Kamis, 27 Februari 2020

Lenggak-lenggok Tarian Thailand

Saat berkunjung ke Suanthai Pattaya, traveler akan disuguhi Thai Cultural Show. Suatu pentas keragaman tarian dari enam wilayah yang ada di Thailand.

Di Suanthai Pattaya, kita akan bisa menemukan aneka kearifan lokal dan keragaman budaya Thailand dalam satu tempat.

Salah satu yang menarik di tempat ini, pengunjung akan disajikan Thai Cultural Show yang berupa tarian tradisional dari enam wilayah yang ada di Thailand.

Thailand sendiri terbagi menjadi enam wilayah yang meliputi Thailand Utara, Thailand Timur Laut, Thailand Barat, Thailand Pusat, Thailand Timur dan Thailand Selatan.

Sistem pembagian enam wilayah Thailand dikembangkan pada tahun 1978 oleh Komite Nasional Geografi Kerajaan Thailand.

Setiap wilayah Thailand memiliki adat istiadat dan seni beragam, selayaknya ragam budaya yang dimiliki suku di Indonesia. Oleh karena itu, baik gerakan, pakaian dan musiknya memiliki ciri khas tersendiri.

Satu persatu penari menampilkan keterampilan dan gemulainya gerakan mereka, baik pria maupun wanita.

Sebetulnya dalam narasi maupun nyanyian yg ditampillkan, saya yakin menyampaikan suatu cerita atau legenda lokal, namun sayang karena dalam bahasa Thailand tidak dapat saya pahami.

Pertunjukan Thai Cultural Show ini hanya diadakan pada jam tertentu, yaitu jam 11.30, 13.00, 15.00 dan 16.30. Pastikan tidak terlewat waktu pertunjukannya saat berkunjung ke Suanthai Pattaya ya traveller.

Selepas pertunjukan, terdapat sesi foto, dimana pengunjung bisa berfoto dengan para penari di panggung. Penarinya pun cukup ramah dan sebagian diantara mereka yg bisa berbahasa Inggris menyapa kami.

Lucunya jelang sesi foto mereka menyap kami dengan Mabuhay, karena wajah saya dan para pemenang D'traveller of The Year 2018 mirip dengan orang Filipina.

Miris, Pantai di Lhokseumawe Penuh Sampah Hingga Limbah Kelapa Muda

Pantai Ujong Blang, Lhokseumawe, Aceh dipenuhi limbah kelapa muda dan sampah plastik. Wisatawan yang berkunjung merasa risih & kurang nyaman dengan kondisi demikian.

Pantauan detikTravel, sampah-sampah seperti limbah kelapa muda, botol plastik, plastik dan sejumlah barang bekas makanan lainnya baik yang ditinggalkan oleh para pengunjung maupun para pedagang di kawasan tersebut.

"Banyak sekali sampahnya. Kurang nyaman aja. Pinginnya kan tempat wisata itu asri, bersih dan nyaman," kata salah seorang pengunjung, Aziz kepada detikTravel, Jumat (15/2/2019).

Dia menyebutkan seharusnya pemerintah setempat terus mengawasi aktivitas di sepanjang pantai yang kerap dikunjungi warga sebagai tempat wisata. Jangan sampai, sampah-sampah menumpuk tanpa dibersihkan.

Jika sampah banyak dibibir pantai, tentu kenyamanan warga yang berkunjung agak risih dan berdampak tidak kepinginnya lagi mereka berkunjung ke Pantai Ujong Blang yang sudah dikenal oleh masyarakat Lhokseumawe dan beberapa daerah disekitarnya.

"Agak risih kita lihatkan. Harusnya ada upaya yang dilakukan pemerintah menjaga kebersihan bibir pantai. Dan bagi para pengunjung maupun pedagang juga harus ikut menjaga bersihnya tempat wisata. Jangan buang sampah sembarangan," sebut Aziz.

Pantai Ujong Blang terletak di Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Pantai tersebut mendiami beberapa desa di kecamatan tersebut dan jaraknya tidak jauh dari pusat kota bekas petro dollar tersebut.

Lion Air Sebut Laba-laba, Komunitas Yakin Itu Kalajengking

Manajemen Lion Air menduga binatang dalam penerbangan JT-293 Pekanbaru-Jakarta adalah laba-laba. Namun dari video, komunitas hewan yakin itu kalajengking.

Hal itu diungkapkan oleh Seno Arifansyah, Pendiri Komunitas Pecinta Kalajengking Indonesia. Seno menjelaskan sesuai video yang beredar, ia mengatakan binatang yang ada di kabin pesawat Lion Air itu memiliki ciri-ciri seekor kalajengking.

"(Itu) Kalajengking, berekor, bercapit. Dan laba-laba nggak ada ekornya," kata dia dalam pesan singkat pada detikTravel, Jumat (15/2/2019).

Menurut Seno, laba-laba tak semengerikan kalajengking ketika menampakkan dirinya di tempat umum. "Lion membuat statement seperti itu karena image kalajengking itu lebih mengerikan daripada laba-laba," ucap Seno..

Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan tertulis, mengatakan penerbangan Lion Air JT-293 pada (14/02) sudah dipersiapkan secara baik. Pesawat Boeing 737-800NG registrasi PK-LPK sebelum dioperasikan sudah dilaksanakan pengecekan lebih awal (pre-flight check) dan dinyatakan laik terbang (safe to flight).

"Dari hasil pengamatan menurut video ataupun gambar yang berkembang, binatang dimaksud menyerupai seekor laba-laba," ujar Danang.

Berdasarkan data catatan perawatan, lanjut Danang, terjadwal pesawat registrasi PK-LPK, Lion Air sudah melaksanakan pengendalian hama dan binatang berupa fumigasi pada 19 Oktober 2018 dan pest control pada 6 Februari 2019.

"Terkait dengan laporan salah satu penumpang yang menyebutkan adanya satu binatang berjenis kalajengking di bagasi kabin (head rack) sesaat setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta serta perkembangan berita, atas hal ini masih dilakukan penyelidikan intens dan lebih lanjut," tutur Danang.

Jika traveler ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia kalajengking bisa mengikuti akun Instagram seno di senononsen dan Kalajangking_id. Sementara ini, binatang di pesawat Lion Air JT-293 Rute Pekanbaru ke Soekarno-Hatta, Tangerang masih menjadi tanda tanya keberadaannya sekarang.

Lenggak-lenggok Tarian Thailand

Saat berkunjung ke Suanthai Pattaya, traveler akan disuguhi Thai Cultural Show. Suatu pentas keragaman tarian dari enam wilayah yang ada di Thailand.

Di Suanthai Pattaya, kita akan bisa menemukan aneka kearifan lokal dan keragaman budaya Thailand dalam satu tempat.

Salah satu yang menarik di tempat ini, pengunjung akan disajikan Thai Cultural Show yang berupa tarian tradisional dari enam wilayah yang ada di Thailand.

Thailand sendiri terbagi menjadi enam wilayah yang meliputi Thailand Utara, Thailand Timur Laut, Thailand Barat, Thailand Pusat, Thailand Timur dan Thailand Selatan.

Sistem pembagian enam wilayah Thailand dikembangkan pada tahun 1978 oleh Komite Nasional Geografi Kerajaan Thailand.

Setiap wilayah Thailand memiliki adat istiadat dan seni beragam, selayaknya ragam budaya yang dimiliki suku di Indonesia. Oleh karena itu, baik gerakan, pakaian dan musiknya memiliki ciri khas tersendiri.

Satu persatu penari menampilkan keterampilan dan gemulainya gerakan mereka, baik pria maupun wanita.

Sebetulnya dalam narasi maupun nyanyian yg ditampillkan, saya yakin menyampaikan suatu cerita atau legenda lokal, namun sayang karena dalam bahasa Thailand tidak dapat saya pahami.

Pertunjukan Thai Cultural Show ini hanya diadakan pada jam tertentu, yaitu jam 11.30, 13.00, 15.00 dan 16.30. Pastikan tidak terlewat waktu pertunjukannya saat berkunjung ke Suanthai Pattaya ya traveller.

Selepas pertunjukan, terdapat sesi foto, dimana pengunjung bisa berfoto dengan para penari di panggung. Penarinya pun cukup ramah dan sebagian diantara mereka yg bisa berbahasa Inggris menyapa kami.

Lucunya jelang sesi foto mereka menyap kami dengan Mabuhay, karena wajah saya dan para pemenang D'traveller of The Year 2018 mirip dengan orang Filipina.