Sabtu, 08 Februari 2020

Batu Payung yang Ambruk di Mandalika, Umurnya 10 Juta Tahun

Sayang betul, Batu Payung yang unik di Mandalika, Lombok Tengah ambruk. Padahal menara batu ini umurnya ditaksi 10 juta tahun.

Proses pembentukan jenis bebatuan Batu Payung itu membutuhkan waktu sekitar sepuluh jutaa tahun. Tak heran jika banyak traveler yang merasa kehilangan. Melalui media sosial, mereka mengenang keberadaan Batu Payung.

Pakar geologi dari Dinas ESDM Pemprov NTB, Kusnadi menjelaskan proses pembentukan serta jenis bebatuan unik yang selama ini menjadi destinasi wisata yang sangat ikonik di Lombok bagian selatan itu.

"Batu Payung merupakan batuan pyroklastik yang dalam ilmu geologi namanya tufa atau lapili dengan sisipan batu gamping," kata Kusnadi, Rabu (3/4/2019).

Kusnadi menjelaskan bahwa batuan jenis pyroklastik ini terbentuk oleh proses vulkanisme sekitar 30 juta tahun yang lalu. Proses pembentukan bebatuan ini karena old marine volcano atau gunung api tua bawah laut. Menurutnya, batuan ini adalah salah satu jenis batuan tertua di pulau Lombok.

"Dalam prosesnya batuan ini sekitar 10 juta tahun yang lalu terangkat ke permukaan oleh proses tektonik dan membentuk pulau Lombok bagian selatan seperti saat ini," papar Kusnadi.

Penampakannya yang menyerupai payung itu diakibatkan dari adanya pengikisan oleh ombak atau abrasi. Bagian-bagian yang sedikit lebih keras akan bertahan dan yang lebih lembek akan terkikis dan mudah terlepas.

"Dulunya Batu Payung menyatu dengan pulau utama, tapi karena terkikis terus makanya memisah dan membentuk morfologi seperti payung," ungkap Kusnadi.

"Oleh karena itu, kejadian runtuhnya batu payung bisa merupakan kejadian alami dimana bagian bawah yang terus terkikis oleh ombak sudah tidak mampu lagi menahan keseimbangan material bagian atas sehingga runtuh," sambungnya.

Proses pembentukan kembali jenis batu pyroklastik ini sudah tidak ada lagi, karena gunung api bawah laut yang berada di sekitar kawasan itu sudah mati jutaan tahun yang lalu.

"Batuannya sih masih banyak di sepanjang bukit Teluk Awang, seperti Merese dan di daerah Batu Payung semua batuan pyroklastik," jelasnya.

Hal yang membedakan Batu Payung adalah bentuknya yang unik. Semua itu lebih disebabkan dari adanya aktivitas pengikisan oleh ombak yang berlangsung ribuan bahkan jutaan tahun.

Kusnadi mengatakan hampir semua batuan di Lombok adalah batuan pyroklastik. Produk bebatuan Gunung Rinjani juga termasuk batuan yang sama.

Ada suatu hal yang membedakan di bagian selatan Lombok, di sana terkenal dengan batuan gunungapi bawah laut (old marine volcano), di mana gunung apinya meletus di dalam laut.

"Itu merupakan salah satu keunikan di bagian selatan Lombok," kata Kusnadi.

Seharian di Kota Bandung, Ini Destinasinya

 Suasana sejuk dan indahnya Bandung tak pernah sepi dari wisatawan. Libur sehari, ini ragam atraksi yang bisa traveler lakukan di sana.

Jalanan Kota Bandung di pagi hari masih sejuk dan menyenangkan untuk diisi dengan jalan santai atau lari pagi. Setelah puas berolahraga santai, jangan lupa mengisi perut dengan sarapan aneka pilihan di Kota Bandung.

Seperti di Jalan Kelenteng, dekat Kebon Jati, Bandung, setiap pagi banyak gerobak pedagang yang berjejer menajajakan sarapan nikmat. Lontong kari, bubur ayam, nasi laksa, nasi campur, kupat tahu, nasi uduk, nasi kuning, dan berbagai jajanan pasar bisa menjadi pilihan sarapan para traveler.

Setelah puas sarapan, traveler bisa mengeksplore Kota Bandung, mulai dari taman-taman ikonik, kafe, atau tempat bernuansa budaya seperti Saung Angklung Udjo. Di Saung Angklung Udjo, traveler bisa menyaksikan pertunjukan angklung dan wayang.

Saung yang dikelola secara turun-temurun oleh keluarga Udjo ini tak pernah sepi pengunjung, baik traveler domestik maupun mancanegara. Traveler akan disuguhkan beberapa sesi pertunjukan, seperti belajar bermain angklung bersama, konser musik angklung oleh anak-anak binaan Saung Angklung Udjo, pertunjukan tari-tarian, pertunjukan wayang, dan diakhiri dengan konser angklung yang mengaransemen lagu-lagu populer dunia seperti Heal The World, Theme Song Mission Impossible, dan lain sebagainya.

Konser terakhir ini dibawakan oleh grup yang sudah kerap diundang ke berbagai negara untuk melakukan pertunjukan angklung.

Selanjutnya, traveler bisa bersantap siang di restoran ala Korea yang ada di Jalan Sawunggaling. Selain makanan berat khas Korea seperti jjapchae, bulgogi, bibimbap, nasi campur, ramyun, jangan lewatkan nikmati dessert pancake kacang merahnya yang enak. Pancake kacang merah ini merupakan salah satu menu andalan dan favorit para traveler bertajuk Chingu ini.

Menjelang malam, traveler bisa menuju Dago Pakar untuk menikmati suasana malam yang syahdu dan tenang di puncak-puncak bukit. Ada banyak kafe atau resto di Dago Pakar yang menyuguhkan pemandangan lampu-lampu Kota Bandung di bawah kaki bukitnya.

Pawai Budaya NTB dan Tradisi Pakai Sarung di Kepala

Tradisi budaya menjadi satu atraksi menarik suatu daerah. Di Dompu, NTB sedang diadakan pawai budaya yang masyarakatnya pakai sarung tapi di kepala.

Setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing sebagai penanda kekayaannya, salah satunya adalah busana budaya atau pakaian yang mewarisi suatu daerah itu.

Seperti di Daerah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di daerah dengan slogan Nggahi Rawi Pahu itu, memiliki busana budaya yang turun temurun bahkan hingga saat ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat nya. Mereka menyebutnya Busana Rimpu Tembe.

Seperti yang berlangsung pada Rabu (03/04/2019) pagi ini, seluruh elemen masyarakat Dompu mengikuti dan meramaikan acara pawai budaya. Hampir semua perempuan Dompu dari berbagai usia mengenakan pakai rimpu.

Rimpu Tembe dalam bahasa Indonesia berarti memakai sarung dengan cara dililit di kepala dan terurai hingga bagian kaki. Tradisi busana ini sudah ada sejak jaman sebelum masehi atau 5.000 tahun yang lalu.

Terdapat dua jenis cara rimpu tembe yang dikenal oleh masyarakat Dompu, diantaranya Rimpu Mpida dan Rimpu Colo. Dua jenis rimpu ini mengandung arti dibaliknya.

Pertama Rimpu mpida atau memakai sarung menutupi seluruh bagian kepala dan wajah hanya terlihat mata saja, adalah rimpu yang menandakan pemakainya itu wanita yang belum menikah atau masih perawan.

Kedua Rimpu Colo. Jenis ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rimpu mpida, namun yang membedakannya adalah bagian muka dibiarkan terbuka atau kelihatan. Jenis ini menandakan pemakainya wanita yang sudah menikah atau pernah menikah.

Diketahui sudah adanya budaya ini sejak lama, dibuktikan dengan ditemukannya gerabah hasil pertukaran antara Pemerintah China dan warga pribumi Dompo (sebutan Dompu masa lampau) oleh Arkeolog Bali di Wilayah situs Nanga Doro, Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu.

Setelah dilakukan penelitian, gerabah tersebut sudah berumur 5.000 tahun sebelum masehi. Saat ini, gerabah tersebut telah disimpan di museum arkeolog Denpasar Bali.

Sarung yang digunakan untuk Rimpu ini adalah sarung Nggoli sarung khas Dompu hasil tenunan asli dari bahan alam.

Pada awal-awal penggunaannya, busana rimpu hanya menggunakan satu sarung yang panjang atau ukurannya mengikuti ukuran tubuh pemakainya. Namun seiring dengan perkembangan jaman, atau masuk pada era revolusi industri pada abad ke 17, sarung tenun juga mengalami perubahan.

Jenis sarung yang awalnya mengikuti ukuran tubuh perempuan atau hanya menggunakan satu sarung saja, kini rimpu menggunakan dua sarung, satunya untuk dililit di kepala, dan satunya lagi untuk sanggentu atau dipakai seperti Rok pada bagian perut terurai hingga kaki.

Meski tergerus jaman, tradisi ini masih dapat ditemui di daerah-daerah pedalaman di Dompu, seperti di Desa Saneo Woja, Desa Ranggo Pajo, Desa Hu'u juga Desa Mbuju Kilo.

Untuk terus melestarikan tradisi busana budaya ini, Pemda Dompu NTB menggelar acara pawai budaya dengan pakaian adat daerah. Acara pawai ini digelar setiap tahun untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Dompu.

Sementara untuk laki-laki nya mengenakan pakaian adat juga yang disebut Saremba dan Kantete Tembe. Saremba berarti memakai sarung seperti slempang, sementara Katente adalah memakai sarung yang dililit diperut dan dibiarkan terurai hingga bagian Kaki.