Minggu, 19 Januari 2020

Asyiknya Bersepeda Melintasi Alam di Kaki Gunung Ungaran

 Bersepeda adalah pilihan olahraga menarik untuk mengisi akhir pekan. Jika sedang berkunjung ke Ungaran, coba gowes lewat jalur Seleses di kaki Gunung Ungaran.

Minggu pagi ini (23/6/2019) detikcom berkesempatan menyusuri trek Seleses. Tak begitu terjal, Rute yang dilalui saat bersepeda di trek Seleses. Pantauan kami di lapangan, trek hanya melewati tanjakan-tanjakan ringan dan jalur tatanan batu yang tak terlalu sulit dilalui.

Sisi yang menarik di trek Seleses bukanlah tantangan jalur ekstrem, melainkan suguhan pemandangan alam yang menyejukkan. Di sepanjang perjalanan, goweser akan melihat bentang areal persawahan yang subur, sumur pompa air milik PDAM, kegagahan Gunung Ungaran dan finish di sumber air Seleses.

Ada catatan khusus saat melewati sumur pompa air PDAM, para goweser dilarang memasuki areal sumur pompa. Hal itu disebabkan, sumur pompa merupakan areal terbatas dan steril dari masyarakat umum. Namun, pemandangan alam di luar sumur pompa sangat instagramable untuk dijadikan latar berfoto.

Meski pompa air PDAM adalah areal terbatas, tapi jangan khawatir. Di bagian luar pagar, terdapat pipa besar yang mengalirkan air jernih. Di tempat itu goweser dipersilakan untuk menikmati dingin dan segarnya air murni dari Sumber Seleses.

Cukup mudah untuk menempuh rute Seleses, start dimulai dari Pasar Babadan yang sekaligus menjadi lokasi parkir kendaraan. Lalu menyeberang pasar dan menuju ke Desa Kalidoh. Setelah tiba di ujung desa, goweser akan tiba di pintu masuk gerbang sumur pompa, lalu ikuti saja trek batu yang akan mengantarkan perjalanan menuju areal persawahan.

Di lokasi itu para goweser dapat berhadapan langsung dengan panorama indah Gunung Ungaran. Lalu masih mengikuti jalur tanah, tibalah di akhir tujuan yakni sumber air Seleses.

Jarak yang ditempuh pulang pergi sekitar 3,5 kilometer. Jangan lupa membawa minuman dan makanan ringan, karena sangat tepat areal sumber air dijadikan lokasi mengisi kembali tenaga. Oh ya, jangan lupa membawa kamera dan tetap menjaga kebersihan sumber mata air.

Festival 1.000 Tenda Kaldera Akan Digelar di Danau Toba

Festival 1.000 Tenda Kaldera 2019 akan segera digelar di Kabupaten Toba Samosir akhir Juni mendatang. Akan ada banyak acara seru!

Memasuki tahun ketiga, Festival 1000 Tenda Kaldera bakal menyajikan suguhan yang berbeda. Jika sebelumnya fokus pada seni dan budaya, kali ini akan ada kegiatan tambahan seperti pelatihan menulis, diskusi millenial, dan lain-lain.

Direktur Festival 1000 Tenda Kaldera, Siparjalang mengatakan, event tahunan ini akan berlangsung pada 28-30 Juni 2019. Peserta terbuka untuk umum, termasuk komunitas, traveler, dan backpacker. Semua akan berkumpul di satu lokasi dengan suasana yang lebih meriah.

"Festival 1000 Tenda kali ini harus menjadi ruang saling silang berbagi pengetahuan, yang dihadiri para narasumber di bidangnya. Baik dari Sumatera Utara maupun nasional," ujar Siparjalang lewat keterangan tertulis pada detikcom, Sabtu (22/6/2019).

Lewat festival ini, dia berharap para peserta bisa berkenalan dengan para pejalan atau traveler lain. Mereka juga bisa membawa sesuatu yang berguna untuk dibagikan ke sesama peserta.

Festival 1.000 Tenda Kaldera sendiri digagas oleh Rumah Karya Indonesia (RKI). Kegiatan dipusatkan di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Pemilihan Desa Meat sebagai lokasi kegiatan dinilai tepat. Selain bentangan alamnya yang eksotis, juga dekat dengan pemukiman warga. Sehingga, interaksi dengan masyarakat bisa terjalin lebih intens.

"Ini merupakan peluang bagi warga setempat untuk mengenalkan keindahan Meat kepada masyarakat luas. Mudah-mudahan pariwisata di daerah ini semakin berkembang. Terlebih, panitia menargetkan tiga ribu peserta. Selain dari Sumatera Utara, ada juga dari Aceh, Pekanbaru, Banyuwangi, Jakarta, dan Yogyakarta," bebernya.

Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar, Dessy Ruhati menyatakan apresiasi atas kinerja pelaksana yang mengkombinasikan transfer pengetahuan dibalut dengan festival. Sehingga, para peserta bisa menikmati alam.

Lalu pada siang sampai sore, mereka bisa ikut beragam topik diskusi. Sementara pada malam harinya bisa menikmati pertunjukan seni budaya.

Festival 1.000 Tenda Kaldera bakal menarik perhatian masyarakat luas. Terlebih, lokasi kegiatan berada di sekitar destinasi super prioritas, yaitu Danau Toba. Dari tahun ke tahun, event ini semakin ramai dan banyak peminat.

Bendung Colo Nan Instagramable di Sukoharjo

Buat kamu yang tinggal di Sukoharjo dan ingin mencari spot Instagramable, bisa datang ke Bendung Colo. Selain Instagramable, masuknya juga gratis.

Adalah Bendung Colo atau Dam Colo. Secara administratif masuk wilayah Desa Pengkol, Kecamatan Nguter, Sukoharjo. Dari pusat kota di Sukoharjo hanya berjarak sekitar 15 kilometer arah tenggara.

Mau menuju lokasinya cukup mudah. Ketika melintas di Jalan Raya Solo-Wonogiri dan sudah masuk wilayah Desa Gupit Kecamatan Nguter atau sebelum jembatan perbatasan Sukoharjo-Wonogiri, ambil kiri tepat di simpang tiga.

Lantas, ikuti saja jalan aspal tersebut. Tidak sampai tiga kilometer sudah sampai di Bendung Colo. Langsung masuk saja ke lokasinya dan pilih sendiri tempat memarkirkan kendaraan.

Tidak perlu mengeluarkan kocek, pasalnya masuk ke Bendung Colo, gratis, demikian pula untuk parkirnya. Kita hanya membayar jika ingin melepas lapar dahaga di deretan warung makan dan minuman yang berjajar di pinggir aliran bendungan.

Saat sudah masuk lokasi, kita bisa langsung lewat di atas bendungan yang memang menjadi jalur penghubung Pengkol-Sendangijo, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Kita bakal disuguhi view aliran air dari Waduk Gajah Mungkur Wonogiri menuju pintu bendung, sekaligus aliran air yang keluar dari pintu airnya.

Ada lagi yang lebih Instagramable. Turun saja ke bawah pintu air, tepatnya di aliran irigasinya. Tersedia ratusan beton kokoh berbentuk persegi tertata rapi laksana paving di atas air.

Antara beton satu dengan lainnya berjarak kira-kira satu meter. Saat kemarau seperti ini ketika aliran air yang keluar Bendung Colo menyusut, deretan beton yang sebenarnya menjadi pemecah arus air itu terlihat jelas muncul di permukaan.

Sobat bisa berdiri di atas beton itu, atau bermain loncat-loncat dari beton satu ke beton lainnya. Tapi mesti hati-hati, jangan sampai terpeleset dan jatuh tercebur.

Ketika detikcom berkunjung ke bendung yang mampu mengairi persawahan seluas 32.200 hektare itu, Sabtu (22/6/2019), pengunjung cukup ramai. Tak hanya anak muda, bocah usia tak sampai 10 tahun banyak pula yang bermain di aliran air di antara deretan beton persegi. Sebagian pengunjung ada yang datang dengan formasi keluarga lengkap, ayah, ibu plus anak-anaknya.

"Baru pertama ini ke sini, penasaran lihat unggahan di Instagram teman. Ternyata keren juga, gratis lagi," ungkap seorang pengunjung, Fitria.

Warga Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Ikbal, datang bersama orang tua dan adiknya. Sudah kali kedua dia berkunjung ke Bendung Colo. Namun, tak juga bosan menderanya.

Bendung atau Dam Colo adalah dam pemecah atau pengatur air waduk Gajah Mungkur untuk kebutuhan irigasi. Kepala Sub Divisi Jasa ASA III PJT I, Didit Priambodo mengatakan, irigasi Colo terdiri dari dua jaringan.

Yaitu, jaringan irigasi Colo Timur yang memiliki kapasitas saluran 24 meter kubik perdetik untuk mengairi sawah seluas 20 ribu hektare yang melintasi Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, Sragen dan Ngawi (Jawa Timur).

Serta jaringan irigasi Colo Barat yang memiliki kapasitas saluran 5,30 meter kubik perdetik untuk mengairi sawah seluas 5 ribu hektare yang melintasi Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo dan Klaten.