Minggu, 19 Januari 2020

Konser Musik Perbatasan Menyempurnakan Daya Tarik Atambua

Konser Musik Perbatasan Atambua (KMPA) 2019 akan digelar lagi. Event ini menjadi momen terbaik untuk mengeksplorasi destinasi wisatanya, khususnya, wisata alam.

Edisi 2 KMPA 2019 akan digelar 28-29 Juni, di Lapangan Simpang Lima Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tampil sebagai bintang tamu, Grup Band Kotak.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani mengatakan, event ini akan berlangsung meriah.

"Edisi 2 KMPA tahun ini tetap meriah. Artis pendukungnya luar biasa. Hal ini untuk menyempurnakan pesona eksotis Atambua. Sebagai destinasi wisata, kawasan ini menawarkan experience luar biasa. Ada banyak hal menarik yang bisa dinikmati," ungkap Ricky Fauzi, Minggu (23/6/2019).

Daerah Atambua, Belu terdiri dari 12 kecamatan, 12 kelurahan, dan 96 desa. 30 desa di antaranya berbatasan langsung dengan Timor Leste (Tiles).

Dengan geografis unik, bentang alam juga warna budaya Tanah Timor pun unik menarik. Komposisinya makin lengkap dengan tawaran destinasi wisata sejarah, sport tourism, dan buatan.

"Atambua memang menjadi paket lengkap. Destinasi ini siap dieksplorasi setiap saat. Untuk itu, pastikan momen terbaik saat KMPA jangan terlewatkan. Saat berkunjung ke destinasi wisatanya, tentu akan ada banyak kesegaran yang didapat," terang Ricky lagi.

Dengan beragam bentang destinasi, nature warna pilihannya beragam. Dari pesisir pantai hingga sabana dan pegunungan. Komposisi wisata bahari di antaranya Pantai Pasir Putih Atapupu.

Destinasi ini berada di Kenebibi, Kakuluk Mesak, Belu. Sesuai namanya, pantai terhampar pasir putih yang lembut. Pantai ini makin eksotis dengan sunsetnya. Nuansa semakin eksotis dengan deretan hutan mangrove di sekitarnya.

Destinasi lainnya adalah Pantai Berluli. Pasirnya putih menghampar. Langitnya seolah menyatu dengan tebing karang yang kokoh. Spot ini juga sangat instagramable sehingga elegan untuk berswafoto.

Pantai Berluli ini berada di Jalan Ki Hajar Dewantara, Umanen, Atambua Barat. Dan, Tanah Timor juga punya Pantai Mota'ain dan Teluk Gurita atau (Kuit Namon).

"Siapkan saja kamera terbaik sebelum datang ke Atambua. Tapi, kamera smartphone juga bisa. Sebab, ada banya spot terbaik untuk membuat konten media sosial. Saat diunggah di media sosial, pasti akan mendapat banyak like dan comment positif. Tinggal pikirkan captionnya yang unik," jelas Ricky.

Alam Tanah Timor makin eksotis dengan bentangan Lembah Fulan Fehan. Destinasi ini berada di Desa Dirun, Lamaknen, Belu. Rumputnya yang terhampar hijau semakin semarak dengan kawanan kuda yang bebas berkeliaran. Ada juga Bukit Batu Maudemu dan Bukit Kakeu Mantenu. Bukit Maudemu ini unik karena memiliki bebatuan karang di puncak bukitnya.

"Kami juga merekomendasikan Lembah Fulan Fehan ini. Pastikan destinasi ini juag dikunjungi. Area di sini sudah terkenal dengan keindahannya," kata Ricky lagi.

Destinasi di sekitar Atambua semakin berwarna dengan Air Terjun Mauhalek. Venuenya ada di Raiulun, Lasiolat, Belu. Air terjun eksotis ini masih alami dengan airnya yang menyegarkan. Ada juga Kolam Susuk yang konon menjadi inspirasi lagu Koes Plus berjudul 'Kolam Susu'.

Wilayah ini juga memiliki destinasi Kampung Adat Kewar. Destinasi ini juga memiliki bangunan megalitikum.

"Kombinasi alam, budaya, dan manmade di Atambua memang luar biasa. Destinasi-destinasi tersebut sangat mudah dijangkau, khususnya dari venue KMPA," paparnya.

Moment liburan semakin lengkap dengan penawaran sejarah dari Benteng Ranu Hitu. Lokasinya ada di Desa Dirun, Lamaknen. Benteng Ranu Hitu juga familiar sebagai Benteng Lapis Tujuh Makes.

Benteng ini memiliki susunan bangku batu yang konon menjadi singgasana Raja Suku Uma Metan. Lalu, batu memanjang di belakang singgasana diyakini makam Raja Pertama Kerajaan Dirun, Dasi Manu Leoq.

Experience terbaik juga akan didapatkan wisman dengan mengunjungi Pacuan Kuda Desa Tniumanu. Pacuan ini memang hanya diikuti oleh peserta lokal. Uniknya jokinya merupakan anak-anak lelaki dari pelepas kuda.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menegaskan, komposisi destinasi terbaik ada di Atambua.

"Destinasi di Atambua selalu menarik untuk dieksplorasi. Wisatawan sebenarnya bisa berkunjung kapan saja. Selain atraksinya, aksesibilitas dan amenitas di Atambua itu luar biasa. Pokoknya wisatawan akan nyaman dan terkesan saat berada di sana. Kami juga mengundang publik Timor Leste untuk berkunjung dan menikmati beragam potensi di Atambua," tutup Arief yang juga Menpar Terbaik Asia Pasifik tersebut.

Banyuwangi Gombengsari Plantation Run 2019 Diramaikan Ribuan Pelari

Event sport tourism Banyuwangi Gombengsari Plantation Run 2019 berlangsung meriah. Kompetisi lari yang menyuguhkan trek perkebunan ini diikuti ribuan pelajar.

Mengambil start di kawasan wana wisata Sumbermanis, Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, ribuan peserta ini menempuh jarak lima kilometer dengan rute yang menantang, Minggu (23/6/2019). Menembus hutan Gombengsari, mereka menyusuri rapatnya rerimbunan pohon mahoni dan pinus.

Track yang harus dilalui naik turun, terjal, berbatu, terkadang licin, becek, dan terhalang akar pohon. Namun, udara yang sejuk sangat membantu peserta menjaga staminanya.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, kompetisi lari ini dibuat untuk merespon keinginan kaum milenial.

"Ini bagian dari respon kita terhadap keinginan milenial. Mereka menyukai dua hal. Pertama olahraga, dan kedua budaya. Karena itu kita gelar beberapa kegiatan berbasis budaya dan alam. Salah satunya Gombengsari Plantation Run ini," ujar Anas pada detikcom, Minggu (23/6/2019) saat membuka Gombengsari Plantation Run 2019.

Selain menarik dari segi tempat, event ini juga mengakomodir potensi lokal. Gombengsari memiliki potensi lokal yang kuat. Selain alamnya yang indah, Gombengsari juga terkenal dengan kopi dam susu kambing ettawa.

"Berbekal potensi yang kami miliki, Banyuwangi terus menggarap sporttourisme, olahraga berbalut pariwisata dengan memanfaatkan kekayaan alam kami. Tahun ini ada 12 event sporttourisme, antara lain yang akan dihelat dalam waktu dekat adalah Durian Cycling, Savana duathlon, hingga Tour de Ijen," kata Anas.

Menurut Anas, Gombengsari bisa menerapkan pariwisata berbasis rakyat dan kearifan lokal. Ini akan lebih kuat jika dibanding wisata buatan yang kadang memaksakan apa yang tidak sesuai dengan tradisi atau pengembangan masyarakat di tingkat lokal.

"Kami akan dorong halal friendly tourism yang berbasis plantation tumbuh di tempat ini. Saya senang datang ke sini. Pengembangan kerajinannya juga luar biasa," kata Anas.

Banyuwangi Gombengsari Plantation Run 2019 ini terdiri dari kategori pelajar SD, SMP dan SMA. Selain itu juga ada kategori umum yang ikut memeriahkan kompetisi ini.

Untuk juara kategori SD putra diraih Rizki Sugiarto dari SDN Bakungan Glagah. Juara SD putri, Dwi Ainun R dari SDN 2 Gumirih, Singojuruh. Di kategori SMP putra diraih Wahyu Hidayat dari SMP 2 Genteng, dan Innes Aditya dari SMP 2 Banyuwangi di kategori putri.

Kategori SMA putra dijuarai oleh Anggi F dari SMA Muhamadiyah 2 dan Ernofian dari SMA 2 Genteng di kategori putri. Juara kategori umum putra diraih oleh Buang dari Kecamatan Kalipuro. Di kategori putri juara diraih Sarah Adnanova, peserta Bea Siswa Budaya Indonesia (BSBI) asal Cekoslowakia.

"Saya tidak menyangka bisa menjadi pemenang. Saya lihat tadi semuanya berlari dengan kencang, terutama anak-anak. Treknya asik, menantang. Ini pengalaman seru bagi peserta seperti saya, menjajal kompetisi lari di negeri orang," kata Sarah.

Rasa senang juga diungkapkan oleh Wahyu Hidayat, juara 1 di kategori SMP putra. "Saya memang rutin berlatih lari. Namun di Gombengsari ini tantangan tersendiri buat saya yang biasa berlatih di jalan aspal. Syukur bisa menang juga di trek pegunungan," ungkapnya.