Kamis, 09 April 2020

Saat Paspor Inggris Cuma Bisa Tembus 11 Negara

 Kantor Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris (FCO) menyarankan warganya untuk menghindari bepergian ke luar negeri saat pandemi Corona. Apalagi, paspor mereka tak bisa menmebus banyak negara seperti hari-hari lalu.
Kian bertambahnya jumlah terinfeksi virus Corona di dunia, sejumlah negara menerapkan pembatasan wilayah. Sejauh ini, 1,4 juta kasus virus Corona muncul di muka bumi, dengan jumlah kematian mencapai 83.400 orang dan sembuh 309.178 orang.

Sejumlah negara menutup perbatasan untuk menekan laju penyebaran virus Corona. Juga menyetop penerbangan.

"FCO menyarankan warga Inggris untuk tak melakukan perjalanan yang tidak penting di seluruh dunia. Ini berlaku untuk jangka waktu tidak terbatas karena penutupan perbatasan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya dan pembatasan lainnya. Semua negara dapat membatasi perjalanan tanpa pemberitahuan," FCO mengimbau dan dikutip oleh schengenvisainfo.

Menurut FCO, hingga saat ini, cuma 11 negara yang membuka pintu bagi warga mereka. Negara-negara tersebut adalah Belanda, Swedia, Islandia, Meksiko, Nikaragua, Aruba, Curacao, Kamboja, Tanzania, Palau dan Tuvalu.

Negara-negara ini diketahui belum melakukan penutupan perbatasan karena memiliki sedikit kasus COVID-19. Alasan lain karena mereka sangat bergantung pada pariwisata.

Ya, pandemi Corona membuat paspor-paspor tangguh dunia tak lagi berarti. Jepang dan Singapura yang selalu menempati urutan pertama sebagai paspor terkuat dunia pun ikut tumbang.

Sebelumnya, Inggris masuk peringkat kelima dalam pemegang paspor terkuat dunia. Inggris bisa masuk bebas visa ke 121 negara, 47 visa kedatangan dan 30 izin visa.

Lagipula, Inggris juga sedang bergelut untuk meredam kasus virus Corona. Saat ini, muncul 55.242 kasus Corona dengan 6.159 meninggal dunia dan 135 orang sembuh.

Santorini dan Mykonos Lockdown Parsial Terapkan Jam Malam

Mykonos dan Santorini menjadi pulau liburan impian banyak traveler dan menjadi kebanggaan Yunani. Saat pandemi Corona, dua pulau itu ditutup sementara.

Mykonos ditutup sementara setelah muncul dua kasus yang dikonformasi oleh Mykonos. Santorini juga turut menutup diri kendati tak ada kasus Corona. Santorini dianggap rentan karena selama sepekan terakhir pulau ini kedatangan pekerja konstruksi.
Bukan penguncian wilayah secara penuh, namun dua pulau itu menerapkan lockdown parsial. Sejak itu, inspeksi dilakukan untuk melacak orang-orang yang melakukan kontak dengan dua pasien.

Kabijakan pembatasan itu akan dilaksanakan selama 30 hari. Dengan lockdown parsial itu, Santorini dan Mykonos juga memberlakukan jam malam. Kegiatan pukul 20.00-08.00 waktu setempat dilarang.

Terkait dengan penyebaran virus Corona, Yunani telah mengkonfirmasi 1.832 kasus. Sehingga, kebijakan pembatasan dilakukan di beberapa tempat.

Penerbangan AS Berjalan Normal Saat Corona, Bagaimana Jaga Penumpang?

 Keadaan dunia penerbangan saat ini sedang tak baik karena virus Corona. Jika Anda harus terbang, inilah tips dan yang harus dilakukan.
Diberitakan CNN, jumlah penumpang pesawat telah mencapai titik terendah dalam 10 tahun terakhir. Dampak pandemi virus Corona atau COVID-19 diungkapkan oleh Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) Amerika Serikat.

Lalu, apa yang harus traveler persiapkan saat harus terbang di situasi seperti sekarang? Mari berkaca dari penerbangan AS yang saat ini masih berjalan normal.

Hampir semua maskapai besar menahan atau membatasi minuman dalam penerbangan untuk mengurangi kontak atau physical distancing. Pelanggan diminta membawa makanan dan minuman mereka sendiri di dalam kabin.

Layanan Delta Air Lines misalnya, layanan penyegaran tergantung lama penerbangan dan pemberian minuman pada air kemasan. Maskapai besar lainnya juga membatasi minuman apa yang disajikan.

Lalu, American Airlines dan United Airlines membuat jarak di mana tidak ada lagi penumpang di kursi tengah. Mereka juga memungkinkan perubahan kursi jika dirasa tak nyaman bagi penumpang.

Alaska Airlines menawarkan penjadwalan ulang jika jarak antar penumpang terlalu dekat. Semua maskapai telah meningkatkan pembersihan di kabinnya.

Banyak maskapai yang mendorong penumpangnya untuk membawa produk pembersihnya sendiri.

Jika masih merasa was-was dan takut, apa yang perlu dipersiapkan sebelum terbang?

Pria Jalan 123 Km dari Bandara ke Rumah Agar Tidak Tulari Orang Lain

Seorang pria asal Sabah, Malaysia baru-baru ini bikin heboh. Dia berjalan kaki 123 km dari Bandara Internasional Kota Kinabalu menuju rumahnya di Kota Marudu setelah ia kembali dari Jepang.
Pria bernama Alixson Awandoh itu menghabiskan berjalan kaki selama tiga hari di jalan ke kota kelahirannya. Dia tidak sendirian, ditemani oleh seekor anjing liar yang tidak pernah meninggalkan sisinya.

Kisahnya kini telah menyebar di media sosial setelah terungkap bahwa ia mengambil keputusan untuk berjalan pulang untuk menghindari risiko menulari orang lain dengan virus COVID-19.

Sebelum berjalan pulang, dia baru saja dites Corona di Rumah Sakit Queen Elizabeth di Kota Kinabalu setelah kembali dari Jepang. Namun, ia tidak menunjukkan gejala terkena penyakit mematikan itu.

Seperti dilansir Berita Harian, Alixson menuturkan dirinya belum tahu hasil tesnya. Jadi dia memutuskan mengambil langkah pencegahan dan menghindari sosialisasi dengan publik seperti naik kendaraan umum.

"Setelah tiba di Bandara Internasional Kota Kinabalu dari Jepang, saya langsung pergi ke Rumah Sakit Queen Elizabeth untuk menjalani screening COVID-19, meskipun tidak memiliki gejala," katanya.

Petugas rumah sakit sebenarnya memberi tahu dia untuk menjalani karantina sendiri di rumah. Petugas itu juga menyatakan dirinya tidak perlu memanfaatkan fasilitas karantina yang disediakan oleh pemerintah Sabah saat dia menunggu hasilnya.

"Karena hasil tes yang tidak diketahui, saya mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari bergaul dengan publik karena takut memicu infeksi jika seandainya hasil saya menjadi positif di masa depan," katanya.

Karena belum tahu hasilnya, dia menolak bantuan kakak laki-lakinya yang datang menjemputnya dengan kendaraan.

"Saya membuat keputusan untuk kembali ke desa dengan berjalan kaki dari malam tanggal 26 Maret dan tiba di desa di Kota Marudu pada tanggal 29 Maret," ujarnya.

Alixson mengatakan bahwa saat dia berjalan dia bertemu dengan seekor anjing di jalan yang ikut. Selama perjalanannya, ia akan tidur di halte bus kosong di malam hari sementara anjing itu tidur di sampingnya.

Yang menarik, dia menamai anjing liar ituHachiko, nama anjing yang legendaris karena kesetiaannya di Jepang. "Kalau bukan karena anjing, mungkin orang-orang di sekitar saya akan mengira saya adalah penjahat pada malam hari," katanya.

"Saya pikir Hachiko dikirim untuk merawat saya sepanjang perjalanan saya dari Kota Kinabalu ke kota asal saya," imbuhnya.

Bersama-sama mereka melewati sejumlah rintangan di jalan, mereka juga diinterogasi polisi dan personel tentara yang kesulitan mempercayai cerita Alixson.

Aparat berwenang awalnya menyangka dia bercanda. Namun, setelah dia akan menjelaskan alasannya dan menunjukkan kepada mereka paspor dan surat-surat dari rumah sakit sebagai bukti, aparat kemudian percaya kisahnya dan menasihatinya untuk berhati-hati.

"Mereka juga menawarkan untuk membantu saya naik kendaraan, tetapi saya menolak karena saya memiliki anjing ini dan saya tidak ingin menimbulkan risiko kesehatan bagi siapa pun," ujarnya.

Begitu dia mencapai desanya, Alixson memutuskan untuk mengkarantina dirinya di sebuah gubuk kecil di pertanian jauh dari orang tuanya dan menunggu hasilnya.

"Saya tidak pergi menemui orang tua saya setelah mencapai Kota Marudu tetapi langsung pergi ke sebuah gubuk kecil di pertanian karena itu akan lebih aman untuk semua orang," katanya.

"Saya tidak akan beristirahat dan tidak akan bertemu keluargaku sampai rumah sakit memberiku konfirmasi bahwa aku bebas dari virus Corona ini. Untuk saat ini, Hachiko dan aku menghabiskan waktu bersama di pondok," ujarnya.