Rabu, 19 Februari 2020

Dihibur Lenggak-lenggok Ladyboy di Yogyakarta

Nama Ladyboy identik dengan pertunjukan oleh para transgender di Bangkok, Thailand. Namun, pertunjukan serupa juga bisa kamu lihat di Yogyakarta.

Apabila kamu mampir ke Kota Gudeg Yogyakarta dan ingin mencari pertunjukan yang rada beda, cobalah mampir ke Hamzah Batik yang beralamat di Jalan Margomulyo no.9. Lokasinya ada di deretan Jalan Malioboro yang populer, tepatnya di sisi kanan kalau dari Stasiun Tugu.

Bagi kamu yang mungkin belum tahu, Hamzah Batik merupakan salah satu usaha milik Hamzah Sulaeman yang merupakan generasi kedua keluarga Grup Mirota. Namanya pun lebih dikenal atas brand Raminten yang tersebar di Yogyakarta.

Kembali ke Hamzah Batik. Destinasi yang satu ini memang populer di kalangan pecinta batik, tapi tidak hanya itu. Apabila mampir ke lantai tiganya, kamu bisa menonton pertunjukan Raminten Cabaret Show yang mirip dengan Calypso Cabaret di Bangkok.

Hanya saja, pertunjukan yang dikenal juga dengan nama Oyot Godhong ini mempunyai ciri khas lokal budaya Jawa yang membedakannya dengan di Bangkok. Pada hari Sabtu kemarin (1/3/2019), detikTravel pun berkesempatan untuk menontonnya langsung.

Berhubung datang langsung atau on the spot, detikTravel memesan tiket pertunjukan kelas reguler seharga Rp 50 ribu. Jika ingin yang lebih spesial seperti kelas VIP, baiknya kamu melakukan reservasi karena tiketnya cepat sekali habis.

Usai membeli tiket, petugas yang berjaga di depan pintu pun segera menandai tangan saya dengan stempel. Setelah itu, jangan lupa menukarkan potongan tiket dengan compliment gratis berupa kentang goreng.

Dengan tiket kelas reguler, saya pun mendapat kursi di bagian bawah panggung. Tanpa nomor, saya pun diberi keleluasaan untuk memilih spot yang masih kosong. Sedangkan kelas VIP mendapat tempat di deret atas yang setingkat dengan panggung. Bedanya terletak pada view yang lebih intim.

Walau pertunjukan baru efektif dimulai pukul 19.00 WIB, tapi penonton telah dihibur oleh pertunjukan keroncong dari pukul 18.30 WIB. Pihak pengelola memang menganjurkan penonton untuk datang dan duduk lebih awal.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 19.00 WIB, pertunjukan utama pun dimulai oleh tarian Jawa. Tampil anggun dalam balutan kemben, terselip di antaranya ladyboy yang tak mau kalah gemulai dengan penampil wanita.

Setelah tarian Jawa usai, pertunjukan pun berganti dengan pertunjukan lagu pop Symphony oleh Clean Bandit. Tentunya bukan penampil sesungguhnya, tapi seorang ladyboy dalam balutan wig pirang dan dress berwarna merah gemerlap.

Saking profesionalnya, sang ladyboy bahkan tampak seperti menyanyi live. Padahal, aslinya ia hanya melakukan lip sync saja. Pertunjukan pun kian meriah setelah penampil dengan nama panggung Chika Chihuahua muncul.

Menyanyikan lagu dangdut dalam bahasa Jawa, Chika tampil energik dalam balutan dress dan stocking ketat. Malah, ia sampai melakukan aksi akrobat di atas panggung yang diikuti dengan tepuk tangan pengunjung.

Acara pun kian panas, setelah Chika melompat keluar dari panggung dan menghampiri pengunjung. Tak sedikit pengunjung pria yang digoda oleh Chika. Malah, Chika juga sempat menghampiri dan nemplok di pengunjung pria yang kebetulan duduk di depan saya. Tawa dan rasa cemas pun bercampur jadi satu.

Setelah beres satu sesi, pertunjukan pun kembali dilanjutkan ke sesi lain tanpa break. Sejumlah persona seperti penyanyi Rihanna, Celine Dion, Elsa dari film animasi Frozen hingga Lisa Blackpink ditampilkan dengan baik oleh para ladyboy.

Pertunjukan pun usai ketika jarum jam menunjukkan angka 20.30 WIB. Total, pertunjukan efektif berlangsung selama satu setengah jam. Sungguh sangat menghibur dan mengundang gelak tawa!

Usai pertunjukan, para ladyboy pun tampil berjajar di luar pintu. Seperti di Bangkok, pengunjung pun dipersilahkan untuk berfoto dengan para ladyboy idolanya. Bedanya, tak dipungut biaya tambahan seperti di Bangkok.

Di amati detikTravel, tak sedikit pengunjung yang sibuk berfoto dengan para ladyboy favoritnya. Ladyboy dengan persona Lisa Blackpink adalah salah satu yang paling populer. Selain berfoto, tak sedikit yang memuji para ladyboy atas aksi mereka.

Malah, ada satu pemandangan unik. Ada seorang ladyboy yang menghampiri seorang pria paruh baya. Agaknya pria itu adalah salah satu yang dijahili oleh ladyboy tersebut saat pertunjukan. Namun, pria tersebut hanya menunjukkan jempol sebagai tanda apresiasi.

Terlepas dari tampilan para ladyboy yang berbeda, tentunya aksi dan kreativitas mereka mengingatkan kita. Bahwa sejatinya mereka adalah manusia yang setara sama dengan kita. Sama-sama ingin dihargai dan diakui oleh masyarakat. Sang pemilik cabaret, Hamzah Sulaeman tentunya adalah orang yang paling berjasa atas hal itu. 

Kota Tua Uchiko, Romansa Zaman Edo di Jepang (2)

Seakan diajak mengulang waktu, wisatawan akan terus dimanja dengan suasana tradisional Jepang. Burung bangau yang jadi hewan sakral bisa dilihat dalam bentuk patung dan dekorasi di atap rumah.

Sekali lagi, traveler diajak menikmati masa lalu di Uchiko-Za. Teater Uchiko-Za adalah satu-satunya teater di kawasan itu pada zaman Edo. Bangunan Uchiko-Za menjadi yang paling besar pada zaman itu.

Uchiko-Za dibangun pada tahun 1916, dalam rangka merayakan kesuksesan Kaisar Taisho. Teater ini menyediakan busana tradisional yang bisa dipakai oleh wisatawan untuk berfoto di panggung.

Uchiko Town bisa ditempuh sekitar 40 menit dari Kota Matsuyama. Wisatawan yang butuh pemandu bisa langsung datang ke sini dan langsung menikmati keindahan Jepang tempo dulu.

Bagian samping rumah di Uchiko Town juga sangat khas. Bagian ini terbuat dari tanah liat dan diberi nama Okabe. Okabe memiliki besi pengait di tengah dinding.

"Tujuan dari besi pengait adalah mempermudah masyarakat dalam memperbaiki atau merawat okabe. Salah satu fungsinya menggantungkan alat-alat tukang saat perbaikan," jelas Matsuyama.

Sambil berjalan, Matsuyama memberikan banyak contoh-contoh rumah zaman Edo. Kawasan ini dirawat dengan sangat baik dan bersih. Wisatawan tidak akan menemukan satu sampah pun di Uchiko Town.

Kebanyakan dari masyarakat Uchiko Town bekerja sebagai petani. Sebagian lagi bekerja di luar kota atau membuka rumahnya sebagai museum komersil.

Ada beberapa museum menarik yang bisa traveler kunjungi di sini. Sebut saja Japanese Wax Museum & Kamihaga Residence. Ini adalah museum lilin yang produknya telah sampai ke Eropa dan Amerika Serikat pada saat itu.

Museum ini dimiliki oleh Keluarga Kamihaga yang memang menjadi pengekspor lilin. Di museum ini, wisatawan akan diajak untuk mengenal pembuatan lilin jaman itu.

Memakai bahan dasar lilin, Keluarga Kamihaga juga merambah dunia kosmetik. Museum ini memiliki satu bangunan khusus yang menjadi tempat pameran produk Kamihaga pada jaman ini.

Wisatawan juga diajak untuk mengenal rumah tradisional peninggalan dari Keluarga Kamihaga. Sebagai orang yang terpandang, rumah Kamihaga sangat unik karena hanya terbuat dari kayu yang disusun.

Kalau sudah puas berkeliling di Japanese Wax Museum & Kamihaga Residence, wisatawan bisa mencari sudut-sudut cantik untuk foto. Uchiko Town menawarkan romansa zaman Edo yang instagrammable.

Udara musim dingin tak menyurutkan semangat rombongan media untuk menikmati Uchiko Town. Suasana teduh dan tenang kawasan ini bikin siapa pun ingin terus foto-foto.

Sesekali, kamu akan menemukan warung-warung suvenir, buah dan kedai teh. Yang paling khas dari Prefektur Ehime, tentu saja buah jeruk yuzu. Harganya cukup murah dan beragam tergantung dari manisnya buah.

Ada pula warung dengan konsep kejujuran lho! Masyarakat bisa membeli sayur dan buah dengan meletakkan uang pas di sebuah bambu yang telah dilubangi.

"Dulu rumah-rumah ini satu kavling besar, terlihat dari bangunan yang menyatu sama lain. Ini bisa dilihat di sisi rumah saat ini," kata Matsuyama.

Rupanya Japanese Wax Museum & Kamihaga Residence bukan satu-satunya museum lilin. Ada toko Japanese Candles yang juga membuat lilin selama 5 generasi.

Toko ini dimiliki oleh Omori Yataro. Di sini, wisatawan bisa melihat dan membeli langsung lilin vegan yang dibuat oleh kelaurga Omori dari zaman edo.

Masih belum puas dengan sejarah dan budaya Jepang? Wisatawan bisa datang dan berkunjung ke Uchiko History & Folklore Museum. Inilah museum yang memamerkan cara hidup masyarakat Ehime di zaman Edo.

Museum ini memakai konsep diorama dengan rekaman percakapan yang sederhana. Museum ini memiliki ruang utama, dapur, lumbung, dan apotek.