Rabu, 17 Juni 2020

Anjing Positif COVID-19, Hong Kong Imbau Warga Tak Cium Peliharaan

Seekor anjing di Hong Kong sebelumnya dikabarkan terdeteksi memiliki virus corona (COVID-19). Usai diteliti para ilmuwan kini sepakat bahwa anjing tersebut mengalami "infeksi tingkat rendah" diduga dari sang majikan yang juga positif virus corona.
Departemen Agrikultur, Perikanan, dan Konservasi Hong Kong (AFCD) mengimbau warga agar lebih waspada menjaga kebersihan tidak mencium-cium hewan peliharaan. Namun demikian AFCD mengingatkan jangan juga sampai panik hingga akhirnya menelantarkan hewan.

"Pemilik hewan peliharaan diingatkan untuk mengadopsi praktik kebersihan yang baik (termasuk cuci tangan sebelum dan sesudah menangani hewan, makanan, atau peralatan, serta tidak mencium mereka) dan menjaga lingkungan rumah tetap bersih higienis," kata AFCD seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (5/2/2020).

Anjing jenis pomeranian yang positif virus corona tersebut dikabarkan dalam keadaan baik di karantina dan tidak menunjukkan gejala. Otoritas akan terus melakukan pengecekan berkala sampai tes menunjukkan hasil negatif.

AFCD mengatakan anjing baru akan dikembalikan ke pemiliknya ketika hasil tes virus corona sudah negatif.

Ilmuwan China Olah Ragi Roti Jadi Vaksin Antivirus Corona

Media pemerintah China umumkan para ilmuwan mereka sedang mengembangkan vaksin oral virus corona baru Covid-19. Vaksin tersebut menggunakan ragi roti.
Meski begitu, para ahli yang terlibat dalam penelitian tersebut menjelaskan vaksin ini belum bisa dipasarkan karena masih harus melakukan uji klinis pada hewan dan manusia. Hal ini diumumkan oleh Profesor Huang Jinhai dari School of Life Sciences di Universitas Tianjin.

Mengutip Daily Mail, (5/2/2020) vaksin tersebut dibuat menggunakan food grade saccharomyces cerevisae atau ragi roti. Ragi roti berfungsi sebagai penghantar yang ditujukan ke protein Spike pada virus. Hal ini dapat membantu menghasilkan antibodi terhadap virus yang mematikan.

Protein Spike atau protein S bertanggung jawab untuk menginduksi virus ke dalam sel inang di dalam pasien dan merupakan kunci untuk menanggulangi infeksi. Prof Huang mengaku sedang mencari mitra untuk membantu timnya menyelesaikan proyek tersebut.

Setelah itu, otoritas China akan menjalankan uji klinis dan evaluasi produk sebelum masuk ke pasaran. Para ilmuwan memperkirakan dibutuhkan waktu setidaknya enam bulan untuk penemuan ini digunakan oleh rumah sakit dalam jumlah besar.

Wali Kota Depok Sebut Wudu Bisa Tangkal Virus, Ini Faktanya

Wali Kota Depok Muhammad Idris Abdul Somad meminta masyarakat tidak panik terkait wabah virus corona. Idris mengajak masyarakat rajin berdoa dan menyebut sebetulnya wudu bagi umat muslim bisa jadi cara untuk menangkal segala macam virus.
"Untuk menangkal sebenarnya kalau umat Islam sudah biasa menangkal suatu virus. Virus apa pun ya dengan kita berwudu, dengan kita memelihara wudu itu penangkalan virus-virus apa saja," kata Idris saat memberi sambutan di Polresta Depok, Jl Margonda Raya, Kamis (5/2/2020).

Terkait wudu jadi penangkal virus, sebelumnya pernah beredar juga informasi di media sosial yang menyebut air dapat menghancurkan virus corona.

"Mengenai virus corona kita di Indonesia tidak perlu terlalu was-was, pertama kita kaya dengan air. Virus-virus itu akan cepat hancur dengan air apalagi kaum muslimin berwudhu 5 kali sehari semalam. Virus virus itu akan mati ketika kita berwudhu," tulis satu pengguna Facebook yang pesannya sudah dibagikan lebih dari 11 ribu kali.

Vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD, dari OMNI Hospitals Pulomas menegaskan informasi tersebut keliru. Menurut dr Dirga virus corona sejauh ini bisa 'dibunuh' dengan menggunakan disinfektan bukan air biasa.

"Tidak benar. Sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa virus corona bisa mati dengan air biasa," kata dr Dirga pada detikcom beberapa waktu lalu.

"Disinfektan yang dapat membunuhnya: alkohol dengan kadar minimal 70%, klorin, hidrogen peroksida, dan kloroform. Virus ini juga mati pada pemanasan dengan suhu 56 C minimal selama 30 menit," pungkasnya.

Selasa, 16 Juni 2020

Eropa Pesan 400 Juta Vaksin COVID-19 yang Ikut Didanai Bill Gates

 Negara-negara Uni Eropa menandatangani kontrak dengan perusahaan farmasi AstraZeneca untuk memproduksi 400 juta dosis vaksin COVID-19. Vaksin ini adalah hasil riset Universitas Oxford.

Menurut CGTN seperti dilihat Selasa (16/6/2020) AstraZeneca mengklaim tidak mengambil keuntungan komersial selama pandemi Corona. Sejauh ini vaksin tersebut sedang dalam uji klinik tahap akhir yang ditargetkan selesai musim gugur.

Jika sukses, vaksin ini akan tersedia akhir 2020. Deal ini dilakukan AstraZeneca dengan Inclusive Vaccines Alliance (IVA) yang beranggotakan Prancis, Jerman, Italia dan Belanda.

"Aliansi ini bekerja bersama Komisi Eropa dan negara-negara Eropa untuk memastikan semua orang di Eropa bisa diberikan vaksin," kata CEO AstraZeneca kepada wartawan.

Sumber Kemenkes Italia kepada Reuters memastikan, vaksin ini bukan cuma untuk 4 negara anggota IVA, namun untuk seluruh negara anggota Uni Eropa. China, Brasil, Jepang dan Rusia juga berminat.

Meskipun CGTN menulis AstraZeneca tidak mengambil keuntungan komersial, Reuters memberitakan biaya ditanggung 4 negara anggota IVA.


Kucuran dana Bill Gates

Kerja sama ini adalah gebrakan terbaru dari AstraZeneca yang semakin moncer. Sejak mendapatkan kucuran dana dari Bill Gates, AstraZeneca menargetkan produksi 2 miliar dosis vaksin.

Urutan kronologisnya, AstraZeneca menjadi pabrik resmi untuk memproduksi vaksin ChAdOx1 buatan Universitas Oxford, sekarang namanya vaksin AZD1222. Lalu AstraZeneca dikucuri duit oleh Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) dan Gavi Vaccine Alliance pada 7 Juni 2020.

CEPI dan Gavi didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation dan didukung WHO. CEPI dan Gavi mendukung dana sebesar USD 750 juta (Rp 10,5 triliun) untuk memproduksi, pengadaan dan distribusi 300 juta dari 2 miliar dosis yang ada.

AstraZeneca juga sudah berkongsi dengan Emergent BioSolution untuk rekanan pabrik di Amerika. AstraZeneca pun membuat partnership lisensi dengan Serum Institute of India (SII). Mereka akan membuat 1 miliar vaksin virus Corona untuk negara miskin dan menengah.

Vaksin Pertama COVID-19 Mungkin Tak Bisa Cegah Infeksi

 Ilmuwan seluruh dunia saat ini bekerja keras dan berlomba menemukan vaksin COVID-19. Namun ketika nanti ada vaksin pertama yang digunakan untuk COVID-19, kemungkinan tidak akan mencegah infeksi dari penyakit ini.
Adalah Robin Shattock, seorang profesor dari Imperial College London yang memimpin pengembangan percobaan suntikan vaksin, yang mengatakan hal ini.

"Apakah untuk perlindungan terhadap infeksi? Apakah perlindungan terhadap penyakit? Atau perlindungan terhadap penyakit parah? Sangat mungkin vaksin itu hanya akan melindungi dari penyakit parah, tapi (vaksin) ini akan berguna," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg.

Saat berbagai negara usai melakukan lockdown, para pemimpinnya mencari cara pencegahan penyakit untuk bisa kembali ke kehidupan seperti sebelum pandemi.

Didukung miliaran dolar investasi pemerintah, vaksin dari sejumlah perusahaan mulai dari yang kecil seperti China CanSino Biologics Inc. hingga yang besar seperti Pfizer Inc. dan AstraZeneca Plc, saat ini sedang dalam pengembangan.

Di antara pengembangan tersebut semuanya bergerak cepat, bahkan telah sampai uji coba pada manusia. Pengujian pada manusia dilakukan setelah terlihat dampak positif untuk penyakit parah pada hewan, meski kurang efektif dalam hal mencegah infeksi.

"Vaksin perlu melindungi dari penyakit, tapi belum tentu mencegah infeksi," kata Dennis Burton, peneliti imunologi dan vaksin di Scripps Research di La Jolla, California, Amerika Serikat.

Memang, vaksin punya potensi menyelamatkan nyawa. Namun para ilmuwan mengkhawatirkan keberadaan vaksin nantinya akan membuat negara-negara yang sudah lelah dengan kondisi pandemi berpuas diri dan membuat kewaspadaan mereka mengendur.

"Dugaan saya, sehari setelah seseorang diimunisasi, mereka akan berpikir, saya bisa kembali normal, semuanya akan baik-baik saja. Mereka jadi tidak menyadari bahwa mereka mungkin masih rentan terhadap infeksi," kata Michael Kinch, ahli pengembangan obat dari Washington University.

COVID-19 sendiri sudah diduga disebarkan oleh orang-orang tanpa gejala, dan vaksin pencegah-gejala dapat menciptakan jumlah yang lebih besar lagi.
https://nonton08.com/juuni-taisen-juuni-taisen-zodiac-war-episode-7/