Jumat, 07 Februari 2020

Begini Rasanya Mendaki Gunung Raung

Banyak gunung yang menantang buat didaki di Pulau Jawa. Salah satunya Gunung Raung di Jawa Timur.

Gunung Raung memiliki ketinggian 3.332 mdpl dan berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso dan Jember. Akses menuju puncak Gunung Raung pun tidak hanya satu, bisa melewati via Kalibaru Banyuwangi atau via Bondowoso.

Jalur menuju puncak Raung via Bondowoso memiliki medan yang cukup ringan bila dibandingkan dengan via Banyuwangi. Pendakian kali ini melalui jalur via Bondowoso. Basecamp Gunung Raung via Bondowoso terletak di Kecamatan Sumber Wringin.

Dari jalan raya untuk menuju desa ini tidak terdapat rambu-rambu yang jelas, karena pendakian Gunung Raung sendiri memang tidak banyak peminatnya. Sedikitnya peminat ini dikarenakan medan di Gunung Raung yang dirasa sangat berat. Tiket didapatkan di Basecamp dengan harga 20 ribu setiap orangnya. Sayangnya letak basecamp dengan jalur pendakian masih berkisar 2,5 km. Sepeda diparkir di rumah warga dengan biaya parkir seikhlasnya.

Yang membuat istimewa yaitu di Gunung Raung terdapat istilah Jembatan Shiratal Mustaqim. Jembatan ini sebenarnya gundukan tanah yang berukuran 1 jengkal dengan kanan kiri jurang. Dijuluki Jembatan Shiratal Mustaqim karena sempit dan menyeramkan. Melewatinya pun harus merangkak terlebih dahulu. Jembatan ini terdapat di perjalanan dari pos deden menuju puncak.

Pendakian dimulai dengan melewati perkebunan kopi dengan estimasi waktu satu jam sampailah di pos motor, setelah melewati kebun kopi disambut jalan setapak kecil dengan jalanan sedikit menanjak.

Jika tidak ingin terlalu capek tersedia jasa ojek yang mengangkut dari rumah warga menuju pos motor dengan biaya 25 ribu setiap orangnya. Terdapat beberapa pos yang dilalui saat pendakian Gunung Raung ini di antaranya pos motor, pos aborsi, pos sumur, pos demit, pos mayit, pos angin, pos deden, dan yang terakhir puncak.

Estimasi waktu perjalanan dari pos motor menuju pos aborsi sekitar 3 jam dengan medan jalan setapak menanjak sudut kemiringan 30 derajat. Dari pos aborsi menuju sumur hanya 10 menit dengan jalan setapak menanjak sudut kemiringan 20 derajat.

Pos sumur menuju pos demit membutuhkan waktu 3-4 jam dengan medan jalanan setapak menanjak sudut kemiringan 50-70 derajat. Pos demit menuju pos mayit membutuhkan waktu 30 menit dengan jalanan setapak menanjak sudut kemiringan 20-30 derajat. Pos demit menuju pos angin membutuhkan waktu 2-3 jam.

Setelah dari pos angin menuju pos deden hanya 30 menit. Pos deden merupakan batas vegetasi. Pos deden menuju puncak membutuhkan waktu 30 menit dengan medan bebatuan menanjak sudut kemiringan 40-50 derajat. Estimasi waktu perjalanan ini tentunya juga tergantung pada kecepatan jalannya juga.

Lelah terbayar setelah melihat pemandangan di puncak Gunung Raung. Puncak Gunung Raung memiliki kaldera terbesar se-Pulau Jawa. Lekukan indah relief-relief batu mengelilingi kaldera Gunung Raung. Sayangnya, terdapat batas waktu saat di puncak yaitu pada jam 10.00 semua pendaki harus sudah turun dari puncak. Aturan ini dibuat karena pada saat pukul 10.00 ke atas cuaca sering tidak stabil, terkadang juga terjadi badai.

Sebelum melakukan pendakian di Gunung Raung pastikan fisik benar-benar dalam keadaan sehat. Bawalah bekal makanan dan minuman secukupnya karena pendakian Gunung Raung via Bondowoso ini tidak terdapat sumber mata air.

Usahakan 1 orang minimal 3 botol. Mantel dan penghangat sangat diperlukan dalam pendakian Gunung Raung ini karena cuaca sangat mudah berubah-ubah. Untuk menambah stamina bawalah makanan yang manis-manis seperti madu, cokelat, atau gula.

Aceh Pamer Keindahan Bahari di Deep and Extreme 2019

Aceh ikut serta dalam pameran Deep and Extreme 2019. Traveler bisa tahu lebih banyak soal wisata bahari Aceh lewat stand di pameran ini.

Wisata bahari di Aceh semakin populer di kalangan traveler. Promosi makin giat dilakukan terutama di pameran tingkat nasional hingga internasional.

Kali ini, wisata bahari Aceh dipromosikan dalam pameran Deep and Extreme (DXI) Indonesia 2019. Ini sebuah pameran terbesar di Asia Tenggara yang berbasis petualangan dan atraksi bawah laut, dan telah menjadi salah satu pameran tetap yang diikuti Tanah Rencong setiap tahunnya.

Pameran yang digelar sejak 4 hingga 7 April 2019 ini berlangsung di Hall B, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Dalam pameran ini, stand Aceh tampil meriah dengan desain unik, milenial serta futuristik.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Jamaluddin, mengatakan, Aceh ikut ambil bagian dalam pameran tersebut untuk terus mempromosikan beragam wisata bahari yang ada di Serambi Mekah. Tujuannya untuk menggenjot jumlah wisatawan yang berkunjung ke daerah paling barat Indonesia itu.

"Pameran DXI 2019 adalah salah satu pameran bergengsi internasional yang bertajuk bahari yang setiap tahunnya diikuti oleh Pemerintah Aceh melalui Disbudpar Aceh," kata Jamal dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (7/4/2019).

Keikutsertaan Aceh pada pameran khusus ini tidak hanya memperkenalkan ragam potensi wisata bahari Aceh dalam bentuk daya tarik wisata alam, seperti surfing, rafting, diving, trekking, yachting, freediving, dan lainnya. Tapi juga untuk mempromosikan ragam atraksi wisata petualangan lainnya.

Jamal menyebutkan, ada beragam event wisata petualangan yang masuk dalam kalender event 2019 seperti Sabang Marine Fest (Sabang, 27-30 April), Aceh Bike Cross Country (Bener Meriah, 22-23 Juni), Aceh International Diving Fest dan Lomba Photography Bawah Laut (Sabang, 6-7 Oktober), Freediving Championship (Sabang, 2-9 Nopember), dan masih banyak lainnya.

"Aceh juga berhasil memperoleh apresiasi dari pihak penyelenggara Pameran DXI 2019 sebagai provinsi yang telah berpartisipasi aktif pada DXI sejak tahun 2012 dengan memperoleh berbagai anugerah berturut-turut sebagai stand terbaik, pelayanan terbaik, penyampaian informasi terbaik dan stand dekorasi terbaik," ungkap Jamal.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani, mengatakan, Aceh semakin memperkuat posisi daerahnya sebagai destinasi wisata menarik dan aman untuk dikunjungi.

"Dengan berbagai atraksi wisata menarik, khususnya wisata petualangan dan bahari dengan ragam atraksi bawah lautnya, Aceh telah menjadi destinasi favorit dan layak dikunjungi oleh wisatawan," jelas Rahmadhani.

"Lewat pameran DXI 2019 bertema 'Indonesia yang Bersih, Aman dan Nyaman untuk Berwisata', Tanah Rencong dijamin aman dan nyaman untuk merasakan sensasi pengalaman berwisata di Aceh," ungkap Rahmadhani. 

Begini Rasanya Mendaki Gunung Raung

Banyak gunung yang menantang buat didaki di Pulau Jawa. Salah satunya Gunung Raung di Jawa Timur.

Gunung Raung memiliki ketinggian 3.332 mdpl dan berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso dan Jember. Akses menuju puncak Gunung Raung pun tidak hanya satu, bisa melewati via Kalibaru Banyuwangi atau via Bondowoso.

Jalur menuju puncak Raung via Bondowoso memiliki medan yang cukup ringan bila dibandingkan dengan via Banyuwangi. Pendakian kali ini melalui jalur via Bondowoso. Basecamp Gunung Raung via Bondowoso terletak di Kecamatan Sumber Wringin.

Dari jalan raya untuk menuju desa ini tidak terdapat rambu-rambu yang jelas, karena pendakian Gunung Raung sendiri memang tidak banyak peminatnya. Sedikitnya peminat ini dikarenakan medan di Gunung Raung yang dirasa sangat berat. Tiket didapatkan di Basecamp dengan harga 20 ribu setiap orangnya. Sayangnya letak basecamp dengan jalur pendakian masih berkisar 2,5 km. Sepeda diparkir di rumah warga dengan biaya parkir seikhlasnya.

Yang membuat istimewa yaitu di Gunung Raung terdapat istilah Jembatan Shiratal Mustaqim. Jembatan ini sebenarnya gundukan tanah yang berukuran 1 jengkal dengan kanan kiri jurang. Dijuluki Jembatan Shiratal Mustaqim karena sempit dan menyeramkan. Melewatinya pun harus merangkak terlebih dahulu. Jembatan ini terdapat di perjalanan dari pos deden menuju puncak.