Kamis, 02 Juli 2020

Gejala Virus Corona dari Hari ke Hari yang Perlu Diwaspadai

Pandemi virus Corona kini masih menyerang banyak negara di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Jumlah kasus baru yang bertambah setiap harinya membuat masyarakat semakin perlu mengetahui gejala COVID-19 terbaru maupun yang umum terjadi karena virus tersebut.
Gejala virus Corona COVID-19 ini bukan hanya demam, batuk, dan sesak napas yang umumnya diketahui banyak orang. Gejala virus Corona dari hari ke hari pun perlu diketahui agar bisa lebih waspada lagi terhadap infeksi virus tersebut.

Dikutip dari Daily Star, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine, rata-rata periode inkubasi yang dialami pasien COVID-19 adalah kurang lebih lima hari. Ini memungkinkan banyak orang yang terinfeksi tidak sadar telah menularkan penyakitnya ke orang lain.

Kira-kira seperti apa gejala virus Corona dari hari ke hari yang bisa terlihat pada orang yang terinfeksi?

Hari ke-1
Pada hari pertama, orang yang terinfeksi virus Corona akan mengalami gejala COVID-19 yang umum, seperti demam, batuk kering, kelelahan, nyeri otot, hingga diare.

Hari ke-5
Di hari kelima, orang yang terinfeksi tersebut akan mengalami gangguan pada sistem pernapasannya, seperti sulit bernapas. Gejala COVID-19 ini bisa saja bertambah parah, jika pasien Corona itu memiliki riwayat penyakit penyerta lainnya.

Hari ke-7 dan ke-8
Di hari-hari selanjutnya, tepatnya hari ketujuh dan delapan, kondisi pasien Corona bisa bertambah buruk. Gejala virus Corona yang dialami pasien adalah gangguan pernapasan karena adanya cairan yang masuk ke paru-paru.

Hari ke-10
Jika gejala virus Corona masih terasa sampai hari ke-10, pasien Corona itu diharuskan untuk melakukan perawatan intensif atau ICU. Semakin beratnya gejala virus Corona dari hari ke hari, pasien bisa mengalami sakit di bagian perut hingga membuat nafsu makannya berkurang.

Hari ke-17
Rata-rata di hari ke-17, pasien COVID-19 mulai pulih dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama 2,5 minggu. Hal ini dikarenakan sistem imun pasien akan meningkat dan bisa melawan infeksi virus Corona yang ada di dalam tubuhnya.

Gejala COVID-19 pada anak juga sulit dibedakan. Ini karena masalah pernapasan pada anak memiliki gejala yang serupa dengan COVID-19, sehingga orang tua harus teliti mengenalinya. Beberapa gejala COVID-19 pada anak, seperti demam, batuk, dan sesak napas.

Pada anak usia 0-2 bulan, gangguan pernapasan yang bisa dikenali adalah napas yang cepat dengan perhitungan 60 kali per menitnya. Untuk anak usia 2-12 bulan, napas cepat bisa di angka 50 kali per menit. Sedangkan anak usia 1-5 tahun, ukuranya 40 kali per menit.

Tak hanya gejala virus Corona dari hari ke hari yang mungkin umum dirasakan. Adapun beberapa gejala COVID-19 terbaru yang telah diungkapkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), sebagai berikut:

Nyeri otot
Menggigil
Sakit kepala
Sakit tenggorokan
Kehilangan indra penciuman
Kehilangan indra perasa
Hidung tersumbat atau pilek
Mual
Diare

Selain itu, ada juga beberapa gejala COVID-19 umum dan tak biasa yang dirasakan para pasien Corona selama 2-14 hari setelah terinfeksi virus, seperti:

Demam
Sesak napas
Batuk
Mata merah
Lesi pada kulit
Kabut otak
Kelelahan
Gatal-gatal
Kulit terasa seperti 'tersetrum'
https://cinemamovie28.com/inazuma-eleven-episode-17-subtitle-indonesia/

Kata Pakar UGM Soal Terapi Konvalesen, Alternatif Pengobatan Corona

Terapi plasma darah atau terapi konvalesen (convalescent) saat ini disebut menjadi salah satu terapi alternatif dalam mengobati pasien positif virus Corona atau COVID-19 di sejumlah negara. Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM) dr Sumardi, Sp PD,KP, FINASIM, mengatakan bahwa terapi ini telah lama digunakan sebagai metode pengobatan penyakit akibat infeksi.
Sumardi mengatakan terapi ini digunakan misalnya saat pandemi Flu Spanyol pada tahun 1900-an. Selain itu juga pengobatan difteri, flu burung, flu babi, ebola, SARS, dan MERS.

Dalam pengobatan pasien virus Corona, kata Sumardi, terapi dilakukan dengan menggunakan plasma darah pasien positif Corona yang sudah sembuh. Plasma darah yang terdapat antibodi tersebut ditransfusikan ke pasien Corona yang masih sakit.

"Jadi plasma darah yang mengandung antibodi dari pasien yang sembuh diberikan pada orang-orang yang masih sakit," jelasnya dalam keterangan tertulis yang dikirim Humas UGM, Rabu (1/7/2020).

Namun begitu, lanjut Sumardi, terapi plasma konvaselen ini masih terbatas untuk uji klinik. Demikian halnya dengan virus Corona yang digunakan di beberapa negara masih sebatas uji klinis, termasuk di Indonesia. Keberhasilan terapi ini juga masih terbatas pada jumlah pasien yang sedikit.

Sumardi memberi contoh di rumah sakit Shenzhen, China. Dalam terapi plasma konvaselen yang dilakukan pada 5 pasien Corona dengan alat bantu pernapasan/ventilator, dilaporkan dapat mempercepatan penyembuhan 1 orang pasien. Sementara tiga orang lainnya menunjukkan proses penyembuhan yang tergolong lambat dan 1 orang meninggal dunia.

Sumardi menjelaskan terdapat sejumlah syarat khusus yang harus dipenuhi untuk melakukan transfusi konvaselen, di samping syarat umum untuk transfusi darah. Syarat khusus tersebut salah satunya pendonor merupakan pasien positif Corona yang telah dinyatakan sembuh. Berikutnya, pendonor harus terbukti memiliki antibodi terhadap Corona dalam kadar yang cukup.

"Plasma yang diambil sekitar 400 milimeter dengan memakai metode plasmapheresis yakni hanya mengambil plasma dari sel darah merah saja. Pemberian plasma darah ini sebanyak 2 kali sehari pada pasien COVID-19," terangnya.

Pengambilan plasma, disebutkan Sumardi lebih baik dilakukan pada pendonor yang merupakan pasien Corona yang sudah sehat dan berjenis kelamin laki-laki karena tidak memiliki antigen HLA. Sebab antigen HLA dapat menimbulkan reaksi atau masalah bagi penerima donor.

Sumardi melanjutkan terapi plasma konvaselen tidak diberikan kepada semua pasien positif Corona. Terapi ini hanya diberikan untuk pasien dengan gejala berat atau kondisi kritis.

"Diberikan pada pasien dengan gejala berat untuk membantu mempercepat penyembuhan, bukan untuk pencegahan. Namun terapi plasma konvaselen ini menjadi alternatif pengobatan hingga ditemukan vaksin," pungkasnya.

Gejala Virus Corona dari Hari ke Hari yang Perlu Diwaspadai

Pandemi virus Corona kini masih menyerang banyak negara di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Jumlah kasus baru yang bertambah setiap harinya membuat masyarakat semakin perlu mengetahui gejala COVID-19 terbaru maupun yang umum terjadi karena virus tersebut.
Gejala virus Corona COVID-19 ini bukan hanya demam, batuk, dan sesak napas yang umumnya diketahui banyak orang. Gejala virus Corona dari hari ke hari pun perlu diketahui agar bisa lebih waspada lagi terhadap infeksi virus tersebut.

Dikutip dari Daily Star, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine, rata-rata periode inkubasi yang dialami pasien COVID-19 adalah kurang lebih lima hari. Ini memungkinkan banyak orang yang terinfeksi tidak sadar telah menularkan penyakitnya ke orang lain.

Kira-kira seperti apa gejala virus Corona dari hari ke hari yang bisa terlihat pada orang yang terinfeksi?

Hari ke-1
Pada hari pertama, orang yang terinfeksi virus Corona akan mengalami gejala COVID-19 yang umum, seperti demam, batuk kering, kelelahan, nyeri otot, hingga diare.

Hari ke-5
Di hari kelima, orang yang terinfeksi tersebut akan mengalami gangguan pada sistem pernapasannya, seperti sulit bernapas. Gejala COVID-19 ini bisa saja bertambah parah, jika pasien Corona itu memiliki riwayat penyakit penyerta lainnya.
https://cinemamovie28.com/inazuma-eleven-episode-15-subtitle-indonesia/