Senin, 02 Maret 2020

Berkelana di Tanah Madura (2)

Bus mulai melaju menjauh dari Pelabuhan Kamal. Melewati jalan yang tak terlalu besar dan juga berkelok di pesisir selatan Madura, kami akhirnya tiba di penginapan pada tengah malam. Esok hari kami akan mengunjungi berbagai tempat di Sumenep.

Setelah bersiap, pada pukul 07.00 WIB kami menuju keraton Sumenep. Dibangun sejak 1781, hingga saat ini keraton Sumenep masih berdiri megah. Banyak peninggalan yang akan kita temui di keraton ini. Mulai dari kereta kuda yang telah berumur ratusan tahun hingga barang-barang lainnya yang digunakan oleh para raja Sumenep.

Di keraton ini saya berjumpa dengan seseorang, bernama Empu Sanamo, beliau adalah seorang pembuat keris yang berasal dari desa Aeng Tong Tong. Beliau bercerita banyak mengenai desa tempat tinggalnya. dimana setelah itu saya mengetahui bahwa Aeng Tong Tong adalah desa dimana hampir seluruh warganya pembuat keris.

Beliau pun mengajak saya berkunjung ke desanya untuk melihat proses pembuatan keris. Setelah berkeliling keraton, kami kembali bersiap untuk menuju tujuan selanjutnya yaitu Asta Tinggi. Tujuan kali ini masih berkaitan dengan Keraton Sumenep, karena Asta Tinggi adalah tempat dimana raja-raja Sumenep dimakamkan.

Letaknya tak terlalu jauh dari keraton, hanya butuh 15 menit dengan kendaraan kami tiba di Asta Tinggi. Asta berarti makam sedangkan Tinggi di sini dimaksudkan karena letaknya yang memang berada di bukit.

Kompleks makam ini begitu luas, terbagi beberapa bagian makam sesuai dengan struktur kekerabatan dengan gerbang utama yang besar berwarna putih. Selepas berkeliling komplek makam, tak terasa hari menjelang sore. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju desa yang terbilang unik, Desa Legung namanya.

Di desa ini alas tidur yang digunakan warga adalah pasir. Desa Legung terletak di utara Asta Tinggi. Kami menempuh waktu satu jam untuk tiba di Desa Legung. Seperti desa pesisir pada umumnya, warga di sini sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Namun hal yang unik adalah setiap rumah memiliki kolam pasir di dalam maupun luar rumah. Warga mengaku lebih memilih tidur di pasir daripada harus tidur di kasur. Di pinggir pantai saya bercengkrama dengan pemuda Legung, namanya Badri. Ia berkata merasa nyaman tidur di pasir karena merasa dingin dan nyaman, sedangkan tidur di kasur terasa panas.

Warga seakan sangat akrab dengan pasir. Beberapa Ibu-Ibu melakukan berbagai aktivitasnya di dalam kolam pasir yang terdapat di bagian depan rumah. Bahkan, anak-anak Legung tak ragu untuk bermain dan berguling di atas pasir.

Pasir desa Legung memang berbeda, terasa lebih halus juga bersih. Pasir berasal dari tempat khusus di sekitar pantai Legung yang jarang digunakan untuk beraktivitas. Sehingga kebersihan pasir tetap terjaga. Selain itu, setiap harinya warga juga selalu membersihkan pasir yang berada di halaman maupun di dalam rumah.

Tak terasa petang menjelang. Perjalanan hari ini usai, kami kembali pulang. Hari ini adalah hari terakhir saya berada di Sumenep. Tak mau menyia-nyiakan ajakan Empu Sanamo yang saya temui di keraton Sumenep sehari sebelumnya, saya berkunjung ke Desa Aeng Tong Tong.

Setelah berkemas, saya memulai perjalanan menuju ke desa para empu. Perjalanan memakan waktu 30 menit hingga kami tiba di jalanan yang sedikit menanjak dan mulai mengecil. Pertanda kami telah memasuki wilayah Desa Aeng Tong Tong. Di desa ini kami disambut oleh seorang wanita bernama Ika, yang setelahnya saya ketahui bahwa ia adalah satu-satunya empu wanita.

Berkelana di Tanah Madura

Pulau Madura ternyata lebih dari sekadar Karapan Sapi. Cerita berikut ini akan membuat traveler jadi mau berkelana menjelajahi Tanah Madura.

Lembayung pagi mengawali perjalanan ini, dengan tiket kereta yang saya dapatkan dari tiket.com karena lebih aman, mudah dan banyak potongan harga. Saya berangkat menaiki kereta Sancaka yang mulai melaju perlahan membawa saya dari Yogyakarta menuju Surabaya.

Arah langkah sebenarnya dari perjalanan ini adalah Pulau Madura, pulau yang terkenal akan garam dan Karapan Sapinya. Setelah menempuh lima jam perjalanan, akhirnya kereta tiba di Stasiun Gubeng Surabaya.

Teriknya siang dan suhu panas menyambut kedatangan kami di Kota Pahlawan ini. Selepas membeli cemilan pengisi perut, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus yang telah kami sewa.

Bus pun mulai melaju mengarah ke Suramadu, jembatan ikonik yang menjadi penghubung Pulau Jawa dengan Madura. Jalanan di Surabaya yang padat menjadi pemandangan dari balik kaca bus. Lima belas menit melaju, bus tiba di pintu gerbang jembatan.

Hamparan Selat Madura mulai terlihat bersamaan dengan jalan yang sedikit menanjak. Tak perlu waktu lama melewati jembatan ini. 15-30 menit adalah waktu normal untuk melewati jembatan sepanjang 5.348 m itu.

Setiba di ujung Suramadu bagian Madura, suasana sangat berbeda dengan Surabaya. Hanya ada warung-warung kecil dan pepohonan yang mengering di sisi jalan. Kontras dengan gedung-gedung di Pulau Jawa.

Tanah lapang yang luas mulai berganti menjadi deretan toko dan rumah penduduk, menandakan kami telah memasuki pusat dari Kabupaten Bangkalan. Selepas beristirahat sejenak, sore hari kami menuju Pelabuhan Kamal. Pelabuhan yang kini tak lagi ramai semenjak Jembatan Suramadu diresmikan.

Jalanan cukup lengang, setelah 30 menit perjalanan kami tiba. Tak seperti pelabuhan-pelabuhan yang pernah saya kunjungi, Kamal memang terlihat sepi. Terlihat hanya sedikit aktivitas, bahkan beberapa dermaga tak lagi digunakan.

Namun, kapal penyebrangan masih silih berganti bersandar di dermaga mengangkut penumpang dan juga kendaraan. Penasaran, saya bertanya harga tiket kepada salah satu penjaga dermaga kamal.

Ternyata cukup murah, hanya Rp 5.000,00 saja. Saya pun bergegas menuju loket tiket yang berdekatan dengan patung karapan sapi, patung yang menjadi saksi bisu kejayaan pelabuhan Kamal.

Kapal perlahan menjauhi dermaga, berlabuh menuju Surabaya. Sore itu suasana kapal cukup ramai. Suara pedagang dan obrolan penumpang menyamarkan suara mesin kapal. Dari kejauhan jembatan Suramadu tampak kokoh menjadi penyambung kedua pulau. Selain itu, kapal-kapal lain yang berlalu-lalang dan mentari di ufuk barat menjadi teman perjalanan sore itu.

Tak terasa 30 menit berlalu, kapal telah sandar di dermaga pelabuhan Surabaya. Para penumpang dan kendaraan pun mulai meninggalkan kapal. Saat itu saya memilih untuk tetap berada di atas kapal.

Tak butuh waktu lama, kapal kembali terisi oleh para penumpang. Kapal pun kembali menuju pelabuhan Kamal, Madura. Setibanya di Pelabuhan Kamal, mentari telah sepenuhnya kembali ke kiblatnya.

Saya dan rombongan pun bersiap melanjutkan perjalanan. Malam ini kami akan menuju Kabupaten Sumenep, kabupaten yang letaknya di ujung timur Pulau Madura. Menurut sang supir bus, waktu tempuh dari Bangkalan menuju Sumenep adalah lima jam.