Jumat, 07 Februari 2020

Kostum Bali Curi Perhatian Pengunjung World Travel Lifestyle Manila

Warna klasik diberikan Kemenpar di World Travel Lifestyle Expo 2019 (WTE 2019). Ada kostum karnaval Bali yang menjadi perhatian pengunjung di event tersebut. Kostum karnaval menjadi favorit pengunjung yang hadir ke Filipina.

Semua minta foto, minta selfie, bahkan tidak jarang ikut bergoyang dengan tarian nusantara dan kostum karnaval di booth. WTE saat ini menjadi daya tarik terbaik publik Manila, Filipina.

Event berlokasi di zona strategis SMX Comvention Centre Manila. Digelar 5 sampai dengan 7 April 2019, WTE 2019 secara full menyajikan warna eksotis Bali, Jakarta, Yogyakarta hingga Manado.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani mengatakan, Indonesia kaya dengan budaya terbaik.

"Kami kenalkan warna-warna budaya yang ada di nusantara melalui kostum kepada publik Manila dan Filipina secara umum. Indonesia ini kaya dengan budaya dan nilai tradisi yang luar biasa. Saat ini pun warisan terbaik ini masih terpelihara dengan baik. Respon publik sejauh ini sangat bagus. Mereka sangat antusias menggali informasi budaya yang ditampilkan," Ricky.

Bukan hanya eksotis, kostum representasi budaya nusantara ini juga sarat filosofi. Keagungan dan warna adiluhung kuat terpancar dari busana Kostum Karnaval. Tampilannya elegan dengan nilai dan makna besar. Sebab, konsep ini menampilkan kecantikan tradisional melalui wajah yang dibingkai dengan paes.

"Indonesia memang destinasi terbaik. Warna budaya yang dimiliki beragam dan kuat. Semua memberi banyak pengetahuan baru dan inspirasi. Apa yang ditampilkan di pameran ini hanya sebagian kekayaan dari Indonesia. Silahkan datang ke negara kami, akan semakin banyak budaya yang akan anda temui,"ujar Ricky ramah saat menemui para pengunjung Booth.

Merepresentasikan kecantikan nusantara, Kostum Karnaval Bali ini memberikan pesan penawar energi negatif. Komposisi utama dari kostum adalah penunggul, pengapit, penitis, dan godheg. Berada tepat di tengah dahi, penunggul ini memberikan makna paling tinggi, besar, dan baik. Berada di antara 2 alis, penunggul memiliki filosofi penyeimbang. Pengapit ini juga menjaga hati tetap bersih.

Pada sisi pengapit, terdapat penitis yang menjadi simbol kearifan. Kostum juga menampilkan godheg. Bentuknya menyerupai cambang dengan makna asal usul penciptaan manusia. Artinya, setiap yang hidup kelak akan kembali kepada asal penciptanya. Harapannya ada kesempurnaan amal. Pada sisi pengapit, terdapat penitis yang menjadi simbol kearifan. Yogya Paes Ageng juga menampilkan godheg.

Godheg ini berbentuk seperti cambang dengan makna asal usul penciptaan manusia. Artinya, setiap yang hidup kelak akan kembali pada asal penciptanya. Harapannya, ada kesempurnaan amal kebajikan. Dan, keindahan paes disempurnakan dengan prada. Warna keemasan yang menjadi simbol kemewahan. Ricky menambahkan, wisatawan Filipina bisa mengenal banyak hal bila berada langsung di Indonesia.

"Ada banyak pemaknaan besar terkait hidup dan tujuannya. Semuanya mengerucut kepada pemahaman individu dalam memaknai hidupnya. Silahkan publik Filipina datang langsung ke Indonesia. Anda bisa menggali kekayaan dan nilai tinggi nusantara secara utuh," lanjut pria asli Makassar itu.

Kekayaan nusantara lain dipotret melalui konsep busana Garuda Wisnu Kencana. Konsep ini menjadi warna terbaik Bali. Kostum Garuda Wisnu Kencana ini mengadopsi sifat pemelihara dari Dewa Wisnu. Ada pesan kebaikan yang disampaikan, seperti misi pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan. Cara termudahnya yaitu menjaga alam sekitar beserta seluruh potensinya.

Lebih lanjut, konsep Garuda Wisnu Kencana menjadi bukti Indonesia sebagai bangsa besar. Melestarikan warisan masa lalu, sekaligus membangun peradaban baru melalui beragam mahakarya. Karya tersebut dimulai dari gagasan baru hingga keberanian memiliki mimpi besar. Berikutnya, melakukan lompatan untuk mewujudkan semua tujuan.

"Kostum yang ditampilkan di pameran ini sangat bagus. Detailnya luar biasa. Warna yang ditampilkan sangat menarik. Inilah warna sebenarnya dari destinasi wisata di Indonesia. Semuanya eksotis dengan harmoni yang kuat," terang Kabid Pemasaran Area Sulawesi & Filipina Kemenpar Ni Putu Gayatri.

Menegaskan warna terbaik nusantara, apresiasi pun diberikan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Menpar mengungkapkan, konsep jelas harus diberikan kepada publik Filipina. "Filipina menjadi pasar penting bagi Indonesia. Untuk itu, konsep terbaiklah yang ditampilkan di sana. Bukan hanya indah, tapi juga ada nilai pengetahuan yang bisa dibagikan," tutup Menpar. 

Pengembangan The Kaldera Akan Sentuh Desa Wisata Sigapiton

Pengembangan The Kaldera akan dilakukan di destinasi yang berada di Sibisa, Kecamatan Ajibata, Toba Samosir, yakni desa wisata Sigapiton. Tidak hanya itu, strategi marketing pun sudah disiapkan.

The Kaldera yang diresmikan Kamis (4/4) lalu oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya akan berada di bawah Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT). Sebagai pengelola, BPODT akan merangkul Founder dan CEO Keiski Hotel, Ren Tobing. Sebagai seorang profesional, Ren menilai langkah yang sudah dilakukan BPODT di The Kaldera sangat luar biasa.

"Saya orangnya realistis. Kalau sebuah proyek tidak ada potensinya tidak akan saya ambil. Tapi kalau ada potensinya dan belum dibangun saya justru akan mendorong agar potensi itu digali. Dan apa yang sudah dilakukan BPODT sangat luar biasa. Dalam 2 bulan mereka bisa membuat destinasi seperti ini dan tetap menjaga kelestarian kawasan," ungkap Ren dalam keterangan tertulis, Minggu (7/4/2019).

Ia menjelaskan konsep nomadic yang dibangun sangat tepat dan sesuai dengan karakter yang berada di sekitar venue. Apalagi lokasinya sangat dekat dengan Desa Wisata Sigapiton.

"Saya tidak bisa bayangkan jika yang dibangun adalah hotel bertingkat. Akan sangat aneh menurut saya karena tidak sesuai dengan kawasannya," terangnya.

Ren pun mengaku sejak awal ia sudah memikirkan konsep pengembangan The Kaldera. Salah satunya membuat destinasi ini terintegrasi dengan Desa Wisata Sigapiton dan Danau Toba.

"Sejak awal kita sudah siapkan pengembangan The Kaldera. Misalnya, kita punya rencana membuat jalur trekking dari Desa Sigapiton ke The Kaldera. Pasti menarik karena memberikan pengalaman buat mereka yang suka adventure. Jalur pun sudah kita petakan dan tidak akan merusak ekosistem sekitarnya," terang Ren.

Karena Desa Sigapiton berada di pinggir Danau Toba, ia pun berencana menghadirkan wisata bahari. Jika terealisasi, akses menuju The Kaldera pun akan bertambah. Selain jalur darat, juga bisa melalui jalur air via Danau Toba. Belum lagi jika Bandara Sibisa beroperasi.

Menurutnya, integritas antara Desa Sigapiton dan The Kaldera akan menguntungkan masyarakat karena wisatawan yang hadir ke Desa Sigapiton akan semakin bertambah. Hal ini bisa berpengaruh pada pendapatan masyarakat dan pengembangan Desa Sigapiton.

Ren juga telah memikirkan strategi pemasaran The Kaldera. Menurutnya, hal yang terpenting adalah memetakan karakter wisatawan.

"Kita harus cari tahu karakter wisatawan Asia Tenggara seperti apa, kemudian dari Timur Tengah juga seperti apa. Untuk The Kaldera, menurut saya sangat tepat dengan karakter wisatawan Eropa karena mereka suka wisata petualangan," paparnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo mengakui pengembangan akan terus dilakukan setelah The Kaldera diresmikan.

"Kita akan memikirkan agar The Kaldera nyaman buat anak-anak, juga lansia. Yang pasti pengembangan akan terus kita lakukan karena kita ingin menjadikan The Kaldera sebagai destinasi terdepan di kawasan Danau Toba," terangnya.

Sedangkan Ketua Tim Percepatan Nomadic Tourism Waizly Darwin mengatakan The Kaldera akan menghadirkan beragam fasilitas yang sangat lengkap. Mulai dari fasilitas kuliner hingga fasilitas wisata lainnya seperti helitour.

"Masih banyak yang bisa kita kembangkan di The Kaldera. Salah satu fasilitas yang akan kita kembangkan adalah nomadic helitour. Kita akan ajak wisatawan menikmati Danau Toba dari udara. Kita juga hadirkan nomadic coffee trail. Konsepnya adalah mengajak wisatawan berkeliling ke perkebunan kopi yang ada di sekitar The Kaldera. Yang pasti, The Kaldera bisa menyajikan banyak fasilitas dalam satu destinasi, dengan konsep nomadic tentunya," papar Waizly.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan The Kaldera akan menjadi salah satu nomadic tourism terdepan di Indonesia. Sebab, The Kaldera menghadirkan beragam amenitas yang bagus dan nyaman.

"Tapi dengan karakternya saya menilai The Kaldera ini sangat cocok untuk menjadi destinasi nomadic amenitas karena lokasinya sangat bagus, sangat nyaman. View yang ditampilkan juga sangat keren. Apalagi The Kaldera memiliki amenitas yang keren-keren. Seperti Cabin dan Bubble Tent. Mereka juga mendapatkan view Danau Toba yang eksotis. Jadi The Kaldera ini memang luar biasa," pungkas Arief.