Senin, 20 Januari 2020

Ini Pulau Pertama di Dunia yang Akan Berlakukan Zona Bebas Waktu

Bayangkan suatu tempat di mana waktu tidak ada. Terkesan utopia, tapi pulau di Norwegia ini akan jadi yang pertama berlakukan zona bebas waktu.

Adalah Sommaroy Island atau yang dikenal sebagai pulau musim panas (Summer Island), sebuah tempat di Norwegia yang akan menerapkan konsep baru yang tak pernah ada sebelumnya.

Dilansir detikcom dari CNN, Kamis (20/6/2019), pulau yang terletak di sisi barat Kota Tromso akan jadi yang pertama menerapkan konsep zona bebas waktu atau time-free zone.

Dilihat dari lokasinya yang sangat dekat dengan Kutub Utara, Pulau Sommaroy memang memiliki keunikan geografi yang membuatnya berbeda. Diketahui, matahari tak pernah terbenam di pulau ini dari 18 Mei hingga 26 Juli atau terang selama 69 hari.

Sedangkan dari bulan November hingga Januari, pulau tersebut malah mengalami kondisi terbalik di mana matahari sama sekali tak datang atau yang dikenal sebagai polar night.

"Ada masa di mana hari terang secara berkelanjutan dan kita mengikutinya. Di tengah malam sekitar pukul 02.00 pagi, Anda bisa mendapati anak bermain bola, orang mengecat dan merapikan rumput rumah dan remaja yang asyik berenang," ujar penghuni pulau yang bernama Kjell Ove Hveding.

Atas keunikan tersebut, sejumlah masyarakat pulau berinisiatif datang ke Balaikota dan menandatangai petisi zona bebas waktu pada 13 Juni 2019 lalu.

Pada kesempatan itu mereka bertemu dengan anggota parlemen Norwegia dan memberikan tanda tangan warga untuk lebih lanjut mendiskusikan perihal izin legal dan praktik nyata ke depannya.

"Ada banyak warga, melakukan hal ini berarti mem-formalkan sesuatu yang telah kita prktikkan selama beberapa generasi," ujar Kjell.

Dengan dibuatnya aturan terkait zona bebas waktu itu, warga pun berharap terbebas dari jam kerja tradisional dan berharap akan fleksibilitas terkait jam masuk sekolah dan waktu kerja.

Apabila resmi disahkan, nantinya warga akan membuat akses masuk ke Pulau Sommaray yang ditandai dengan jembatan berisi jam. Menandakan bahwa traveler akn masuk ke pulau di mana tak ada waktu. Terdengar menyenangkan ya traveler.

Kadis Pariwisata NTB Bantah Gunung Rinjani Jadi Gunung Syariah

Sebelumnya, beredar kabar yang menyebut pendaki pria dan wanita yang bukan mahram di Gunung Rinjani akan dipisahkan begitu juga area camping-nya. Namun Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Moh Faozal membantah hal ttersebut dan dia menjelaskan bahwa hal tersebut tidak menjadi prioritas dalam program yang disiapkan untuk Rinjani.

"Kita berharap para pendaki tidak terganggu dengan kabar yang telah terlanjur beredar. Pendaki bisa beraktivitas dengan normal. Yang menjadi perhatian kita adalah kemudahan dan kenyamanan para pendaki," paparnya dalam keterangan tertulis, Kamis (20/6/2019).

"Fokus kita adalah perbaikan manajemen pendakian. Khususnya, pada sistem e-Tiketing. Selain itu, kita juga akan membenahi pengelolaan sampah dan perbaikan sarana prasarana jalur pendakian," tambah dia.

Dia menambahkan, para pendaki sudah bisa beraktivitas normal di gunung ini sejak 14 Juni 2019 lalu. Ada dua jalur pendakian yang dibuka. Pertama jalur Sembalun dan Senaru. Kuota masing-masing jalur sebanyak 150 orang per hari.

"Ada juga jalur Aik Berik dan Timbanuh. Masing-masing jalur ini diberikan kuota 100 orang per hari. Buat memudahkan para calon pendaki, tiket dapat dibeli via e-Rinjani. Ini bisa diakses dengan mengunduh aplikasi di playstore," imbuh Faozal.

Hanya saja, karena mempertimbangkan faktor keamanan dan kenyamanan, pendakian untuk sementara dibatasi. Pendaki hanya bisa sampai di Plawangan. Mereka tidak diperkenankan menuju puncak dan Segara Anak.

Gunung Rinjani berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung ini merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia. Ketinggiannya mencapai 3.726 mdpl. Pada 2018, bersamaan dengan Geopark Ciletuh, Taman Nasional Gunung Rinjani sudah menjadi Unesco Global Geopark

Gunung ini termasuk favorit bagi para pendaki. Tidak hanya pendaki Nusantara, tetapi juga pendaki mancanegara seperti dari Malaysia dan Eropa. Gunung ini favorit karena keindahan pemandangannya.

Gunung yang merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani ini memiliki luas sekitar 41.330 hektare dan akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 hektare ke arah barat dan timur.

Minggu, 19 Januari 2020

Festival 1.000 Tenda Kaldera Akan Digelar di Danau Toba

Festival 1.000 Tenda Kaldera 2019 akan segera digelar di Kabupaten Toba Samosir akhir Juni mendatang. Akan ada banyak acara seru!

Memasuki tahun ketiga, Festival 1000 Tenda Kaldera bakal menyajikan suguhan yang berbeda. Jika sebelumnya fokus pada seni dan budaya, kali ini akan ada kegiatan tambahan seperti pelatihan menulis, diskusi millenial, dan lain-lain.

Direktur Festival 1000 Tenda Kaldera, Siparjalang mengatakan, event tahunan ini akan berlangsung pada 28-30 Juni 2019. Peserta terbuka untuk umum, termasuk komunitas, traveler, dan backpacker. Semua akan berkumpul di satu lokasi dengan suasana yang lebih meriah.

"Festival 1000 Tenda kali ini harus menjadi ruang saling silang berbagi pengetahuan, yang dihadiri para narasumber di bidangnya. Baik dari Sumatera Utara maupun nasional," ujar Siparjalang lewat keterangan tertulis pada detikcom, Sabtu (22/6/2019).

Lewat festival ini, dia berharap para peserta bisa berkenalan dengan para pejalan atau traveler lain. Mereka juga bisa membawa sesuatu yang berguna untuk dibagikan ke sesama peserta.

Festival 1.000 Tenda Kaldera sendiri digagas oleh Rumah Karya Indonesia (RKI). Kegiatan dipusatkan di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Pemilihan Desa Meat sebagai lokasi kegiatan dinilai tepat. Selain bentangan alamnya yang eksotis, juga dekat dengan pemukiman warga. Sehingga, interaksi dengan masyarakat bisa terjalin lebih intens.

"Ini merupakan peluang bagi warga setempat untuk mengenalkan keindahan Meat kepada masyarakat luas. Mudah-mudahan pariwisata di daerah ini semakin berkembang. Terlebih, panitia menargetkan tiga ribu peserta. Selain dari Sumatera Utara, ada juga dari Aceh, Pekanbaru, Banyuwangi, Jakarta, dan Yogyakarta," bebernya.

Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar, Dessy Ruhati menyatakan apresiasi atas kinerja pelaksana yang mengkombinasikan transfer pengetahuan dibalut dengan festival. Sehingga, para peserta bisa menikmati alam.

Lalu pada siang sampai sore, mereka bisa ikut beragam topik diskusi. Sementara pada malam harinya bisa menikmati pertunjukan seni budaya.

Festival 1.000 Tenda Kaldera bakal menarik perhatian masyarakat luas. Terlebih, lokasi kegiatan berada di sekitar destinasi super prioritas, yaitu Danau Toba. Dari tahun ke tahun, event ini semakin ramai dan banyak peminat.

Yang Unik di Festival Yeh Gangga: Kuliner Ikan di Bambu 50 Meter!

Akhir pekan ini Kabupaten Tabanan di Bali menyelenggarakan Festival Yeh Gangga. Ada menu kuliner ikan bumbu Bali yang dimasak di dalam bambu sepanjang 50 meter.

Festival Yeh Gangga ini digelar di Desa Sudimara, Tabanan, Bali pada 22-23 Juni 2019. Tahun ini merupakan kali kedua festival ini digelar di Pantai Yeh Gangga.

Uniknya, salah satu yang jadi atraksi adalah proses memasak ikan di dalam bambu atau yang disebut timbungan. Bambu-bambu berukuran sekitar dua meter itu disambung hingga sepanjang 50 meter. Bahan ikan yang digunakan yaitu ikan lele serta ikan tuna yang menjadi komoditi laut di Pantai Yeh Gangga.

"Dari sisi konsep timbungan makanan zaman dulu orang tidak punya oven, dulu memasak baking dengan timbungan karena metode cooking dry, moist, heat, bisa diisi apa saja, seperti seafood, sapi, babi, ayam, kebetulan hari ini mengkombinasi lele dan tuna," kata Ketua Badan Pengurus Cabang Tabanan Indonesian Chief Association (ICA) Wayan Bagiana di lokasi, Sabtu (22/6/2019).

Proses memasak ikan dengan timbungan ini membutuhkan waktu sekitar 50 menit. Setiap bilah-bilah bambu diisi potongan ikan yang diberi bumbu basa genep yang jadi ciri khas Bali.

"Bumbunya basa genep ciri khas Bali, ada rempah-rempah, daun salam, tomat, sama sereh baru dimasukkan ke bambunya. Lalu dibakar di atas api sampai matang. Ini bambu dan daun pisangnya akan memberi aroma dan rasa khas," terangnya.

Proses memasak timbungan ini dilakukan bersama-sama oleh puluhan pelajar SMK pariwisata setempat. Setelah matang bilah bambu itu lalu digotong beramai-ramai menuju lokasi acara sambil diiringi musik baleganjur.

Semua pengunjung yang datang ke festival Yeh Gangga pun bisa mencicipi kuliner tersebut. Tak butuh waktu lama, saat bambu dibuka semua ikan di dalam bambu sepanjang 50 meter itu langsung ludes diserbu para pengunjung. Rasanya memang sedap dan tidak terlalu pedas, apalagi dinikmati sambil mendengar deburan ombak pantai.