Rabu, 10 Juni 2020

Pegowes Pemula Menjamur di Era New Normal, Sepeda Lipat Banyak Diburu

Penjualan sepeda dikabarkan meningkat sejak pandemi virus Corona COVID-19. Pegowes pemula paling banyak mencari jenis sepeda lipat karena dinilai praktis.
"Yang paling banyak dicari sih sepeda lipat, karena memang praktis sama ringkas aja kali, soalnya bisa dibawa-bawa juga, bisa bawa naik kereta dan MRT juga," ujar Gilbert dari toko sepeda Yerikho Bike di Kramat Jati, Jakarta Timur, baru-baru ini.

Kisaran harga sepeda yang paling banyak diminati pemula, menurut Gilbert antara Rp 1 juta hingga Rp 10 juta. Sedangkan soal merk, tidak terlalu ada perbedaan. Hampir semua merk mengalami peningkatan penjualan.

Kondisi serupa juga dialami Dewo Prasetyo dari toko sepeda RodaLink Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di toko ini, penjualan sepeda lipat juga mendominasi selama masa PSBB (pembatasan sosial berskala besar).

"Sekarang itu sepeda lipat sama balap. Tapi, sepeda lipat sih mendominasi yang paling tinggi," ujar Dewo.

Soal motivasi membeli sepeda, para pegowes pemula umumnya hanya ingin mengisi kejenuhan dengan berolahraga. Sebagian lainnya mencari alternatif transportasi untuk pergi bekerja, karena risiko penularan virus Corona di transportasi publik dinilai lebih tinggi.

Sementara di kalangan pegowes usia muda, alasan ramah lingkungan juga banyak ditemui. "Sekarang sih kebanyakan anak mudanya, anak mudanya sudah mulai go green," kata Dewo.

Studi Sebut Penggunaan Masker Bisa Cegah Gelombang Kedua Corona

Baru-baru ini sebuah studi menyebut penggunaan masker bisa mengendalikan penularan virus Corona COVID-19. Jika seluruh populasi serentak memakai masker bahkan ahli meyakini hal ini bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah gelombang kedua Corona.
Mengutip Channel News Asia, sebuah studi di Inggris dari Universitas Cambridge dan Greenwich menyebut langkah pembatasan atau lockdown saja tidak cukup untuk mengendalikan wabah Corona. Penelitian yang terbit pada Rabu (10/6/2020) ini menyebut bahkan masker buatan sendiri dapat secara efektif untuk mengurangi tingkat penularan Corona saat memakainya di tempat umum.

"Analisis kami mendukung adopsi langsung dan universal masker wajah oleh publik," kata Richard Stutt, yang ikut memimpin penelitian di Cambridge.

Dia mengatakan temuan menunjukkan bahwa jika penggunaan masker secara serentak oleh seluruh warga di suatu negara sangat efektif. Terlebih jika dibarengi dengan social distancing atau jaga jarak, dan pembatasan seperti lockdown.

"Ini bisa menjadi cara yang dapat diterima untuk mengelola pandemi dan membuka kembali kegiatan ekonomi, jauh sebelum pengembangan dan ketersediaan publik dari vaksin yang efektif terhadap COVID-19," tulis para peneliti dalam temuan yang diterbitkan di jurnal ilmiah "Prosiding Royal Society A".

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperbaharui pedomannya Jumat lalu, untuk merekomendasikan pemerintah di seluruh negara agar mewajibkan semua orang memakai masker wajah di tempat umum. Di mana ada risiko untuk mengurangi penyebaran COVID-19.

Dalam studi ini, para peneliti mengaitkan dinamika penyebaran antara orang-orang dengan model tingkat populasi untuk menilai efek pada tingkat reproduksi penyakit, atau nilai R, dari berbagai skenario seperti efektivitas penggunaan masker yang dibarengi dengan periode pembatasan. Nilai R mengukur jumlah rata-rata orang yang akan ditularkan oleh satu orang yang terinfeksi penyakit. Nilai R di atas 1 dapat menyebabkan pertumbuhan eksponensial.

Studi ini menemukan bahwa jika orang memakai masker setiap kali mereka berada di depan umum, itu dua kali lebih efektif dalam mengurangi nilai R daripada jika masker hanya dipakai setelah gejala muncul. Dalam semua skenario yang dilihat studi ini, penggunaan masker secara rutin untuk setidaknya 50 persen atau lebih dari populasi, akan mengurangi penyebaran COVID-19 yaitu R kurang dari 1,0.

Artinya, meratakan gelombang penyakit yang akan datang atau gelombang kedua Corona. "Kami memiliki sedikit kerugian dari adopsi masker wajah yang tersebar luas, tetapi keuntungannya bisa signifikan," kata Renata Retkute, yang ikut memimpin penelitian ini.
https://nonton08.com/black-clover-episode-21-subtitle-indonesia/

Dituding Ambil Keuntungan dari Pasien COVID-19, Dokter dan RS Angkat Bicara

Sejumlah organisasi kesehatan menyampaikan pernyataan sikap setelah datangnya tuduhan tenaga kesehatan dan rumah sakit mengambil keuntungan dari pandemi virus Corona.
Pernyataan ini datang setelah beredar isu di media sosial bahwa tenaga kesehatan menganggap bahwa pelayanan kesehatan di era pandemi virus Corona sebagai lahan bisnis.

"Keberatan dengan segala ujaran kebencian, fitnah serta ancaman kepada tenaga kesehatan dalam bentuk apapun," tulis pernyataan tersebut sesuai rilis yang diterima detikcom, Rabu (10/6/2020).

Dalam surat tersebut, organisasi profesi kesehatan juga menyatakan segala protokol pelayanan kesehatan dalam penanganan virus Corona yang di lakukan oleh tenaga medis dilaksanakan berdasarkan aturan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI.

Tenaga kesehatan meminta juga meminta TNI dan Polri untuk menjamin keamanan dan keselamatan mereka dalam menjalankan tugas, baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di luar fasilitas. Mereka juga meminta agar Polri mengusut tuntas pelaku ujaran kebencian yang meresahkan masyarakat di tengah pandemi virus Corona.

Untuk mengakhiri pandemi COVID-19, tenaga kesehatan mengharapkan semua pihak untuk bersama-sama melawan penyebaran virus SARS-CoV-2.

Organisasi profesi kesehatan yang menyatakan sikap yakni:

1. Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
2. Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI)
3. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi)
4. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)
5. Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI)
6. Ikatan Bidan Indonesia (IBI)
7. Ikatan Apoteker Indonesia (IAI)
8. Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi)
9. Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia (Patelki)
10. Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI)
11. RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo
12. Satgas COVID-19 Universitas Hasanuddin
13. Perkumpulan Ahli Bedah Orthopedi Indonesia (Paboi)
14. Perhimpunan Dokter Spesialis Anastesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin)
15. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
16. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi)

Pegowes Pemula Menjamur di Era New Normal, Sepeda Lipat Banyak Diburu

Penjualan sepeda dikabarkan meningkat sejak pandemi virus Corona COVID-19. Pegowes pemula paling banyak mencari jenis sepeda lipat karena dinilai praktis.
"Yang paling banyak dicari sih sepeda lipat, karena memang praktis sama ringkas aja kali, soalnya bisa dibawa-bawa juga, bisa bawa naik kereta dan MRT juga," ujar Gilbert dari toko sepeda Yerikho Bike di Kramat Jati, Jakarta Timur, baru-baru ini.

Kisaran harga sepeda yang paling banyak diminati pemula, menurut Gilbert antara Rp 1 juta hingga Rp 10 juta. Sedangkan soal merk, tidak terlalu ada perbedaan. Hampir semua merk mengalami peningkatan penjualan.

Kondisi serupa juga dialami Dewo Prasetyo dari toko sepeda RodaLink Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di toko ini, penjualan sepeda lipat juga mendominasi selama masa PSBB (pembatasan sosial berskala besar).

"Sekarang itu sepeda lipat sama balap. Tapi, sepeda lipat sih mendominasi yang paling tinggi," ujar Dewo.

Soal motivasi membeli sepeda, para pegowes pemula umumnya hanya ingin mengisi kejenuhan dengan berolahraga. Sebagian lainnya mencari alternatif transportasi untuk pergi bekerja, karena risiko penularan virus Corona di transportasi publik dinilai lebih tinggi.

Sementara di kalangan pegowes usia muda, alasan ramah lingkungan juga banyak ditemui. "Sekarang sih kebanyakan anak mudanya, anak mudanya sudah mulai go green," kata Dewo.
https://nonton08.com/black-clover-episode-23-subtitle-indonesia/