Selasa, 03 Maret 2020

Siap Bersaing Layanan, Sriwijaya Air Tidak Akan Kecewakan Garuda

Menjadi bagian dari keluarga Garuda Indonesia, Sriwijaya Air siap bersaing soal layanan. Mereka berjanji tidak akan menurunkan reputasi Garuda.

Meski masuk dalam keluarga Garuda Indonesia, Direktur Utama Sriwijaya Air, Joseph Adriaan Saul kembali menegaskan, bahwa kabar Garuda Indonesia mengakuisisi Sriwijaya Air Group itu tidak benar. Yang benar, manajemen Garuda Indonesia membantu operasional Sriwijaya Air agar keluar dari krisis.

"Saya mau memberitahukan, saat ini mengenai berita Garuda Indonesia mengakuisisi Sriwijaya adalah itu tidak benar. Tapi Garuda Indonesia manajemen membantu Sriwijaya untuk keluar dari krisis perusahaan itu sendiri agar bisa turn around, itu yang benar," ungkap Joseph di acara Gala Dinner dan Grand Launching AirFi Indonesia di East Java Ballroom, Hotel Westin Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Resmi memasang logo Garuda Indonesia di pesawatnya, Sriwijaya Air siap bersaing soal layanan dengan maskapai lain. Yang terbaru, mereka meluncurkan layanan SJ In-flight Entertainment bekerja sama dengan AirFi Indonesia.

Dengan layanan ini, traveler bisa menikmati konten hiburan dari film, musik, games, bahkan chatting dengan penumpang lain lewat gadget masing-masing. Tak hanya itu, soal layanan lainnya misalnya kebersihan, Sriwijaya Air harus terus memperhatikannya.

"Sriwijaya Air ini kan sudah jadi the member of Garuda Indonesia Group. Saya diwanti-wanti oleh Pak Ari Ashkara (Dirut Garuda Indonesia -red), kalau sudah pasang logo Garuda, kita harus paling tidak pesawatnya harus bersih, WC-nya harus wangi. Tidak hanya kita pasang logo Garuda, tapi kita akan mengikuti semua apa yang dilakukan Garuda Indonesia," imbuh Joseph.

Sriwijaya Air Group memang menyasar pasar medium service yang selama ini belum ada yang terjun ke sana. Sriwijaya Air akan jadi solusi bagi traveler yang mau terbang dengan layanan prima, tapi harga yang terjangkau.

"Kita memang di medium service, jadi Garuda tidak perlu menurunkan harga, Citilink juga tidak perlu menaikkan harga. Yang akan terjadi adalah kita tidak akan mendrag down Garuda ke bawah, tapi kita akan menaikkan Sriwijaya Air ke atas. Targetnya Sriwijaya ke depan akan menjadi Skytrax bintang 4," tutup Joseph.

Bukan di Paris, Ini Monumen di Korea Utara

Siapa tak kenal Arc de Triomphe? Monumen paling terkenal sedunia dari Paris. Bahkan, Korea Utara terinspirasi dan membuat monumen yang mirip seperti itu.

Selain Menara Eiffel, landmark terkenal dari Kota Paris Prancis adalah monumen Arc de Triomphe. Arc de Triomphe dibangun Napoleon tahun 1806, bertujuan untuk mengenanag kemenangan pasukan terbaiknya pada Pertempuran Austerlitz.

Arc de Triomphe pun sudah terkenal dan jadi incaran turis dunia untuk berfoto saat mendatangi Paris. Namun siapa sangka, tahukah kamu kalau Korea Utara terinspirasi membuat monumen yang mirip Arc de Triomphe?

Dilansir detikTravel dari BBC Travel dan beberapa travel agent yang menyediakan jasa perjalanan ke Korea Utara seperti Korea Konsult, Rabu (30/1/2019) nama monumen di Korea Utara itu adalah Arch of Triumph. Lokasinya di Distrik Moranbong, Kota Pyongyang.

Arch of Triumph punya tinggi 60 meter dan lebar 52 meter. Punya 25.500 blok granit, monumennya memiliki 3 lapisan atap dan gaya tradisional Korea.

Sejarahnya, Arch of Triumph dibangun untuk mengenang jasa Kim Il-sung (kakeknya Kim Jong-un) dalam perjuangannya menentang penjajah Jepang pada tahun 1925-1945. Sejarah mencatat, Jepang menjajah Korea Utara di tahun 1910-1945. Setelah dikalahkan sekutu, Jepang angkat kaki dari sana.

Arch of Triumph diresmikan pada tahun 1982, kala usia Kim Il-sung 70 tahun. Hingga kini, masyarakat Korea Utara amat menjaga monumennya dan menghormatinya, demi mengenang jasa-jasa Kim Il-sung.

Arch of Triumph pun dapat dikunjungi turis. Hanya saja harap ingat, untuk bersikap sopan dan menghargai masyarakat setempat di sana.

Lain sisi, beberapa ahli sejarah menilai kalau Arch of Triumph menjiplak dari Arc de Triomphe di Paris. Serta, sengaja dibangun untuk gengsi pemerintah Korea Utara.

Senin, 02 Maret 2020

Berkelana di Tanah Madura (3)

Sesaat kemudian, Empu Sanamo juga datang untuk menyambut kedatangan saya beserta rombongan. Setelah sejenak bercengkrama dengan cerita sejarah desa ini, saya diajak oleh Empu Sanamo untuk berkeliling Aeng Tong Tong. Menggunakan sepeda motor, kami mulai mengunjungi satu persatu rumah para empu disini.

Ternyata hampir seluruh warga Desa Aeng Tong Tong adalah pembuat keris. Tak hanya orang dewasa, anak- anak disini pun sudah mulai belajar menjadi seorang pembuat keris. Keris-keris disini juga membuat saya takjub, betapa rumitnya ukiran-ukiran dan berbagai bentuk keris yang unik.

Tak terasa satu jam kami berkeliling, kami kembali menuju Balai Desa Aeng Tong Tong. Beristirahat sejenak, saya kemudian pamit untuk melanjutkan perjalanan saya menuju Pamekasan. Jika ditanya tempat apa yang meninggalkan kesan mendalam, saya akan menyebut Desa Aeng Tong Tong.

Warganya sangat ramah dan dengan senang hati mengantarkan siapapun yang ingin mengenal lebih Desanya Para Empu ini. Bus mulai melaju menuju Pamekasan, meninggalkan Sumenep yang penuh kenangan.

Senja menjadi penghantar perjalanan hingga kami tiba di penginapan. Melepas lelah saya memilih untuk beristirahat, mempersiapkan diri melihat festival sapi esok hari.

Suara musik khas Madura bersahut-sahutan ketika saya memasuki Stadion R. Sunaryo Pamekasan. Tempat digelarnya festival Sapi Sonok, yaitu festival kecantikan bagi sapi betina Madura. Esok hari, di tempat ini juga akan digelar ajang paling bergengsi se-Madura yaitu Karapan Sapi yang memperebutkan piala Presiden.

Sapi-sapi yang hadir tampaknya memang sapi pilihan, terlihat dari betapa indahnya bentuk dan bulu sapi. Sepertinya biaya yang dikeluarkan untuk merawat sapi ini tak murah. Dalam kontes ini tak hanya fisik sapi yang mempengaruhi penilaian, namun cara berjalan dan ketepatan sapi memasuki gapura yang berada di ujung lintasan.

Mungkin ini adalah hari yang ditunggu-tunggu bukan hanya bagi para pemilik sapi karapan, namun juga sebagian besar masyarakat Madura. Ajang bergengsi di gelar hari ini, karapan Sapi memperebutkan piala Presiden.

Cuaca Pamekasan cukup cerah pagi ini, orang-orang berbondong-bondong menuju Stadion R. Sunaryo untuk melihat karapan sapi. Ternyata, stadion telah dipenuhi oleh masyarakat maupun para turis ketika saya tiba pada pukul 8 pagi, padahal lomba baru akan dimulai pukul 10.00 WIB.

Saya berkeliling mencari spot terbaik untuk melihat kecepatan sapi-sapi karapan saat bertanding. Cukup sulit memang, karena tempat-tempat terbaik telah terisi. Sepertinya lain kali saya harus tiba lebih awal.

Terik sang surya tak menyurutkan semangat para penonton menunggu pertandingan dimulai. Meskipun sedikit terlewat dari jadwal, pertandingan pertama dimulai dan disambut dengan sorak-sorai penonton.

Puluhan pasang sapi yang datang dari empat kabupaten di Madura saling beradu kecepatan. Musik khas Madura dan juga teriakan penyemangat dari pendukung membuat suasana kian meriah. Pertandingan pun berlangsung hingga sore hari, dan sapi milik H. Samsuddin yaitu Sonar Muda keluar sebagai juara.

Tak terasa berhari-hari saya bertualang di Pulau Madura. Beragam hal dan teman-teman baru saya temui di Pulau Garam ini. Perjalanan yang mengesankan, itulah yang saya rasakan. Sampai jumpa di lain kesempatan, Madura.