Senin, 24 Februari 2020

Hindari 'Mudik Trap' Saat Pulang Kampung Lebaran Nanti

Saat mudik ke kampung halaman, biasanya dibarengi dengan peningkatan kebutuhan yang luar biasa. Apalagi, jika saudara makin banyak.

Umumnya, mudik identik dengan kebutuhan transportasi melonjak bersama keluarga. Seluruh moda transportasi dan akomodasi seperti jadi buruan masyarakat Indonesia.

Begitu pun dengan beberapa tambahan. Misalnya saja oleh-oleh, yang diperuntukkan pada keluarga. Hal ini jadi momok dan pengeluaran tambahan yang mungkin bisa bikin cekak.

"Jangan sampai, kita terjebak dalam yang namanya Mudik Trap. Harus tahu dulu kebutuhan mendasar yang mana. Mungkin, saat ini kita beli tiketnya dulu. Karena lebih butuh, oleh-oleh dan sewa mobil atau atraksi liburannya bisa nanti," ujar Founder & CEO Jouska Indonesia, Aakar Abyasa dalam jumpa pers H-90 Mudik Lebaran Bersama dengan Tiket.com di Artotel Thamrin, Kamis (21/2/2019).

Aakar juga menambahkan, bahwa saat ini fenomena pengeluaran lebih besar ketika momen mudik bisa jadi mimpi buruk untuk semua orang. Ini karena, banyak orang yang menghabiskan uang untuk waktu tersebut tanpa memikirkan kelanjutan hidup selanjutnya.

"Fenomena saat ini di kelas menengah, makin gede gajinya makin banyak hutangnya. Gaji Rp 6 juta naik ke 8 juta masih gesek kartu kredit. Padahal, sebenarnya bisa diminimalisir," tambah Aakar.

Traveler pun juga harus cerdik ketika mudik Lebaran. Misalnya saja, bisa membeli tiket terlebih dahulu saat jauh-jauh hari. Kemudian, oleh-oleh dan kebutuhan lainnya saat THR datang.

"Kita harus lebih pintar mengatur setiap pengeluaran saat mudik. Jangan sampai, saat pulang laundry nggak bisa bayar, atau kebutuhan lain jadi menambah pengeluaran. Ini fenomena setiap tahun dan tidak bisa dibiarkan terus menerus," ujar Aakar.

Nah, solusinya traveler pun harus mulai menghitung apa saja yang ingin dilakukan saat mudik nanti. Hal ini untuk menghindari pengeluaran yang membengkak pasca mudik.

"Solusinya, kita bisa mengatur dulu apa saja pengeluaran dan pemasukan yang dimiliki. Dibuat dulu mana yang penting mana yang tidak. Ditambah, lihat-lihat promo yang ditawarkan juga membantu," tambah Aakar.

Menteri ESDM Kunjungi Taman Terakota & Nikmati Kopi Osing di Banyuwangi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan melakukan kunjungan kerja ke Banyuwangi. Di sana, Jonan sempat wisata hingga mencoba kopi osing.

Diketahui, Menteri Jonan ke Banyuwangi dalam rangka membuka rapat Dewan Energi Nasional (DEN) yang dilaksanakan di Banyuwangi selama dua hari (21-22/02/2019). Di sela-sela tugasnya tersebut, ia menyempatkan diri untuk menikmati sejumlah destinasi wisata di Bumi Blambangan.

Menteri kelahiran Surabaya itu mengunjungi Taman Gandrung Terakota di lereng Gunung Ijen hingga menikmati Kopi Osing di Sanggar Genjah Arum di Desa Kemiren, Kecamatan Licin Banyuwangi, Kamis (21/2/2019).

"Saya sengaja menaruh rapat DEN di Banyuwangi. Biasanya di Jakarta, tapi saya ingin suasana berbeda. Banyuwangi kan sekarang dikenal dengan pariwisatanya. Jadinya mereka bisa menikmati wisata di Banyuwangi," ujarnya usai menikmati Kopi Osing.

Jonan mengakui jika Pemkab Banyuwangi memiliki keseriusan menggarap pariwisata sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kerakyatan. Hal inilah yang membuatnya mengapresiasi langkah-langkah Banyuwangi untuk mengembangkan wisatanya.

"Banyuwangi merupakan daerah yang memiliki keseriusan membangun daerah. Ini tak semua kepala daerah memilikinya. Saya senang melihat Banyuwangi serius mengembangkan pariwisatanya untuk mengembangkan perekonomian berbasis kerakyatan," ungkapnya.

Pada hari pertama kunjungannya tersebut, Jonan langsung menuju ke Jiwa Jawa Resort. Di tempat tersebut, ia bersama rombongan menikmati sarapan pagi. Ditemani Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, mereka lantas mengunjungi Taman Gandrung Terakota yang berhiaskan seribu patung gandrung di tengah lansekap persawahan yang hijau.

"Iki apik," ungkapnya dengan dialek surabaya saat mengunjungi galeri lukis seniman-seniman Banyuwangi yang juga terpajang di kompleks taman terakota tersebut.

Objek Wisata Ini Genap Jadi yang Tertua di Sulawesi Selatan

Objek wisata Bantimurung di Sulawesi Selatan begitu populer di kalangan traveler. Kumpulan foto lawas membuktikan, kalau Bantimurung telah populer sejak lama.

Tak banyak yang tahu, kalau objek wisata Alam Bantimurung yang ada di Maros, Sulawesi Selatan, merupakan objek wisata tertua di Sulawesi Selatan. Tepat hari ini, Kamis (21/2/2019), objek wisata Bantimurung ini telah berumur 1 abad.

Objek wisata alam yang dikenal sebagai 'Kingdom Of Butterfly' ini, ditetapkan dalam lembar negara pemerintah Hindia Belanda nomor 90 tertanggal 21 Februari 1919 sebagai monumen alam atau 'Natuurmonument Bantimoeroeng Waterval.' Luasnya mencakup 10 hektare.

"Hari ini tepat 100 tahun usia objek wisata alam Bantimurung. Memang banyak orang yang tidak mengetahui ini. Objek wisata ini paling tua di Sulsel," kata Kepala Dinas Pariwisata Maros, Ferdiansyah.

Pencetusan itu dipelopori oleh seorang ahli entomologi Belanda, Marinus Cornelius Piepers bersama beberapa ilmuan lainnya yang bersurat ke pendiri Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda, Sijfert Hendrik Kooders tahun 1915. Surat itu menyebutkan ada ribuan jenis kupu-kupu yang tidak ada di tempat lain dan disayangkan jika punah.

"Perlindungan itu dilatarbelakangi oleh adanya beberapa wilayah yang memiliki nilai ilmiah atau estetika yang khas. Pemerintah Belanda menetapkannya dengan istilah 'Natuurmonument' monumen alam atau cagar alam untuk istilah saat ini," lanjutnya.

Pencetusan Bantimurung sebagai cagar alam, bahkan ditulis oleh koran Belanda: De Preanger-bode edisi 4 Maret 1919 atas siaran pers Sijfert Hendrik Kooders, hingga diketahui secara luas oleh dunia internasional. Hal itulah yang menempatkan Belanda menjadi negara dengan capaian tertinggi konservasi monumen alam, ketimbang Amerika, Jerman, Swiss dan beberapa negara kala itu.

Usai itu, Air Terjun Bantimurung semakin menjadi primadona dan menjadi objek wisata yang digandrungi oleh wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Tak hanya itu, sejumlah ilmuwan juga rela datang jauh-jauh untuk menelisik lebih jauh kupu-kupu yang mendiami wilayah itu.

Melalui surat keputusan Menteri Pertanian Nomor 237/Kpts/Um/3/1981, tertanggal 30 Maret 1981. Status Cagar Alam Bantimurung seluas 18 Hektar berubah menjadi taman wisata, hingga akhirnya berubah status menjadi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di tahun 2004.

Tak hanya pelestarian alam, habitat kupu-kupu yang menjadi ikon Taman Nasional ini, juga terus dilakukan. Mulai dari indentifikasi kupu-kupu, penangkaran hingga monitoring populasi, serta pelibatan masyarakat dalam upaya itu.

"Saat ini taman nasional telah berhasil mengidentifikasi kupu-kupu sebanyak 247 jenis kupu-kupu. Sebanyak 25 jenis di antaranya telah berhasil dikembangbiakkan secara rutin di sanctuary kupu-kupu," kata Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Yusak Mangetan.

Sayangnya, objek wisata yang telah mendunia sejak 1 abad silam itu, dinilai tak lagi 'ramah' pada wisatawan mancanegara. Tiket masuk untuk turis asing sebesar Rp 250 ribu perorang dinilai sangat memberatkan. Objek wisata alam ini pun sepi dari pengunjung mancanegara.