Jumat, 14 Februari 2020

Luhut: Kita di Jalur yang Benar Dalam Pengembangan Pariwisata

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan menyatakan pemerintah dalam jalur yang benar dalam pengembangan pariwisata. Demi devisa di 2019.

"Kita sudah ada di trek yang benar, kalau orang baru bicara akan, namun kita sudah memutuskan langkah-langkah yang menurut hemat saya juga sangat penting," ujar Menko Luhut yang didampingi oleh Menpar Arief Yahya dan Gubernur BI Perry Warjiyo saat menjawab pertanyaan awak media dalam konferensi pers usai Rakor antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan BI di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (18/03/2019) sepetti dalam siaran pers Biro Informasi dan Hukum Kemenko Bidang Kemaritiman.

Dijelaskan oleh Luhut, salah satu langkah yang akan dilakukan adalah dengan membuat format digitalisasi untuk promosi pariwisata. Dimana melalui format digitalisasi itu sudah terbukti ampuh mendatangkan turis saat event annual meeting WB-IMF pada tahun 2018 silam.

"Jadi kita juga akan buat digitalisasi untuk promosi pariwisata, karena kita pengalaman pelaksanaan WB-IMF lalu yang dalam tempo 2 minggu kita bisa tingkatkan turis banyak sekali. Tadi kita sepakat dengan BI dan Kemenpar digitalisasi ini akan kita tingkatkan penggunaannya," jelasnya.

Mengenai pelambatan ekonomi global yang menurut amatan beberapa jurnalis yang hadir dapat mempengaruhi jumlah wisatawan, dia mengatakan belum ada indikasi ke arah sana.

"Sampai dengan hari ini kita belum melihat indikasi kesana, kita juga sudah antisipasi ke arah sana, kita justru melihat jumlah turis akan bertambah. Sekarang kebutuhan liburan orang akan semakin banyak, kelas menengah juga mulai bertambah," katanya.

Luhut lantas memaparkan progress berbagai infrastruktur di wilayah-wilayah yang menjadi destinasi wisata, antara lain Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang akan beroperasi pada bulan April tahun ini untuk internasional dan bulan Oktober untuk semua penerbangan.

"Dampaknya tentu akan membantu meningkatkan jumlah turis yang akan berkunjung ke Borobudur, kita ingin tingkatkan jumlah turis dalam waktu yang tidak terlalu lama menjadi 2 - 2,5 juta turis dari yang semula 1 juta turis," ujarnya.

Kemudian, ada pula Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali dengan adanya second exit runway yang diharapkan rampung pada bulan oktober ini, dampaknya akan bertahap menjadi 39 juta dari sekarang 29 juta penumpang, dan tingkat hunian hotel yang sekarang 60 persen diharapkan meningkat menjadi 80 persen.

Sementara untuk Danau Toba, sudah ada kesepakatan dengan Malaysia, Singapura dan ke depan akan dibuka dari Tiongkok dan India.

"Danau Toba juga akan kita dorong, tahun lalu turis yang masuk sudah 430 ribu, Tahun ini pun masih tetap meningkat, hal seperti ini akan kita kembangkan terus," ungkap Luhut.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, dalam Rakor ini sejumlah kesepakatan yang dilaksanakan di Yogyakarta pada Rakor sebelumnya yang diadakan pada bulan Agustus tahun lalu, sudah dilakukan dengan baik dan dilakukan secara berkesinambungan oleh Pemerintah, BI maupun Pemda.

"Rakor kali ini juga membahas bagaimana langkah bersama yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pariwisata dimana tahun ini adalah target 20 juta kunjungan wisman dengan target 17, 6 milyar USD. Sudah dibahas pula sejumlah strategi dalam koridor 3 A (Akses, Atraksi dan Amenitas) dan 2 P (Promosi dan Pelaku Usaha)," terangnya.

Menyambangi Pulau Rinca, Awas Nabrak Komodo!

Di Pulau Rinca komodo ada di mana-mana. Kadang, keberadaannya tak terdeteksi oleh mata manusia. Padahal bila menabrak komodo, bisa fatal jadinya.

Pengalaman seru ini dirasakan detikcom pada Senin (25/2/2019). Bersama tim Teras BRI Kapal Bahtera Seva II, kami bergerak dari dermaga Desa Pasir Panjang menuju dermaga Loh Buaya menggunakan perahu bermotor, pukul 11.53 WITa.

Laut sedang tenang, terumbu karang terlihat jelas dari balik permukaan air yang jernih seperti kristal. Di tengah laut saat perjalanan, kerucut-kerucut raksasa warna hijau menjulang di sana-sini. Perbukitan itu seolah mampu memaksa kamera ponsel untuk terus aktif membidik.

Sampai di dermaga Loh Buaya setelah perjalanan sejam, kami melangkah ke dermaga kayu dan disambut pemandu bernama Kasmir Wan (37). Ada gerbang berbentuk patung dua komodo raksasa di Taman Nasional ini. Menurut saya, kulit patung komodo ini persis dengan gambaran yang biasa terlihat di televisi atau internet.

"Tapi bentuk kepalanya lebih mirip tokek kalau itu," kata Kasmir Wan sambil tersenyum. Kasmir adalah 'natural guide' lulusan kursus pemandu yang dikelola koperasi Taman Nasional Komodo. Sehari-harinya, dia selalu melihat komodo. Jadi dia tahu betul bahwa bentuk kepala komodo tidak seruncing patung itu.

Saya semakin penasaran, seperti apa rupa komodo sebenarnya, apakah sama seperti yang terlihat di televisi atau tidak. Di dekat gerbang sudah ada jejak keberadaannya, yakni kotoran komodo. Melangkah hingga ke pohon, nampak tiga kerbau sedang berkubang di lumpur pekat. Ini adalah kerbau liar mangsa komodo.

Kasmir dan pemandu-pemandu lainnya dibekali kayu bercabang berbentuk huruf Y sebagai alat untuk menghalau komodo. Untuk meminimalisir risiko, dia mengimbau agar tidak ada yang mengayun-ayunkan barang bawaan di area ini. Gerakan mengayun seperti itu berpotensi memancing serangan komodo.

Di siang hari yang terik ini, saya melanjutkan langkah berharap keberuntungan bisa berjumpa dengan kadal purba raksasa itu. Mata celingak-celinguk ke segala arah, tapi Kasmir tiba-tiba memperingatkan saya.

"Lihat di sebelah kiri, lihat tidak?" kata Kasmir.

Saya langsung menengok ke sebelah kiri bawah. Jantung tiba-tiba berdegup kencang. Saya hampir saja menabrak komodo sepanjang tiga meter yang sedang nongkrong di bawah pohon. Jaraknya hanya empat langkah. Bila Kasmir tidak memperingatkan saya, pasti kaki ini sudah terantuk reptil itu. Padahal hewan itu punya air liur yang sangat beracun. Bukan hanya satu, tapi dua ekor komodo di depan langkah saya.

Namun diamat-amati, dua komodo ini terlihat santai-santai saja. Kepalanya menempel ke tanah. Di titik lain berjarak 50 meter, ada lagi komodo dengan ukuran lebih kecil. Mereka semua terlihat malas siang ini. Ternyata kesan malas ini sering mengecoh, karena komodo bisa berubah sikap 180 derajat menjadi buas.

"Mereka ini memang tidak bisa ditebak," kata Kasmir.

Di sini pengunjung bisa berfoto dengan hewan komodo. Sesi foto dilakukan bergiliran. Dua petugas membantu, yang satu mengatur giliran, dan yang kedua membidik dengan kamera atau ponsel pengunjung. Hasilnya, komodo terlihat besar di potret. Sesi foto ini bukan dilakukan tanpa kewaspadaan. Komodo ini tidak dikerangkeng seperti di kebun binatang, tapi berjalan-jalan di tanah terbuka. Hewan ini bisa berlari dengan kecepatan 18 hingga 20 km/jam.

Ini adalah pengalaman seru. Kata Kasmir, banyak turis tidak seberuntung kami. Tak jarang wisatawan dari luar negeri berkunjung tanpa berjumpa komodo. Akan lebih beruntung lagi bila wisatawan melihat komodo berburu mangsa, namun itu jarang terjadi karena Pulau Rinca luas dan komodo hanya makan sebulan sekali dalam jumlah banyak.

"Waktu yang tepat untuk mengunjungi Loh Buaya Pulau Rinca adalah pagi hari. Kalau mau melihat komodo sedang berburu mangsa, tidak bisa ditebak kapan waktunya," kata Kasmir.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di *Ekspedisi Bahtera Seva*.