Senin, 20 Januari 2020

3 Tempat Wisata NTB Resmi Jadi Cagar Biosfer UNESCO

Kabar membanggakan datang untuk Indonesia. 3 Destinasi di NTB berhasil diresmikan menjadi cagar biosfer dunia oleh UNESCO.

Kawasan Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Taman Nasional Gunung Tambora (Samota) akhirnya diresmikan menjadi Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO PBB melalui program The International Co-ordinating Council Of The Man, And The Biosphere Programme (MAB-ICC) UNESCO di Paris, Prancis, Rabu (19/06/2019) kemarin.

Peresmian ditandai dengan ketuk palu palu tanggal 19 Juni 2019, sementara untuk sidang penutupan ICC MAB UNESCO akan dilaksanakan pagi ini pukul 10.00 atau pukul 16.00 waktu Prancis.

"Selamat buat seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat. Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Gunung Tambora sekarang sudah ditetapkan menjadi Cagar Biosfer. Hasil kerja keras dan dukungan semua pihak," Kepala Balai Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT), Murlan Dameria Pane, dalam keterangan tertulisnya pada detikcom, Kamis (20/06/2019).

Dengan telah dikresmikannya, cagar biosfer Samota ini nantinya akan berkontribusi dalam meningkatkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan baik secara ekologi maupun budaya.

Cagar biosfer Samota juga nantinya akan mendukung pengembangan penelitian, pemantauan, pendidikan dan pelatihan yang terkait dengan masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, regional, nasional, maupun global.

"Cagar biosfer merupakan suatu kawasan perlindungan ekosistem daratan atau pesisir yang diakui oleh Program MAB - UNESCO untuk mempromosikan keseimbangan hubungan antara manusia dan alam. Cagar biosfer melayani perpaduan beberapa fungsi yaitu, kontribusi konservasi lansekap, ekosistem, jenis, dan plasma nutfah," jelasnya.

Dikatakanya Murlan, cagar biosfer di dunia membentuk jaringan, yang di dalamnya dipromosikan program pertukaran informasi, pengalaman, dan personel terutama di antara cagar biosfer dengan tipe ekosisten yang sama dan atau dengan pengalaman yang sama dalam memecahkan masalah konservasi dan pembangunan.

"Penetapan Cagar Biosfer oleh UNESCO merupakan pengakuan dunia, tentunya akan berdampak positif dalam aspek pariwisata, ekonomi, ilmu pengetahuan dan aspek lainnya," ujarnya.

Dalam peresmian ini, selain Kawasan Samota NTB, juga diresmikan Cagar Biosfer Togean Tojo Una-una, Kabupaten Tojo Una Una, Provinsi Sulawesi Tengah.

Kursi Berdiri di Pesawat Belum Laku, Masih Jadi Perdebatan

Inovasi pesawat berupa kursi berdiri menjadi perdebatan. Bisakah digunakan di seluruh penerbangan pesawat dan amankah?

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Kamis (30/6/2019) kursi berdiri merupakan inovasi dari pabrikan terkemuka asal Italia, Aviointeriors. Kursi berdiri tersebut diberi nama Skyrider.

Kursi Skyrider menempati ruang yang jauh lebih sedikit daripada rata-rata kursi ekonomi, hanya 23 inch atau 58 cm. Jika duduk di sana, rasanya seperti duduk di atas sadel sepeda.

"Kami tidak ingin menempatkan ribuan orang di kabin, kami ingin menawarkan konfigurasi multi-kelas, yang saat ini tidak mungkin terjadi jika Anda ingin mencapai jumlah penumpang maksimum," kata Gaetano Perugini, penasihat teknik di Aviointeriors.

"Itu berarti di kabin yang sama akan bisa memiliki ekonomi standar, ekonomi premium atau kelas bisnis dan ekonomi ultra-dasar yang merupakan inovasi untuk maskapai dan penumpang. Ini adalah alasan sebenarnya untuk Skyrider," sambungnya.

Bisa dibilang, Skyrider punya nilai positif untuk pihak maskapai. Singkatnya, bangkunya lebih hemat ruangan, yang artinya bisa lebih banyak bangku di dalam kabin dan bisa mendatangkan uang lebih banyak

Pun bagi penumpang pesawat sendiri, tentu pilihan penerbangan lebih banyak bangkunya. Bisa mengurangi masalah 'kehabisan bangku di pesawat'.

Tapi sayangnya, kursi berdiri masih jadi perdebatan. Sebabnya, spesifikasi pesawat A380, A320, A321 atau 737 yang tidak dibolehkan pemasangan kursi dengan konfigurasi jarak kurang dari 28 inch, sementara Skyrider adalah 23 inch.

Sultan Yogya Dorong Pemkab Kembangkan Pariwisata di Gunungkidul

Sultan Hamengku Buwono X mendorong agar Pemkab Gunungkidul lebih kreatif lagi dalam mengembangkan sektor pariwisata. Apalagi ada bandara baru di Yogyakarta.

Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X ingin Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul lebih kreatif dalam mengembangkan sektor pariwisata di Gunungkidul. Hal itu agar Gunungkidul tidak seperti raksasa yang tertidur lelap.

Dalam pidatonya, Sultan mengungkapkan rasa bangganya karena pembangunan pariwisata di Gunungkidul berbasis komunitas masyarakat. Sehingga pendapatan masyarakat pun menyebar dan berpotensi sebagai wahana efektif untuk pengentasan kemiskinan oleh masyarakatnya sendiri.

Namun, Ngarso dalem menilai pembangunan sektor wisata di Gunungkidul harus lebih meningkat dari sebelum-sebelumnya. Mengingat ramainya destinasi wisata dapat melahirkan multiplayer efek pada sektor yang lebih luas.

"Tinggal Pemerintah Kabupaten (Gunungkidul) memfasilitasinya dengan memudahken akses membangun konektivitas antar objek. Sebagai contoh, dibukanya ruang publik Malioboro sebagai kawasan uji coba semi pedestarian setiap Selasa Wage, maka munculah kreativitas masyarakat yang meningkatkan daya atraktif khas dan memberi nilai tambah Malioboro sebagai destinasi wisata budaya, ujar Ngarso Dalem, Kamis (20/6/2019).

Hal tersebut diungkapkan Ngarso Dalem saat menghadiri acara silaturahmi dan halal bihalal Gubernur dan Wakil Gubernur DIY di Bangsal Sewokoprojo, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Kamis (20/6/2019).

"Selain itu, secara tak terduga nanti juga akan membuka ruang-ruang kreativitas baru yang tak terprediksiken sebelumnya. Makanya jika pemerintah dan masyarakatnya kurang kreatif, Gunungkidul pun akan seperti raksasa yang tertidur lelap, yang tak akan mendapatkan apa-apa," ucapnya.

Menurut Ngarso Dalem, pengembangan sektor pariwisata itu untuk menarik wisatawan yang mendarat di Yogyakarta Internasional Airport (YIA) untuk mengunjungi Gunungkidul. Terlebih, Gunungkidul memiliki daya tarik wisata geopark dan pantainya, hal itu agar wisatawan yang datang dari YIA tidak hanya tertarik ke Candi Borobudur.

"Karena itu yang harus kita bangun adalah regional image. Jadi melihat Borobudur dari Yogyakarta, bukan sebaliknya melihat Yogyakarta dari Borobudur," ujarnya saat ditemui di Bangsal Sewokoprojo, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Kamis (20/6/2019).

"Makanya saya sampaikan ke Bupati (Gunungkidul), hanya 2 aja kok sebetulnya (yang perlu dilakukan Pemkab untuk mengembangkan sektor pariwisata), dipercepat saja untuk memperbaiki seperti (Pantai) Baron dan sebagainya itu dipercepat, yang kedua masang PLN listrik ning Kidul (di selatan atau wilayah Pantai Gunungkidul)," imbuh Sultan.

Sultan menilai dengan pemerataan pasokan listrik di kawasan Pantai akan meningkatkan jumlah penginapan di kawasan Pantai. Dengan hal tersebut, nantinya akan membuat wisatawan betah berlama-lama saat mengunjungi Gunungkidul.

"Gimana mereka akan bangun penginapan dan sebagainya nek raono (kalau tidak ada) listriknya. Listrik aja, diprioritaskan untuk masuk selatan, kami bisa bantu anggarannya," ucapnya.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Gunungkidul, Badingah mengaku akan mengembangkan sektor pariwisata di Gunungkidul. Salah satunya dengan menggencarkan promosi tempat-tempat wisata yang ada di Gunungkidul.

"Tentunya kita berpikir jauh kedepan, khususnya bagaimana mengembangkan sektor pariwisata dan harus berhasil. Kita juga sudah punya suatu kreatifitas untuk membangun Pantai Baron dan memperluas areal parkir Pantai Krakal," katanya saat ditemui di Bangsal Sewokoprojo, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Kamis (20/6/2019).

"Terus infrastruktur tetap harus dibenahi, baik jalan, jembatan, ketersediaan air dan listrik. Untuk infrastruktur berupa jalan, kita mulai bangun jembatan penghubung Gunungkidul dan Sleman, itu upaya kami untuk menarik wisatawan ke Gunungkidul," imbuh Badingah.