Senin, 15 Juni 2020

Studi Temukan Pasien Corona Tanpa Gejala Bisa Alami Kerusakan Organ

Analisis baru dari Scripps Research telah menemukan bahwa 30 hingga 40 persen pasien Corona tidak menunjukkan gejala, tetapi hal ini tidak berpengaruh pada dampak yang disebabkan oleh COVID-19. Ahli jantung Scripps Research Eric Topol dan rekan-rekannya melakukan penelitian pada lebih dari dua belas pasien virus Corona di seluruh dunia.
Dia menemukan banyak pasien tanpa gejala (OTG) atau asimtomatik mengalami kelainan paru-paru. "Orang-orang dapat mengalami infeksi keseluruhan dan tidak mengetahuinya sama sekali," kata Topol, dikutip dari laman berita KPBS.

"Tetapi hal lain yang kami temukan adalah kejutan bagi kami, dan saya tidak berpikir kebanyakan orang tahu ini, di mana meskipun Anda tidak memiliki gejala, Anda dapat memiliki kerusakan organ dan tidak mengetahuinya," jelasnya.

Satu studi mengamati CT scan yang dilakukan setiap orang di atas kapal pesiar Diamond Princess. Dalam hal itu, 54 persen dari 76 individu tanpa gejala menunjukkan kelainan paru subklinis yang signifikan.

Topol mengatakan penelitian ini juga menunjukkan bahwa lebih banyak orang menularkan virus Corona tanpa menyadarinya. Misalnya, dalam sebuah penelitian terhadap lebih dari 3.000 narapidana yang dites positif terkena virus Corona, sekitar 96 persen dari kasus tersebut tidak menunjukkan gejala.

"Di Amerika Serikat, kami sangat lamban untuk melakukan pengujian. Bahkan sekarang, itu tidak ideal. Jadi beberapa orang berada di bawah radar karena mereka tidak mendapatkan tes," jelas Topol.

Topol mengatakan banyak kota membuka lockdown atau pembatasan terlalu cepat tidak melihat risiko ini. Namun penelitian menunjukkan perlunya pendekatan yang hati-hati dan lebih banyak studi tentang bagaimana virus Corona bisa mempengaruhi organ internal tanpa menimbulkan gejala.

Jangan Ragu Lagi, Ini Alasan Lansia Harus Rutin Berjemur

Paparan sinar matahari memiliki beragam manfaat kesehatan yang baik untuk tubuh, khususnya bagi para senior yang daya tahan tubuhnya tidak lebih baik dibanding remaja atau dewasa.
Seperti dilansir dari WebMD, sinar UV dari matahari akan membantu tubuh memenuhi nutrisi vitamin D yang penting bagi tulang, sel darah, serta sistem kekebalan tubuh. Selain itu, paparan sinar matahari juga berfungsi bagi para lansia untuk mendapatkan nutrisi lain seperti kalsium dan fosfor.

Senada dengan hal tersebut, Marketing Manager Kalbe Nutritionals dr Adeline Devita juga menyebut bahwa daya tahan tubuh lansia memang tidak lebih baik dari remaja atau orang dewasa dan menganjurkan untuk berjemur di bawah sinar matahari agar imunitas terjaga.

"Sistem kekebalan tubuh akan cenderung menurun sehingga rentan terhadap paparan virus/bakteri juga dalam melawan infeksi yang masuk seiring bertambahnya usia," ujar dr Adeline kepada detikcom baru baru ini.

"Selain menjaga pola makan dan hidup bersih, dianjurkan untuk berjemur di pagi hari antara jam 09.00-11.00 selama 15-30 menit tergantung dari UV indeks area Anda," sambungnya.

Menurutnya, UV index sebaiknya berada di bawah angka 7 dan dapat dilihat pada aplikasi smartphone. Ia pun menjelaskan pentingnya berjemur di bawah sinar matahari untuk meningkatkan produksi vitamin D, sebab vitamin D yang didapat dari makanan jumlahnya sangat sedikit.

"Tubuh memerlukan sinar matahari untuk membantu meningkatkan produksi vitamin D di dalam tubuh karena sinar matahari merupakan sumber vitamin D alami, hanya sedikit yang didapat dari makanan," sambungnya.

Selain berjemur di bawah sinar matahari untuk menjaga daya tahan tubuh, para senior juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara mengonsumsi Entrasol Senior yang mengandung nutrisi lengkap untuk menjaga daya tahan tubuh.

Entrasol Senior mengandung tinggi protein hingga 12 gram per sajian dan nutrisi lain seperti vitamin C, D, E, kalsium, zink, serta mineral lainnya yang diperlukan tubuh khususnya lansia, juga rendah akan laktosa sehingga aman dikonsumsi oleh lansia yang biasanya mengalami intoleransi laktosa.
https://cinemamovie28.com/gintama-shirogane-no-tamashii-hen-episode-15/

Daftar Vaksin Corona yang Berhasil Ciptakan Antibodi Penangkal COVID-19

Pengembangan vaksin Corona semakin menunjukkan hasil yang memuaskan. Dari ratusan vaksin COVID-19 yang dikembangkan di seluruh dunia, setidaknya terdapat beberapa vaksin yang berhasil menciptakan antibodi penangkal virus Corona.
Vaksin tersebut sudah memasuki tahap uji klinis pada manusia. Bahkan di China, vaksin COVID-19 yang dikembangkan disebut mulai bisa digunakan untuk darurat pada September mendatang.

Vaksin memang disebut sebagai salah satu metode yang ampuh untuk mengakhiri pandemi virus Corona yang saat ini sudah menginfeksi lebih dari 8 juta orang di seluruh dunia.

Berikut daftar vaksin Corona yang disebut berhasil menciptakan antibodi penangkal COVID-19 dikutip detikcom dari berbagai sumber.

1. Ad5-nCoV
Vaksin buatan Beijing Institute Biotechnologies dan CanSino Biological bernama Ad5-nCoV telah berhasil memicu antibodi penawar pada puluhan pasien. Ad5-nCoV adalah vaksin virus Corona pertama yang masuk dalam uji klinis manusia di China.

Vaksin ini telah diuji coba ke manusia sejak Maret 2020 lalu yang dilakukan pada sukarelawan berusia 18-60 tahun. Vaksin ini menggunakan adenovirus untuk mengirimkan materi genetik yang berisi kode protein SARS-CoV-2.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Lancet, Ad5-nCoV aman digunakan efektif untuk respons kekebalan tubuh setelah diuji pada manusia.

Semua peserta yang diberi dosis vaksin dengan berbagai tingkatan memicu respons kekebalan dalam bentuk antibodi yang mengikat setelah dua minggu vaksinasi. Setelah 28 hari, vaksin Ad5-nCoV tampak ditoleransi dengan baik pada semua dosis tanpa efek samping yang serius pada semua peserta.

2. CoronaVac
Perusahaan bioteknologi asal China, Sinovac, mengumumkan hasil studinya yang menunjukkan vaksin COVID-19 yang mereka kembangkan atau CoronaVac menghasilkan respons kekebalan virus Corona

Lebih dari 90 persen kandidat sukarelawan yang disuntik vaksin pada interval 14 hari telah menginduksi antibodi penawar COVID-19. Temuan ini berdasarkan hasil uji coba fase I dan II di China dengan 734 sukarelawan yang sehat berusia 18-59 tahun.

"Penelitian di fase I dan II kami menunjukkan CoronaVac aman dan dapat memicu respons kekebalan," tutur CEO Sinovac Weidong Yin dalam sebuah pernyataan dikutip dari STAT News.

3. mRNA-1273
Vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan biotek Moderna di Amerika Serikat dengan nama mRNA-1237 juga disebut berhasil menciptakan antibodi penangkal virus Corona COVID-19. Berdasarkan penelitian perusahaan, antibodi dari 8 orang yang diujicobakan mampu menghasilkan antibodi Covid-19. Antibodi tersebut sama dengan para 'survivor' yang pernah tertular Covid-19.

Setelah uji klinis tahap 1 dan 2 disebut berhasil, kini Moderna akan melakukan pengujian vaksin COVID-19 tahap 3 dengan 30 ribu sukarelawan yang akan dimulai pada Juli 2020 mendatang.

Moderna disebut memiliki kemampuan untuk memproduksi 500 juta hingga 1 miliar dosis vaksin COVID-19 per tahun. Perusahaan ini menerima dana dari pemerintah AS untuk mengembangkan vaksin, melakukan tes dan meningkatkan produksi dengan tujuan memvaksinasi 300 juta orang di awal tahun depan.
https://cinemamovie28.com/gintama-shirogane-no-tamashii-hen-episode-13/