Sabtu, 09 Mei 2020

Austria Gunakan Plasma Darah untuk Obati Pasien Corona

Terapi plasma darah sedang diuji untuk mengobati virus Corona COVID-19. Austria mengatakan bahwa beberapa pasien virus Corona COVID-19 sembuh setelah menerima transfusi plasma darah dari orang yang telah pulih dari virus.
Perawatan ini telah diuji di beberapa negara tetapi masih sedikit data medis yang tersedia tentang efektivitasnya.

Dikutip dari Straits Times, Robert Krause, spesialis penyakit menular di rumah sakit di Austria mengatakan dalam konferensi pers, ada tiga pasien yang menjalani transfusi di sebuah rumah sakit di kota tenggara Graz dan sembuh.

Hanya saja, hal ini berlaku pada pasien yang dipilih sendiri atau dengan kata lain memenuhi beberapa syarat dan belum siap diaplikasikan kepada semua orang yang sakit karena infeksi virus Corona.

Pasalnya, dua dari tiga pasien memiliki penyakit lain dan sistem kekebalan yang sangat lemah.

Sekitar 20 orang telah dirawat di Austria dengan terapi, yang menggunakan bagian dari darah yang kaya akan antibodi, yang dikenal sebagai plasma pemulihan, dari pasien COVID-19.

Sementara itu, Palang Merah meluncurkan permintaan mendesak kepada donor plasma pada hari Kamis untuk memungkinkan terapi ini, yang masih eksperimental, untuk diuji lebih luas.

Plasma konvalesen telah terbukti efektif dalam penelitian kecil untuk mengobati penyakit menular termasuk Ebola dan SARS.

Penggunaannya untuk mengobati pasien virus Corona COVID-19 telah disahkan di negara-negara lain seperti Perancis, Amerika Serikat, Swiss, dan Cina.

Tim Pakar COVID-19 Gambarkan Kondisi Pasien Corona di Indonesia

 Data yang terintegrasi di Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Indonesia menyajikan gambaran umum mengenai kondisi pasien yang saat ini sedang ditangani dan menjalani perawatan. Hingga kini jumlah pasien positif virus Corona di Indonesia tercatat 13.112 kasus dengan 2.494 sembuh, dan 943 meninggal dunia yang tersebar di seluruh provinsi.
"Dari gambaran kasus yang ada, kalau dari gejala positif, ternyata yang paing sering itu batuk. Batuk itu paling tinggi," kata Ketua Tim Pakar Gugus Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers dalam jaringan di BNPB, Sabtu (9/5/2020).

Selain itu dari segi usia, disebutkan oleh Prof Wiku bahwa usia paling rentan tertular Corona adalah kelompok di atas 45 tahun. Sekitar 85 persen pasien yang meninggal juga rentang usianya di atas 50 tahun.

"Kondisi penyakit penyerta kebnyakan memiliki hipertensi, diabetes melitus, jantung, kemudian penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)," sebutnya.

Selain itu yang juga menjadi perhatian adalah dari segi jenis kelamin. Dari semua pasien COVID-19, kelompok jenis kelamin yang paling rentan terinfeksi adalah laki-laki.

"Kalau kita lihat sekitar 60 persen yang positif adalah orang-orang berjenis kelamin laki-laki, mereka lebih rentan, dan ini adalah gambaran nasional," pungkasnya.

Studi Temukan Kombinasi Obat yang Bantu Pasien Corona Sembuh Lebih Cepat

 Kombinasi tiga obat antivirus dan penguat sistem kekebalan tubuh disebut membantu pasien pulih lebih cepat dari infeksi virus Corona. Dilansir dari CNN International, penelitian yang dilakukan oleh tim dokter di Hong Kong menyebut meski pendekatan ini membutuhkan lebih banyak pengujuan, diharapkan dalam waktu dekat akan ada pengobatan lain untuk pasien COVID-19.
Saat ini satu-satunya pengobatan yang disetujui adalah Remdesivir, yang disebut mempercepat penyembuhan pasien namun persediaannya masih terbatas.

Untuk itu, Dr Kwok-Yung Yuen dari Universitas Hong Kong dan rekannya menguji kombinasi obat HIV dari ritonavir dan lopanivir bersama dengan obat antivirus umum ribavirin dan obat multiple sclerosis yang disebut beta interferon. Hasilnya disebut signifikan dalam mengobati pasien.

Pasien dalam penelitian ini semua memiliki gejala ringan hingga sedang dan dirawat dalam waktu tujuh hari. Tim dokter kemudian membagi kelompok pasien yang diberi kombinasi obat HIV, lopinavir-ritonavir dan suntikan beta interferon, lainnya hanya diberi obat HIV saja.

Selain Adele, Ini 5 Transformasi Artis yang Sukses Pangkas Berat Badan

Menjadi seorang artis tentunya memiliki banyak tuntutan yang harus dipenuhi. Berkarir di dunia hiburan harus memiliki penampilan yang menarik dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Berbagai macam cara dilakukan agar terlihat ideal di depan layar televisi. Memiliki tubuh ideal tak selalu tentang kecantikan saja, namun juga kesehatan tubuh, termasuk berat badan yang pas.

Dikutip dari beberapa sumber, berikut beberapa artis yang sukses pangkas berat badan.

1. Adele
Februari 2020, saat muncul di pesta Oscar yang digelar Guy Oseary di Hollywood, Adele terlihat sangat berbeda. Dalam foto yang diunggah pembawa acara televisi Polandia Kinga Rusin, penampilan Adele pada pesta itu terlihat jelas. Adele terlihat mengagumkan dan sangat tinggi malam itu.

"Pinggangnya kecil dan dia memiliki bentuk badan bak jam pasir di balik gaun bermotif leopard," katanya.

Begitupun ketika akhirnya dia mengunggah di media sosialnya baru-baru ini. Setelah hampir empat bulan tak pernah memperbarui laman Instagram-nya, Adele tiba-tiba muncul dengan foto tubuhnya yang langsing. Berat badan Adele dikabarkan turun drastis sampai 8 stone atau sekitar 50 kilogram.

2. Kim Kardashian
Tubuh seksi Kim Kardashian didapat dari pola diet atkins yang dijalani istri Kanye West ini. Ia mengklaim turun 25 kg dalam 11 bulan selama mengikuti diet atkins. Kebanyakan menunya adalah makanan tinggi protein seperti alpukat dan kacang.

Yang terpenting, Kim menghindari konsumsi karbohidrat. Ia juga memastikan dirinya melahap 3 kali makanan utama dan 2 kali camilan setiap hari.

3. Mariah Carey
Mariah mengungkapkan bahwa mengatakan ia berhasil menurunkan berat badan dengan melakukan diet. Ia hanya mengkonsumsi ikan dan sup yang diolah dengan 'seadanya' menggunakan sedikit minyak atau mentega. Sisi positifnya, diet yang ia lakukan mempertahankan protein sehat, Namun diet dengan menu monoton seperti ini akan cukup sulit dilakukan dalam jangka panjang karena cenderung membosankan bagi sebagian besar wanita.

4. Beyonce
Beyonce menggunakan master cleanse untuk menurunkan berat badannya sekitar 9 kg demi perannya dalam film 'Dreamgirls'. Untuk setidaknya 10 hari, mereka yang melakukan diet ini menyingkirkan makanan padat dan hanya makan makanan cair, seperti limun, air, dan obat pencahar.

5. Christina Aguilera
Christina Aguilera mampu menurunkan bobot hingga 49 kilogram. Dia sebelumnya mengambil cuti dari The Voice untuk fokus kepada diri sendiri, terutama untuk pikiran dan jiwanya.

Dia telah mencoba jenis makanan baru dan mengeksplorasi metode latihan baru. Bukan untuk diet atau berat badan, tetapi lebih untuk pikiran dan kesejahteraannya dan keseluruhan rasa kesehatan yang baik.

Austria Gunakan Plasma Darah untuk Obati Pasien Corona

Terapi plasma darah sedang diuji untuk mengobati virus Corona COVID-19. Austria mengatakan bahwa beberapa pasien virus Corona COVID-19 sembuh setelah menerima transfusi plasma darah dari orang yang telah pulih dari virus.
Perawatan ini telah diuji di beberapa negara tetapi masih sedikit data medis yang tersedia tentang efektivitasnya.

Dikutip dari Straits Times, Robert Krause, spesialis penyakit menular di rumah sakit di Austria mengatakan dalam konferensi pers, ada tiga pasien yang menjalani transfusi di sebuah rumah sakit di kota tenggara Graz dan sembuh.

Hanya saja, hal ini berlaku pada pasien yang dipilih sendiri atau dengan kata lain memenuhi beberapa syarat dan belum siap diaplikasikan kepada semua orang yang sakit karena infeksi virus Corona.

Pasalnya, dua dari tiga pasien memiliki penyakit lain dan sistem kekebalan yang sangat lemah.

Sekitar 20 orang telah dirawat di Austria dengan terapi, yang menggunakan bagian dari darah yang kaya akan antibodi, yang dikenal sebagai plasma pemulihan, dari pasien COVID-19.

Sementara itu, Palang Merah meluncurkan permintaan mendesak kepada donor plasma pada hari Kamis untuk memungkinkan terapi ini, yang masih eksperimental, untuk diuji lebih luas.

Plasma konvalesen telah terbukti efektif dalam penelitian kecil untuk mengobati penyakit menular termasuk Ebola dan SARS.

Penggunaannya untuk mengobati pasien virus Corona COVID-19 telah disahkan di negara-negara lain seperti Perancis, Amerika Serikat, Swiss, dan Cina.