Kamis, 09 Juli 2020

WHO Sebut Wabah Pes di China Tidak Berisiko Tinggi

 Wabah pes yang menyebar di Mongolia Dalam, membuat Otoritas China siaga tiga. Seorang pasien yang berprofesi sebagai peternak yang kini sedang menjalani karantina dan kondisinya dilaporkan stabil.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pihaknya memantau kasus pes di wilayah tersebut tapi mengatakan penyakit itu 'tidak berisiko tinggi'.

"Wabah pes telah ada berabad-abad. Kami melihat jumlah kasus di China sudah cukup dikelola dengan baik," kata Margaret Harris, Juru Bicara WHO dikutip dari BBC.

"Saat ini kami tidak menganggapnya berisiko tinggi, tetapi kami tetap mengawasinya dengan cermat," sambungnya.

Wabah pes, yang disebabkan oleh infeksi bakteri, bertanggung jawab atas salah satu epidemi paling mematikan dalam sejarah manusia yakni Black Death, yang menewaskan sekitar 50 juta orang di Afrika, Asia, dan Eropa pada abad ke-14.

Sejak saat itu terjadi beberapa wabah besar. Ini menewaskan sekitar seperlima dari populasi London selama Wabah Besar 1665, sementara lebih dari 12 juta tewas dalam wabah selama abad ke-19 di China dan India.

Wabah pes sendiri adalah penyakit yang ditularkan hewan ke manusia melalui kutusnya. Penyakit ini memiliki tingkat risiko kematian sebesar 30 hingga 60 persen. Meski demikian kini disebutkan penyakit pes dapat diobati dengan antibiotik.

Tak Sengaja Menelan Obat Kumur, Apa Bahayanya?

Pada umumnya, obat kumur seringkali menjadi opsi pertama dalam upaya membersihkan area dalam mulut. Obat kumur pun dipercaya dapat membunuh berbagai jenis kuman yang terdapat di dalam mulut.
Akan tetapi, seringkali kita tidak sengaja menelan obat kumur. Hal ini membuat rasa tidak nyaman di tenggorokan dan menimbulkan kecemasan tersendiri mengenai dampak dari sering menelan obat kumur.

Menurut Dr dr Rustamadji, MKes, menelan obat kumur tidak memiliki efek berbahaya jika hanya 1-2 ml saja. Hal ini dikarenakan dosis yang sedikit tidak akan mempengaruhi kondisi tubuh.

"Jika hanya tertelan 1-2 ml, tidak mempengaruhi. Iodin yang dikeluarkan oleh tubuh dan tidak menyebabkan gangguan", ujar dr Rustamadji via Zoom, Rabu (9/8/2020).

Akan tetapi, ia tetap mengingatkan untuk berhati-hati. Bagaimanapun kalau terus-terusan tertelan dapat berpengaruh buruk pada kesehatan tubuh. Hal ini bisa memberikan efek pada kenaikan gangguan natrium, dan gagal ginjal.

Riset Ini Ingatkan Adanya Kerusakan Otak Akibat COVID-19

Para ilmuwan memperingatkan kemungkinan adanya gelombang kerusakan otak yang disebabkan oleh virus Corona COVID-19. Hal ini diungkapkan lewat hasil riset dari University College London (UCL).
Penyakit akibat virus SARS-CoV-2 ini disebut bisa menyebabkan komplikasi neurologis yang parah, termasuk peradangan, psikosis (gangguan realita), serta delirium (gangguan mental yang menyebabkan kebingungan). UCL menunjukkan 43 kasus pasien COVID mengalami disfungsi otak sementara, stroke, sampai kerusakan saraf dan dampak serius pada otak lainnya.

Hal ini memperkuat pernyataan sejumlah ahli saraf dan dokter spesialis sebelumnya, bahwa ada bukti dampak COVID-19 pada otak. Tetapi, dampak terbesar karena pademi Corona ini masih terkait pada gangguan pernapasan.

"Kekhawatiran saya. saat ini kita punya jutaan orang yang terinfeksi COVID-19. Jika dalam satu tahun ada 10 juta orang yang sembuh, orang-orang itu akan memiliki defisit kognitif," jelas ahli saraf di Western University di Kanada, Adrian Owen, yang dikutip dari Reuters, Kamis (9/7/2020).

"Itu akan mempengaruhi kemampuan mereka dalam bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari," lanjutnya.

Meski begitu, salah satu pemimpin penelitian ini, Michael Zandi, dari UCL's Institute Neurologi mengatakan masih perlu pembuktian lebih lanjut terkait hal ini.

"Apakah kita akan benar-benar melihat adanya kerusakan dalam skala besar pada otak? Ini masih harus diteliti lagi," katanya.
https://nonton08.com/cast/lena/

5 Mitos Virus Corona yang Bisa Picu Munculnya Gelombang Kedua

 Pandemi virus Corona masih terus berlangsung setelah pertama kali muncul pada akhir Desember 2019 lalu. Setelah kemunculannya, banyak gejala bahkan peraturan yang seringkali diabaikan dan malah memperparah keadaan dunia.
Dikutip dari Daily star, berikut 5 mitos tentang virus Corona yang bisa membawa suatu negara dilanda gelombang kedua pandemi ini.

1. Usia muda kebal COVID-19
Sebagian orang percaya virus Corona hanya membahayakan orang-orang yang sudah berusia lanjut. Tetapi, bulan lalu sebuah rumah sakit di Sheffield melaporkan seorang bayi berusia 13 hari meninggal karena virus Corona, tanpa ada masalah kesehatan yang mendasarinya.

Hal ini membuktikan orang-orang yang berusia muda juga bisa terinfeksi virus Corona. Bahkan di Inggris sampai saat ini sudah ada 20 pasien di bawah usia 19 tahun yang meninggal karena virus Corona.

2. Masa darurat COVID-19 sudah lewat
Menurunnya jumlah kematian yang dilaporkan di beberapa negara mengasumsikan jika masa darurat atau berbahaya dari virus ini telah lewat. Hal ini bisa membuat banyak orang merasa terlalu percaya diri.

"Hampir di setiap tempat mulai mengendurkan pengawasannya dan jaga jarak sosial mulai berkurang, di situlah wabah bisa muncul," kata Anthony Costello, dari Independent SAGE.

3. Cuaca hangat bisa menurunkan jumlah kasus
Cuaca dan suhu yang hangat disebut bisa mengurangi tingkat infeksi, karena saat berada di luar rumah orang-orang bisa lebih mudah untuk menjaga jarak. Selain itu, komponen virus juga disebut bisa rusak saat berada di bawah sinar matahari.

Namun, Independent Scage dari SAGE menegaskan bahwa penyebaran atau penularan virus saat berada di luar rumah justru lebih mudah terjadi.

4. Hanya bisa tertular dari orang yang bergejala
Seperti yang diketahui, virus Corona menular lewat droplet orang yang terinfeksi saat batuk, bicara, maupun bersin. Tetapi, virus ini juga bisa bertahan lama pada berbagai permukaan yang menjadi tempat jatuhnya droplet tersebut dan bisa bertahan hingga beberapa hari.

Tak hanya dari orang yang bergejala saja, orang tanpa gejala (OTG) terbukti lebih bisa menularkan virus tersebut pada orang lain.

5. Penggunaan masker tidak efektif cegah penularan virus
Ada anggapan yang mengatakan penggunaan masker hanya perlu dilakukan saat menggunakan transportasi umum saja. Tetapi, bukti kuat mengatakan penggunaan masker secara luas bisa mengurangi penyebaran virus tersebut.

Hal itu telah dibuktikan oleh Jepang, yang melaporkan 20 ribu kasus baru tetapi jumlah kematiannya kurang dari seribu. Sementara di Amerika Serikat, jumlah kasus barunya mencapai tiga juta dan 130 ribu kematian.

Apa bedanya?

Di Jepang, budaya menggunakan masker kembali dilakukan setelah terakhir diterapkan saat epidemi flu Spanyol melanda di tahun 1919. Sementara di AS malah protes untuk menentang penggunaan masker.

Kenyataannya, masker bisa mencegah penyebaran droplet dari orang lain saat berbicara, batuk, maupun bersin.

"Menggunakan masker kain yang sederhana justru bisa secara signifikan mencegah penyebaran droplet yang mungkin membawa virus Corona ke orang lain," kata penulis di Prosiding National Academy of Sciences AS.
https://nonton08.com/cast/mike-ginn/