Jumat, 07 Februari 2020

Pengembangan The Kaldera Akan Sentuh Desa Wisata Sigapiton

Pengembangan The Kaldera akan dilakukan di destinasi yang berada di Sibisa, Kecamatan Ajibata, Toba Samosir, yakni desa wisata Sigapiton. Tidak hanya itu, strategi marketing pun sudah disiapkan.

The Kaldera yang diresmikan Kamis (4/4) lalu oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya akan berada di bawah Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT). Sebagai pengelola, BPODT akan merangkul Founder dan CEO Keiski Hotel, Ren Tobing. Sebagai seorang profesional, Ren menilai langkah yang sudah dilakukan BPODT di The Kaldera sangat luar biasa.

"Saya orangnya realistis. Kalau sebuah proyek tidak ada potensinya tidak akan saya ambil. Tapi kalau ada potensinya dan belum dibangun saya justru akan mendorong agar potensi itu digali. Dan apa yang sudah dilakukan BPODT sangat luar biasa. Dalam 2 bulan mereka bisa membuat destinasi seperti ini dan tetap menjaga kelestarian kawasan," ungkap Ren dalam keterangan tertulis, Minggu (7/4/2019).

Ia menjelaskan konsep nomadic yang dibangun sangat tepat dan sesuai dengan karakter yang berada di sekitar venue. Apalagi lokasinya sangat dekat dengan Desa Wisata Sigapiton.

"Saya tidak bisa bayangkan jika yang dibangun adalah hotel bertingkat. Akan sangat aneh menurut saya karena tidak sesuai dengan kawasannya," terangnya.

Ren pun mengaku sejak awal ia sudah memikirkan konsep pengembangan The Kaldera. Salah satunya membuat destinasi ini terintegrasi dengan Desa Wisata Sigapiton dan Danau Toba.

"Sejak awal kita sudah siapkan pengembangan The Kaldera. Misalnya, kita punya rencana membuat jalur trekking dari Desa Sigapiton ke The Kaldera. Pasti menarik karena memberikan pengalaman buat mereka yang suka adventure. Jalur pun sudah kita petakan dan tidak akan merusak ekosistem sekitarnya," terang Ren.

Karena Desa Sigapiton berada di pinggir Danau Toba, ia pun berencana menghadirkan wisata bahari. Jika terealisasi, akses menuju The Kaldera pun akan bertambah. Selain jalur darat, juga bisa melalui jalur air via Danau Toba. Belum lagi jika Bandara Sibisa beroperasi.

Menurutnya, integritas antara Desa Sigapiton dan The Kaldera akan menguntungkan masyarakat karena wisatawan yang hadir ke Desa Sigapiton akan semakin bertambah. Hal ini bisa berpengaruh pada pendapatan masyarakat dan pengembangan Desa Sigapiton.

Ren juga telah memikirkan strategi pemasaran The Kaldera. Menurutnya, hal yang terpenting adalah memetakan karakter wisatawan.

"Kita harus cari tahu karakter wisatawan Asia Tenggara seperti apa, kemudian dari Timur Tengah juga seperti apa. Untuk The Kaldera, menurut saya sangat tepat dengan karakter wisatawan Eropa karena mereka suka wisata petualangan," paparnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo mengakui pengembangan akan terus dilakukan setelah The Kaldera diresmikan.

"Kita akan memikirkan agar The Kaldera nyaman buat anak-anak, juga lansia. Yang pasti pengembangan akan terus kita lakukan karena kita ingin menjadikan The Kaldera sebagai destinasi terdepan di kawasan Danau Toba," terangnya.

Sedangkan Ketua Tim Percepatan Nomadic Tourism Waizly Darwin mengatakan The Kaldera akan menghadirkan beragam fasilitas yang sangat lengkap. Mulai dari fasilitas kuliner hingga fasilitas wisata lainnya seperti helitour.

"Masih banyak yang bisa kita kembangkan di The Kaldera. Salah satu fasilitas yang akan kita kembangkan adalah nomadic helitour. Kita akan ajak wisatawan menikmati Danau Toba dari udara. Kita juga hadirkan nomadic coffee trail. Konsepnya adalah mengajak wisatawan berkeliling ke perkebunan kopi yang ada di sekitar The Kaldera. Yang pasti, The Kaldera bisa menyajikan banyak fasilitas dalam satu destinasi, dengan konsep nomadic tentunya," papar Waizly.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan The Kaldera akan menjadi salah satu nomadic tourism terdepan di Indonesia. Sebab, The Kaldera menghadirkan beragam amenitas yang bagus dan nyaman.

"Tapi dengan karakternya saya menilai The Kaldera ini sangat cocok untuk menjadi destinasi nomadic amenitas karena lokasinya sangat bagus, sangat nyaman. View yang ditampilkan juga sangat keren. Apalagi The Kaldera memiliki amenitas yang keren-keren. Seperti Cabin dan Bubble Tent. Mereka juga mendapatkan view Danau Toba yang eksotis. Jadi The Kaldera ini memang luar biasa," pungkas Arief. 

Kamis, 06 Februari 2020

China Punya Cara Unik untuk Blacklist Wisatawan Nakal

Keberadaan turis atau wisatawan nakal memang jadi momok di dunia pariwisata. Namun, pengelola pariwisata Beijing punya cara khusus untuk menangani turis nakal.

Tak hanya dianggap suka bertingkah di luar negeri, Pemerintah China sendiri ternyata juga kerepotan menghadapi tingkah warganya di dalam negeri. Dinas pariwisata Beijing misalnya, sampai ingin mem-blacklist turis nakal yang berulah di sana.

Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Rabu (10/4/2019), media lokal menyatakan kalau pihak manajemen taman Beijing ingin membuat daftar turis nakal melalui kecerdasan buatan (AI) dan teknologi pengenal wajah.

"Teknologi pengenal wajah dan lainnya akan digunakan untuk mendeteksi kelakuan yang tidak beradab," ujar salah satu petugas setempat, Mi Shanpo seperti diberitakan media Global Times.

Sistem baru itu diharapkan dapat mendeteksi wajah wisatawan lokal yang kedapatan berulah. Di mana nantinya mereka dapat diusir agar tak berulah lagi.

Kebijakan itu dibuat untuk mengantisipasi kelakuan wisatawan lokal yang seringkali kelewat batas saat mengikuti festival bersih-bersih makam atau dikenal dengan Ceng Beng di Indonesia.

Menurut CNN, kebijakan tersebut hadir sebagai reaksi dari kelakuan wisatawan lokal yang kedapatan memanjat pohon, mengambil bunga dan merusak tanaman selama festival itu berlangsung. Termasuk beberapa orang yang memancing di dekat danau dan berdagang di taman.

Berkunjung ke Kota Para Raja di Negeri Jiran

Cerita kali ini merupakan lanjutan dari kisah sebelumnya ketika saya mengunjungi Kota Tua Ipoh. Tak jauh dari Ipoh terdapat Kota Kuala Kangsar yang ternyata merupakan tempat tinggal raja Perak.
Seperti Presiden Jokowi yang memilih tinggal di Bogor walau berkantor di Jakarta, demikian pula Raja Kesultanan Perak yang tinggal di Kuala Kangsar walau pusat pemerintahannya berada di Ipoh. Dari Ipoh saya naik bus di Teminal Medan Kidd yang berlokasi tak jauh dari Stasiun Ipoh. Bus di sana cukup disiplin waktu sehingga saya yang datang terlambat lima menit saja sudah ditinggal dan harus menunggu 35 menit kemudian karena intervalnya setiap 40 menit.

Sambil menanti bus datang saya berbincang dengan seorang kakek tua yang juga menunggu bus yang sama. Kebanyakan orang Malaysia selalu menanggap kita yang berasal dari Indonesia bekerja untuk mereka. Saya sampai ngotot mengatakan kalau cuma melancong, bukan bekerja dan kakek tersebut seperti tidak percaya sehingga harus bertanya berulang-ulang, bahkan sampai memastikan kalau saya paham Bahasa Melayu, bukan Bahasa Indonesia.

Mungkin cukup aneh kalau ada turis dari Indonesia mengingat Ipoh dan sekitarnya bukanlah daerah tujuan wisata seperti KL atau Penang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.35 dan bus tujuan Kuala Kangsar pun tiba. Saya pun bergegas naik ke dalam bus yang ternyata tidak terlalu banyak penumpangnya. Setelah ngetem selama lima menit, bus pun berangkat menuju Kuala Kangsar yang berjarak sekitar 45 km dan ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam.

Cuaca mendung diakhiri dengan hujan lebat membuat saya was-was karena tidak membawa payung atau mantel hujan. Untunglah tiba di Kuala Kangsar, hujan reda, cuaca kembali cerah membuat saya lega karena biasa berjalan kaki ke mana-mana. Kotanya sendiri tidaklah terlalu besar, bahkan boleh dibilang hampir seukuran Lembang. Namun ternyata di tempat inilah sang raja tinggal di dalam istana yang luas di tepi Sungai Perak.

Karena cukup jauh berjalan kaki dan tidak ada ojek, sayapun menyewa taksi yang mangkal di sekitar terminal. Setelah nego panjang dengan supir taksi keturunan India dengan Bahasa Inggris, akhirnya disepakati harga 30 RM. Saya hanya menunjukkan komplek istana raja saja dan setelahnya kembali ke terminal. Gerbang kompleksnya sendiri tak telalu jauh dari terminal, hanya sekitar 500 meter saja, namun ke dalamnya ternyata cukup luas.

Di dalam komplek terdapat beberapa bangunan yang letaknya berjauhan satu sama lain. Sekitar satu setengah kilometer dari gerbang terdapat Galery Sultan Azlan Shah yang merupakan bekas istana raja. Bentuk bangunannya sangat klasik dan merupakan perpaduan dari arsitektur barat, Aceh dan India. Bangunan ini dibangun tahun 1898 dan selesai lima tahun kemudian untuk dihuni Sultan Idris Shah yang berkuasa dari 1887 hingga 1916.

Istana ini kemudian menjadi sekolah selama puluhan tahun sebelum akhirnya dipakai sebagai galeri pada tahun 2001 oleh Sultan Azlan Shah. Galeri ini menyimpan aneka jenis benda peninggalan para Sultan Perak beserta sejarah yang menyertainya. Sayangnya kita tak boleh mengambil gambar di dalam galeri, hanya bagian luarnya saja yang boleh difoto. Tak jauh dari galeri terdapat Masjid Ubudiyah yang merupakan perwujudan nazar dari Sultan Idris Shah apabila sembuh dari sakitnya.