Jumat, 14 Februari 2020

Masjid Tertua di Bitung, Ada Sejak Indonesia Belum Merdeka

Masjid Jami An Nur adalah masjid tertua di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Masjid ini sudah ada sejak Indonesia belum merdeka.

Meskipun mayoritas beragama Kristen, tetapi di Kota Bitung kita masih bisa menemukan masjid dan masyarakat muslim yang tinggal di sekitarnya. Salah satu yang patut dikunjungi traveler adalah Masjid Jami An Nur yang merupakan masjid tertua di Bitung.

Atas undangan dari Dinas Pariwisata Kota Bitung, detikTravel bersama rombongan media dari Jakarta berkunjung ke Masjid Jami An Nur pertengahan bulan lalu. Saat rombongan kami datang, suasana masjid sedang sepi.

Maklum saat itu jam salat Zuhur telah lewat. Apalagi saat itu sedang hari Senin (18/2). Banyak warga sedang beraktivitas di kantor atau pun di bidang pekerjaan lainnya.

Kami pun bertemu dengan Ramli Momonto, Imam Masjid sekaligus warga asli Kelurahan Girian Bawah, tempat dimana Masjid An Nur berada. Ramli bercerita soal asal usul masjid tertua di Bitung ini.

"Ini masjid tertua di Bitung. Sudah ada sejak leluhur-leluhur kami masuk dan membangun Girian. Masjid ini diberi nama oleh Habib Idrus, pendiri Yayasan Al Khairat. Beliau memberikan nama masjid ini sekitar 74 tahun yang lalu, jadi sekitar tahun 1944," kisah Ramli.

Sebelumnya, masjid ini berdiri tanpa nama. Bangunannya dulu juga masih kecil. Seiring berjalannya waktu dan makin bertambahnya jamaah, masjid pun mulai direnovasi sekitar tahun 1966-1969.

Meski sudah mengalami proses renovasi, tetapi bangunan masjid masih memperlihatkan ciri khas arsitekturnya. Menurut Ramli, masjid ini didesain oleh para leluhur mereka, jadinya akan tetap dipertahankan seperti asli.

"Desainnya leluhur kita, para pemuka-pemuka agama. Tiang masjid ada 4 itu asli, masih ada kayunya di dalam. Mimbar juga masih tetap asli," imbuh Ramli.

Penuh dengan sejarah, Masjid Jami An Nur sudah jarang digunakan untuk salat. Keberadaan Masjid Jami baru yang lokasinya tak jauh dari Masjid An Nur jadi alasan mengapa masjid ini sekarang mulai ditinggalkan. Jamaah laki-laki lebih sering salat di masjid baru.

Masjid Jami An Nur kini lebih banyak digunakan untuk Syiar Islam. Masjid ini sekarang sering digunakan sebagai tempat Majlis Talim khusus ibu-ibu yang tinggal di sekitar masjid. Terkadang digunakan juga sebagai tempat salat tarawih bagi ibu-ibu.

Meski sudah jarang dipakai, tapi Masjid Jami An Nur tetap menjadi saksi bisu sejarah panjang Kota Bitung. Traveler bisa berkunjung ke sini untuk berwisata religi sekaligus wisata sejarah di Bitung.

Mengenal 2 Masjid yang Jadi Lokasi Teror di Selandia Baru

Kejadian teror yang terjadi di dua masjid Christchurch mencoreng citra Selandia Baru. Padahal, kedua masjid itu bersejarah dan penting bagi komunitas setempat.

Teror yang memakan puluhan korban jiwa pada Jumat pekan lalu itu (15/3) diketahui bertempat di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood yang sama-sama berlokasi di Christchurch, Selandia Baru.

Kedua masjid itu pun cukup berdekatan satu sama lain dan sama-sama penting bagi komunitas Muslim di sana. Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Senin (18/3/2019), berikut sejumlah fakta mengenai dua masjid tersebut:

1. Masjid Al Noor

Masjid Al Noor di Deans Avenue menjadi saksi bisu dari penembakan pertama. Diketahui, masjid tersebut juga merupakan yang terbesar di Christchurch sekaligus salah satu yang tertua di Selandia Baru.

Dalam kehidupan masyarakat Muslim Christchurch, masjid tersebut juga memegang peranan penting untuk ibadah dan tempat berkumpul. Faktanya, tak sedikit transmigran Muslim yang beribadah di masjid tersebut.

Sebagai tempat kumpul komunitas Muslim, Masjid Al Noor juga menyediakan kantin dengan masakan halal. Tak hanya umat Muslim, siapa pun disambut di sana dengan tangan terbuka.

2. Masjid Linwood

Selain Masjid Al Noor, aksi teror sadis itu juga terjadi di Masjid Linwood yang berlokasi tak jauh. Serupa dengan Al Noor, Masjid Linwood juga berfungsi sebagai Islamic Center.

Dibangun tahun 2018, Masjid Linwood berdiri di atas bekas gereja. Diketahui, masjid tersebut adalah yang kedua ada di Christchurch.

Itulah beberapa fakta tentang kedua masjid di Christchurch yang jadi saksi kejadian teror naas tersebut.

Luhut: Kita di Jalur yang Benar Dalam Pengembangan Pariwisata

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan menyatakan pemerintah dalam jalur yang benar dalam pengembangan pariwisata. Demi devisa di 2019.

"Kita sudah ada di trek yang benar, kalau orang baru bicara akan, namun kita sudah memutuskan langkah-langkah yang menurut hemat saya juga sangat penting," ujar Menko Luhut yang didampingi oleh Menpar Arief Yahya dan Gubernur BI Perry Warjiyo saat menjawab pertanyaan awak media dalam konferensi pers usai Rakor antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan BI di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (18/03/2019) sepetti dalam siaran pers Biro Informasi dan Hukum Kemenko Bidang Kemaritiman.

Dijelaskan oleh Luhut, salah satu langkah yang akan dilakukan adalah dengan membuat format digitalisasi untuk promosi pariwisata. Dimana melalui format digitalisasi itu sudah terbukti ampuh mendatangkan turis saat event annual meeting WB-IMF pada tahun 2018 silam.

"Jadi kita juga akan buat digitalisasi untuk promosi pariwisata, karena kita pengalaman pelaksanaan WB-IMF lalu yang dalam tempo 2 minggu kita bisa tingkatkan turis banyak sekali. Tadi kita sepakat dengan BI dan Kemenpar digitalisasi ini akan kita tingkatkan penggunaannya," jelasnya.

Mengenai pelambatan ekonomi global yang menurut amatan beberapa jurnalis yang hadir dapat mempengaruhi jumlah wisatawan, dia mengatakan belum ada indikasi ke arah sana.

"Sampai dengan hari ini kita belum melihat indikasi kesana, kita juga sudah antisipasi ke arah sana, kita justru melihat jumlah turis akan bertambah. Sekarang kebutuhan liburan orang akan semakin banyak, kelas menengah juga mulai bertambah," katanya.

Luhut lantas memaparkan progress berbagai infrastruktur di wilayah-wilayah yang menjadi destinasi wisata, antara lain Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang akan beroperasi pada bulan April tahun ini untuk internasional dan bulan Oktober untuk semua penerbangan.

"Dampaknya tentu akan membantu meningkatkan jumlah turis yang akan berkunjung ke Borobudur, kita ingin tingkatkan jumlah turis dalam waktu yang tidak terlalu lama menjadi 2 - 2,5 juta turis dari yang semula 1 juta turis," ujarnya.

Kemudian, ada pula Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali dengan adanya second exit runway yang diharapkan rampung pada bulan oktober ini, dampaknya akan bertahap menjadi 39 juta dari sekarang 29 juta penumpang, dan tingkat hunian hotel yang sekarang 60 persen diharapkan meningkat menjadi 80 persen.

Sementara untuk Danau Toba, sudah ada kesepakatan dengan Malaysia, Singapura dan ke depan akan dibuka dari Tiongkok dan India.

"Danau Toba juga akan kita dorong, tahun lalu turis yang masuk sudah 430 ribu, Tahun ini pun masih tetap meningkat, hal seperti ini akan kita kembangkan terus," ungkap Luhut.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, dalam Rakor ini sejumlah kesepakatan yang dilaksanakan di Yogyakarta pada Rakor sebelumnya yang diadakan pada bulan Agustus tahun lalu, sudah dilakukan dengan baik dan dilakukan secara berkesinambungan oleh Pemerintah, BI maupun Pemda.

"Rakor kali ini juga membahas bagaimana langkah bersama yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pariwisata dimana tahun ini adalah target 20 juta kunjungan wisman dengan target 17, 6 milyar USD. Sudah dibahas pula sejumlah strategi dalam koridor 3 A (Akses, Atraksi dan Amenitas) dan 2 P (Promosi dan Pelaku Usaha)," terangnya.