Rabu, 19 Februari 2020

Senja Kala dan Akhir Nasib Jumbo Jet Airbus A380

Sejak Airbus menghentikan produksi pesawat A380, maka inilah masa senja kala jumbo jet. Traveler cinta, tapi kalau maskapainya tidak, mau bagaimana lagi.

Dilihat dari CNN Business, Sabu (2/3/2019), Airbus menerima pesanan pesawat A380 yang terakhir untuk maskapai Emirates. Pesawat pamungkas itu akan dikirim pada 2021 nanti.

Maskapai-maskapai Eropa beralih ke pesawat yang lebih kecil karena tuntutan konsumen yang mulai bergeser. Dari pesawat super besar, mereka beralih ke pesawat yang lebih kecil, efisien dan irit bahan bakar.

Pesawat berbadan lebar Boeing juga sedang di senja kalanya. Hanya enam unit yang dikirim pada 2018.

"Sudah jelas bahwa era pesawat komersial yang besar dengan empat mesin akan segera berakhir," kata CEO Airbus Tom Enders.

Pesawat besar dulunya digadang sebagai masa depan dunia penerbangan. Boeing telah mengirimkan lebih dari 1.500 pesawat B747 sejak penerbangan perdananya di Washington 50 tahun lalu.

Pesawat itu langsung menarik hati traveler karena kabin bertingkat dan menikmati inovasi tangga di dalamnya. Maskapai juga menyukai B747 dengan pelanggan awalnya adalah Pan Am dan Japan Airlines, sementara British Airways, Cathay Pacific dan Korean Air adalah operator dengan armada terbesar yang tersisa.

Airbus pada tahun 1970 awalnya berfokus pada pesawat bermesin ganda kemudian melebarkan sayap ke wilayah pesawat berbadan lebar yang menguntungkan yang telah didominasi oleh saingan Amerika-nya, Boeing selama beberapa dekade.

Bandara-bandara besar semakin ramai dan maskapai penerbangan memperjuangkan ruang terbangnya. Ada permintaan pesawat yang lebih besar dan dapat membawa lebih banyak penumpang dan meningkatkan konsumsi bahan bakar pada saat yang bersamaan.

A380 dikembangkan dengan biaya USD 25 miliar dengan taruhan sebuah pesawat mampu membawa lebih dari 800 orang. A380 melakukan penerbangan komersial pertama pada tahun 2007, lepas landas di krisis keuangan global. Salah momen...

Lalu lintas penumpang menurun tajam saat krisis itu terjadi. Pada tahun-tahun berikutnya, banyak masalah bandara yang kepenuhan. Lalu ada pertumbuhan eksplosif maskapai penerbangan regional berbiaya rendah seperti Ryanair. Kemudian, pesawat yang lebih kecil seperti Boeing 787 dan Airbus A320 banjir pesanan.

Meningkatnya biaya bahan bakar dan dorongan untuk mengurangi emisi karbon memberikan pukulan terakhir ke pesawat berbadan lebar. Hal itu dikarenakan pesawat ini membutuhkan 4 mesin untuk mengudara. Sejauh ini, Airbus hanya membuat 234 pesawat A380, kurang dari seperempat target 1.200 armada.

"Kami setidaknya 10 tahun atau mungkin lebih, terlambat dengan A380. Kami sedang (sekarang) membangun mesin yang sangat ekonomis yang dapat melakukan banyak pekerjaan kecuali membawa banyak orang," kata Enders.

Boeing masih membuat 777 dengan badan lebar. Sebuah pesawat yang hanya memiliki dua mesin dan Airbus akan terus membuat A350 dan A330 sebagai saingannya.

Emirates kini mati-matian mempertahankan layanan A380 dengan memesan dalam jumlah besar. Tapi maskapai ini akhirnya mengikuti Qantas Australia dengan membatalkan pesanan, dan membeli 70 pesawat yang lebih kecil dari Airbus, campuran model A330 dan A350 terbarunya.

Pesawat 747 secara luas diperkirakan akan menemui akhir nasib yang sama segera. Queen of the Skies atau Ratu Langit tak digunakan lagi atau jarang dioperasikan oleh maskapai besar di Amerika, dengan pengecualian hanya versi kargonya. 

Ini Lho Kembaran Stonehenge di Bondowoso

 Tak perlu jauh-jauh ke Inggris untuk melihat Stonehenge. Bondowoso juga punya susunan batuan yang mirip seperti Stonehenge.

Stonehenge adalah monumen prasejarah di Wiltshire, Inggris. Namun, tahukah traveler bahwa ada kembarannya di Bondowoso?

'Stonehenge' di Bondowoso itu berjuluk Betoh So'on. Nama ini diambil dari dari bahasa lokal warga setempat, yaitu Madura. Betoh (batu), So'on (sunggi, atau membawa barang ditaruh dikepala). Jadi, Batu So'on artinya adalah batu yang bertumpuk-tumpuk seperti disunggi.

Betoh So'on terletak di Desa Solor, Kecamatan Cermee, Bondowoso. Kawasan yang kini tengah dikembangkan menjadi tempat wisata di Bondowoso ini berjarak sekitar 40 km atau dua jam perjalanan dari pusat kota.

Tak terlalu sulit untuk mencapainya. Baik menggunakan motor dan mobil. Sebab, akses menuju lokasi tersebut sudah beraspal mulus. Meski di beberapa titik terdapat tanjakan dan turunan serta jalan berkelok-kelok. Tempat ini bisa jadi destinasi baru untuk liburan akhir pekan.

Jalan menuju ke lokasi juga berupa jalan desa yang ada di tengah perkampungan penduduk dan terlihat masih asri. Sepanjang jalan didominasi hamparan sawah dan ladang yang menghijau. Di beberapa kawasan terdapat hutan serta sungai berbatu yang mengalir jernih.

Ada dua cara menuju Batu So'on. Bisa dimulai dari Bondowoso atau Situbondo. Perjalanan dari dua titik ini bertemunya sama, di pertigaan jalan raya Prajekan. Setelah pertigaan, traveler bisa langsung menuju lokasi melalui Cermee. Dari pertigaan Prajekan jaraknya sekitar 22 km. Maka, sampailah ke lokasi.

Begitu menasuki kawasan Solor, panorama indah sudah mulai terbentang. Sejauh mata memandang, yang tampak adalah gugusan bukit berbatu setinggi 15-30 meteran. Batu-batu tersebut tersusun rapi menumpuk ke atas seolah ditata.

Batuan jenis andesit tinggi menjulang bak menara itu letaknya memang di dasar lembah. Panorama hanya bisa dinikmati dari atas bukit. Tapi jika mau, pengunjung bisa menuruni lembah curam tersebut, lalu dilanjutkan dengan menyusuri hamparan rumput ilalang dan semak hingga mendekat ke gugusan batu.

Sampai saat ini belum ada yang memastikan, bagaimana asal muasal batuan itu hingga tertata sedemikian rupa. Namun, diperkirakan batuan itu tersusun secara alami sejak ribuan tahun yang lalu.

Belakangan, pemerintah daerah setempat mulai membangun sarana prasarana di lokasi tersebut. Pembangunan dilakukan untuk mendukung tempat wisata di Bondowoso yang kini kerap disebut Stonehenge van Java itu.

Sarana penunjang itu antara lain sejumlah fasilitas umum, gardu pandang, serta sejumlah spot khusus untuk berswofoto. Tempat ini relatif aman karena sengaja dibuat dari beton yang sisi kanan dan kirinya berpagar besi. Lokasinya juga dibuat agak menjorok ke arah lembah, agar wisatawan bisa lebih leluasa untuk mendapatkan view dengan latar belakang Batu So'on.

"Kami sengaja prioritaskan dulu fasum dulu sebagai penunjangnya. Misalnya toilet, mushola, tempat parkir, dan lainnya," ujar Adi Sunaryadi, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Olah Raga Bondowoso, kepada detiktravel, Sabtu (2/3/2019).

Menurutnya, karena fasilitas umum itu merupakan sarana vital yang sangat dibutuhkan para pengunjung. Apalagi, lokasi ini relatif jauh dari perkampungan penduduk sekitar. Sehingga kebutuhan sarana tersebut mutlak diperlukan. Setelah itu, barulah dibangun sarana penunjang lainnya.

"Baru kemudian menyusul sarana penunjang lain yang bersifat pengembangan. Sebab, bagaimana pengunjung mau ke situ jika sarprasnya masih susah," paparnya.