Rabu, 18 Maret 2020

Jangan Sembarangan Potret Orang di Korea Selatan!

Di Indonesia, memotret atau merekam orang awam di jalan adalah hal lumrah. Namun, jangan lakukan itu di Korea Selatan.

Mungkin di antara traveler ada yang hobi memotret human interest atau potret keseharian masyarakat saat traveling. Sah saja, tapi mungkin akan sedikit sulit apabila Anda traveling ke Korea Selatan.

Diketahui, masyarakat Korea Selatan sangat menjunjung tinggi privasi individu. Hal itu pun dijelaskan oleh pemandu lokal kami, Eonni Daemi saat detikTravel berkunjung ke sana beberapa waktu lalu.

"Kalau di sini motret jangan di-zoom atau ke orang ya, mereka bisa marah. Tapi kalau dari jauh tidak apa-apa," ujar Eonni Daemi.

Ia pun menceritakan, kalau orang Korea Selatan cukup tertutup dan tidak terlalu suka tampil di media sosial. Kabarnya, warganet di Korea Selatan cukup 'keras.' Barangsiapa yang tidak kuat, bisa depresi sampai bunuh diri.

"Kalau orang di sini sudah depresi, mereka bisa sampai bunuh diri," ujar Eonni Daemi.

Menurut data dari situs World Population Review, Korea Selatan masuk peringkat keempat negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Perbandingannya, sekitar 26,9 ribu dari 100 ribu orang mati dengan cara bunuh diri.

Fakta menarik lain soal tingginya privasi di Korea Selatan juga dapat diamati lewat tayangan berita di saluran televisi mereka. Selain subjek yang disorot, wajah masyarakat yang ada di sekitarnya selalu dibuat blur. Tujuannya adalah untuk melindungi identitas orang awam yang tidak berkepentingan. Lain halnya di Indonesia, di mana efek blur hadir untuk menutupi aurat.

Jadi, apabila ingin memotret di Korea Selatan usahakan Anda telah meminta izin dari subjek yang ingin difoto. Memotret dari jauh pun tak apa, selama tidak terlalu menyorot satu subjek tertentu. Salah-salah, kamu bisa kena tegur atau omel.

Kebakaran Hebat, Resor Mewah di Maldives Tinggal Puing-puing

Kabar menyedihkan datang dari Maldives. Salah satu resor mewah di sana mengalami kebakaran hebat, dan sekarang tinggal menyisakan puing-puingnya saja.

Adalah Gili Lankanfushi, sebuah resor mewah di Maldives yang mengalami tragedi kebakaran hebat tersebut. Gili Lankanfushi bahkan pernah dinobatkan sebagai satu dari 5 hotel terbaik di dunia versi TripAdvisor. Namun semua itu kini tinggal kenangan, akibat kebakaran yang melanda resor ini pada Rabu (2/9) pukul 23.00 waktu setempat.

Dikumpulkan detikTravel dari beberapa sumber, Senin (7/1/2019), kebakaran ini menghanguskan 7 villa overwater dari 45 villa yang dimiliki resor ini. Tak hanya 7 villa, kebakaran ini juga menghancurkan 1 restoran di resor tersebut.

Beruntung tidak ada korban jiwa dari tragedi ini, baik dari tamu ataupun dari para staf resort. Api berhasil dipadamkan oleh tim pemadam kebakaran 6 jam setelah kejadian.

Investigasi terkait insiden ini pun dilakukan untuk mencari penyebab kebakaran yang masih belum diketahui. Api sendiri cepat menyebar karena angin kencang di Maldives saat itu.

Lewat Instagram, Gili Lankanfushi pun menyampaikan beberapa pengumuman terkait kejadian ini, terutama bagi para tamu yang terdampak. Resor ini akan ditutup sementara sembari dilakukan renovasi terkait kebakaran tersebut.

"Selama resor ditutup, kami ingin memberikan 3 opsi kepada para tamu yang ingin memesan kamar kami di masa depan. Bagi para tamu yang ingin tetap berkunjung, kami akan membantu sebisa mungkin untuk mencarikan akomodasi alternatif. Bagi tamu yang ingin membatalkan pesanan, kami akan memberikan full refund. Bagi para tamu yang ingin memesan resort kami di kemudian hari, kami akan menahan pesanan Anda sampai resort ini dibuka kembali," demikian bunyi pernyataan resmi Gili Lankanfushi.

Rumah Tempat Syuting 'Bird Box' Ramai Dikunjungi Wisatawan

Rumah di AS yang jadi tempat syuting film 'Bird Box' belakangan jadi sasaran para fans. Mereka berkunjung dan foto-foto di sana.

Film survival yang dibintangi Sandra Bullock, 'Bird Box', yang rilis di Netflix 21 Desember 2018 lalu menjadi perbincangan. Media sosial diramaikan dengan meme bahkan Bird Box Challenge yang sebenarnya dianggap berbahaya.

Di luar medsos, rumah tempat syutingnya juga sempat ramai dikunjungi para fans. Rumah yang dalam film menjadi tempat berlindung dari serangan makhluk tak kasat mata itu seakan menjadi destinasi wisata baru bagi para penggemar 'Bird Box'. Lokasinya di Monrovia, California, AS.

Dilihat detikTravel dari TMZ, Senin (7/1/2019), pemilik asli rumah itu mengatakan bahwa setiap hari ada beberapa orang datang buat foto-foto, termasuk saat libur Natal. Salah satu spot yang digemari buat berfoto adalah anak tangga di sisi luar rumah.

Selayaknya dalam film, tak sedikit fans yang berfoto sambil tutup mata, baik dengan tangan maupun pakai kain penutup mata. Mereka cukup sopan sehingga pemilik rumah pun tak terlalu merasa terganggu. Banyak di antara para traveler itu mengetuk pintu terlebih dahulu untuk meminta izin sebelum foto-foto.

Seperti diberitakan Mirror, sang pemilik dibayar USD 12.000 (Rp 168 juta) oleh pembuat film untuk bisa syuting eksterior rumah. Sebelum 'Bird Box', rumah ini rupanya juga pernah dipakai untuk syuting sejumlah film lain. 

Jangan Sembarangan Potret Orang di Korea Selatan!

Di Indonesia, memotret atau merekam orang awam di jalan adalah hal lumrah. Namun, jangan lakukan itu di Korea Selatan.

Mungkin di antara traveler ada yang hobi memotret human interest atau potret keseharian masyarakat saat traveling. Sah saja, tapi mungkin akan sedikit sulit apabila Anda traveling ke Korea Selatan.

Diketahui, masyarakat Korea Selatan sangat menjunjung tinggi privasi individu. Hal itu pun dijelaskan oleh pemandu lokal kami, Eonni Daemi saat detikTravel berkunjung ke sana beberapa waktu lalu.

"Kalau di sini motret jangan di-zoom atau ke orang ya, mereka bisa marah. Tapi kalau dari jauh tidak apa-apa," ujar Eonni Daemi.

Ia pun menceritakan, kalau orang Korea Selatan cukup tertutup dan tidak terlalu suka tampil di media sosial. Kabarnya, warganet di Korea Selatan cukup 'keras.' Barangsiapa yang tidak kuat, bisa depresi sampai bunuh diri.

"Kalau orang di sini sudah depresi, mereka bisa sampai bunuh diri," ujar Eonni Daemi.

Menurut data dari situs World Population Review, Korea Selatan masuk peringkat keempat negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Perbandingannya, sekitar 26,9 ribu dari 100 ribu orang mati dengan cara bunuh diri.

Fakta menarik lain soal tingginya privasi di Korea Selatan juga dapat diamati lewat tayangan berita di saluran televisi mereka. Selain subjek yang disorot, wajah masyarakat yang ada di sekitarnya selalu dibuat blur. Tujuannya adalah untuk melindungi identitas orang awam yang tidak berkepentingan. Lain halnya di Indonesia, di mana efek blur hadir untuk menutupi aurat.

Jadi, apabila ingin memotret di Korea Selatan usahakan Anda telah meminta izin dari subjek yang ingin difoto. Memotret dari jauh pun tak apa, selama tidak terlalu menyorot satu subjek tertentu. Salah-salah, kamu bisa kena tegur atau omel.