Senin, 20 Januari 2020

Kursi Berdiri di Pesawat Belum Laku, Masih Jadi Perdebatan

Inovasi pesawat berupa kursi berdiri menjadi perdebatan. Bisakah digunakan di seluruh penerbangan pesawat dan amankah?

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Kamis (30/6/2019) kursi berdiri merupakan inovasi dari pabrikan terkemuka asal Italia, Aviointeriors. Kursi berdiri tersebut diberi nama Skyrider.

Kursi Skyrider menempati ruang yang jauh lebih sedikit daripada rata-rata kursi ekonomi, hanya 23 inch atau 58 cm. Jika duduk di sana, rasanya seperti duduk di atas sadel sepeda.

"Kami tidak ingin menempatkan ribuan orang di kabin, kami ingin menawarkan konfigurasi multi-kelas, yang saat ini tidak mungkin terjadi jika Anda ingin mencapai jumlah penumpang maksimum," kata Gaetano Perugini, penasihat teknik di Aviointeriors.

"Itu berarti di kabin yang sama akan bisa memiliki ekonomi standar, ekonomi premium atau kelas bisnis dan ekonomi ultra-dasar yang merupakan inovasi untuk maskapai dan penumpang. Ini adalah alasan sebenarnya untuk Skyrider," sambungnya.

Bisa dibilang, Skyrider punya nilai positif untuk pihak maskapai. Singkatnya, bangkunya lebih hemat ruangan, yang artinya bisa lebih banyak bangku di dalam kabin dan bisa mendatangkan uang lebih banyak

Pun bagi penumpang pesawat sendiri, tentu pilihan penerbangan lebih banyak bangkunya. Bisa mengurangi masalah 'kehabisan bangku di pesawat'.

Tapi sayangnya, kursi berdiri masih jadi perdebatan. Sebabnya, spesifikasi pesawat A380, A320, A321 atau 737 yang tidak dibolehkan pemasangan kursi dengan konfigurasi jarak kurang dari 28 inch, sementara Skyrider adalah 23 inch.

Selain itu, segi keamanan dari kursi berdiri Skyrider belum teruji. Misalnya saja, apakah kursinya kuat jika pesawat melakukan pendaratan darurat serta apakah penumpang aman berlindung di kursinya dengan cara menundukan diri.

Otoritas penerbangan tiap negara pun tampaknya juga harus butuh waktu untuk uji kelayakan. Juga soal tipe tubuh penumpang, mereka yang bertubuh besar dinilai tidak akan nyaman duduk di sana.

Dilansir The Sun, pihak Aviointeriors mengaku sudah ada beberapa maskapai yang berminat untuk memesan kursi berdiri Skyrider. Hanya saja sampai kini, kursi berdirinya belum laku alias belum ada maskapai yang memesannya.

Kulineran di Medan, Lontong Bumbu Pecal Kak Lin Siap Goyang Lidah

Kalau jalan-jalan ke Medan, jangan lupa cicipi aneka kuliner khasnya yang nikmat. Salah satu kuliner yang wajib dicoba adalah Lontong Kak Lin. Warung yang terletak di Jalan Teuku Cik Ditiro ini sudah berdiri sejak 1994.

Sebenarnya, Warung Lontong Kak Lin menjual aneka menu nikmat. Mulai dari lontong pecal, lontong sayur, lontong mi, nasi uduk, hingga camilan khas Medan seperti lupis dan sate kerang.

Namun yang paling khas di warung ini adalah lontong bumbu pecal. Sekilas, tampilannya mirip seperti pecel atau gado-gado karena tekstur kuahnya tidak encer.

Satu porsi lontong pecal berisi lontong yang dipadukan sayuran segar kemudian ditambah topping telur balado. Tak lupa dilengkapi dengan taburan kuah kacang yang gurih dan pedas. Makin nikmat jika disantap dengan sate kerang. Cocok disantap untuk sarapan!

Dilansir dari Instagram resmi Grab Indonesia, awalnya Kak Lin memulai usahanya dengan berjualan lontong sayur di depan SMAN 1 Medan. Lontong sayur buatan Kak Lin menjadi sarapan favorit bagi para pelajar di sana.

Namun seiring waktu berjalan, Kak Lin memindahkan dagangannya ke sebuah ruko yang lebih luas dan tak jauh dari tempat awal mula Kak Lin berjualan, yakni di seberang SMAN 1 Medan.

Kalau traveler tak sempat menyambangi Warung Lontong Kak Lin saat liburan ke Medan, pesan saja dengan layanan GrabFood. 

3 Tempat Wisata NTB Resmi Jadi Cagar Biosfer UNESCO

Kabar membanggakan datang untuk Indonesia. 3 Destinasi di NTB berhasil diresmikan menjadi cagar biosfer dunia oleh UNESCO.

Kawasan Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Taman Nasional Gunung Tambora (Samota) akhirnya diresmikan menjadi Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO PBB melalui program The International Co-ordinating Council Of The Man, And The Biosphere Programme (MAB-ICC) UNESCO di Paris, Prancis, Rabu (19/06/2019) kemarin.

Peresmian ditandai dengan ketuk palu palu tanggal 19 Juni 2019, sementara untuk sidang penutupan ICC MAB UNESCO akan dilaksanakan pagi ini pukul 10.00 atau pukul 16.00 waktu Prancis.

"Selamat buat seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat. Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Gunung Tambora sekarang sudah ditetapkan menjadi Cagar Biosfer. Hasil kerja keras dan dukungan semua pihak," Kepala Balai Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT), Murlan Dameria Pane, dalam keterangan tertulisnya pada detikcom, Kamis (20/06/2019).

Dengan telah dikresmikannya, cagar biosfer Samota ini nantinya akan berkontribusi dalam meningkatkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan baik secara ekologi maupun budaya.

Cagar biosfer Samota juga nantinya akan mendukung pengembangan penelitian, pemantauan, pendidikan dan pelatihan yang terkait dengan masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, regional, nasional, maupun global.

"Cagar biosfer merupakan suatu kawasan perlindungan ekosistem daratan atau pesisir yang diakui oleh Program MAB - UNESCO untuk mempromosikan keseimbangan hubungan antara manusia dan alam. Cagar biosfer melayani perpaduan beberapa fungsi yaitu, kontribusi konservasi lansekap, ekosistem, jenis, dan plasma nutfah," jelasnya.

Dikatakanya Murlan, cagar biosfer di dunia membentuk jaringan, yang di dalamnya dipromosikan program pertukaran informasi, pengalaman, dan personel terutama di antara cagar biosfer dengan tipe ekosisten yang sama dan atau dengan pengalaman yang sama dalam memecahkan masalah konservasi dan pembangunan.

"Penetapan Cagar Biosfer oleh UNESCO merupakan pengakuan dunia, tentunya akan berdampak positif dalam aspek pariwisata, ekonomi, ilmu pengetahuan dan aspek lainnya," ujarnya.

Dalam peresmian ini, selain Kawasan Samota NTB, juga diresmikan Cagar Biosfer Togean Tojo Una-una, Kabupaten Tojo Una Una, Provinsi Sulawesi Tengah.

Kursi Berdiri di Pesawat Belum Laku, Masih Jadi Perdebatan

Inovasi pesawat berupa kursi berdiri menjadi perdebatan. Bisakah digunakan di seluruh penerbangan pesawat dan amankah?

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Kamis (30/6/2019) kursi berdiri merupakan inovasi dari pabrikan terkemuka asal Italia, Aviointeriors. Kursi berdiri tersebut diberi nama Skyrider.

Kursi Skyrider menempati ruang yang jauh lebih sedikit daripada rata-rata kursi ekonomi, hanya 23 inch atau 58 cm. Jika duduk di sana, rasanya seperti duduk di atas sadel sepeda.

"Kami tidak ingin menempatkan ribuan orang di kabin, kami ingin menawarkan konfigurasi multi-kelas, yang saat ini tidak mungkin terjadi jika Anda ingin mencapai jumlah penumpang maksimum," kata Gaetano Perugini, penasihat teknik di Aviointeriors.

"Itu berarti di kabin yang sama akan bisa memiliki ekonomi standar, ekonomi premium atau kelas bisnis dan ekonomi ultra-dasar yang merupakan inovasi untuk maskapai dan penumpang. Ini adalah alasan sebenarnya untuk Skyrider," sambungnya.

Bisa dibilang, Skyrider punya nilai positif untuk pihak maskapai. Singkatnya, bangkunya lebih hemat ruangan, yang artinya bisa lebih banyak bangku di dalam kabin dan bisa mendatangkan uang lebih banyak

Pun bagi penumpang pesawat sendiri, tentu pilihan penerbangan lebih banyak bangkunya. Bisa mengurangi masalah 'kehabisan bangku di pesawat'.

Tapi sayangnya, kursi berdiri masih jadi perdebatan. Sebabnya, spesifikasi pesawat A380, A320, A321 atau 737 yang tidak dibolehkan pemasangan kursi dengan konfigurasi jarak kurang dari 28 inch, sementara Skyrider adalah 23 inch.