil dan dapat menginfeksi manusia, para ahli juga mendesak WHO untuk merevisi rekomendasinya.

China Tutup Tempat Wisata Setelah Ada Kasus Pes Terkonfirmasi

Pihak berwenang di China menutup tempat wisata di bagian utara negara dekat perbatasan Mongolia setelah ditemukan kasus pes dikonfirmasi beberapa hari terakhir. Lima tempat wisata pemandangan padang rumput di Bayannur, Mongolia Dalam di utara China ditutup setelah pihak berwenang mengkonfirmasi empat pasien pes di daerah tersebut.
Dikutip dari laman CNN, pemerintah China di wilayah Mongolia Dalam memperketat aturan di beberapa objek pariwisata lainnya. Para pengunjung dilarang memberi makan dan menyentuh hewan liar. Pemerintah di daerah tersebut tengah berupaya mengurangi populasi tikus, marmut, dan kutu yang diyakini membawa wabah pes.

Kasus pes pertama kali dikonfirmasi, setelah seorang peternak di Bayunnar dinyatakan positif terjangkit wabah tersebut. Wabah bubonic yang disebabkan oleh bakteri dan ditularkan melalui gigitan kutu dan hewan yang terinfeksi.

Wabah ini diketahui pernah menyebabkan pandemi paling mematikan dalam sejarah manusia yakni fenomena Black Death, di mana 50 juta orang di Eropa meninggal karena terjangkit bubonic sekitar abad pertengahan.

Saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan terus memantau situasi perkembangan kemunculan wabah pes ini di China dan Mongolia.

Wabah pes kembali muncul di China ketika negara tersebut dan dunia masih bergelut dengan penularan virus Corona COVID-19 yang menyebar sejak Desember lalu dari Kota Wuhan.

Sementara itu, kemunculan wabah pes ini memicu berbagai negara tetangga China seperti Rusia yang ikut waspada dan mengimbau warganya yang tinggal di dekat perbatasan untuk tidak berburu atau memakan daging dari marmut dan tikus.
https://nonton08.com/star/katrina-norman/

Kemenkes RI Akui Virus G4 Berpotensi Jadi Pandemi, Ini Alasannya

Subtipe baru dari flu babi atau virus H1N1 yang dikenal dengan sebutan virus G4 disebut memiliki potensi jadi pandemi. Saat ini disebutkan beberapa populasi di China sudah tertular virus G4.
Ada beberapa alasan mengapa virus G4 berpotensi jadi pandemi di masa depan. Dijelaskan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan G4 bisa jadi pandemi karena perbedaan strain dari H1N1.

"Bisa jadi pandemi karena berbeda strain dengan flu babi 2009. Padahal WHO sepakat flu babi sudah bukan influenza yang menyebabkan pandemi tapi seperti influenza biasa," ujarnya dalam webinar yang diselenggarakan Kemenkes RI, Kamis (9/7/2020).

Selain itu virus G4 yang memiliki kemiripan dengan H1N1 ini berpotensi melekat pada reseptor yang mirip dengan manusia. Virus G4 bisa menyerang saluran pernapasan atas dan paru-paru sehingga berpotensi jadi pandemi.

"Reseptor ini berada di sel saluran napas manusia sehingga ketika melekat, virus dapat masuk ke sel-sel tubuh dalam hal ini paru-paru sehingga dikhawatirkan akan terjadi kesulitan bernapas jika terjangkit penyakit ini" tambahnya.

Potensi penularan antar-manusianya juga cukup besar. Terlebih diketahui bahwa virus G4 ini tidak bisa diproteksi dengan vaksin H1N1 yang sudah tersedia.

Meski demikian, keuntungannya adalah vaksin flu H1N1 sudah ditemukan sehingga pengembangan vaksin G4 bisa jadi lebih mudah. Berbeda dengan COVID-19 yang merupakan virus yang belum dikenali reseptornya.

"Sebenarnya ini adalah nature yang umum dari penyakit zoonotik. yang kita ketahui bahwa awalnya penularan dapat terjadi di hewan liar lalu terjadi pada manusia," pungkas Nadia.

WHO Soroti Klaim Corona Menular lewat Udara, Pakar Sebut Tak Perlu Panik

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal pekan ini telah didesak oleh ratusan ilmuwan soal kemungkinan virus Corona COVID-19 bisa menyebar lewat udara atau airborne. Kemunculan bukti-bukti yang memperkuat klaim tersebut mulai diakui.
Namun, para ahli dari CSIR-Centre for Cellular and Molecular Biology (CCMB) India mengatakan tidak perlu panik. Para pakar tersebut mengatakan bahwa patogen setidaknya berada di udara, tapi bukan berarti virusnya dapat terbang dan bisa menginfeksi semua orang.

"Itu studi yang bagus. Berdasarkan hal itu, apa yang sedang dikomunikasikan kepada WHO adalah, bahwa virus tersebut setidaknya mengudara sementara, yang berarti dapat bergerak dalam droplet berukuran lebih kecil dari lima mikron yang berarti akan berada di udara lebih lama dari yang lebih besar. tetesan yang mereda dalam beberapa menit," kata direktur CSIR-CCMB, Rakesh Mishra, dikutip dari laman Hindustan Times.

Misha memperingatkan untuk terus mengambil langkah pencegahan dan menghindari kontak dekat dan pertemuan yang besar. Selain itu, menjaga jarak sosial juga harus diperhatikan dan menghindari kerumunan di suatu ruangan.

Dia menambahkan bahwa saat ini masih sedikit sekali yang diketahui tentang virus Corona COVID-19 sehingga masih terlalu dini jika mengatakan telah mendapat informasi lebih banyak soal penyakit tersebut.

Sebelumnya, lebih dari 239 ilmuwan di 32 negara, telah menguraikan bukti yang menunjukkan bahwa virus Corona memiliki partikel yang lebih kecil dan dapat menginfeksi manusia, para ahli juga mendesak WHO untuk merevisi rekomendasinya.
https://nonton08.com/cast/peter-yapp/