Senin, 23 Maret 2020

Gara-gara Corona, Singapura Pun Menutup Pintunya

Mencegah penyebaran corona, Singapura telah mengetatkan aturan masuk dan keluar ke negaranya. Namun, kini aturannya lebih ketat lagi. Berikut info terbarunya.
Terkait kebijakan pencegahan penyebaran virus corona atau COVID-19, Singapura merupakan salah satu negara yang paling ketat untuk urusan tersebut. Beberapa waktu lalu, Singapura melalui Kementerian Kesehatannya punya aturan baru yang berlaku mulai tanggal 16 Maret lalu.

Diketahui, wisatawan dari negara ASEAN, Jepang, Swiss dan Britania Raya diwajibkan untuk mengkarantina diri (Stay Home Notice/SHN) selama 14 hari lebih dulu jika ingin tetap masuk Singapura.

Apabila wisatawan tidak mematuhi SHN selama berada di Singapura sesuai dengan Infectious Disease Act Singapura, mereka dapat dikenakan hukuman. Hukuman ini bervariasi mulai dari denda sampai dengan 10.000 SGD (Rp 106 juta) atau penjara sampai dengan 6 bulan.

Tak sampai di situ, bagi Permanent Resident Singapura, pemegang Long Term Visit Pass, Dependent's Pass, atau Student's Pass, izin masuk kembali (re-entry permit) dapat dicabut atau dipersingkat validitasnya.

Sementara bagi pekerja migran pemegang Work Pass, izin bekerjanya dapat dicabut. Hanya saja, imbauan untuk melakukan SHN tersebut tidak berlaku bagi traveler yang hanya transit tanpa menginap di Singapura.

Namun, kini aturan baru kembali dikeluarkan oleh pihak Singapura. Dalam kebijakan baru yang berlaku mulai besok Selasa (24/3), Singapura juga melarang pengunjung/turis jangka pendek untuk transit atau bahkan masuk ke dalam kota seperti diberitakan Reuters.

Hanya saja, aturan itu tidak berlaku bagi pemegang visa kerja yang berkaitan dengan sektor kesehatan dan transportasi seperti dikemukakan Mendagri Singapura, Lawrence Wong. Semua itu dilakukan demi menahan angka positif virus corona di dalam Singapura.

Kebijakan yang super ketat itu pun muncul, setelah diketahui bahwa sekitar 80% kasus baru positif corona di Singapura berasal dari luar atau turis asing selama tiga hari ke belakang.

Wong pun belum mengetahui, sampai kapan kebijakan terbaru Singapura tersebut berlaku. Singkat kata, kini traveler juga tidak bisa lagi masuk ke Singapura sampai waktu yang belum ditentukan.

Tips Asyik Bekerja dari Rumah ala Influencer Gemala Hanafiah

Sebagian besar pekerja telah dianjurkan untuk bekerja dari rumah. Hal dilakukan demi memutus rantai penularan COVID-19.
Pada detikcom, influencer Gemala Hanafiah membagikan tips untuk traveler yang bekerja dari rumah. Mungkin akan lebih banyak kendala yang traveler rasakan saat bekerja di rumah dari pada di kantor. Berikut 7 tips bekerja di rumah dari Gemala Hanafiah.

1. Siapkan Tempat Khusus

Biasanya kerja dari rumah itu akan sulit fokus. Kalau traveler punya ruangan sendiri untuk kerja itu sangat bagus.

Tapi, jika tak memungkinkan untuk kerja di ruangan tersendiri pun tak masalah. Kamu bisa bentuk ruang kerja sendiri dengan meja kecil untuk meletakkan laptop.

Jangan lupa lengkapi dengan colokan untuk charge. Jadi, nantinya kamu tak perlu jauh-jauh kalau baterai laptop atau handphone kamu habis.

Selain itu, beri tahu anggota keluarga kamu akan pentingnya kerja tanpa diganggu. Pasti mereka akan mengerti.

2. Tetap Punya Rutinitas

Tetap bangun pagi ya traveler, jangan lupa olahraga dan sarapan sehat. Setelah itu mandi dan ganti baju agar mood kerja lebih baik.

Jangan bangun terlalu siang, karena kalau membuka laptop saat kondisi baru bangun tidur, hawa malas akan menempel. Betul nggak traveler?

"Ini berdasarkan pengalaman pribadi yaa, tapi kalau ada ritme kerjanya lebih enak dari malam sampai subuh dan tidur sampai siang yaaa.. Silahkan saja. BIasanya anak-anak editan dan grafis neeh," tulis Gemala.

3. Bikin 'what to do' list

Memang, kalau sudah di rumah, akan banyak godaan. Sedikit jenuh, kita bisa bermalas-malasan di sofa menonton Netflix atau Youtube. Niat hanya scroll media sosial berujung satu jam, kapan kerjanya?

"Nah, inilah pentingnya punya list yang harus dikerjakan per harinya, supaya kamu nggak keluar dari track," kata Gemala.

Jangan lupa cek what to do list ya ya traveler. Kalau sudah beres, tinggal dicentang. Saat sore, begitu kamu melihat semua sudah selesai, rasanya akan sangat puas.

Di Kampung Ini, Jumlah Domba Lebih Banyak dari Manusia

Gunung Ciremai Jawa Barat menyimpan segudang potensi wisata yang menarik. Selain Lembah Panyaweuyan ada desa wisata yang disebut Desa Cibuntu di Kuningan.
Gunung Ciremai Jawa Barat menyimpan segudang potensi wisata yang menarik. Selain Lembah Panyaweuyan di Majalengka, maka di sisi gunung sebelah lainnya ada desa wisata yang disebut Desa Cibuntu, di Kecamatan Pasawahan, Kuningan, Jawa Barat. Desa Cibuntu merupakan salah satu desa wisata terbaik di Jawa Barat yang meraih penghargaan tingkat nasional. Desa Cibuntu juga pernah mewakili Indonesia untuk Asia Tenggara.

Udara yang masih adem dan segar bisa menjadi tempat 'pelarian' buat orang kota yang sudah penat dengan kehidupan perkotaan. Untuk menginap ada beberapa homestay yang disiapkan warga.

Yang menarik lagi adalah di salah satu bagian desa ini adalah sebuah tempat yang disebut Kampung Domba.

Pada dasarnya Kampung Domba adalah kandang-kandang kambing dan domba milik warga yang dijadikan satu, sehingga total ada puluhan kandang yang dimana satu kandang bisa menampung 18-20 kambing/domba.

1 Kandang bisa diisi sampai puluhan kambing1 Kandang bisa diisi sampai puluhan kambing (Dadan Kuswaraharja/detikcom)
Menurut seorang warga, Mulyana, jumlah domba dan kambing itu lebih banyak dari jumlah warga di desanya yang mencapai sekitar 1.000 orang. Kampung Domba ini bisa kita lihat dari kejauhan. Kalau dilihat dari kejauhan persis rumah biasa, namun nyatanya diisi domba. Embekkk!

Kampung Domba mulai dibangun pada tahun 1980-an. Kampung Domba dibuat demi alasan kesehatan warga. Sebelum ada kampung kambing, warga memelihara kambing di rumah masing-masing. Agar rumah bersih dari kotoran kambing diputuskan untuk memisahkan kandang dari rumah. "Setelah menjadi kampung kambing, Desa Cibuntu jadi booming, jadi semakin ramai, semakin menarik perhatian, dan bangunannya pun kian bertambah," tutur seorang warga.

Selain wisata melihat kambing-kambing yang sehat, desa di kaki Gunung Ciremai ini memiliki situs purbakala dari zaman Megalitikum (zaman batu) dan Neolitikum. Di desa dengan udara sejuk itu tersimpan beberapa situs purbakala seperti arca yang bentuknya sudah hampir penuh, memiliki wajah dan rambut, ada juga batu yang disebut-sebut mirip pusar. Ada juga kuburan batu yang disimpan di Cipari Kuningan.

Di desa ini juga ada sumber mata air kahuripan yang sangat jernih, bisa diminum langsung tanpa dimasak. Untuk melengkapi potensi wisata Desa Cibuntu, ada Curug Gongseng. Curug ini bisa dicapai lewat track khusus yang sudah disemen. Jadi meskipun treknya mendaki dan menurun, traveler tidak perlu kerepotan mencapainya.

Gara-gara Corona, Singapura Pun Menutup Pintunya

Mencegah penyebaran corona, Singapura telah mengetatkan aturan masuk dan keluar ke negaranya. Namun, kini aturannya lebih ketat lagi. Berikut info terbarunya.
Terkait kebijakan pencegahan penyebaran virus corona atau COVID-19, Singapura merupakan salah satu negara yang paling ketat untuk urusan tersebut. Beberapa waktu lalu, Singapura melalui Kementerian Kesehatannya punya aturan baru yang berlaku mulai tanggal 16 Maret lalu.

Diketahui, wisatawan dari negara ASEAN, Jepang, Swiss dan Britania Raya diwajibkan untuk mengkarantina diri (Stay Home Notice/SHN) selama 14 hari lebih dulu jika ingin tetap masuk Singapura.

Apabila wisatawan tidak mematuhi SHN selama berada di Singapura sesuai dengan Infectious Disease Act Singapura, mereka dapat dikenakan hukuman. Hukuman ini bervariasi mulai dari denda sampai dengan 10.000 SGD (Rp 106 juta) atau penjara sampai dengan 6 bulan.

Tak sampai di situ, bagi Permanent Resident Singapura, pemegang Long Term Visit Pass, Dependent's Pass, atau Student's Pass, izin masuk kembali (re-entry permit) dapat dicabut atau dipersingkat validitasnya.

Sementara bagi pekerja migran pemegang Work Pass, izin bekerjanya dapat dicabut. Hanya saja, imbauan untuk melakukan SHN tersebut tidak berlaku bagi traveler yang hanya transit tanpa menginap di Singapura.

Namun, kini aturan baru kembali dikeluarkan oleh pihak Singapura. Dalam kebijakan baru yang berlaku mulai besok Selasa (24/3), Singapura juga melarang pengunjung/turis jangka pendek untuk transit atau bahkan masuk ke dalam kota seperti diberitakan Reuters.