Selasa, 16 Juni 2020

Kekebalan Tubuh Berasal dari Pencernaan Sehat, Benarkah?

Dalam menjalani kegiatan sehari-hari, apalagi di tengah pandemi tentu kita harus selalu menjaga kesehatan. Salah satunya dengan menjaga sistem pencernaan karena perannya sangat penting sebagai pintu masuk dari berbagai penyakit.

Dilansir dari NIFS, dalam sistem pencernaan terdapat bakteri baik yang akan mengenali ketika sumber penyakit memasuki tubuh. Organisme tersebut akan menyerap sumber penyakit tersebut dan tidak akan membiarkannya masuk ke tubuh Anda.

Senada dengan hal tersebut, Marketing Manager Kalbe Nutritionals dr Adeline Devita pun mengatakan saluran pencernaan mempengaruhi hingga 80 persen dari sistem daya tahan tubuh. Sebab, saluran pencernaan terdiri dari jaringan mukosa yang sangat luas sehingga jika benda asing yang berefek negatif dan berpotensi menjadi penyakit masuk ke tubuh melalui saluran cerna maka akan mengakibatkan suatu penyakit.

"Di saluran cerna terdapat mikroorganisme yang baik dan jahat berkembang biak secara seimbang, yaitu jumlah mikroorganisme baik yang ada cukup banyak untuk menekan perkembangbiakan mikroorganisme jahat," ujarnya kepada detikHealth, baru-baru ini.

Menurut dr Adeline, keseimbangan bakteri baik di dalam pencernaan dapat dijaga dengan cara mengonsumsi makanan tinggi serat yang mengandung prebiotik (makanan untuk bakteri baik di usus) dan kolin seperti susu, telur, kedelai, buah, dan sayuran.

"Selain itu, asupan probiotik pun berperan penting untuk meningkatkan jumlah bakteri baik di pencernaan kita," sambungnya.

Oleh karena itu, jangan lupa selalu perhatikan kesehatan pencernaan dengan cara mengonsumsi makanan yang kaya serat. Dengan memenuhi kebutuhan serat harian, dapat memelihara kesehatan usus, sehingga pencernaan sehat, daya tahan tubuh pun meningkat.

Selain itu, untuk menjaga kesehatan saluran cerna juga dapat didukung dengan mengonsumsi Nutrive Fibershot. Minuman tinggi serat ini mengandung 16 sari buah dan sayur untuk membantu memelihara saluran pencernaan sehingga tubuh lebih sehat.

Nutrive Fibershot juga dapat melancarkan buang air besar, menurunkan risiko terkena wasir, membuat kenyang lebih lama, hingga mengurangi risiko terkena penyakit stroke, kanker usus, dan diabetes tipe 2.

5 Fakta Lonjakan 100 Kasus Baru Virus Corona di Beijing yang Diwaspadai WHO

 Baru-baru ini China kembali melaporkan lonjakan kasus Corona usai 2 bulan dinyatakan aman dari Corona. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta seluruh negara waspada terhadap munculnya kembali lonjakan kasus Corona di China.
Mulanya terdapat lebih dari 50 kasus Corona ditemukan di pasar Xinfadi, Beijing. Kini pemerintah setempat tengah melakukan tes massal untuk menghadapi gelombang kedua Corona, berikut 3 hal di balik desakan WHO untuk waspada terkait dengan gelombang kedua di China.

WHO konfirmasi lebih dari 100 kasus
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi lebih dari 100 kasus virus Corona (COVID-19) resmi tercatat dalam cluster penularan baru di Beijing, China. WHO pun memperingatkan negara-negara untuk tetap waspada.

Seperti dilansir AFP, Selasa (16/6/2020), WHO menyatakan sejauh ini tidak ada kematian yang dilaporkan dalam cluster penularan Corona terbaru di ibu kota China itu. Namun, sebut WHO, melihat pada luas dan konektivitas wilayah Beijing, kemunculan cluster baru ini patut memicu kekhawatiran serius.

"Bahkan di negara-negara yang telah menunjukkan kemampuan untuk menekan penularan, negara-negara itu harus tetap waspada pada kemungkinan kemunculan kembali," ujar Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers virtual.

Strain disebut berasal dari Eropa
Yang Peng, ahli dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Beijing, membahas lonjakan kasus baru dalam wawancara televisi pada hari Minggu, mengklaim bahwa urutan genom dari strain virus di China berasal dari Eropa. Namun pihak berwenang juga mengatakan mereka masih berusaha memahami bagaimana virus ditransmisikan ke pasar grosir Xinfadi.

"Sekuensing genom menunjukkan strain sebenarnya dari Eropa, peneliti bekerja untuk menentukan dengan tepat bagaimana mereka telah mencapai pasar," ujar Yang.

3 Hal Baru soal Virus Corona yang Perlu Diketahui

Sampai saat ini, virus Corona COVID-19 masih menghantui masyarakat dunia di tengah aktivitas yang sudah mulai berjalan normal. Tetapi, meski perlahan mulai normal protokol kesehatan tidak boleh dilupakan.
Berbagai hal tentang virus Corona pun mulai menyebar di masyarakat, mulai dari siapa yang rentan terinfeksi hingga mutasi virus yang disebut semakin berbahaya. Untuk menjawabnya, berikut 3 hal tentang virus Corona COVID-19 yang dikutip dari Reuters.

1. Mutasi membuat virus semakin efisien untuk menyerang sel tubuh
Mutasi genetik pada virus Corona baru secara signifikan bisa meningkatkan kemampuannya menginfeksi sel tubuh. Hal ini bisa menjawab pertanyaan mengapa wabah virus ini lebih besar terjadi di Italia Utara dan New York dari pada kasus saat awal pandemi.

Para ilmuwan di Scripps Research di Florida mengatakan, mutasi virus masih jarang terlihat pada Maret. Tetapi, pada April mutasi itu menyumbang sekitar 65 persen kasus yang masuk ke dalam data GenBank yang dijalankan oleh National Institutes of Health.

Mutasi virus yang disebut D614G memiliki jumlah mahkota yang lebih banyak, yang digunakan virus untuk mengikat dan membobol sel tubuh manusia. Mahkota itu juga membuatnya lebih stabil.

Para peneliti mengatakan, dibandingkan dengan partikel virus tanpa mutasi, virus yang bermutasi ternyata sama rentannya terhadap pengobatan antibodi dari darah pasien Corona yang sembuh.

2. Orang dengan penyakit paru lebih reseptif terhadap infeksi virus
Orang yang memiliki gangguan pernapasan tampaknya lebih rentan terhadap infeksi virus Corona. Virus ini pecah menjadi sel-sel melalui protein reseptor pada permukaan sel yang disebut ACE2.

Peneliti menemukan orang dengan kondisi asma, penyakit paru obstruktif kronis, hipertensi paru, dan perokok memiliki lebih banyak reseptor ACE2 pada sel paru-parunya. Dalam analisis mereka, dari sel paru 700 orang dengan kondisi ini juga ditemukan protein selain ACE2 yang berdampak pada siklus hidup virus.

3. Virus bisa bertahan pada alat pelindung diri
Sebuah studi menyoroti adanya potensi virus bisa bertahan pada alat pelindung diri (apd) petugas kesehatan. Untuk membuktikannya, para peneliti mencemari alat perlindungan dengan virus, seperti sarung tangan nitril, sarung tangan khusus untuk bahan kimia, masker respirator partikulat N-95 dan N-100, baju APD yang terbuat dari bahan tyvek, plastik, katun, serta stainless steel.

Saat diuji, ternyata virus yang berpotensi menular masih ada, walaupun pada tingkatan yang rendah.

- 21 hari pada plastik.
- 14 hari pada baju APD.
- 7 hari pada sarung tangan nitril.
- 4 hari pada sarung tangan yang tahan akan bahan kimia.

Namun pada kain 100 persen katun, virus hanya bisa bertahan selama satu jam. Jumlah virus yang aktif benar-benar menurun hingga 99,9 persen, dan itu tidak terdeteksi lagi dalam waktu kurang dari 24 jam.

"Hal ini menunjukkan penggunaan perlengkapan rawat dengan bahan kain katun memberikan risiko lebih rendah, selama penanganan untuk dekontaminasi dan bisa digunakan kembali setelah dicuci sesuai protokol kesehatan," tulis para peneliti.