Kamis, 20 Februari 2020

Pulau Pari, Sedikit Hiburan di Utara Jakarta

Pulau Pari sering jadi destinasi liburan buat traveler ibu kota. Bersenang-senang di Pulau Pari jadi sedikit penghiburan bagi warga Jakarta.

Pulau Pari memiliki luasan sebesar 41,32 Ha dan berada di kelurahan Pulau Pari, kecamatan kepulauan seribu selatan dan di bawah pemerintahan kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

Jakarta identik dengan gedung gedung pencakar langit disertai disuguhkan dengan kemacetan di sepanjang jalannya, tapi semua itu saya sebut sebagai keindahan Ibu Kota. Cerita di Ibu Kota, ternyata Jakarta memiliki deretan pulau-pulau yang berada di sebelah utara kota Jakarta terdapat sebuah kecamatan yang dinamakan kepulauan seribu, dari namanya saja kepulauan, berarti kota Jakarta memiliki deretan pulau yang cantik nan Indah, salah satunya seperti pulau pari ini.

Berakhir pekan di kota Jakarta mungkin sebagian besar warga ibu kota banyak menghabiskan waktu untuk pergi ke Bogor, Bandung maupun Tanggerang Banten karna kota tersebut yang paling dekat dengan Ibu Kota Jakarta, namun hal tersebut salah satu alternatif untuk berakhir pekan.

Tidah salahnya sekali kali berakhir pekan ke kepulauan seribu, disini traveler akan disuguhkan hamparan pasir putih yang lembut, air laut yang biru serta bisa snorkeling melihat indahnya biota laut yang beragam seperti di pulau pari ini.

Akhir pekan kemarin saya mencoba menikmati libur di pulau pari, saya dan beberapa teman saya memilih ngecamp di tepi pantai pulau pari. Berawal kita kumpul di pelabuhan kali adem pukul 07.00 WIB dikarnakan perahu yang mengantar kami itu berangkat pukul 08.00 WIB.

Saya membeli sarapan terlebih dahulu supaya kita punya cukup tenaga di perjalanan, tiket perahu untuk sekali perjalanan dari pelabuhan sapai ke pulau pari di bandrol sebesar Rp 47.000,- (empat puluh tujuh ribu rupiah) dan ditempuh selama satu jam perjalanan.

Nah, bukan hanya dari Pelabuhan Kali Adem ini saja loh yang ada akses transportasi menuju ke Kepulauan Seribu, tapi ada juga dari Marina Ancol. Akan tetapi sekali perjalanan tiketnya lumayan juga biasanya di bandrol sebesar Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) dengan waktu tempuh 30 menit sapai 45 menit saja.

Pulau Pari yang dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta ini fasilitasnya sudah memadai dari beberapa penginapan yang disediakan oleh beberapa penduduk asli, serta kawasan yang bersih disamping pelayanan publik yang sudah banyak tersedia.

Kali ini saya bercamp di Pulau Pari ini dengan mengurus perizinan sebesar Rp 15.000 (lima belas ribu rupiah) per malam. Ngecamp di Pari saya tidak banyak kwatir karna kamar mandi umum sudah tersedia. Banyak warung juga yang menyediakan berbagai macam makanan sehingga saya tidak cemas kekurangan logistic ataupun makanan lainnya.

Hamparan pasir putih merupakan ciri khas dari pulau pari itu yang membuat saya pingin balik lagi ke sini, tapi untuk snorkeling menurut saya agak kurang, kenapa? karena terumbu karang yang sudah rusak belum lagi sampah plastik yang bertebaran.

Terus juga terumbu karangnya kalau terkena kulit sedikit aja menimbulkan effect merah, gatal dan agak bengkak. Jadi tipsnya di sini saya saranin kalo trip itu sampah elastiknya jangan buang sembarangan, terus kalo mau snorkeling diusahakan jangan bersentuhan langsung sama terumbu karangnya ya, kalo tidak mau merah merah itu kulit.

Tapi sebelum pergi trip atau liburan jangan lupa buka aplikasi Tiket.com, karna semua rencana liburan kalian pasti ada disana, banyak promo menarik yang bisa didapetin, klo saya paling suka pake buat beli tiket perjalanan dan Hotelnya sich, nih saya kasih tau kalau kalian pesen tiket atau hotel di Tiket.com prosesnya ga ribet.

Terus yang paling saya suka adalah dapet point yang bisa dipake buat potongan harga loh, gimana ga menarik tuh dapet harga tiket murah trus di potong sama discount trus dapet point juga, mantepkan keuntungan berlipat lipat, mau kemana pun semua ada tiketnya, karna pasti #semuaadatiketnya.

Saat Pantai Pink di Pulau Padar Tertutup Sampah

Pantai Pink di Pulau Komodo jadi daya tarik turis berkunjung ke sana. Apa jadinya jika pantai cantik ini tertutup sampah?

Negara Indonesia memang ditakdirkan memiliki bentang alam yang sangat indah dengan berbagai keunikan di dalamnya, salah satunya adalah pantai berwarna biru muda atau yang biasa disebut Pink Beach di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Sudah lama kepopuleran Pink Beach tersohor hingga ke mancanegara dan menjadi destinasi unggulan saat berkunjung ke Labuan Bajo. Tapi baru kali inilah saya berkesempatan mengunjungi pantai tersebut untuk menikmati keindahannya secara langsung.

Demi mewujudkan hal itu, maka seperti biasa saya percayakan pemesanan tiket pesawat melalui aplikasi Tiket.com lewat layar ponsel. Dengan berbagai promo menarik serta fasilitas Smart Reschedule dan Smart Refund membuat perjalanan kita bisa lebih tenang bila terjadi perubahan rencana secara mendadak, karena customer service-nya siap melayani selama 24 jam setiap hari.

Akhirnya saya pilih pemberangkatan tanggal 24 Januari 2018 dari Jakarta langsung ke Labuan Bajo, pulang-pergi, karena di sini kita bisa mendapatkan diskon ekstra.

Sebagian besar orang yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo pasti mengunjungi Pink Beach yang terletak di Pulau Komodo. Dahulu, pantainya memang benar-benar berwarna merah muda. Memang belum pasti apa penyebab pasirnya berwarna merah muda. Namun ada yang berpendapat bahwa pasirnya berasal dari hewan mikroskopik yaitu foraminifera yang memproduksi warna merah muda di terumbu karang. Tapi sayangnya, kini warnanya tidak terlalu pink, hal ini disebabkan karena banyaknya pengunjung yang membawa pasirnya untuk oleh-oleh atau sekadar pajangan.

Sebenarnya, masih ada pantai lain yang berwarna lebih pink di kawasan Taman Nasional Komodo, yaitu Long Beach, letaknya berada di Pulau Padar. Menurut penuturan pemandu lokal di sana, Pulau Padar memiliki setidaknya 10 pantai yang berwarna pink dan tidak kalah indah dengan pink beach di Pulau Komodo.

Saat perahu yang dinaiki menepi ke Long Beach, saya dibuat tercengang. Memang, pasir di pantai ini lebih berwarna pink dan airnya jernih. Tapi sayang sekali, sepanjang pantai yang sebenarnya indah itu telah dipenuhi oleh sampah. Sampah-sampah ini berasal dari pemukiman di daratan lain yang terbawa gelombang pasang, karena bulan Januari cuaca di wilayah perairan Taman Nasional Komodo sedang buruk.

Material sampah yang terdampar ini sebagian besar berupa kayu-kayu dan sampah rumah tangga seperti kantung plastik, botol-botol, sendal, dan juga styrofoam. Tidak ada yang bisa saya nikmati saat itu. Bayangan pantai indah seperti foto-foto yang beredar di instagram selama ini sirna sudah akibat ulah manusia yang buang sampah sembarangan.

Untungnya, saat itu saya dan teman-teman membawa trash bag yang memang sengaja disiapkan untuk mengantisipasi terjadinya hal seperti ini. Tanpa basa-basi dan malu-malu, kami semua memungut sampah-sampah tersebut dengan mengutamakan mengambil sampah non-organik yang dapat merusak lingkungan dan membahayakan satwa.

Memang tidak semuanya sepanjang Long Beach ini bisa dibersihkan karena keterbatasan personil dan juga waktu. Tapi setidaknya apa yang sudah dilakukan cukup mengurangi sampah yang ada dan sangat berpengaruh pada lingkungan tersebut. Selama 30 menit menyusuri pantai, kami dapat mengumpulkan 4 kantung sampah ukuran besar. Semua sampah yang dikumpulkan akan dibawa ke tempat pembuangan sampah di Labuan Bajo.

Malu sekali rasanya saat mengetahui kalau di Labuan Bajo ada komunitas peduli sampah yang digawangi oleh warga negara asing. Justru sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri malah tidak peduli dan selalu menganggap “nanti ada petugas yang membersihkan.

Padahal soal kebersihan adalah tanggungjawab bersama di manapun berada. Sebenarnya, tidak cukup hanya dengan membuang sampah pada tempatnya, tapi juga harus dapat mengurangi konsumsi plastik sekali pakai dengan cara menggantinya dengan bahan yang ramah lingkungan dan bisa dipakai berulang kali.

Perjalanan ke Long Beach yang selama ini saya idamkan tidak berjalan sesuai harapan. Namun saya yakin di kesempatan yang lain akan lebih baik, karena sekarang ke manapun ada tiketnya, yaitu di Tiket.com.