Kamis, 09 Juli 2020

Ada 7 Juta Babi Ternak di Indonesia, Seberapa Besar Potensi Virus G4 Mewabah?

Penelitian menemukan jenis baru flu babi atau disebut virus G4 berpotensi menjadi pandemi. Bahkan penelusuran tim peneliti menemukan virus G4 sudah beredar di populasi babi-babi di China.
Penemuan potensi pandemi baru di tengah pandemi COVID-19 yang masih belum pasti kapan berakhirnya mengkhawatirkan penduduk dunia. Di Indonesia sendiri dengan jumlah babi ternak mencapai 7 ribu yang tersebar di berbagai provinsi, seberapa besar potensi virus G4 merebak di Indonesia?

"Jadi kami belum bisa menyatakan atau menegaskan potensi virus ini akan seberapa cepat merebaknya di Indonesia, kita juga masih memantau," sebut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, dalam webinar yang diselenggarakan Kemenkes RI, Kamis (9/7/2020).

Setelah pandemi H1N1 di tahun 2009 terjadi, Indonesia sudah dalam posisi 'siap-siaga' dan secara berkala melakukan surveilans atau pemantauan di beberapa wilayah dengan populasi babi ternak yang cukup banyak. Sebab, apabila terdapat kasus di kemudian hari, penyebarannya akan cukup besar karena virus tersebut menyerang saluran pernapasan dan yang menyebabkan influenza.

Kasus H1N1 di Indonesia Cukup Rendah
Disebutkan oleh dr Nadia, pada saat pandemi H1N1 meluas di seluruh dunia, tingkat keparahan yang terjadi di Indonesia tak sebanyak di luar negeri. Dari Juni-September 2009, tercatat konfirmasi kasus sebanyak 1.097 orang dengan angka kematian 10 jiwa.

"Flu babi di Indonesia tahun 2009, walaupun dinyatakan pandemi di beberapa negara tetapi tidak seberat COVID-19," tutur Nadia.

Case fatality rate atau angka kematian H1N1 di Indonesia juga terbilang rendah, kurang dari 1 persen. Setelah ditemukan vaksin, maka dinyatakan flu babi menjadi flu biasa atau influenza musiman. Meski demikian, kita tidak boleh lengah dan harus tetap memantau perkembangan virus G4 yang merupakan jenis baru dari H1N1.

"Kita tidak harapkan sudah ada COVID-19, harus lagi ditambah flu babi ditambah lagi DBD," pungkas Nadia.

5 Mitos Virus Corona yang Bisa Picu Munculnya Gelombang Kedua

 Pandemi virus Corona masih terus berlangsung setelah pertama kali muncul pada akhir Desember 2019 lalu. Setelah kemunculannya, banyak gejala bahkan peraturan yang seringkali diabaikan dan malah memperparah keadaan dunia.
Dikutip dari Daily star, berikut 5 mitos tentang virus Corona yang bisa membawa suatu negara dilanda gelombang kedua pandemi ini.

1. Usia muda kebal COVID-19
Sebagian orang percaya virus Corona hanya membahayakan orang-orang yang sudah berusia lanjut. Tetapi, bulan lalu sebuah rumah sakit di Sheffield melaporkan seorang bayi berusia 13 hari meninggal karena virus Corona, tanpa ada masalah kesehatan yang mendasarinya.

Hal ini membuktikan orang-orang yang berusia muda juga bisa terinfeksi virus Corona. Bahkan di Inggris sampai saat ini sudah ada 20 pasien di bawah usia 19 tahun yang meninggal karena virus Corona.

2. Masa darurat COVID-19 sudah lewat
Menurunnya jumlah kematian yang dilaporkan di beberapa negara mengasumsikan jika masa darurat atau berbahaya dari virus ini telah lewat. Hal ini bisa membuat banyak orang merasa terlalu percaya diri.

"Hampir di setiap tempat mulai mengendurkan pengawasannya dan jaga jarak sosial mulai berkurang, di situlah wabah bisa muncul," kata Anthony Costello, dari Independent SAGE.

3. Cuaca hangat bisa menurunkan jumlah kasus
Cuaca dan suhu yang hangat disebut bisa mengurangi tingkat infeksi, karena saat berada di luar rumah orang-orang bisa lebih mudah untuk menjaga jarak. Selain itu, komponen virus juga disebut bisa rusak saat berada di bawah sinar matahari.

Namun, Independent Scage dari SAGE menegaskan bahwa penyebaran atau penularan virus saat berada di luar rumah justru lebih mudah terjadi.

4. Hanya bisa tertular dari orang yang bergejala
Seperti yang diketahui, virus Corona menular lewat droplet orang yang terinfeksi saat batuk, bicara, maupun bersin. Tetapi, virus ini juga bisa bertahan lama pada berbagai permukaan yang menjadi tempat jatuhnya droplet tersebut dan bisa bertahan hingga beberapa hari.

Tak hanya dari orang yang bergejala saja, orang tanpa gejala (OTG) terbukti lebih bisa menularkan virus tersebut pada orang lain.
https://nonton08.com/star/david-walton/

China Tutup Tempat Wisata Setelah Ada Kasus Pes Terkonfirmasi

Pihak berwenang di China menutup tempat wisata di bagian utara negara dekat perbatasan Mongolia setelah ditemukan kasus pes dikonfirmasi beberapa hari terakhir. Lima tempat wisata pemandangan padang rumput di Bayannur, Mongolia Dalam di utara China ditutup setelah pihak berwenang mengkonfirmasi empat pasien pes di daerah tersebut.
Dikutip dari laman CNN, pemerintah China di wilayah Mongolia Dalam memperketat aturan di beberapa objek pariwisata lainnya. Para pengunjung dilarang memberi makan dan menyentuh hewan liar. Pemerintah di daerah tersebut tengah berupaya mengurangi populasi tikus, marmut, dan kutu yang diyakini membawa wabah pes.

Kasus pes pertama kali dikonfirmasi, setelah seorang peternak di Bayunnar dinyatakan positif terjangkit wabah tersebut. Wabah bubonic yang disebabkan oleh bakteri dan ditularkan melalui gigitan kutu dan hewan yang terinfeksi.

Wabah ini diketahui pernah menyebabkan pandemi paling mematikan dalam sejarah manusia yakni fenomena Black Death, di mana 50 juta orang di Eropa meninggal karena terjangkit bubonic sekitar abad pertengahan.

Saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan terus memantau situasi perkembangan kemunculan wabah pes ini di China dan Mongolia.

Wabah pes kembali muncul di China ketika negara tersebut dan dunia masih bergelut dengan penularan virus Corona COVID-19 yang menyebar sejak Desember lalu dari Kota Wuhan.

Sementara itu, kemunculan wabah pes ini memicu berbagai negara tetangga China seperti Rusia yang ikut waspada dan mengimbau warganya yang tinggal di dekat perbatasan untuk tidak berburu atau memakan daging dari marmut dan tikus.

Ada 7 Juta Babi Ternak di Indonesia, Seberapa Besar Potensi Virus G4 Mewabah?

Penelitian menemukan jenis baru flu babi atau disebut virus G4 berpotensi menjadi pandemi. Bahkan penelusuran tim peneliti menemukan virus G4 sudah beredar di populasi babi-babi di China.
Penemuan potensi pandemi baru di tengah pandemi COVID-19 yang masih belum pasti kapan berakhirnya mengkhawatirkan penduduk dunia. Di Indonesia sendiri dengan jumlah babi ternak mencapai 7 ribu yang tersebar di berbagai provinsi, seberapa besar potensi virus G4 merebak di Indonesia?

"Jadi kami belum bisa menyatakan atau menegaskan potensi virus ini akan seberapa cepat merebaknya di Indonesia, kita juga masih memantau," sebut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, dalam webinar yang diselenggarakan Kemenkes RI, Kamis (9/7/2020).

Setelah pandemi H1N1 di tahun 2009 terjadi, Indonesia sudah dalam posisi 'siap-siaga' dan secara berkala melakukan surveilans atau pemantauan di beberapa wilayah dengan populasi babi ternak yang cukup banyak. Sebab, apabila terdapat kasus di kemudian hari, penyebarannya akan cukup besar karena virus tersebut menyerang saluran pernapasan dan yang menyebabkan influenza.

Kasus H1N1 di Indonesia Cukup Rendah
Disebutkan oleh dr Nadia, pada saat pandemi H1N1 meluas di seluruh dunia, tingkat keparahan yang terjadi di Indonesia tak sebanyak di luar negeri. Dari Juni-September 2009, tercatat konfirmasi kasus sebanyak 1.097 orang dengan angka kematian 10 jiwa.

"Flu babi di Indonesia tahun 2009, walaupun dinyatakan pandemi di beberapa negara tetapi tidak seberat COVID-19," tutur Nadia.

Case fatality rate atau angka kematian H1N1 di Indonesia juga terbilang rendah, kurang dari 1 persen. Setelah ditemukan vaksin, maka dinyatakan flu babi menjadi flu biasa atau influenza musiman. Meski demikian, kita tidak boleh lengah dan harus tetap memantau perkembangan virus G4 yang merupakan jenis baru dari H1N1.

"Kita tidak harapkan sudah ada COVID-19, harus lagi ditambah flu babi ditambah lagi DBD," pungkas Nadia.
https://nonton08.com/star/bajia-pu/