Jumat, 14 Februari 2020

Ma'ruf Amin Sebut Rumah Betang di Debat Cawapres 2019, Apa Itu?

Dalam Debat Cawapres 2019, Cawapres Ma'ruf Amin mengungkap 3 kearifan lokal, salah satunya Rumah Betang. Apa itu ya?

Debat Cawapres Pilpres 2019 semalam mencuri perhatian publik karena filosofi yang berhubungan dengan kebudayaan yang diungkapkan Cawapres Ma'ruf Amin. Dia mencontohkan tiga kearifan lokal itu dalam kalimat ini.

"Kami akan terus kembangkan budaya nasional terutama juga kearifan lokal. Kita punya Dalihan Na Tolu, kita punya Pela Gandong, kita punya Rumah Betang," kata Ma'ruf Amin.

Tahukah traveler tentang Rumah Betang? Ini adalah kearifan lokal dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Rumah Betang juga bisa traveler temukan di Kalimantan Barat. Rumah Betang punya makna kekeluargaan, gotong royong, persatuan dan kesatuan.

Dikumpulkan detikTravel, Senin (18/3/2019) Rumah Betang menjadi rumah bagi sejumlah Suku Dayak yang masih tinggal secara tradisional di bantaran hulu sungai. Berbentuk rumah panggung dan panjang, Rumah Betang dibangun dari kayu ulin.

Pada umumnya, hulu Rumah Betang dibangun menghadap ke arah timur dan hilirnya menghadap ke barat. Ada tujuannya lho, menghadap ke timur atau Matahari terbit mengandung aitu kerja keras yaitu bekerja sedini mungkin. Sedangkan menghadap arah Matahari terbenam atau barat mengandung arti akan pulang sebelum matahari terbenam. Begitulah bentuk disiplinnya orang Suku Dayak.

Mudah saja untuk mengenali bentuk fisik Rumah Betang. Rumah ini dibangun di atas ketinggian 3-5 meter dari permukaan tanah, juga panjangnya rumah mulai dari 30-150 meter dengan lebar 30 meter. Memiliki satu tangga masuk dan satu pintu.

Rumah berukuran besar ini menjadi filsafah toleransi antar suku, agam dan ras yang ada di Kalimantan Tengah. Juga ada alasan dan fungsi kenapa Rumah Betang dibangun seperti ini lho.

Pertama, menghindari rumah dari banjir, karena banyak Rumah Betang yang dibangun dipinggir sungai. Kedua melindungi penghuni dari binatang buas dan melindungi penghuni dari musuh.

Rumah ini juga punya bagian-bagian dengan beda fungsi. Ada tiga komponen utama yang dimiliki Rumah Betang. Antara lain ruang depan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat, Karung atau bilik keluarga yang menjadi tempat tidur, serta likid atau ruang dapur. Sejumlah ukiran yang erat kaitannya dengan budaya Dayak pun banyak menghiasi rumah.

Namun di balik bentuk fisiknya yang memanjang dan kokoh, tersimpan makna yang dijaga turun temurun dari leluhur. Mulai dari gambaran tata desa, organisasi sosial hingga sistem kemasyarakat, semua tertuang dalam satu Rumah Betang.

Diketahui, kalau satu Rumah Betang selalu dihuni oleh satu keluarga besar yang terdiri dari beberapa keluarga kecil (bisa mencapai 10 keluarga). Di mana dalam satu keluarga besar dipimpin oleh seseorang yang dikenal sebagai Pembakas Lewu.

Singkatnya, berikut bagian-bagian dari Rumah Betang beserta fungsinya.

1. Sado, ini adalah bagian rumah tempat lalu lalang penghuni, juga tempat musyawarah, tempat menganyam dan lainnya.

2. Padong, ruang keluarga yang biasanya dari masing-masing keluarga memiliki satu padong. Biasanya digunakan untuk berkumpul, makan, minum, dan menerima tamu.

3. Bilik untuk tempat tidur.

4. Dapur, biasanya dibagian belakang dan hanya satu di dalam rumah. Dapur ini untuk memasak satu rumah lho.

5. Bagian tengah biasa dihuni oleh ketua adat.

Dalam beberapa Suku Dayak, pembangunan Rumah Betang pun dilakukan dengan tata cara dan persyaratan tertentu. Mulai dari lokasi rumah yang harus berada di hulu sampai arahnya yang harus sejajar dengan matahari terbit, tidak sembarangan.

Jika traveler jalan-jalan ke Palangkaraya dan ingin melihat Rumah Betang yang masih dihuni dan kental suasana tradisionalnya, memang harus sedikit berjuang. Karena Rumah Betang ini berada di pedalaman dan dekat sungai. 

Mengenal 2 Masjid yang Jadi Lokasi Teror di Selandia Baru

Kejadian teror yang terjadi di dua masjid Christchurch mencoreng citra Selandia Baru. Padahal, kedua masjid itu bersejarah dan penting bagi komunitas setempat.

Teror yang memakan puluhan korban jiwa pada Jumat pekan lalu itu (15/3) diketahui bertempat di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood yang sama-sama berlokasi di Christchurch, Selandia Baru.

Kedua masjid itu pun cukup berdekatan satu sama lain dan sama-sama penting bagi komunitas Muslim di sana. Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Senin (18/3/2019), berikut sejumlah fakta mengenai dua masjid tersebut:

1. Masjid Al Noor

Masjid Al Noor di Deans Avenue menjadi saksi bisu dari penembakan pertama. Diketahui, masjid tersebut juga merupakan yang terbesar di Christchurch sekaligus salah satu yang tertua di Selandia Baru.

Dalam kehidupan masyarakat Muslim Christchurch, masjid tersebut juga memegang peranan penting untuk ibadah dan tempat berkumpul. Faktanya, tak sedikit transmigran Muslim yang beribadah di masjid tersebut.

Sebagai tempat kumpul komunitas Muslim, Masjid Al Noor juga menyediakan kantin dengan masakan halal. Tak hanya umat Muslim, siapa pun disambut di sana dengan tangan terbuka.

2. Masjid Linwood

Selain Masjid Al Noor, aksi teror sadis itu juga terjadi di Masjid Linwood yang berlokasi tak jauh. Serupa dengan Al Noor, Masjid Linwood juga berfungsi sebagai Islamic Center.

Dibangun tahun 2018, Masjid Linwood berdiri di atas bekas gereja. Diketahui, masjid tersebut adalah yang kedua ada di Christchurch.

Itulah beberapa fakta tentang kedua masjid di Christchurch yang jadi saksi kejadian teror naas tersebut.

Ma'ruf Amin Sebut Rumah Betang di Debat Cawapres 2019, Apa Itu?

Dalam Debat Cawapres 2019, Cawapres Ma'ruf Amin mengungkap 3 kearifan lokal, salah satunya Rumah Betang. Apa itu ya?

Debat Cawapres Pilpres 2019 semalam mencuri perhatian publik karena filosofi yang berhubungan dengan kebudayaan yang diungkapkan Cawapres Ma'ruf Amin. Dia mencontohkan tiga kearifan lokal itu dalam kalimat ini.

"Kami akan terus kembangkan budaya nasional terutama juga kearifan lokal. Kita punya Dalihan Na Tolu, kita punya Pela Gandong, kita punya Rumah Betang," kata Ma'ruf Amin.

Tahukah traveler tentang Rumah Betang? Ini adalah kearifan lokal dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Rumah Betang juga bisa traveler temukan di Kalimantan Barat. Rumah Betang punya makna kekeluargaan, gotong royong, persatuan dan kesatuan.

Dikumpulkan detikTravel, Senin (18/3/2019) Rumah Betang menjadi rumah bagi sejumlah Suku Dayak yang masih tinggal secara tradisional di bantaran hulu sungai. Berbentuk rumah panggung dan panjang, Rumah Betang dibangun dari kayu ulin.

Pada umumnya, hulu Rumah Betang dibangun menghadap ke arah timur dan hilirnya menghadap ke barat. Ada tujuannya lho, menghadap ke timur atau Matahari terbit mengandung aitu kerja keras yaitu bekerja sedini mungkin. Sedangkan menghadap arah Matahari terbenam atau barat mengandung arti akan pulang sebelum matahari terbenam. Begitulah bentuk disiplinnya orang Suku Dayak.

Mudah saja untuk mengenali bentuk fisik Rumah Betang. Rumah ini dibangun di atas ketinggian 3-5 meter dari permukaan tanah, juga panjangnya rumah mulai dari 30-150 meter dengan lebar 30 meter. Memiliki satu tangga masuk dan satu pintu.

Rumah berukuran besar ini menjadi filsafah toleransi antar suku, agam dan ras yang ada di Kalimantan Tengah. Juga ada alasan dan fungsi kenapa Rumah Betang dibangun seperti ini lho.